Tulisanku, pikiranku, emosiku..


Kemarin siang saya ngobrol dengan seorang mantan seorang pekerja televisi yang sekarang jadi PNS seperti saya ;)). Kami ngobrol tentang banyak hal, termasuk hal yang kemarin sempat jadi “hot issue”, insiden dibalik taping Kick Andy tanggal 19 Januari 2011.

Sepintas kalau membaca cerita insiden dibalik taping acara Kick Andy itu reaksi saya sebagai orang awam pasti ikut terpancing emosi, dan turut berempati dengan apa yang sudah terjadi dengan ibu itu. Sempat sedikit terpengaruh juga untuk menyebarluaskan link itu di twitter atau akun jejaring sosial lainnya yang saya punya, biasalah emosi ;)). Tapi entah kenapa saya mendadak urungkan niat karena saya ingat bahwa tulisan ini baru mewakili salah satu pihak saja, belum ada klarifikasi balik dari pihak Kick Andy selaku pihak yang diprotes.

Akhirnya ya sudahlah, saya endapkan masalah itu sampai akhirnya saya baca klarifikasi dari Andy F. Noya dan akhirnya nggak sengaja mengobrol dengan si teman yang tadi. Mumpung ketemu sama mantan orang yang pernah kerja di balik layar nih (walaupun bukan dari stasiun televisi yang sama dengan Kick Andy) saya tanya-tanya tentang apa yang membuat saya penasaran, dan alhamdulillah dia dengan senang hati mau menjelaskannya. Itung-itung nambah ilmu, ya kan?😉 :D/

Saya : eh, kamu kan pernah lama kerja di dunia penyiaran nih, sekarang kamu juga kerja di bidang yang masih ada hubungannya dengan pers dan media, gimana kamu menyikapi “insiden” itu?

Teman : masalah ini sebenernya agak complicated sih, Mbak. Banyak poin yang bisa dibahas disini.. :-B

Saya : hehe, iya mereka sepertinya berbicara dari 2 persepsi dan perspektif yang berbeda..😀 . Kalau menurutmu gimana?

Teman : gini, sebelumnya kita harus tahu kenapa sebuah program itu dibuat LIVE atau TAPING. Biasanya kalo TAPING ada beberapa alasan, misalnya : biar hemat, biar bisa diulang, biar bisa diedit, dsb

Saya : Oh, ok, terus?

Teman : nah yang aku baca dari klarifikasinya Andy F. Noya kenapa Kick Andy pakai sistem taping salah satunya adalah bertujuan untuk “menutupi” statement-statement yang tidak perlu diuraikan ke ranah publik. Biasanya sebelum acara taping, penonton yang ikut acara itu perlu di-briefing terlebih dahulu. Kalau sudah di briefing tapi sewaktu acara berlangsung ternyata ada pihak yang komplain begini-begitu bisa jadi ada poin yang missed entah itu di pihak penontonnya atau di pihak Kick Andy-nya. Nah, penjelasan Andy F. Noya di poin 6, 10, dan 14 sebenarnya itu adalah fungsi editing. Jadi ketika acara itu sifatnya adalah taping, jangan pernah berpikir kalau apa yang kita saksikan di studio semuanya akan ditayangkan.

Saya : ok, jadi pasti ada pemangkasan disana-sini ya. Trus, yang dikatakan disitu Andy F. Noya mengeluarkan jokes yang sangat tidak pantas, itu gimana?

Teman : mmh, nggak semua orang yang diwawancara akan dengan mudahnya merasa nyaman dengan situasi yang asing, Mbak. Bayangkan ya, kamu sebagai orang yang awam harus memberikan statement tentang sesuatu, di dalam studio, didepan kamera dan sorotan lampu, ditonton penonton sekian ratus orang, apalagi bicaranya di depan praktisi. Pastilah ada “jipernya” . Menurut aku, jokes yang dilontarkan Andy F. Noya itu bermaksud untuk membuat si narasumber merasa nyaman. Karena gini Mbak, nggak mudah membuat orang nyaman menceritakan pengalamannya, kecuali pengalaman yang menyenangkan. Jadi ada kalanya untuk mendapatkan jawaban yang dinginkan seorang host harus muter-muter dulu..😉

Saya : jadi menurut kamu semua itu sudah sesuai prosedur? Masih dalam koridor, gitu?

Teman : iya, jangankan untuk acara talkshow seserius Kick Andy ya, aku aja yang dulu menangani program musik, misalnya aku pengen jawaban A dari si artis, host-ku bisa muter-muter dulu Jakarta-Bandung-Surabaya-Klaten untuk mendapatkan jawaban yang aku mau..

Saya : hahahaha, serius?😮 :))

Teman : iya, jadi sebenernya sih jawaban itu kita sudah tahu, karena sebelum acara pasti kan kita sudah melakukan survey, ada wawancara juga..

Saya : tapi kalian ingin statement itu meluncur langsung dari mulut si narsum ya?

Teman : betul, karena gini, Mbak.. nggak mungkin seorang narasumber itu kita naikkan tanpa kita tahu siapa dia. Jadi pastinya kita sudah melakukan wawancara dan riset sebelumnya. Nah, apa yang sudah kita dapatkan sewaktu riset itu yang harus kita keluarkan saat on air. Caranya gimana? Ya pastinya nggak mungkin kita langsung dapet statement seperti yang kita mau khan? Jadi ya pasti muter-muter dulu.

Saya : oh gitu, terus menurut kamu Kick Andy-nya salah atau nggak sih dalam hal ini?

Teman : aku ngomong ini bukan karena aku membela salah satu pihak ya, Mbak. Tapi menurutku core-nya Kick Andy sudah benar, menjaga rahasia narasumber ya salah satunya dengan TAPING. Ingat, jangan menelan bulat-bulat apa yang direkam pada saat taping. Apa yang “hot” atau kontroversial waktu itu bisa jadi justru yang diturunkan (tidak disiarkan) on air. Gitu, Mbak.. Nah, Bu Tatty sepertinya belum memahami konsep ini, inti acaranya seperti apa, proses dan alurnya  bagaimana, jadinya akan seperti apa, dll. Beliau berpikir bahwa Bu Elly Risman akan tampil full-program, padahal enggak, beliau hanya sebagai narasumber yang akan mengomentari aja. Kita sih sudah hafal kok sama tipikal yang begitu-begitu. Kru TV sih biasanya nelen ludah doang bisanya ;))

Saya : halah, kasian banget sih ;))

Teman : apalagi kalo misalnya di poin 13 disebutkan bahwa Bu Elly dan tim Kick Andy sudah ketemuan, berarti Bu Elly bukan hanya datang pada saat acara, dan bisa jadi Bu Elly juga ikut bikin rundown, jadi penasehat, dll. Waktu aku jadi creative dulu, kalo ada profesional yang ikut dari awal pasti kita ajak untuk membahas tiap-tiap  segmennya, isinya bakal gimana, dll. Gitu , Mbaaak..🙂

Saya : ya ya ya..

Teman : ada satu yang patut disayangkan di tulisan Bu Tatty. Beliau menyebutkan bahwa “si remaja  pernah “dipakai” oleh anggota DPR dan BIN”. Hati-hati dengan statement seperti itu, karena yang mengeluarkan isu itu kan beliau duluan, programnya sendiri bahkan belum tayang. Disini aku melihat, beliau belum memahami fungsi editing. Seperti yang aku bilang tadi, tidak semua apa yang terjadi selama siaran taping layak dan pasti akan ditayangkan juga secara on air..😉

Saya : mungkin ibu itu terlanjur emosi kali ya?😕

Teman : ngerti sih, kalau aku sih gini Mbak, pada saat aku marah memang aku akan tuliskan itu ya, kayanya puas banget tuh ya kalau sudah berhasil nulis uneg-uneg ya, tapi aku memilih untuk menuliskannya di draft, bukan lalu aku tulis di blog aku klik publish. Karena ya namanya nulis di media yang bisa dengan mudah diakses umum kita juga harus hati-hati sih Mbak.. Takutnya apa yang kita tulis secara emosional itu justru kitanya yang salah paham😀

Saya : iya sih, takutnya udah salah paham, nyebar kemana-mana pula.. Mmmh, sama sih aku juga gitu, kalau pas emosi nulisnya cukup di notepad. Kalau pas lagi normal dan aku baca lagi pasti nyengir aja ;))

Teman : pendekatan ke remaja sekarang sama jaman dulu itu beda. Jaman sekarang nggak bisa kita langsung teriak “SAY NO TO FREE SEX!”. Mana ada remaja yang mau denger, yang ada pada kabur kali. Makanya acara penyuluhan-penyuluhan kaya gitu kita selipkan lewat acara musik, lomba, dll. Pendekatan ke anak sekarang nggak bisa pakai tombak dan tembak. Gitu sih menurut aku, Mbak🙂

Jadi begitulah, obrolan saya dengan si teman itu. Diluar apa yang terjadi antara Bu Tatty Elmir dengan Andy F. Noya saya merasa ada ilmu yang sudah saya peroleh dari obrolan santai siang itu. Bukan hanya dari teman saya, tapi juga dari beliau berdua.

Tidak mudah memang mengolah emosi. Ada banyak cara untuk menyalurkannya, termasuk salah satunya dengan jalan menulis sebagai terapi untuk penyaluran emosi. Soal media yang akan digunakan untuk curhat pun bisa macam-macam. Mau curhat secara tertutup di diary, atau curhat terbuka di media online, semuanya boleh dan sah-sah saja. Bedanya dengan curhat di diary, curhat di media online efeknya akan bisa dirasakan secara langsung oleh yang membuat curhat, karena yang bersangkutan akan langsung mendapat respon dan reaksi yang beragam dari yang mengakses catatannya. Apalagi ketika curhatan itu berhubungan dengan nama yang sudah dikenal banyak orang. Tapi yang jelas pasti ada sisi positif dan negatif dengan kita menuliskan “curhat” atau keluhan di media online.

Catatan ini dibuat untuk introspeksi pribadi dan berbagi sedikit pengetahuan yang mungkin bagi sebagian besar kita belum banyak yang tahu.

Note to self :
1. Jangan reaktif ketika membaca sebuah berita atau statement yang mengandung sifat kontroversial.
2. Jangan mudah terpancing emosi ketika mendengar berita yang baru didengar dari satu sisi saja, usahakan mendengar dari dua sisi agar jika sewaktu-waktu pendapat kita dibutuhkan, kita bisa memberikan opini yang objektif.
3. Jangan mengikuti/mendengarkan suatu berita secara sepotong-sepotong, karena akan menimbulkan persepsi yang berbeda. Dengarkanlah secara utuh.

Begitulah..😀

[devieriana]

ilustrasi pinjam dari sini

Tulisanku, pikiranku, emosiku..

38 thoughts on “Tulisanku, pikiranku, emosiku..

  1. Aku baca dr awal sampe akhir, termasuk link2 terkait. Sempet speechless waktu mau nulis komen ini. Hehehe…
    Intinya aku setuju sih, sebaiknya jangan gampang kepancing berita-berita yg agak provokatif.
    Apalagi kalo beritanya cuma didapat dr salah 1 pihak aja. Pasti jd ga imbang.
    Ga usah utk kasus gede kayak gini. Kalo ada temen yg curhat pun, aku sebisa mungkin nggak mau memihak.
    Perlu tau cerita dr pihak yg lain utk benar-benar bisa melihat masalah secara keseluruhan.

  2. Iya euy pertama kali baca link-nya Ibu Tatty sempat kesel juga kok gitu. Tapi setelah baca klarifikasinya baru manggut-manggut ngerti😀
    Emang harus liat dua sisi dalam 1 cerita untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.

  3. Internet relatif lebih bebas, semua orang bisa mengutarakan apapun. Di tv relatif harus lebih hati-hati, karena sebuah tayangan bisa menimbulkan dampak besar di masyarakat, ada regulasi KPI yang mengatur bila terjadi pelanggaran. Buruknya tv, kepentingan dari berbagai pihak sering bermain di sana. Acara Kick Andy yang sudah tayang, tentu saja sudah melalui proses editing yang selain untuk menyesuaikan dengan jatah durasi tayang, juga untuk menghilangkan apa yang tidak layak untuk di tonton masyarakat. Media televisi dan internet ada plus-minusnya, semua berpulang pada kita untuk lebih bijak menggunakannya.

  4. Ya ampyun Mbak, pas banget sih..aku lagi buka2 detik.com tertarik baca berita Kick Andy Show, sampe mampir juga ke blog Bunda Tatty..eh, la koq buka blog Mbak Devi bahasannya sama juga. Hee, akhirnya ga jadi emosi deh🙂

  5. twitmu harimaumu.
    eh bukan,🙂

    saya juga sering emosian dan nulis di blog. jadi ngerti banget kondisi si ibu itu ketika nulis omelannya itu, tapi karena saya pernah liat beberapa taping acara tivi, kaya’nya si ibu itu yang jump to conclusion tanpa pernah tau apa dibalik acara tivi itu bagaimana.

  6. Begitulah ..

    Iya mbak, kadang seseorang terlalu cepat menarik kesimpulan dan bersikap sesuai “perasaan” hatinya, tanpa mau melihat detail atau menilai lebih jauh apa yang dia hadapi. Apalagi hal itu menyangkut masalah emosi, perasaan kerap jadi bahan pembenaran diri dalam mengeluarkan pendapat.
    Beberapa orang belum bisa me-menej bagaimana dirinya bersikap di tengah masyarakat yang heterogen, masih cenderung membenarkan pendapatnya.

    Lho lho apa ini, malah curcol😀
    Tulisan yang bagus banget mbak *tempel gambar jempol* membuat berpikir dari sisi yang lain, dan menilai secara objektif.

  7. Prinsip saya sih, jangan pernah nulis atau ngetweet pada saat masih emosi. Pengalaman buruk pernah terjadi. Ujung2nya malah menyinggung orang lain. Lebih baik endapkan. Tenangkan diri dulu. Kalau sudah tenang, seharusnya bisa merangkai kata yg lebih ciamik, yg bisa menyampaikan uneg2 kekesalan tanpa membuat orang lain tersinggung.

  8. Jadi inget pertama kali ngedirect Live On Air TV Program padahal biasanya Tapping, edan gila ancur2an. Banyak jump cut & lose shots. Enak kalau tapping apalagi ada cadangan dari mastercam, bagian2 yg ngawur tinggal buang & tambal dari mastercam :))

  9. Peta masalah secara lengkap, terus terang saja, tak saya pahami. Ibu Tatty sudah mengungkapkan, dan Kick Andy sudah menanggapi. Saya pikir itulah manfaat media sosial: masing-masing pihak dapat menjelaskan persoalannya dan selanjutnya adalah kearifan khalayak.

    Pandangan saya estede dan normatif banget yak? Dalam kasus ini saya tidak dapat begitu saja menghakimi. Intinya, saya setuju dengan Pak Pitra, dan menggarisbawahi “note to my self” Jeng Devie🙂

  10. IMHO…mmmmmmmm….kadang kita liat berita itu kek nonton timnas vs negri tetangga kemaren, na karena kita udah terlanjur fanatik n ngefans abis dengan ide yang ditawarkan oleh salahsatu pihak, penilaian kita jadi kabur dan susah buat ndenger yang sebenernya bener.

  11. pertama baca kasus ini di twitter,
    trus baca artikel jawabannya KA, baru kemudian baca postingan si mbak itu di blognya
    terakhir baca postingan ini.
    nambah wawasan banget, terutama postingan ini.

    memang benar, kita sebagai penontong kadang terlalu reaktif

    jangankan si mbak itu, yg baca postingannya si mbak tapi ga ngerti seluk beluk spt yg diceritakan d post ini trus ga baca cerita dari sisi KA, pasti lgsg mudah menghakimi dan lain-lain
    padahal untuk berlaku adil kita harus mendengar cerita dari semua sisi.
    ibarat beli barang aja, kan kita bolak balik atas bawah, kanan kiri u/ memastikan bahwa barangnya utuh dan baik.

    eniwei, nice post mbak

  12. zaman canggih gini bahaya kalo sembarangan beropini. apalagi tentang hal yang gak benar-benar dipahami dan dipublish di media on-line. bentar aja pasti udah menyebar ke mana-mana.😀

  13. sehari usai tulisan di blog itu rame, malemnya ada klarifikasi live dari Andy di Radio @deltafmjakarta, pas saya denger di radio terlihat memang Andy berusaha menjelaskan dan mengklarifikasinya,enak di denger..
    tapi pas baca tulisannya yg mncul beberapa hari kemudian, kok menurut saya yg versi tulisan malah jadi pembelaan, bukan klarifikasi..
    Selebihnya ambil jalan tengah, toh nggak tau kejadian persisnya, dan kita tunggu Jumat ini proses ‘pengusirannya’ ditayangkan atau tidak. Berani KickAndy?
    iki aku nunut ngeblog ngunua? kok duowo yoo

  14. mungkin sebenarnya banyak juga pihak yang memanfaatkan media untuk komplain uneg-uneg isi hati ya mbak…moga” gag ada tuntutan dari hasil ketidakpahaman terhadap suatu sistem tertentu
    😀

  15. stuju mbak,
    ada baiknya kita melihat permasalahan bukan dari 1 sudut pandang saja,
    contohnya ya seperti diatas, Andy F. Noya pasti punya alasan kenapa dy sampai berbuat begitu, begitu pun Bu Tatty..

  16. Ebuset….jadi panjang banget gitu yah urusannya.
    Hal kek gitu, gak hanya soal tulisan, dalam hal apapun harus diterapkan. kalo memang ada masalah yang timbul antara 2 orang atau lebih, ya harus mendengarkan dari semua pihak dulu *halah, sok serius gini*

  17. harusnya emang bersikap tenang dan mencoba menjadi bijak dengan melihat dari berbagai sisi… saya lebih setuju dengan klarifikasi/pembelaan Andy sih.. dia lebih bijak melihatnya dari sisinya.. gak pakai emosi…

  18. kayaknya note to self itu juga cocok untuk saya..

    Tapi kadang kalau tidak langsung ditulis, biasanya mood untuk menulis uneg2 bisa langsung menguap. Mungkin ya gitu ya caranya, ditulis di draft dulu, jangan langsung di publish.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s