Bitter or Better?

“It’s a lie to think you’re not good enough. It’s a lie to think you’re not worth anything...”
– Nick Vujicic –

Saya adalah salah satu pengguna alat transportasi umum Transjakarta. Selain Transjakarta, saya juga menggunakan Kopaja 57 atau Metromini 75 untuk mengantar saya pulang ke Mampang. Sebagaimana pemandangan yang lazim dijumpai di setiap terminal, selain pedagang asongan yang pasti ada yaitu yaitu pengemis. Selama ini saya hampir tidak pernah ada masalah dengan mereka, tapi jika kelakuan mereka sudah mengganggu tentu lama-lama akan menimbulkan rasa kurang nyaman.

Seperti contohnya sore itu, saya naik Kopaja 57. Belum jauh laju bus dari terminal, sudah ada seorang pria yang sengaja mengedrop seorang anak kecil dari gendongan punggungnya, dan memasukkannya ke dalam bus yang saya tumpangi. Bocah perempuan itu berambut pendek, berusia sekitar 6-7 tahun, dan tampak sangat dekil. Penampilannya selalu menggunakan celana panjang dengan salah satu kaki yang buntung, entah sengaja disembunyikan —seperti berbagai trik pengemis yang pernah dipertontonkan di televisi— atau memang tidak punya kaki beneran.

Dia menyeret badannya mengarah ke tempat duduk saya. Bukan hanya berkata, “Bu, minta uang, Bu, buat makan Buuu…” tapi juga sambil menarik celana dan lengan baju saya, setengah memaksa. Dulu sih selalu saya kasih uang lantaran iba, tapi makin kesini kok sepertinya saya juga ikut memberi setoran pada si penggendongnya tadi ya. Sesekali saya memang tega tidak kasih mereka uang. Ketika saya bilang maaf sambil menggelengkan kepala, dia makin keras menarik ujung celana saya, menunggu hingga saya memberi. Andai memang uang itu buat makan, mungkin lain kali lebih baik saya memberikan dalam bentuk makanan.

Itu baru kasus pertama. Kasus berikutnya, naiknya 2-3 remaja pria bertato dengan beberapa tindik di telinga yang berkata dengan keras, berteriak, dan silih berganti di dalam bus, layaknya sedang berorasi.

“Ya, Pak, Bu.. jaman sekarang banyak anak muda yang melakukan tindakan kriminal, Pak! Bukan apa-apa semuanya karena butuh uang, Bu! Mereka menjambret! Mencopet! Bahkan tak segan-segan membunuh! Masuk penjara! Semua tindakan kriminal itu dilakukan demi sesuap nasi, Pak! Buat makan, Bu! Uang seribu dua ribu yang Bapak Ibu kasih ke kami tidak akan langsung menjadikan Bapak dan Ibu miskin. Jadi tolonglah, Pak, Bu! Beri kami uang!”

Andai saja itu diucapkan dengan kalimat yang sopan, dan tidak bernada mengintimidasi, mungkin akan ada banyak orang yang bersimpati pada mereka. Tapi, berhubung cara penyampaiannya menyeramkan, jadinya malah banyak orang yang tidak memberi uang samasekali. Belum lagi jika ternyata dalam satu bus ternyata hanya ada 1-2 orang saja yang memberi uang, jangan harap mereka akan keluar dari bus dengan diam saja. Sambil mengomel, iya. Lah, minta kok maksa 😐

Untuk anak-anak muda macam mereka yang masih dikaruniai kesehatan dan kelengkapan anggota tubuh, kenapa tidak mencoba mencari pekerjaan yang jauh lebih baik? Setidaknya tidak menjadi seorang peminta-minta, apalagi yang memaksa seperti itu.

Andai saja mereka mengenal sosok Nick Vujicic (baca : Voy-a-chic) seorang pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, hanya kepala, leher, dan badan saja, serta “kaki” kecil yang kurang layak disebut kaki (dia menyebut “kakinya”itu dengan sebutan paha ayam). Seharusnya mereka malu jika harus menjadi seorang peminta-minta, karena seorang Nick yang seorang difabel saja bisa menjadi seorang motivator bagi manusia normal lainnya, dan hebatnya lagi dia menjadi Direktur Life Without Limbs, mengapa yang dikaruniai kelengkapan fisik justru merengek meminta belas kasihan dan bahkan berpura-pura mengalami cacat tubuh?

Atau, jika kita ingat dengan kisah Helen Keller yang kehilangan penglihatan dan pendengaran sebelum genap berusia dua tahun karena penyakitnya. Namun siapa sangka jika dia justru menjadi seorang pengarang, pembicara, dan aktivis sosial.

Bayangkan, seseorang yang tidak dikaruniai fisik selengkap kita saja mampu melakukan hal-hal besar, memotivasi orang lain, dan bahkan berhasil merengkuh dunia, tapi mengapa ada anak-anak muda yang secara fisik jauh lebih normal tapi hanya sanggup menjadi seorang peminta-minta?

“When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has been opened for us”
– Helen Keller –

 

[devieriana]

picture source taken here

Advertisements
Bitter or Better?

Lentera Untuk Ipat

Life’s most urgent question is: What are you doing for others?”
– Martin Luther King, Jr. –

Pernahkah kalian membayangkan harus hidup dalam kondisi fisik yang kurang sempurna dan ketidakjelasan apa jenis kelamin kalian, apakah kalian perempuan atau laki-laki? Jangankan bermimpi menjadi seorang model yang berkulit bagus, bermimpi memiliki kulit selayaknya manusia normal saja mungkin tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya.

Tersebutlah seorang bocah berusia 5 tahun yang tinggal di daerah Warakas bernama Fatahiyah atau yang kerap dipanggil Ipat. Dia memiliki kelainan genetik sejak lahir. Hampir separuh kulit tubuhnya menghitam dan ditumbuhi bulu, serta menurut keterangan dokter Ipat memiliki jenis kelamin yang meragukan karena ada kelainan yang membuat klitorisnya membesar.. Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan, karena ketidaksempurnaan fisiknya ini juga berpengaruh pada kondisi psikologis Ipat. Dia tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, dan cenderung tertutup. Kalau bertemu dengan orang lain, dia lebih sering menunduk dan tidak mau memandang wajah orang yang mengajaknya bicara.

Ayah Ipat sendiri adalah seorang pekerja serabutan yang penghasilan setiap harinya tentu kurang bisa diharapkan, sedangkan ibu Ipat adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ipat adalah anak keempat dari lima bersaudara. Saudara-saudara Ipat semuanya tumbuh dan memiliki fisik yang normal, hanya Ipat yang memiliki kondisi fisik seperti itu.

Dulu, hampir setiap hari Ayah Ipat mengusahakan dana untuk pengobatan Ipat dengan cara mengajak Ipat ikut bersamanya sambil mengetuk simpati satu persatu orang agar bersedia membagikan sebagian rezekinya untuk pengobatan Ipat. Namun tentu saja hasilnya kurang maksimal. Ipat yang waktu itu masih balita, mengalami kelelahan fisik, dan mungkin juga psikis, karena selain harus melakukan perjalanan yang melelahkan juga harus rela mempertontonkan kekurangan fisiknya kepada orang lain.

Hari Sabtu (6/7) lalu, saya beserta empat teman yang lain, dan juga Si Hubby, berkesempatan untuk bertemu Ipat dan keluarga dalam acara buka bersama di salah satu tempat makan di daerah Danau Sunter. Itu adalah kali pertama saya melihat Ipat, anak yang rencananya akan kami bantu. Bocah berperawakan kecil itu cenderung diam, lebih banyak menunduk, tidak mau bertatapan mata dan bicara dengan kami. Butuh waktu untuk bisa menetralisasi keadaan supaya Ipat bersedia membaur bersama kami.

Saya juga berkesempatan ngobrol dengan Pak Ecim, ayah Ipat. Dia mengatakan bahwa dulu sebenarnya Ipat sudah sempat dioperasi kulitnya, yang operasinya disponsori oleh salah satu stasiun televisi swasta. Namun entah mengapa yang ditangani oleh stasiun televisi tersebut ternyata hanya sampai dengan tahap operasinya saja. Sementara tindak lanjut perawatan dan pengobatan pasca operasi tidak ada sama sekali. Terpaksalah Pak Ecim mencari dana lagi untuk pengobatan pasca operasi Ipat.

Sayangnya, dibalik kisah memprihatinkan itu ternyata masih ada pihak-pihak yang tega memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Berkedok ingin membantu Ipat dan keluarga, ujung-ujungnya malah justru meminta uang dari keluarga Ipat yang jelas-jelas dari keluarga kurang mampu. Itulah sebabnya, kami memilih untuk mendampingi sendiri Pak Ecim dan keluarga, utamanya dalam proses pengobatan Ipat nantinya.

Masalah ternyata tak berhenti sampai disitu saja, sebagai pemegang kartu GAKIN (Keluarga Miskin), seharusnya pengobatan Ipat tidak dikenakan biaya sama sekali, namun justru kebalikannya, Ipat masih harus dikenakan biaya sebesar Rp200.000,00 untuk biaya tes kromosom di RSCM.

“Pak, bukannya semua pemegang kartu Gakin seharusnya bebas biaya pengobatan ya?”

“Iya, Mbak. Nggak tahu nih, saya juga bingung. Kemarin saya bawa Ipat periksa ke Cipto, tapi lab-nya itu yang di sebelah rumah sakitnya. Saya nggak tahu itu bagian apanya, kayanya swastanya ya, Mbak.. Jadi ya tetap harus bayar… ”

Sepertinya memang harus ada yang mendampingi Pak Ecim ke RSCM, mengingat disana rentan sekali pasien-pasien/keluarga lugu macam Pak Ecim ini digiring oleh calo menuju jalan yang tidak semestinya, sehingga pelayanan yang seharusnya gratis pun menjadi berbayar. Sebetulnya ingin sekali melakukan pendampingan terhadap Pak Ecim dalam mengurus pengobatan Ipat di RSCM, namun apa daya, karena saya dan juga 3 orang teman saya yang lain juga diikat oleh jam kerja, sehingga kurang memungkinkan jika harus melakukan pendampingan.

Selepas berbuka bersama, kami mengantarkan Ipat dan keluarganya hingga sampai rumah. Sebelumnya, jangan pernah berpikir bahwa rumah Ipat ini terletak di sebuah perkampungan dengan jalanan yang lebar, atau setidaknya cukup untuk dilewati sebuah sebuah motor/sepeda. Jalanan menuju rumahnya benar-benar sempit dalam arti kata yang sebenarnya. Jalanan setapak yang hanya muat untuk satu orang. Semakin ke dalam, semakin mengerucut hingga kami harus berjalan miring untuk menuju ke rumahnya yang berada di pojokan itu. Jalanannya pun dipenuhi dengan bebatuan. Bersyukur bahwa badan kami tidak terlalu gemuk, sehingga masih memungkinkan untuk melewati jalanan sesempit itu.

Setelah melalui perjalanan yang rumit itu akhirnya kami sampai di rumah Ipat. Indera penciuman kami pun langsung disambut dengan bau khas sungai keruh. Rumahnya sendiri berbentuk bangunan dua lantai semi permanen, kombinasi antara tembok dan triplek-triplek bekas. Sebenarnya sedih deh kalau melihat kondisi fisik rumah yang kurang layak disebut rumah itu. Namun rupanya mereka tidak punya pilihan lain untuk tinggal karena beruntung mereka masih bisa merasakan memiliki tempat tinggal dan tidak hidup menggelandang.

Ipat tampak mulai sedikit merasa nyaman dengan kehadiran kami di rumahnya. Dia mulai berani berdendang kecil, dan akhirnya dia pun mulai berani beratraksi menyanyikan lagu Playboy-nya Seven Icon dengan artikulasi yang kurang jelas. Si Hubby mengambil beberapa gambar Ipat dengan menggunakan kamera handphone secara candid. Kenapa harus candid? Ya, karena Ipat tidak pernah mau sengaja diambil gambarnya. Seperti yang saya ceritakan tadi Ipat sangat tertutup apalagi dengan orang-orang baru yang belum dikenalnya.

Sementara Ipat asyik bermain sendiri dengan abangnya, kami pun melanjutkan diskusi masalah pengobatan Ipat dan langkah selanjutnya yang akan kami ambil. Ditengah diskusi kami, tiba-tiba Ipat melintas di sela-sela kami yang saat itu duduk di lantai. Dia meminta ibunya membuka baju bawahannya karena mengeluh badannya gatal. Saat itulah saya melihat sebagian tubuh Ipat yang berwarna kehitaman dan ditumbuhi bulu. Bagian perutnya hingga ke paha, dan beberapa bagian di kakinya pun mengalami bercak-bercak kehitaman dan ditumbuhi bulu. Sungguh trenyuh melihatnya :(. Tidak berani jika saya yang mengalami hal itu. Dulu wajah saya ditumbuhi jerawat saja sudah uring-uringan dan kurang percaya diri, apalagi jika sebagian kulit saya berwarna hitam legam sejak lahir dan berbulu seperti itu :-s. Belum lagi ketidakjelasan jenis kelaminnya, apakah Ipat ini seorang perempuan atau laki-laki. Hal-hal itulah yang secara psikologis mengakibatkan Ipat mengalami krisis kepercayaan diri, karena memang kondisi fisiknya sedikit berbeda dengan manusia normal pada umumnya.

Menurut keterangan Nanda, salah satu teman yang juga akan membantu Ipat, jika kartu Gakin yang dimiliki Pak Ecim tidak berlaku, maka operasi Ipat akan menelan biaya kurang lebih sebesar 40 juta rupiah. Tentu ini adalah biaya yang sangat besar jika harus ditanggung sendiri oleh keluarga Pak Ecim yang hanya seorang buruh serabutan. Oleh karena itu, dibutuhkan bantuan dana dari para donatur, siapapun itu yang peduli terhadap nasib Ipat dan keluarganya.

Namun, jika uang tersebut sudah terkumpul dan ternyata kartu Gakin Pak Ecim berlaku sehingga seluruh biaya operasi Ipat ditangani secara gratis, uangnya mau dikemanakan? Ya, setidaknya uang tersebut bisa dipergunakan untuk membiayai hidup Pak Ecim dan keluarga selama Ipat dirawat di RS, dan bisa dipergunakan juga untuk biaya pasca operasi.

Nah, berhubung kita juga masih menunggu hasil tes kromosom dari RSCM, sehingga masih belum bisa dipastikan apa jenis kelamin Ipat. Bersyukur jika nantinya dia berjenis kelamin perempuan, karena berarti Ipat tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk menyesuaikan diri, karena tampilan Ipat sekilas memang lebih cenderung ke anak perempuan. Tapi jika tes hasil kromosom nanti  ternyata menyebutkan hal yang sebaliknya Ipat akan butuh seorang psikolog untuk melakukan pendampingan.

Bagi teman-teman yang ingin membantu Ipat, silakan berkirim email ke saya devieriana@gmail.com, inandatiaka@gmail.com, mohtaufan@ymail.com, atau ke ekaiswahyuni@gmail.com.

Jika teman-teman juga ingin berbagi dalam bentuk donasi, silakan disalurkan ke Bank Mandiri Cabang Bandung Siliwangi dengan No. Rekening 13 0000 4747 641 a.n. Inanda Tiaka, atau ke rekening BCA cabang Kiara Condong  2800634469 a.n  Eka Iswahyuni.

 

“Be thankful for what you have, but never take what you have for granted. Share with those who are less fortunate. You do not know what tomorrow brings.”
– Catherine Pulsifer –

 

 

 

[devieriana]

 

Sumber gambar : di sini dan sini

Lentera Untuk Ipat

#Bined02 : Bukan (Sekadar) Bincang Biasa

Rabu (27/7) lalu, saya berkesempatan hadir, tepatnya diundang, dalam acara Bincang Edukasi di @atamerica Pacific Place. Kreshna, salah satu inisiator Bincang Edukasi inilah yang mengundang saya untuk hadir malam itu. Kebetulan saya juga pernah menyumbangkan tulisan untuk #IndonesiaJujur  beberapa waktu lalu, yang lagi-lagi gerakan ini  juga dipelopori oleh Kreshna 😀

Jujur, awalnya saya masih belum “nyambung” dengan format acara ini. Akan seperti apakah bentuk acaranya? Apakah semacam talkshow, diskusi, sharing idea, forum tanya jawab, atau yang seperti apa? Tapi ketika acara mulai bergulir, akhirnya saya mulai paham dengan format acara ini, dan mulai menemukan keasyikan tersendiri menyimak acara yang mengulas tentang pendidikan dalam berbagai sisi namun disajikan secara ringan sesuai dengan keahlian si narasumber.

Saya sengaja mengambil posisi duduk yang nyaman dan strategis, yang sekiranya cukup nyaman untuk melaporkan dalam bentuk foto dan live tweet. Tidak ada yang meminta saya untuk membuat live tweet. Bahkan saya sengaja meminta izin terlebih dahulu kepada follower saya di twitter, barangkali malam itu saya dianggap “menyampah” di timeline (walaupun isinya sama sekali bukan sampah). Ya, rasanya sayang aja, kalau acara sekeren itu tidak ada reportase secara live-nya.

Kreshna membuka acara dengan mengemukakan secara singkat tentang latar belakang berdirinya Bincang Edukasi serta visi misi mereka. Ternyata ada 5 orang penyaji yang akan tampil malam itu.

Diawali oleh paparan Agus Sampurno, beliau adalah seorang Creative Teaching Evangelist, bisa ditemukan dalam akun twitter @gurukreatif, serta aktif mengelola blognya di http://gurukreatif.wordpress.com. Malam itu beliau menyampaikan sebuah bahasan yang sangat menarik tentang realita pendidikan di Indonesia. Betapa beliau merasakan kemonotonan dalam dunia pendidikan kita. Belajar, ibarat sebuah kegiatan yang harus dilakukan secara formal dan serius. Padahal hal-hal yang serius pun sebenarnya tetap bisa dilakukan secara fun, karena sebenarnya belajar itu menyenangkan.

Beliau lalu menunjukkan sebuah foto kegiatan training untuk para pendidik, yang masih diadakan dalam bentuk yang sangat konvensional. Layaknya sedang mengikuti penataran, para peserta duduk berjajar, mendengarkan, bertanya, dan mencatat. Padahal seorang pendidik yang menginginkan siswanya aktif seharusnya juga mendapatkan training yang bentuknya aktif pula, bukan duduk manis macam itu, kan? Tanpa sadar saya juga mengiyakan.

Guru sebagai sebuah sosok panutan bukan hanya memanggul sebuah tanggung jawab dalam hal pendidikan saja tapi juga dari sisi moral. “Menjadi seorang guru itu sangat berat. Selain dia harus selalu menjadi orang dewasa di dalam kelas, dia juga harus walk the talk. Bahkan, dalam kehidupan online pun kami masih dituntut harus menjadi dewasa”, ujarnya.

Pak Agus juga menunjukkan pada kami bagaimana cara bertepuk tangan ala “silent cheers”. Wah, tepuk tangan yang bagaimana itu? Cukup mengangkat kedua tangan menghadap ke depan, lalu goyangkan seperti lambaian tangan Miss Universe :D. Apa maksud gerakan ini? Ketika seorang siswa maju ke depan kelas, pasti dia sudah mencoba menampilkan semaksimal mungkin apa yang dia mampu. Namun kadang, jika kita mengapresiasi apa yang sudah dia lakukan di depan kelas dengan tepuk tangan, akan ada perbedaan perlakuan antara satu siswa dengan siswa yang lain ketika ternyata siswa yang satu penampilannya tidak sebagus siswa sebelumnya atau sebaliknya. Itulah mengapa Pak Agus menciptakan gerakan tepuk tangan tanpa suara ini. Siswa akan mendapatkan perlakuan yang sama, tidak mendapatkan tepukan tangan yang riuh, tapi dia tetap bisa merasakan apresiasi yang diberikan oleh teman-teman dan gurunya.

Pak Agus menutup paparannya dengan kalimat yang sangat bagus, “Seorang guru yang baik bukan hanya seseorang yang pintar di subjeknya, melainkan seseorang yang bisa menginspirasi bagi lainnya.”

—–

Pembicara kedua yang selanjutnya hadir adalah Nandha Julistya. Beliau adalah inisiator Reading Bugs  and KKS Melati. Judul slidenya sangat mengundang rasa penasaran : Tahu Membaca atau Mau Membaca.

Komunitas Reading Bugs ini terbentuk dari mimpi dan keinginan besar untuk melihat anak-anak dan bangsa Indonesia gemar membaca. “Tahu/bisa membaca” dan “mau/gemar membaca” jelas dua hal yang berbeda. Disinilah dibutuhkan usaha orangtua (orang dewasa ) agar kebiasaan membaca menjadi hal yang mengasyikkan bagi anak, sehingga menumbuhkan rasa gemar membaca hingga dewasa nanti.

Dia lalu mencontohkan Dr. Ben Carson. Doktor jenius ini dibesarkan oleh seorang ibu yang hanya lulusan kelas 3 SD dan bekerja sebagai pramuwisma. Namun ternyata dari tangan ibu yang “hanya” mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SD ini tumbuh seorang psikolog sekaligus dokter ahli bedah ternama di USA. Si ibu memilih mendidik sendiri anaknya dengan sering memberikan buku-buku bacaan, dan tak jarang pula dia membacakannya sendiri. Pada usia 33, Carson menjadi Direktur Bedah Saraf Anak termuda di USA. Bukan hanya itu, pada tahun 1987, dia juga mengukir sejarah dengan keberhasilannya memisahkan kembar siam di bagian kepala yang pada operasi-operasi sebelumnya selalu mengalami kegagalan.

Pak Nandha lalu menunjukkan slide yang berisi data perbandingan beberapa negara dalam kaitannya dengan skor melek baca. Negara kita, skor melek bacanya tinggi. Namun sayang, tingkat kemauan bacanya rendah. Se-Asia, Indonesia menduduki peringkat 57 dari 65 negara. Duh! 😦

Beliau juga menyampaikan fenomena membaca di Indonesia, antara lain:
1. anak Indonesia dipaksa sesegera mungkin untuk tahu membaca;
2. pelajaran membaca di Indonesia membuat anak stress;
3. sekolah dan ortu menjadi pembunuh minta baca anak;
4. terjadi manipulasi saat anak belajar membaca.

Di Indonesia ada sebuah fenomena unik, dimana para orangtua seakan berlomba-lomba untuk membuat anak-anaknya bisa membaca sejak dini. Bahkan di salah satu mall di Jakarta ada lho, kursus membaca untuk anak usia 7 bulan dengan biaya mulai dari 900 ribu per bulan hingga sekian juta. Sepertinya kita perlu mencontoh Finlandia. Finlandia adalah negara yang sangat konsisten dalam mendidik anak-anak di negaranya terutama untuk mulai mengenal aksara. Anak-anak Finlandia dikenal sebagai pembaca paling baik. Mereka rata-rata mulai diperkenalkan membaca di usia 7 tahun, tidak ada yang kurang dari usia 7 tahun.

Di akhir paparan Pak Nandha menyampaikan beberapa butir harapan untuk pelajaran membaca di Indonesia:
1. pelajaran membaca dibuat menyenangkan;
2. biarkan anak belajar membaca secara alami;
3. orangtua dan guru berperan aktif dengan membacakan buku (read aloud) secara rutin pada anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah;
4. bermain sambil belajar benar-benar diterapkan sesuai dengan maknanya;
5. membaca, menulis, berhitung, tidak dijadikan syarat penerimaan siswa TK menjadi siswa SD.

Sungguh ulasan yang sangat menarik dan membuat saya jadi lebih paham bahwa untuk menjadikan anak gemar membaca caranya bukan hanya dengan memberikan mereka buku bacaan yang bermutu saja, namun dengan juga dengan mendampingi dan membacakan buku untuk mereka. Yang paling penting bukan target anak bisa membaca, tapi bagaimana membuat waktu membaca menjadi menyenangkan.

—–

Tiga penyaji berikutnya semuanya perempuan. Diawali oleh Karina Adistiana. Dia adalah inisiator Gerakan Peduli Musik Anak, bisa dijumpai di akun twitter @Anyi_Karina. Dalam acara ini Karina mengajak mendidik anak melalui lagu. Mengasyikkan sekali mengikuti paparan yang disajikan secara musikal oleh Karina dan teman-temannya ini. Bahkan di awal sajian, dia sudah mengajak ibunya menyanyi di panggung dengan diiringi petikan gitar. Dengan sedikit berseloroh dia mengatakan, “menjadi orangtua itu enak, kalau mau nyanyi nggak perlu suara bagus. Anak-anaknya pasti mau dengerin dan nggak akan protes” ;))

Dia bercerita, ketika menempuh S2 Psikologi, Karina membuat thesis yang berhubungan dengan anak tuna netra yg mengalami Specific Language Impairment (anak mengalami kesulitan berbahasa sedangkan kemampuan  non verbal atau kepandaian adalah normal). Dia juga membawakan sebuah lagu hasil ciptaan guru dan murid SLB G Rawinala yang berjudul Tanganku. Yayasan pendidikan Dwituna Rawinala ini merupakan lembaga yang melayani kebutuhan pendidikan penyandang cacat ganda netra. Lagu itu dibawakan dengan iringan bunyi-bunyian yang dihasilkan dari piring, gelas, dan peralatan makan lainnya yang dipukul-pukul dengan irama tertentu.

Dalam kesempatan yang sama Karina juga menyampaikan bahwa ada beberapa kenyataan tentang lagu anak di Indonesia :
1. anak menyanyi lagu yang belum tentu sesuai dengan tahap perkembangannya;
2. anak dilarang menonton film dewasa tapi boleh menyanyikan lagu (dengan topik) dewasa;
3. orangtua tidak menyadari manfaat musik anak;
4. di sekolah, guru TK mengeluhkan kurangnya lagu anak yang baru

Hmm, iya juga ya. Sekarang coba ingat deh, setelah eranya Tasya, Sherina, dan Joshua, adakah lagu anak-anak yang lain dan sepopuler mereka? Yang ada justru kontes penyanyi anak tapi membawakan dengan lagu-lagu dewasa.Nah, kebetulan nih, di akhir acara, Karina memberikan CD Musik Anak yang bertajuk “Yo Mari Berdendang”, for free lho :D/

Jadi, bagi teman-teman yang berbakat menciptakan lagu, silakan menciptakan lagu anak, gih. Siapa tahu nantinya lagu kalian bisa lebih dikenal banyak orang dan utamanya mendidik anak 🙂

—–

Pembicara selanjutnya yang tampil malam itu adalah Wiwiet Mardiati. Beliau adalah seorang Homeschooling Evangelist, bisa ditemui dalam akun twitternya @wietski dan blognya http://atalaprasetyo.com. Paparannya malam itu bertemakan “Gerakan Pemberdayaan Keluarga: Adaptasi Spirit dari Homeschooling”

Seringkali homeschooling disikapi secara salah dan berbeda. Dalam anggapan masyarakat awam, anak homeschooling kualitasnya kurang bagus jika dibandingkan dengan yang menjalani pendidikan formal di sekolah. Ada kecenderungan pendapat pula yang mengatakan jika anak-anak yang homeschooling cenderung tidak bisa bersosialisasi, dan eksklusif. Seluruh pendapat ini ditepis oleh Mbak Wiwiet yang memang adalah seorang penggiat homeschooling.

Jadi ingat, beberapa waktu lalu saya juga sempat berdiskusi ringan dengan seorang teman, dan ketika itu saya juga berpendapat sama dengan orang kebanyakan tentang homeschooling. Namun ternyata saya keliru. Jika kita perhatikan, ternyata anak yang bersekolah di sekolah umum itu sebenarnya tidak “sebebas” anak-anak yang homeschooling. Mereka harus tinggal dalam sebuah kelas yang kesempatan mengekspos tempat-tempat terbuka dan atau jalan-jalan tidak sebanyak anak-anak yang homeschooling. Mereka sengaja “dikelompokkan” dalam sebuah grup anak-anak yang seusia, dan terpaksa mengikuti aturan “mainstream” yang dibuat oleh sekolah. Sehingga mereka kurang memiliki kebebasan untuk berkreasi dan mempelajari apa yang mereka sukai karena terbentur oleh jam sekolah dan kurikulum sekolah.

Dalam acara ini, Mbak Wiwiet mengatakan bahwa keluarga sebenarnya adalah penanggung jawab utama pendidikan anak. Artinya, orangtua adalah penanggung jawab pendidikan anak, pihak-pihak di luar orangtua bisa disebut sebagai “asisten” orangtua. Sebenarnya manfaat lain dari homeschooling adalah adanya koneksi yang kuat antara orangtua dan anak. Oh ya, kenyataan yang terjadi di Indonesia, pemilihan sekolah di Indonesia masih didasarkan pada pemilihan budget dan lokasi. Ada orangtua-orangtua yang sengaja memilih sekolah yang bayar SPP-nya saja jutaan hanya untuk menunjukkan gengsi dan “kualitas pendidikan”. Padahal sekolah mahal belum tentu kualitasnya (selalu) bagus, kan?

Saya yakin, Mbak Wiwiet malam itu berhasil membuka mata banyak orang tentang homeschooling. Di akhir paparannya yang lebih banyak share tentang pengalaman itu, beliau memberikan sebuah kalimat yang sangat menginspirasi:

“Do something so you can be together not be together to do something” 

Mbak Wiwiet, you did a great job! Thanks for sharing 🙂

—–

Pembicara terakhir acara Bincang Edukasi malam itu adalah Mbak Ainun Chomsum, atau yang lebih dikenal dengan Mbak Pasarsapi  @pasarsapi , atau kepala sekolahnya Akademi Berbagi . Tema sesi kali ini adalah “Berbagi Bikin Happy”. Tagline social movement yang digaungkan oleh Mbak Ainun ini memang sesuai sekali dengan kegiatan di Akademi Berbagi.

Bermula dari niatan Mbak Ainun untuk belajar copywriting dengan Pak Subiyakto, ternyata Pak Subiyakto menyetujui untuk mengajar dan bahkan meminta beberapa orang untuk sekalian ikut dalam kelasnya. It’s for free! Ketika ditawarkan lewat twitter langsung disambut dengan sangat positif oleh banyak orang.

Akademi Berbagi terbentuk salah satunya juga karena kegelisahan Mbak Ainun (mungkin juga sebagian besar kita) karena mahalnya biaya pendidikan. Nah, Akademi Berbagi merupakan salah satu sarana belajar seumur hidup, sebagai wadah untuk berbagi ilmu, supaya kita lebih menghargai proses untuk sukses, dan supaya kita lebih menghargai ilmu walaupun gratis.

Ketika ditanya, “gampang nggak sih bikin social movement?”  Beliau menjawab bahwa sebenarnya tantangan utamanya bukan di masalah pendanaan, tapi mental siswa yang kurang menghargai “gratisan”. Maksudnya bagaimana? Ya, biasanya orang akan berduyun-duyun menghadiri sebuah pelatihan tertentu yang berbayar, karena sudah yakin kalau narasumbernya pasti qualified. Padahal belum tentu. Di Akademi Berbagi semua ilmu yang katanya narasumbernya mahal bisa dengan gratis dihadirkan disini. Tentu saja dalam kelas yang jumlah muridnya terbatas. Karena kalau terlalu banyak jadinya kurang fokus.

Sharing menarik ini pun akhirnya ditutup dengan kata-kata yang sangat inspiratif,

“Tidak ada yang tidak bisa, tinggal kita mau/tidak. Semua orang boleh bermimpi, tapi jangan lupa beri kaki pada mimpimu. Karena mimpi pun harus menjejak bumi… “

 

—–

Sungguh sebuah acara yang sangat menarik. Tidak rugi saya harus bermacet-macet ria menuju ke Pacific Place. Karena ternyata ada banyak ilmu yang bisa saya dapat dari acara Bincang Edukasi malam itu. Ternyata disinilah saya bertemu dengan orang-orang yang punya semangat luar biasa dan sangat peduli dengan dunia pendidikan. Orang-orang yang memiliki mimpi dan cita-cita yang sama untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Life ends when you stop dreaming. Hope ends when you stop believing… “

Thanks to Kresna who let me join to this event 🙂
Sampai jumpa di Bincang Edukasi sesi berikutnya ya 🙂

 

[devieriana]

 

 

dokumentasi pribadi

#Bined02 : Bukan (Sekadar) Bincang Biasa