Renungan dari sebuah “Copy Paste”
Dari sekian banyak tulisan yang sudah saya buat , diantaranya emang ada bebrapa yang menjadi tulisan favorit buat saya. Salah satunya yang berjudul Tuhan Andai saya Boleh Memilih . Entah kenapa tulisan itu juga menjadi salah satu tulisan favorit buat sebagian orang yang membacanya, dianggap sebagai enlightment, pencerahan. Mungkin tulisan itu menggambarkan kebanyakan dari kita ya. Atau mungkin karena saya nulisnya dari hati berdasarkan pengalaman & perenungan pribadi ya, makanya “kena” banget, hehehehe..
Tulisan itu merupakan hasil refleksi selama bertahun-tahun. Hasil transformasi pikiran saya dalam beberapa waktu tahun ini. Ketika saya menyikapi suatu masalah, menyelesaikannya & satu lagi.. menerima takdir-NYA. Jujur dulu saya pribadi yang keras (sekarang juga masih sih, hahaha.. ), termausk orang yang selalu ingin bertanya, suka ga terima, terus merasa kurang dengan apa yang dimiliki, sering menganggap Tuhan itu ga adil (ouw, maafkan segala prasangku kemarin-kemarin ya Tuhan.., hiks). Tapi ketika usia bertambah secara chronological, plus bertambahnya beban & masalah hidup, kok saya merasa merasa di-trigger untuk mengubah seluruh mindset saya yang negatif jadi lebih positif. Termasuk ketika ada banyak usaha yang saya lakukan harus gagal, perjuangan saya harus kandas, tidak semua yang saya inginkan bisa saya dapat dengan mudah. Semua itu yang membuat saya berpikir about what life is.
Dari situlah ketika tulisan itu jadi sebagian orang yang baca merasa touched. Saya gak pernah berusaha mengurui dengan apa yang saya tulis atau apa yang ada di pikiran saya. Saya juga masih belum pantas untuk jadi guru buat orang lain. Hanya berusaha menyampaikan pengalaman saya kepada orang lain. Syukur-syukur bisa berguna buat orag lain. That’s all..
Itulah kenapa ketika ada seseorang yang minta ijin copy paste tulisan saya tadi saya gak merasa keberatan. Malah bangga kalau tulisna saya dibaca oleh orang lain, bisa menginspirasi orang lain. masalahnya adalah, ketika ketika dia mengcopy paste dengan mengubah nama saya “Dev” di awal tulisan jadi namanya dia. Padahal itu adalah dialog original salah satu sahabat yang lagi curhat. Jadi kalau di ubah ya saya merasa keberatanlah..
Ada seorang teman yang ngata-ngatain, gara-gara saya posting saya posting shoutout tentang kekecewaan saya tentang hal itu, “Wah kayaknya blm bakat jd penulis beneran. Seorang penulis sejati akan bangga jika hsl karyanya dinikmati banyak org bahkan dijiplak sekalipun” . Oh, it’s all about ethic code penulisan, Bos.. Ketika kita ijin copas, ya sertakan sumbernya atau jika kita mengubah sedikit konten ya minta ijinlah dulu, berkenan ga yang empunya tulisan? Karena dengan mengubah sedikit saja konten tersebut akan membiarkan orang berasumsi seolah-olah tulisan itu hasil pikirannya.
Walaupun saya hanya seorang penulis pemula, wajar kan kalau saya merasa kurang sreg ketika originalitas tulisan saya di utak atik tanpa konfirmasi dari saya. Belajar menghargai hasil karya orang lainlah intinya ..

RSS - Posts
Yup setuju
hehehehe, makasih udah mampir.