Suatu sore di belakang Setiabudi Building


Sore itu jalanan di belakang Setiabudi Building itu lengang, basah setelah diguyur hujan sejak siang tadi. Lelaki renta yang bungkuk itu berdiri di pinggir jalan di samping plastik besar yang berisi barang pulungannya. Kakinya telanjang, bajunya kumal & berlubang. Usianya mungkin sekitar 70an. Badannya kecil, tulang belulang & tubuhnya yang ringkih mengintip di sela bajunya yang compang-camping. Dia diam sambil tertunduk, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan sakit yang luar biasa. Ya, kaki kanannya dibebat perban warna coklat, kakinya timpang. Badannya seolah ingin menumpu pada tongkat yang dipegang di tangan kanannya. Dia sendirian. Dia kesakitan. Entah apa yang sedang dirasakannya. Nyeri? Perih? Ngilu?

Saya berlalu. Walau sejurus kemudian saya kembali menoleh, jauh setelah saya meninggalkannya sendiri. Ah, kenapa saya ini? Lambat sekali otak saya bereaksi. Kenapa setelah jauh saya baru ingin kembali..

“mas, kamu lihat bapak yang tadi gak?”, tanya saya pada suami yang menjemput saya sore tadi
“kenapa? kamu mau ke bapak itu?”, tanyanya. Ah dia bisa membaca pikiran saya rupanya..
“iya.. kasian dia mas, kaya orang kesakitan gitu. Sudah tua, sendirian pula.. Mas keberatan gak kalau kita balik arah?”
“ya udah kita balik ke bapak tadi yuk..”

Ketika saya sampai di tempat bapak tua itu, posisinya ternyata masih sama. Menunduk dengan salah satu kaki setengah diangkat bertopang pada kayu yang dipegangnya sambil menahan sakit. Tas plastik besar itu masih teronggok di samping trotoar belakang Setiabudi Building. Saya turun dari motor, menghampiri dia. saya raih pelan tangannya ..
“pak, ini buat Bapak.. buat beli makan ya pak..”, saya menggenggamkan beberapa lembar uang ke tangannya yang dingin. Dia menatap saya seolah tak percaya. Mendadak matanya berkaca-kaca, dia menangis.. Ya menangis, tergugu, sambil mengucap alhamdulillah berkali-kali.. Airmata saya meleleh pelahan. Dia menggenggam tangan saya, tulus dia berkata, “Terimakasih banyak Neng, alhamdulillah, Allahu akbar.. Alhamdulillah ya Allaah..Neng, ..”, dia masih menggengam tangan saya. Saya meraih bahunya, menepuknya perlahan, “maaf ya pak, saya mungkin ngasihnya ga banyak.. “, bisik saya pelan..
“Ya Allah.. terimakasih banyak Neng. Bapak doakan Neng dapat berkah yang banyak ya.. Semoga Allah memberikan segala kemudahan buat Neng.. Alhamdulillah ya Allah”, serunya parau sambil tak henti-henti  mengucapkan alhamdulillah & mendoakan kami. Kali ini airmatanya meleleh deras..

Saya menangis, kami bertiga menangis di pinggir jalanan yang sepi. Entah kenapa tidak ada seorangpun yang melintas saat itu. Mungkin salah satu cara Tuhan menyampaikan rezeki untuk bapak itu melalui kami ya..

Ini bukan cerita rekayasa. Pengalaman pribadi saya sore tadi selama beberapa menit bersama seorang bapak tua yang miskin & (sepertinya dia sedang) sakit😦 . Belum pernah sekalipun selama hidup saya mengalami kejadian seemosional ini dengan seorang (entah) pemulung, atau pengemis.  Selama ini kalau ngasih ya sekedar ngasih, gak pakai nangis, mewek, apalagi sampai meninggalkan kesan yang mendalam seperti tadi. Sepanjang jalan sampai di rumah saya masih menangis. Cengeng banget ya? Sedikit menyesal karena saya hanya bisa memberinya uang sekedarnya, mungkin nilainya tak seberapa..😦

Jujur saya jadi malu pada diri saya sendiri. Seolah barusan Allah menyadarkan saya, betapa beruntungnya saya telah diberi kemudahan dalam mencari rezeki, kesehatan, kesempatan baik, keluarga & teman-teman yang menyayangi saya.. Seperti merasa ditampar, ketika saya banyak mengeluh, terlalu banyak menuntut, kok sepertinya kurang bersyukur sekali saya ini..

Ah, jadi kangen sama kedua orangtua saya nih ..😦

gambar dari sini

Suatu sore di belakang Setiabudi Building

17 thoughts on “Suatu sore di belakang Setiabudi Building

  1. Rati Krisnawan says:

    So touching Devi…..Berbagahagialah kita yang masih bisa dan akan selalu berbagi….lets share…btw, ngantor di mana sih Dev?..aku dulu juga ngantor di daerah itu n kost di daerah karbela…

  2. hhhuaaaaaa….hampir nangis iki mbak akuu…ah kamu bikin sedih diriku…

    jadi inget satu kejadian serupa, tapi aku gak seberani kamu dengan suami…aku takut keluar dari mobil di tengah hujan deras, hampir tengah malam sepulang kantor, untuk mengangkat anak kecil perempuan yang meringkuk kuyub di guyur hujan sambil memeluk tiang lampu lalu lintas…

    Sedih, bingung, mau nangis, takut, melengos, merasa bersalah, cuma bisa doa dalam hati…

    Ada sih cerita lengkapnya di blog ku, kalo ga salah di arsip sekitar September-Oktober 2008…judulnya apa tangis air hujan kalo ga salah hihihihi..

    Dah aaahh..tambah sedih…

    1. Pas nulis ini juga sambil nangis mbak, padahal nulisnya malem & kejadiannya udah sore tadi. ga tau wajahnya itu masih kebayang aja. Tapi juga nyesel karena ga bisa ngasih apa-apa yang lebih.. hiks.. :((

  3. elmi says:

    hicks…. hicks…. hicks….. hicks….. hicks…… hicks….. hicks…………….hicks…………..hicks………….hicks……………..hicks………..hick………….hicks…. hicks…. hicks….. hicks….. hicks…… hicks….. hicks…………….hicks…………..hicks………….hicks……………..hicks………..hick………….hicks…. hicks…. hicks….. hicks….. hicks…… hicks….. hicks…………….hicks…………..hicks………….hicks……………..hicks………..hick………….hicks…. hicks…. hicks….. hicks….. hicks…… hicks….. hicks…………….hicks…………..hicks………….hicks……………..hicks………..hick…………. E…. e….ee….ee. keterusan deh sedihnya…. ampe lupa kasi commentnya

    @dear mbk Devi…..
    qta semua hrs bersyukur terhadap apa yg ada pada dirikita saat ini…….. GBU

    Elmi

  4. bungsu says:

    lagi..lagi…. BUat kamu yang ngafans sama Band ALEXA., band God bless, dan NUmata .. sekarang saatnya.. FANS lagi nyari kandidat Fans nya alexa buat jadi tamu eksklusifnya di Acara FANS. buruan daftarin biodata dan nomor telepon kamu ke fans@transtv.co.id atau sms ke 081908199749. so… jangan sampe nggak…sapa tau kamu yang beruntung… pendaftaran paling lambat bulan JULI…. buruaaaaaaaaaaaaaaaannnnn………..

  5. semua kebaikan akan kembali padamu,
    semua keburukan, semoga Dia memaafkanmu.

    God talks to you in his secret ways, Mba Devi.
    just remember the message.🙂

  6. patut di contoh mba..
    Memang terkadang kita harus ditegur seperti itu untuk mampu bangun dalam sejuta keluhan, tanpa meilhat apa yang sudah dimiliki sekarang, huhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s