Ayah Juga Lupa


 father & son

 

Tulisan ini teruntuk Papa saya yang hari ini sedang berulangtahun yang ke 65 tahun. Sebuah tulisan yang jadi salah satu tulisan favorit saya, diambil dari buku karya Dale Carnegie : How To Win Friends & Influence People. Tulisan yang selalu membuat saya “mewek” & teringat Papa saya yang kalau habis marah pasti minta maaf duluan, padahal belum tentu beliau yang salah juga😥 . I love you Pa & I send you song, hope you’ll like it.. Happy Birthday Dear Father..🙂

Ini dia  :

AYAH JUGA LUPA
W. Livingstone Larned

Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembap. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang ayah pikirkan, Nak : Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikutmu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, “Selamat jalan, ayah!”, dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab : “Tegakkan bahumu!”

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. “Kaus kaki mahal dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati!”. Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?”, semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca, ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah;  Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual :  Dia cuma seorang anak kecil , anak lelaki kecil! 

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk terbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

———-

Sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita berusaha mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik; dan untuk melahirkan simpati, toleransi dan kebaikan hati. Untuk benar-benar mengenal semua, kita harus memaafkan semua.

 

Seperti yang dikatakan Dr. Johnson : “Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya”

Mengapa saya dan Anda harus melakukannya?😉

gambar diambil dari  sini

Ayah Juga Lupa

20 thoughts on “Ayah Juga Lupa

  1. aku suka kalimat Dr Johnson itu, “Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya”. Tapi praktiknya susah sekali kayaknya, karena pikiran kita seringkali secara reflek menghakimi apa yang tertangkap oleh indra kita, tak peduli praduga tak bersalah.

    slamat ulang taon buat om papanya mak devi, smoga sehat selalu🙂

  2. Saya suka merasa seperti orang tolol, sejenak setelah marahin anak yang masih 6 tahun dengan kata-kata dan ucapan seolah-olah saya sedang ngomong dengan anak umur 17 tahun😦

    Apalagi pas liat dia tidur, kepolosan dan innocencenya makin jelas, dan perasaan bersalah abis marahinpun semakin berlipat. Baca kisah si bapak pemarah seperti sedang liat cermin.

    Met ultah walaupun telat buat bokap, ternyata dua hari sebelum anak saya😛

    1. iya ya mbah, seringnya nggak sadar kalo udah marahin anak kecil. Padahal dulu mungkin kita juga kaya begitu ya..
      Makasih ucapannya Mbah..Met ulang tahun juga buat si kecil yah..🙂

  3. putri says:

    wah…untuk kesekian kalinya aq mewek baca tulisan mbak devi… dasarnya cengeng kali ya aqnya…😀 Met ultah jg buat papanya mbak devi…meskipun telat bgt y mbak..hehe..gpp deh😀 Hmm..pengen jg blajar nulis,sebenernya suka bgt nulis,tp suka gak pede..hehe

    1. wwoogh, ternyata ada yang suka baca disini, xixixix *hugs*
      Iya gapapa telat, daripada enggak kan? hehehe. Makasih ya draling🙂
      Ya nulis dong sayang, bikin aja dulu, jangan kuatirin apa komentar orang dulu say.. yang penting dicoba dulu. Okeh? Aku tunggu yah😉

  4. dianretno says:

    walau sering beda pendapat dgn Papa aku, tp saat itu sebenarnya aku yakin klo Papa sayang sm aku…
    setelah aku menikah dan di karuniai seorg putri, makin besar keyakinan itu, bahwa ungkapan kasih sayang sorg papa mmg membuat sebuah pengaruh dalam kehidpan aku selanjutnya….(dan kasih sayang mama yg melengkapi perjalanan hidup aku)

    love u papa…love u mom..

  5. Kasdiman Sinaga says:

    Seorang bapak adalah seorang yang sangat mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan anaknya. Ia sungguh baik dan rendah hati. Kuucapkan semoga bahagia di surga buat ayahku yang sudah mendahului aku. Kiranya setiap bapak semakin lama semakin baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s