Punahnya Rasa Kepedulian


Cerita yang nggak seberapa penting, cuma ingin share tentang pengalaman saya hari ini & akhirnya saya simpulkan, bahwa ternyata nggak semua orang punya rasa empati terhadap sesamanya..😥

Ceritanya, kemaren saya iseng jalan ke Pasar Festival. Nggak pengen ngapa-ngapain, cuman pengen jalan aja. Kebetulan kalau Sabtu kan libur, sementara suami ngantor setengah hari, jadi ya sudah daripada nganggur dirumah saya milih jalan-jalan aja ke mall kecil yang deket. Padahal Pasar Festival bukan mall sih ya. Bodo amatlah apalah itu namanya😀. Seringnya sih nongkrong baca buku di lantai dasar, di toko buku bekas itu. Kalau nggak gitu ya jalna muter aja sambil cari makan siang di foodcourt. Kebetulan rumah saya di Mampang jadi lumayan dekat kalau mau kesana. Cari transportasi yang mudah & safe ya naik busway.

Tidak berapa lama, tibalah busway yang saya tunggu. Kondisi busway nggak seberapa penuh, tapi tidak ada satu seatpun yang kosong. Kebanyakan penumpang yang baru naik pada berdiri semua, termasuk saya. Dari sudut mata sa, saya memperhatikan safety guard busway yang sedang sibuk tengak-tengok kiri kanan mencari seat yang kosong. Bukan GR atau apa, mungkin dia melihat perut buncit saya yang mulai membuncit ini & bermaksud mencarikan tempat duduk untuk saya (sesuai dengan stiker yang tertempel di busway “utamakan wanita hamil,orang cacat , & manula”).

Jujur saya nggak terllau berharap akan ada yang berbaik hati memberikan tempat duduknya dengan sukarela pada ibu hamil seperti saya. Bukan mau sok kuat atau apa ya, cuma entah ya saya sendiri sudah maklum dengan “budaya” penumpang busway pada umunya. Kenapa saya sebut “budaya”? Ya karena “gayanya” semuanya sama dari busway satu ke busway lainnya. Entah pura-pura atau beneran tidur, sambil pasang earphone ipod di telinga, smsan, telepon, atau cuek saja walaupun ada wanita/ibu2/wanita hamil, kecuali yang memang bener-bener nggak tegaan kaya saya🙂.

Dulu pas saya belum hamil, saya sering kasih tempat duduk buat ibu-ibu yang sedang hamil, nggak peduli sedang hamil muda (masih ga seberapa buncit tapi dah keliatan) atau yang udah hamil tua (kalau ini sih priorotas). Bukan apa-apa saya orangnya suka nggak tegaan ngeliatnya. Membayangkan harus berdiri menyangga perut & beban yang lain (tas atau other belongings). Pun kalau ada ibu/bapak yang sudah tua saya juga sering kasih tempat duduk (suka ingat sama ortu. Mana tega kita melihat ortu kita berdiri berdesak-desakan di angkutan umum, sementara kita yang masih muda, masih kuat berdiri sok pura-pura nggak tahu, nggak lihat).

Akhirnya, safety guard yang baik itu mendapatkan satu tempat duduk untuk saya denganmeminta penumpang lain (bapak-bapak) untuk mengalah memberikan tempat duduknya untuk saya. Duh, sumpah saya terharu banget. Ini kali pertama saya naik busway dalam keadaan hamil & ternyata masih ada yang peduli sama saya:cry: . Makaish ya mas safety guard (lupa liat namanya), &  pak siapalah.. (yang sudah mengalah memberikan tempat duduknya untuk saya).

Beda sekali pas mau pulang. Kondisi busway masih nggak seberapa penuh, tapi tetap tidak ada satu kursipun yang kosong. Sekali lagi saya nggak berharap akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan pas saya berangkat. Dikasih tempat duduk ya syukur alhamdulillah, nggak juga nggak apa-apa. Toh Mampang deket ini.. Dari situlah saya memperhatikan, memang benar, entah memang nggak ada yang memperhatikan saya karena kondisi badan saya masih langsing-langsing aja kaya orang nggak lagi hamil jadi nggak ada yang kasian sama saya😆 , atau memang sudah pada merasa PW (posisi whuenak), jadi pada mals meninggalkan kurso masing-masing.

But anyway, saya nyantai-nyantai aja kok. Masih untung bisa nyandar di kaca pemisah tempat duduk dekat pintu, sambil smsan sama suami, sambil sesekali memperhatikan tingkah laku penumpang busway. Di seat tengah, ada serombongan remaja yang sengaja duduk berderet satu  grup, malah asik foto-fotoan didalam busway. Saya cuma cuman senyum aja sih. Ternyata tidak semua orang mau peduli dengan orang lain. Mungkin pikirnya, ” Halah, sama-sama bayar ini. Tahu sendiri kan kalau busway jarang ada yang kosong. Nyari tempat duduk juga susah. Rumah gue jauh nih. Maaf yah..”. Mungkin pikir mereka kaya gitu kali ya😆

Terlepas dari itu semua, samasekali bukan bermaksud untuk dikasihani mentang-mentang saya lagi dalam kondisi hamil lho ya. Nggak sama sekali. Dikasih ya syukur. Nggak juga ya udah, nggak apa-apa. Semua itu kan akhirnya menunjukkan seberapa peduli kita sama orang lain. Kasihan mengasihani itu bukan hal yang harus diminta, harus disuruh. Tapi seharusnya murni muncul dari hati kita secara tulus.

Sayangnya di ibukota ini, kesadaran macam itu sudah mulai punah..😦

Punahnya Rasa Kepedulian

2 thoughts on “Punahnya Rasa Kepedulian

  1. hai..saya mau marathon nih baca tulisan mbak dari awal, kemaren2 soalnya baca dari yang terbaru, hehehehehe….
    soal bumil…saya juga mengalami sih waktu kehamilan pertama dulu….
    nah, sekarang saya hamil yang kedua, belum terlalu keliatan juga sih buncitnya, tapi badan saya sudah montok karena sejak melahirkan dulu susah bangt mau nurunin BB lagi, hihihihi…

    tetap semangat daaah…semoga dedek yang di perut juga ngga protes🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s