The Living Legend : Pak Raden


Sebagai generasi jaman TVRI yang hiburan untuk anak setiap hari Minggu cuma si Unyil dan beberapa film kartun, memang mau tidak mau ya tontonannya itu. Dinikmati sebosannya karena adanya cuma itu, belum ada stasiun TV swasta seperti sekarang. Jauh berbeda dengan dunia hiburan anak jaman sekarang yang lebih variatif dan modern. Tapi jika diperhatikan, sampai sekarang belum ada lho film dan tokoh rekaan yang begitu dicintai dan hidup hingga berpuluh tahun seperti Unyil dan kawan-kawan. Boleh dikatakan film Si Unyil adalah film boneka yang paling legendaris.

Nah, kalau bicara tentang Si Unyil pasti tidak akan lepas dengan sosok bapak-bapak Jawa, galak, berkumis tebal, menggunakan beskap, kain panjang, dan tak lupa blangkon. Ya, dia adalah Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden (Raden Mas Suryomenggolo Jalmowono)😀. Walaupun kalau di film galak tapi aslinya dia pecinta anak-anak lho. Film Si Unyil tanpa Pak Raden itu seperti sayur tanpa garam. Anyep!

Nah, hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011, pukul 11.00 wib, bertempat di fX Sudirman, berlangsung sebuah acara yang bertajuk #PeduliPakRaden : “Kirim Cinta dengan Dongeng Untuk Anak Indonesia”. Acara ini hasil kerja sama antara Sekolah Cikal dan Rumah Main Cikal, fX Plaza, Female Radio, dan Indonesia Bercerita. Inti acara ini adalah untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sosok Pak Raden yang direntang usianya yang sudah tidak muda lagi (lahir di Puger, Jember, 28 November 1932) dan kesehatannya sudah tidak seprima dulu, beliau memang sedang membutuhkan bantuan dana untuk pengobatan kesehatannya.

Aha! Akhirnya saya bisa bertemu langsung, bersalaman, ngobrol sebentar, memeluk, bahkan berfoto bersama tokoh galak ngangenin yang pintar melukis dan mendongeng itu! Saya melihat beliau sedang duduk di deretan kursi panitia dan undangan. Sosoknya masih tetap sama seperti dulu, perawakan agak gemuk, memakai beskap, dan tak pernah lupa kumis artificial dan blangkon khas yang menunjang karakternya.

Namun, ketika beliau diundang untuk maju ke depan dan mulai mendongeng di sesi terakhir, saya merasa sedikit trenyuh. Untuk berjalan menuju tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung itu, yang jaraknya sekitar 2 meteran, beliau harus dituntun dan berjalan agak tertatih-tatih, rematik. Ternyata bukan hanya tokoh boneka Pak Radennya saja yang dulu berkeluhan encok/rematiknya kumat, beliau sendiri juga mengalaminya. Saya melirik ke sebuah sudut depan panggung. Ada sebuah kursi roda yang bertuliskan “Pak Raden”. Di usianya yang hampir menginjak 80 tahun dan kondisi kesehatan yang mulai naik turun beliau memang memerlukan kursi roda untuk membantu mobilitasnya yang tak lagi gesit.

Singkat cerita, saya bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita (Jakarta) hadir bukan hanya untuk sekedar menyaksikan acara yang dipenuhi oleh anak-anak berbagai usia itu, tapi juga melihat secara langsung bagaimana konsep mendongeng yang “seru” dan bisa menarik minat anak-anak. Saya yang masih sangat amatir di bidang dongeng jelas merasa mendapat banyak ilmu langsung dari masternya pendongeng yaitu Pak Raden, dan menyaksikan live performance menakjubkan dari Mbak Poetri Soehendro yang mendongeng dengan sangat atraktif.


Oh ya, sebagai pendongeng, Pak Raden punya ciri khas mendongeng sambil menggambar. Bisa dikatakan beliaulah pendongeng pertama di Indonesia, atau bahkan di Asia, yang menuturkan kisah dongeng sambil menggambar. Ada hal menarik yang disampaikan oleh Pak Raden, ketika ditanya mengapa dia lebih suka mendongeng sambil menggambar?

“Ya, biar anak-anak mendapatkan gambaran langsung tentang dongeng apa yang sedang diceritakan..”

Hmm, benar juga ya. Kadang anak-anak butuh penggambaran yang lebih jelas tentang jalannya sebuah cerita, jadi bukan hanya sekedar membayangkan dan mereka-reka. Oh ya, tentu kita masih ingat kan, kalau Pak Raden ini selain pendongeng juga seorang ilustrator dan pelukis handal? Ya, di rumahnya di area Petamburan kita bisa menemukan berbagai lukisan yang merupakan hasil kreatifitas tangan senimannya.

“Semua orang bisa jadi pendongeng. Tapi yang lebih penting adalah, cintai dulu siapa yang akan kita dongengi. Nah, siapa saja mereka? Ya anak-anak ini..”, tuturnya menjawab pertanyaan tentang bagaimana menjadi seorang pendongeng yang baik, sambil menunjuk ke arah puluhan anak yang mengerumuninya sebelum acara mendongeng dimulai.

Ah, betul sekali. Mendongeng dari hati. Mendongeng bukan hanya sekedar aktivitas menyampaikan sebuah cerita. Bukan hanya membacakan dongeng hingga anak tertidur. Tapi lebih dari itu, ada sebuah komunikasi dan pesan yang coba dibangun melalui dongeng itu sendiri. Akan terasa berbeda rasanya ketika mendengarkan dongeng yang disampaikan ala kadarnya (hanya membaca) dan yang disampaikan secara tulus (menjiwai). Ada ya mendongeng dengan tulus? Ada, saya menemukan dan melihatnya langsung dalam sosok Pak Raden ketika siang itu beliau mendongeng di depan puluhan anak kecil.

Beliau membawa boneka Pak Raden, Melani, Orang Gila, dan beberapa karakter boneka lainnya untuk mendukung dongeng yang akan dibawakan. Anak-anak lucu itu langsung berkerumun di sekeliling Pak Raden. Bagi mereka yang bukan hidup di jaman Si Unyil masih populer dulu, tentu merupakan hal yang menakjubkan. Tapi buat Papa Mama-nya tentu ini merupakan sesi nostalgia masa kecil ya😀. Pak Raden bukan hanya bercerita melalui boneka-boneka tangan tapi juga menulis sendiri dongenganya serta menggambarnya langsung di atas white board.

Satu hal yang saya pelajari hari itu. Jika ingin serius menjadi seorang pendongeng yang berhasil menyedot perhatian dan antusiasme anak-anak adalah dengan cara membaur dengan mereka, menghapus jarak,”ngemong”, dan jangan jaim. Tanpa mengecilkan pendongeng-pendongeng lainnya yang sudah ada, untuk semua hal diatas kita harus mengakui bahwa Pak Raden masih tetap maestronya hingga saat ini!

Di akhir pertemuan saya dengan beliau, saya bisikkan di telinga pria berjulukan “kakek sejuta cucu” itu :

“Pak, saya senang bertemu dengan idola masa kecil saya dulu. Tetap sehat ya, Pak. Sehingga Pak Raden tetap bisa berkreasi terutama untuk dunia anak-anak..”

Beliau pun mengangguk, tersenyum, sembari menepuk lengan saya, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Kami pun berpelukan sebentar. Tak terasa saya pun larut dalam suasana haru dan ikut menitikkan air mata😦

Sampai ketemu di lain kesempatan ya, Pak. Semoga Tuhan menjaga serta senantiasa memberikan kesehatan dan usia yang panjang untuk Pak Raden. Doa kami, anak-anak Indonesia, teriring untuk Pak Raden, our living legend🙂

[devieriana]

 

dokumentasi pribadi

The Living Legend : Pak Raden

18 thoughts on “The Living Legend : Pak Raden

  1. berbicara tentang Pak Raden, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa beliau adalah seorang legenda hidup dunia dongeng di Indonesia.

    seperti dalam serial boneka Si Unyil, walaupun namanya serialnya adalah ‘Boneka Si Unyil’, tapi tetap saja sosok Pak Raden baik dalam karakter serial tersebut maupun dalam kehidupan nyata, memberikan kesan tersendiri.

    benar seperti jeng Devi bilang, bahwa serial Si Unyil tanpa Pak Raden itu seperti sayur tanpa garam, rasanya seperti ada yang kurang. padahal banyak karakter lain yang bermain disitu, tapi tetap saja setiap ada cerita dengan sisi moral dibaliknya, hampir bisa dipastikan tokoh Pak Raden lah yang berperan didalamnya.

    saya ingat dulu ada acara di televisi tentang acara menggambar dan mendongeng dengan Pak Raden sebagai pembawa acaranya *saya lupa TV apa*. Dan salah satu ciri khas Pak Raden dalam setiap menilai lukisan lukisan yang masuk adalah, “Bagus…….”

    Semoga saja beliau tetap dalam keadaan sehat wa’alfiat agar tetap bisa terus menginspirasi kita dalam memberikan kasih kepada anak anak melalui dongeng dan cerita.

    kalau saya datang dalam acara tersebut, saya pasti akan berkaca kaca bertemu beliau, hihihihihihi😀😀😀

  2. Pak Raden zaman kecil saya sungguh popoler, bersama tokoh lain seperti unyil.
    Sayangnya zaman sekarang sudah ada pergeseran tentang tokoh idola, anak lebih mengenal tokoh2 dari luar. Apakah memang saat ini krang kreatif??😦

  3. duh mbak mbaca paragraf terakhirmu aku jadi mberebes mili sisan :(( Pak Raden juga salah satu idolaku. Karena beliau saya jadi punya penggambaran bapak2 jawa bernama Raden yang galak sama si Unyil😀

  4. Dulu…
    Setiap hari minggu
    Serial Si Unyil yang ditunggu
    Banyak dari serial itu yang jadi menyebar
    Pak ogah yang selalu minta cepek
    Si Unyil : baru mau akan (masih ada yang ingat?)
    Orang gila, yang bener2 bikin takut (dimana anakku, dimana isteriku….)
    Dan tentu saja, Pak Radek, yang guaaalak, diisengin sekaligus ditakutin
    Wih puluhan tahun masih saja bertahan

  5. kangen dengan penampilan pak raden lagi di tv, dulu setiap minggu pagi beliau selalu muncul bersama unyil, pak ogah, dll. sayangnya jaman sekarang udah ga ada lagi tokoh2 seperti mereka yg ada cuma kartun2 dari luar yg sebenarnya bukan ditujukan untuk usia anak2

  6. Walaupun tidak nge-fans berat tapi saya dulu juga suka acara si unyil karena saat saya kecil memang itulah salah satu diantara minimnya hiburan anak-anak yang tersedia di televisi.

    Oya, anak saya sekarang hampir 1,5 tahun dan sepertinya saya sudah harus mulai belajar mendongeng, seperti yang dilakukan ayah saya dulu.

  7. Hallo, Mba..
    Dapat blog ini saat blogwalking, dan langsung sukses nangis di kantor sampai ditertawakan teman sebelah.
    Pak Raden memang a living legend. Thanks to him, saya dulu sebagai anak daerah (Malang, Jawa Timur), bisa dapet hiburan lewat TVRI setiap Minggu pagi (kalau tidak salah). Unyil ikut menghantarkan saya tumbuh besar.

    Salam Untuk Pak Raden ya, Mbak.. apabila memungkinkan, bisa tolong di email ke saya ttg contact-nya Pak Raden.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s