Tamasya Yang Tanggung


Kali ini saya mau curhat nggak penting. Hari Minggu kemarin boleh dibilang “harlotnas”, hari nyolot nasional. Betapa tidak, saya yang sudah empot-empotan menahan emosi sejak seminggu menjelang “bulanan” harus berhadapan dengan segala hal menjengkelkan sejuta umat👿 . Maklumlah ya, namanya perempuan pasti ada saat-saat dimana harus dilanda emosi yang tidak stabil selama beberapa hari. Menjengkelkan? Iya banget😆. Buat diri sendiri aja sudah terasa menjengkelkan, buat orang lain apalagi.. Untung suami sudah paham & bisa mengerti “tabiat” bulanan perempuan satu itu. Kalau enggak, mungkin sudah terjadi huru-hara & perang antar suku kali ya..:mrgreen:

Rencana mau ke Cibubur lihat rumah. Lihat-lihat doang kok, belum beli. Kan isi celengannya belum sampai se-tong minyak tanah😀. Dan kenapa yang dipilih daerah Cibubur, Cileungsi dan sekitarnya? Kenapa nggak di Pondok Indah, kan lebih deket tuh. Alasannya cuma satu. Mahal, bos ! *nangis*. Rencana awal berangkat pagi biar nggak terlalu panas tapi berhubung suami harus menjalankan banyak ritual pagi (untunglah dia nggak sampai prosesi luluran, spa & siraman), jadilah kita sampai sana sudah dalam suasana tengah hari bolong nan panas membakar kulit. Tahu sendiri & bisa dibayangkan kan akses kearah Cibubur & seterusnya bukan main panasnya & kita bermotor ria ke arah sana. Well no problemlah untuk masalah bermotor ria itu, sudah biasa. Lha terus masalahnya?

Nah, setelah dari Cibubur, Jonggol dan endebrey endebrow itu, suami mengajak ke.. taraaaaaa.. Taman Buah Mekarsari !. WHAT?! Iya, ke Taman Buah Mekarsari. Ngapain coba?. “Ya kan kamu belum pernah kesini, sekali-kali kesini aja biar tahu. Aku juga belum pernah kok..”, jawabnya enteng. Percuma juga saya bilang nggak pengen kesitu tapi toh yang bawa motor kan dia, jadi ya terpaksa dengan wajah gondok & emosi berlebihan saya melangkahkan kaki dengan amat sangat ogah-ogahan. Lha, kenapa mau kalau nggak suka? Ya dalam hati sebenernya saya juga penasaran seperti apa sih Taman Buah Mekarsari yang katanya taman buah terbesar didunia itu, sambil menenangkan diri dari emosi yang naik turun nggak jelas itu.

Ternyata, kalau mood kurang menyatu dengan lokasi bisa jadi lokasi senyaman apapun bisa jadi biasa-biasa saja atau bahkan menjadi kurang menarik ya. Itu yang terjadi sama saya kemarin:mrgreen: . Datang sudah sangat siang, melihat venue-venue yang (menurut saya) kurang menarik & wahana yang “begitu-begitu” saja membuat mood saya makin turun & ingin segera enyah dari bumi Taman Buah Mekarsari. Apalagi sepanjang jalan hanya melihat jajaran pohon nggak jelas itu makin membuat saya bosan. Iya saya tahu, saya belum melihat semua lokasi kebun buahnya. Cuman, berhubung saya udah nggak mood, jadi ya semua terasa serba nggak asik. Apa sih?😆. Suami sih enjoy aja, sambil mengabadikan beberapa spot yang menurut dia menarik. Suami kebetulan lumayan pinter kalau mengambil angle-angle atau spot-spot untuk foto. Tapi tetep aja kalau menurut saya nggak ada yang menarik ngapain difoto. Nyebelin banget deh saya waktu itu. Ngerasa sendiri aja:mrgreen:

Karena Taman Buah Mekarsari termasuk arena wisata keluarga jadi yang datang juga keluarga-keluarga gitu, kebanyakan dalam rombongan besar, datang dengan menggunakan mobil keluarga atau bis (kebanyakan berplat daerah luar Jakarta). Ditambah lagi kemarin hari Minggu pula. Jadi makin kloplah keramaian & hiruk pikuknya, begitu pula dengan peringatan harlotnas yang saya rayakan itu:mrgreen:. Suami yang berusaha setengah mati membuat saya antusias dengan suasana disana, harus menyerah karena mood saya tak juga berubah sejak kedatangan kami di tempat itu.

” Mau naik kano nggak? Nanti kita foto-foto ditengah danau situ..”
” Ogah ah, panas.. Nanti item.. Tengah hari bolong kok panas-panas ditengah danau..”
” ya udah, mau foto disitu nggak, ditempat teduh situ?”
” Enggak ah, pemandangannya jelek. Nggak ada bunga-bunganya. Gersang..”

Masih sabar, tapi yakin deh pasti pengen njambak😆

” Kamu udah laper? Mau makan nggak? ”
” Enggak. Belum laper.. “, dengan muka yang amat sangat nggak mood banget.
” sama sih aku juga belum laper. Mau naik bis yang itu, buat keliling-keliling nggak?”
” ogah ah, males. Liat tuh, selalu rebutan & penuh banget..”, jawab saya bikin alasan.
” ya kalau nggak mau yang penuh, harusnya tadi kamu bawa bis sendiri..”

Kali ini saya yang nahan ketawa. Membayangkan membawa sendiri bis warna-warni yang gandeng dua itu buat keliling taman Buah Mekarsari aja saya udah sakit perut. Belum lagi melihat wajah suami yang datar banget tanpa emosi, malah sesekali cengengesan. Haduh dia memang sabar banget ngeladenin saya yang pecicilan ini😆. Untunglah dia tabah. Kalau enggak mungkin saya udah disuruh pulang sendiri, kali. Jangan sampai deh, kan saya paling bodoh kalau menghafal jalan. Nanti saya tersesat gimana?😆.  Jadilah acara yang seharusnya fun, karena saya yang lagi nggak mood seenggak mood-moodnya umat, akhirnya tak lama kemudian harus pulang. Suami juga memilih untuk mengalah, daripada bonyok katanya, hehe.. Iyalah ngapain lama-lama di tempat yang saya nggak bisa menikmati keindahannya samasekali😆 *ditabok bolak-balik*

Jadi? Ya, akhirnya kita pulang ke Mampang dengan sebuah cerita tamasya yang tanggung:mrgreen:. Sekianlah posting nggak penting dari saya.

Makasih:mrgreen:

 

Tamasya Yang Tanggung

6 thoughts on “Tamasya Yang Tanggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s