Dongeng, kemewahan masa kecil

Surat untuk Takita @IDcerita 🙂

Dear Takita,

Apa kabar, Sayang? Maafkan Kak Devi yang baru bisa menulis surat balasan buat kamu, ya. Tapi Kak Devi senang sekali mendapat undangan untuk menulis surat buat kamu.

Jauh sebelum Takita lahir, dongeng sudah menjadi salah satu hal yang akrab di masa kecil kakak dan kedua adik kakak. Bukan hanya dongeng yang diceritakan secara langsung oleh Papa, tapi juga melalui buku-buku dongeng untuk anak yang dibelikan oleh papa dan mama Kak Devi secara berkala. Ada buku dongeng cerita nusantara sampai dongeng anak sedunia. Mulai buku dongeng yang banyak tulisannya sampai yang banyak gambarnya. Bukan itu saja, papa/mama juga sering membelikan kaset Sanggar Cerita yang secara rutin akan diputar setiap hari Minggu pagi untuk membangunkan kami. Unik ya cara membangunkannya? ;))

Ada satu kebiasaan yang selalu papa lakukan sebelum kami berangkat tidur. Papa selalu menyempatkan diri untuk mendongeng. Padahal kakak tahu Papa juga pasti capek habis kerja seharian, bahkan kalau sudah capek banget kakak sering melihat papa ketiduran di kursi :(. Kasian sih, suka nggak tega kalau mau minta didongengi :(. Tapi ketika melihat semua usaha papa yang sedemikian rupa itu, akhirnya kakak sekarang mengerti bahwa mungkin itulah salah satu bentuk kasih sayang orang tua ke anaknya. Secapek apapun mereka, demi membahagiakan anaknya, mereka rela melakukan apapun :-s

Dongeng yang diceritakan pun bermacam-macam. Biasanya sih Papa baca dulu cerita yang mau diceritakan, tapi tak jarang juga mengarang indah ;)). Bahkan mengarangnya pun kadang terlalu kreatif. Uniknya, kalau sudah terlalu kreatif dan muncul pertanyaan-pertanyaan aneh dari kakak, pasti ending-nya menggantung. Dan kalau sudah menggantung itu artinya Papa kehabisan ide. Kalau sudah kehabisan ide biasanya muncul kata-kata begini, “ya udah kamu bobo dulu, lanjutannya besok, ya.” Lah, berasa nonton sinetron stripping, ya? ;))

Bukan hanya orangtua Kak Devi saja yang suka mendongeng, guru agama di SD kakak dulu juga sangat suka mendongeng. Sosok yang ramah, humoris, dan agamis itu menjadikan beliau sosok idola yang dekat dengan anak-anak namun juga disegani. Jam pelajaran beliau selalu menjadi jam pelajaran terfavorit, karena bukan hanya materi belajar mengajar saja yang akan kami dapatkan, tapi juga bonus dongeng mendidik sekaligus menghibur.

Entah ada hubungannya atau tidak, karena kesukaan kakak pada cerita/dongeng, membuat kakak berimajinasi ingin menulis cerita sendiri. Apalagi dulu papa/mama cuma membelikan buku dongeng sebulan sekali atau maksimal dua kali. Itu pun dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah habis kakak baca. Itulah kenapa Kakak akhirnya ingin membuat cerita sendiri, salah satunya supaya imajinasi kakak tersalurkan. Kakak tulis saja cerita di dalam buku tulis bergaris (biar tulisannya lurus, kalau nggak ada garisnya tulisan kakak suka naik-naik ke puncak gunung).

Cerita yang kakak tulis jenisnya bermacam-macam, ada yang cerita biasa, tapi ada juga yang jenisnya legenda. Kalau diingat-ingat aneh juga ya, masa legenda kok diciptakan sama anak usia 6 tahun? ;)). Masih ingat salah satu judul buku ciptaan kakak judulnya “Legenda Danau Semendung Rampang”, bhihihik ;)). Ceritanya tentang seorang anak yang dikutuk orangtuanya menjadi penghuni danau karena dia nggak nurut sama orangtuanya. Nggg… ya baiklah, nggak perlu dibahas 😐

Biasanya kalau sudah jadi buku, kakak suka minta teman-teman kakak untuk membaca. Komentarnya ada yang bilang bagus, ada yang bilang aneh, ada juga yang nggak komentar aoa-apa. Mungkin karena saking ajaibnya cerita kakak, ya? ;)). Tapi justru dari situlah kakak belajar yang namanya apresiasi.

Makin kesini kakak merasakan ternyata ada banyak sekali manfaat dongeng. Apalagi setelah kakak ikut langsung dalam kegiatan @IDceritaJKT. Dongeng bukan hanya bertujuan untuk menghibur dan menjadi media pengantar tidur bagi anak semata. Tapi lebih dari itu, dongeng bermanfaat untuk mengasah imajinasi dan daya pikir anak, sentuhan paling manusiawi untuk menjalin komunikasi dan kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Dan satu lagi dalam dongeng bisa diselipkan pesan moral dan etika tanpa anak merasa digurui.

Tapi terlepas dari itu semua, menurut kakak, peran serta orang tua dalam memilah materi dongeng juga sangat disarankan, lho. Karena tidak semua dongeng itu memiliki muatan cerita dan moral yang bagus.

Takita sayang, cukup sekian kisah kakak hari ini. Semoga nggak bosen bacanya, ya ;).

Teruntuk para ayah dan bunda, pertanyaan sederhana saja, sudahkah mendongeng untuk si kecil hari ini? 😉

[devieriana]

ilustrasi Takita diambil dari

Advertisements
Dongeng, kemewahan masa kecil

"Kalau ada celah…"

Beberapa hari menjelang ujian CPNS, saya menerima beberapa sms/telepon dari beberapa pihak yang ingin mencari “celah”, berusaha mencari jalur alternatif yang memungkinkan mereka/sanak saudara mereka bisa lolos tes CPNS. Ada yang sekadar bertanya, tapi ada juga yang ngotot keukeuh ingin dibantu. Lah, kenapa saya yang jadi sasaran permintaan bantuan sih? Saya ini cuma staf biasa, yang tidak punya akses apa-apa. Tapi ya namanya juga usaha, siapapun yang dianggap punya akses bisa jadi sasaran pencarian celah, kan? Intinya mereka ingin mendapatkan jaminan kepastian akan diterima sebagai PNS.

Ada cerita seru di balik lobby-melobby ini. Ada seseorang yang menelepon saya lumayan lama, inti tujuannya untuk mencari “celah” (padahal jelas-jelas saya memang tidak punya kewenangan apa-apa). Lagi pula sistem penerimaan CPNS yang sekarang berbeda dengan sistem tahun-tahun sebelumnya. Penerimaan CPNS tahun ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, dan pengelolanya bukan lagi kementerian penyelenggara, melainkan konsorsium 10 perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia. Kementerian hanyalah sebagai pihak penyelenggara seleksi CPNS, tapi bukan yang membuat soal, bukan yang memeriksa hasil test, dan bukan yang menentukan hasil tesnya. Semua proses rekrutmen itu akan dilakukan oleh konsorsium berdasarkan passing grade yang sudah disepakati secara nasional. Jadi kemungkinan untuk masuk melalui jalur instan sangat kecil karena kementerian tidak punya hak untuk menentukan apakah Si A, B, C, berhak lolos ujian/tidak.

Bagi saya orang-orang seperti mereka ini unik. Kenapa? Ya mereka adalah sebagian kecil manusia yang berorientasi pada hasil akhir tanpa mau menikmati proses menuju hasil akhir itu. Kalau mereka sudah berniat ikut ujian CPNS ya kenapa tidak diikuti saja prosedurnya secara wajar? Kalau memang sudah rezeki, nggak akan ke mana, kok. Pokoknya just do your best, let God do the rest aja deh 😀

Di antara yang berusaha mencari celah itu ada yang sampai ngotot begini… :

“Tolonglah Vi, Tante ini dibantu… Itu lho, Si A, anaknya Pak X itu kan pengen banget bisa kerja di Setneg. Pak X juga pengen anaknya kerja kaya kamu, tolonglah Tante dibantu. Kasih tahu kemana Tante harus melobby? Ketemu siapa, di bagian apa? Pak X siap menyediakan sarana dan prasarana apapun yang dibutuhkan biar anaknya bisa diterima di Setneg. Tolong ya, Vi. Pokoknya kalau ada info celah sekecil apapun, kamu kasih tahu Tante, ya… Tante minta tolong banget!”

Ibarat hacker yang mencari celah pada sebuah sistem keamanan pada komputer, Si Tante mendekati saya secara intens dengan iming-iming “sarana dan prasarana”. Perlu diketahui, “Pak X” ini adalah seorang mantan kepala daerah. Sewaktu masih menjabat mungkin dia sudah terbiasa dengan “koneksi”, plus “penyediaan sarana dan prasarana” untuk melancarkan urusannya. Jadi kalau ada istilah “sarana dan prasarana” itu semacam kode yang kurang lebih artinya “kami harus membayar berapa biar urusan kami lancar?” Bahkan awalnya isteri Pak X rencananya mau bertemu saya untuk membicarakan kemungkinan anaknya bisa diterima atau tidak. Hadeeh… 😐

Bukan sok idealis, tapi memang saya tidak bisa bantu. Selain saya tidak mau dibeli, sistem juga tidak memungkinkan adanya praktik semacam itu. Teringat dengan obrolah dengan seorang teman yang diambil dari quotes film Kita versus Korupsi: “rumahmu adalah kamu, kalau kamu tidak jujur di luar, di rumahmu pasti lebih dari itu.”

Bahkan ada seseorang yang jauh-jauh dari Lampung ke kantor saya untuk sekadar menanyakan apakah ada “celah” yang memungkinkan keponakannya bisa diterima di kantor saya tanpa harus susah payah ikut ujian. “Ya kalau pun harus ujian nggak apa-apalah, Mbak. Tapi setidaknya keponakan saya itu ada jaminan pasti diterima di sini gitu, Mbak. Saya juga PNS di Pemprov Bangka Belitung, kok…” Lha terus kalau Bapak juga jadi PNS, kenapa keponakannya nggak dimasukin ke kantor Bapak aja? 😐

Dalam sebuah kesempatan saya sempat share cerita-cerita itu ke salah satu rekan di kantor. Ternyata dia juga punya cerita yang nyaris sama. “Aku juga terima request-request kaya gitu. Aku bilang aja, “siap, nanti saya monitor” biar yang nitip seneng. Tapi yo cuma tak monitor thok, emangnya mau aku apain? ;))”, tuturnya sambil terkekeh.

Paradoks, di satu sisi PNS kerap mendapatkan kritikan pedas yang berhubungan dengan kinerja PNS, tapi di giliran pas ada pembukaan lowongan CPNS, jumlah peminat/pelamar yang masuk hingga puluhan ribu padahal posisi yang dibuka cuma ratusan bahkan cuma puluhan formasi saja. Kemungkinan diterimanya juga tidak terlalu besar, tergantung jumlah formasi yang dibutuhkan dan jumlah pelamar yang masuk. Belum lagi kalau ada yang berhasil masuk jadi PNS pasti ada pertanyaan synical, “kamu punya kenalan siapa di dalam?” atau “kamu bayar berapa bisa masuk jadi PNS di kementerian anu?”

Seorang teman pernah pernah bilang begini, “cari pekerjaan itu kaya cari jodoh. Pilih pekerjaan yang sesuai dengan hatimu, minatmu. Kamu nggak perlu memaksakan untuk menjadi seseorang dengan profesi tertentu kalau pada kenyataannya kamu nggak enjoy, kamu tersiksa, dan kamu terpaksa. Kan kamu yang menjalani pekerjaan itu. Jadi PNS bukan jaminan kamu akan sejahtera, begitu juga dengan menjadi pegawai swasta. Mau jadi PNS, swasta, atau punya usaha sendiri sekali pun kalau kamu nggak menikmati pekerjaanmu, nggak pinter mengolah pendapatanmu ya sama aja, jatuhnya bakal boring-boring juga, bangkrit-bangkrut juga, kere-kere juga…” Saya tertawa sekaligus mengiyakan dalam hati 😀

Jadi, apapun pekerjaan kita, dinikmati dan disyukuri saja, insyaallah berkah. Seperti syair lagu D’Massive, “syukuri Alphard yang ada, hidup adalah anugerah”

Ya iyalah… lha wong Alphard :)) *bukan postingan berbayar!*

 

[devieriana]

 

Foto: dokumentasi pribadi

 

"Kalau ada celah…"

“Kalau ada celah…”

Beberapa hari menjelang ujian CPNS, saya menerima beberapa sms/telepon dari beberapa pihak yang ingin mencari “celah”, berusaha mencari jalur alternatif yang memungkinkan mereka/sanak saudara mereka bisa lolos tes CPNS. Ada yang sekadar bertanya, tapi ada juga yang ngotot keukeuh ingin dibantu. Lah, kenapa saya yang jadi sasaran permintaan bantuan sih? Saya ini cuma staf biasa, yang tidak punya akses apa-apa. Tapi ya namanya juga usaha, siapapun yang dianggap punya akses bisa jadi sasaran pencarian celah, kan? Intinya mereka ingin mendapatkan jaminan kepastian akan diterima sebagai PNS.

Ada cerita seru di balik lobby-melobby ini. Ada seseorang yang menelepon saya lumayan lama, inti tujuannya untuk mencari “celah” (padahal jelas-jelas saya memang tidak punya kewenangan apa-apa). Lagi pula sistem penerimaan CPNS yang sekarang berbeda dengan sistem tahun-tahun sebelumnya. Penerimaan CPNS tahun ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, dan pengelolanya bukan lagi kementerian penyelenggara, melainkan konsorsium 10 perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia. Kementerian hanyalah sebagai pihak penyelenggara seleksi CPNS, tapi bukan yang membuat soal, bukan yang memeriksa hasil test, dan bukan yang menentukan hasil tesnya. Semua proses rekrutmen itu akan dilakukan oleh konsorsium berdasarkan passing grade yang sudah disepakati secara nasional. Jadi kemungkinan untuk masuk melalui jalur instan sangat kecil karena kementerian tidak punya hak untuk menentukan apakah Si A, B, C, berhak lolos ujian/tidak.

Bagi saya orang-orang seperti mereka ini unik. Kenapa? Ya mereka adalah sebagian kecil manusia yang berorientasi pada hasil akhir tanpa mau menikmati proses menuju hasil akhir itu. Kalau mereka sudah berniat ikut ujian CPNS ya kenapa tidak diikuti saja prosedurnya secara wajar? Kalau memang sudah rezeki, nggak akan ke mana, kok. Pokoknya just do your best, let God do the rest aja deh 😀

Di antara yang berusaha mencari celah itu ada yang sampai ngotot begini… :

“Tolonglah Vi, Tante ini dibantu… Itu lho, Si A, anaknya Pak X itu kan pengen banget bisa kerja di Setneg. Pak X juga pengen anaknya kerja kaya kamu, tolonglah Tante dibantu. Kasih tahu kemana Tante harus melobby? Ketemu siapa, di bagian apa? Pak X siap menyediakan sarana dan prasarana apapun yang dibutuhkan biar anaknya bisa diterima di Setneg. Tolong ya, Vi. Pokoknya kalau ada info celah sekecil apapun, kamu kasih tahu Tante, ya… Tante minta tolong banget!”

Ibarat hacker yang mencari celah pada sebuah sistem keamanan pada komputer, Si Tante mendekati saya secara intens dengan iming-iming “sarana dan prasarana”. Perlu diketahui, “Pak X” ini adalah seorang mantan kepala daerah. Sewaktu masih menjabat mungkin dia sudah terbiasa dengan “koneksi”, plus “penyediaan sarana dan prasarana” untuk melancarkan urusannya. Jadi kalau ada istilah “sarana dan prasarana” itu semacam kode yang kurang lebih artinya “kami harus membayar berapa biar urusan kami lancar?” Bahkan awalnya isteri Pak X rencananya mau bertemu saya untuk membicarakan kemungkinan anaknya bisa diterima atau tidak. Hadeeh… 😐

Bukan sok idealis, tapi memang saya tidak bisa bantu. Selain saya tidak mau dibeli, sistem juga tidak memungkinkan adanya praktik semacam itu. Teringat dengan obrolah dengan seorang teman yang diambil dari quotes film Kita versus Korupsi: “rumahmu adalah kamu, kalau kamu tidak jujur di luar, di rumahmu pasti lebih dari itu.”

Bahkan ada seseorang yang jauh-jauh dari Lampung ke kantor saya untuk sekadar menanyakan apakah ada “celah” yang memungkinkan keponakannya bisa diterima di kantor saya tanpa harus susah payah ikut ujian. “Ya kalau pun harus ujian nggak apa-apalah, Mbak. Tapi setidaknya keponakan saya itu ada jaminan pasti diterima di sini gitu, Mbak. Saya juga PNS di Pemprov Bangka Belitung, kok…” Lha terus kalau Bapak juga jadi PNS, kenapa keponakannya nggak dimasukin ke kantor Bapak aja? 😐

Dalam sebuah kesempatan saya sempat share cerita-cerita itu ke salah satu rekan di kantor. Ternyata dia juga punya cerita yang nyaris sama. “Aku juga terima request-request kaya gitu. Aku bilang aja, “siap, nanti saya monitor” biar yang nitip seneng. Tapi yo cuma tak monitor thok, emangnya mau aku apain? ;))”, tuturnya sambil terkekeh.

Paradoks, di satu sisi PNS kerap mendapatkan kritikan pedas yang berhubungan dengan kinerja PNS, tapi di giliran pas ada pembukaan lowongan CPNS, jumlah peminat/pelamar yang masuk hingga puluhan ribu padahal posisi yang dibuka cuma ratusan bahkan cuma puluhan formasi saja. Kemungkinan diterimanya juga tidak terlalu besar, tergantung jumlah formasi yang dibutuhkan dan jumlah pelamar yang masuk. Belum lagi kalau ada yang berhasil masuk jadi PNS pasti ada pertanyaan synical, “kamu punya kenalan siapa di dalam?” atau “kamu bayar berapa bisa masuk jadi PNS di kementerian anu?”

Seorang teman pernah pernah bilang begini, “cari pekerjaan itu kaya cari jodoh. Pilih pekerjaan yang sesuai dengan hatimu, minatmu. Kamu nggak perlu memaksakan untuk menjadi seseorang dengan profesi tertentu kalau pada kenyataannya kamu nggak enjoy, kamu tersiksa, dan kamu terpaksa. Kan kamu yang menjalani pekerjaan itu. Jadi PNS bukan jaminan kamu akan sejahtera, begitu juga dengan menjadi pegawai swasta. Mau jadi PNS, swasta, atau punya usaha sendiri sekali pun kalau kamu nggak menikmati pekerjaanmu, nggak pinter mengolah pendapatanmu ya sama aja, jatuhnya bakal boring-boring juga, bangkrit-bangkrut juga, kere-kere juga…” Saya tertawa sekaligus mengiyakan dalam hati 😀

Jadi, apapun pekerjaan kita, dinikmati dan disyukuri saja, insyaallah berkah. Seperti syair lagu D’Massive, “syukuri Alphard yang ada, hidup adalah anugerah”

Ya iyalah… lha wong Alphard :)) *bukan postingan berbayar!*

 

[devieriana]

 

Foto: dokumentasi pribadi

 

“Kalau ada celah…”

Cerita Sepanjang Jalan

Seorang ibu berbaju merah berpenampilan rapi menaiki Kopaja yang saya naiki di bilangan Gunawarman. Dia duduk di sebelah saya sambil menggengam selembar uang dua ribuan. Matanya celingukan ke sana-ke mari seolah mencari seseorang/sesuatu. Kalau boleh saya artikan sepertinya ibu itu mencari kenek bus yang biasanya sudah menagih ongkos sesaat setelah penumpang naik. Tapi kebetulan memang Kopaja yang kami naiki itu tidak ada keneknya, jadi semua penumpang yang akan turun dan membayar harus langsung ke sopirnya. Entah kalau yang duduk di belakang, apakah mereka sempat maju ke depan untuk sekadar membayar, atau memilih langsung turun begitu saja.

Ternyata benar apa yang saya perhatikan, ibu itu mencari kenek yang sedari tadi tidak menagih ongkos padanya.

Ibu X: “Eh Mbak, serius ini bus ini nggak ada keneknya, ya?”

Saya: “Sepertinya nggak ada, Bu. Soalnya sejak saya naik dari terminal Blok M semua penumpang bayarnya langsung ke sopirnya”

Ibu X: “Waduh, berarti ribet banget dong, ya? Kenapa nggak dibikin sistem kaya di luar negeri, ya? Begitu penumpang naik, mereka masukin koin di box dekat pintu masuk bus, baru naik. Nanti mereka tinggal turun. Kenapa nggak pakai sistem kaya gitu aja, ya?”

Saya: “Pemerinth kita belum kepikiran sampai ke sana kayanya, Bu :D” *jawab saya ngasal*

Ibu X: “Kalau kaya gini penumpang-penumpang yang di belakang bisa aja mereka males ke depan dan langsung turun, kan? Kasian dong sopirnya… ”

Saya: “Iya, sopirnya modal percaya sama penumpang aja sih kalau udah kaya begini, Bu :)”

Saya lihat ibu itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, tanda keheranan. Saya hanya tersenyum samar, memaklumi. Mungkin ibu itu terbiasa dengan kultur di luar negeri, atau baru sekali ini naik Kopaja tanpa kenek. Memang kebayang sih betapa ribetnya transportasi besar tanpa kenek. Kalau di daerah mungkin masih banyak angkot yang tanpa kenek, itu hal yang lumrah. Tapi kalau bus tanpa kenek memang ya butuh kepercayaan tingkat tinggi sih.

Lain lagi cerita seseorang yang baru sebatas dengar cerita saya tentang betapa riweuh dan kumuhnya transportasi umum di Jakarta. Akhirnya kemarin ketika dia berkesempatan ke Jakarta, sengaja dia memilih naik angkutan umum seperti yang biasa saya naiki. Komentarnya, “Ya ampun, Kopaja itu busnya rusuh, jelek, dan nggak higienis banget, ya? Males aku naik Kopaja lagi!” Saya cuma tertawa. Dalam hati saya komentar, ya namanya juga transportasi umum yang murah meriah, bayar 2000 sampai di tujuan dengan selamat saja sudah alhamdulillah. Kalau mau yang higienis, bersih, adem, ya naik taksilah ;)).

“Sekarang aku jadi tahu gimana rasanya jadi kamu yang tiap pulang kantor selalu naik Kopaja/Metromini. Udah macet, busnya kaya begitu, sopirnya kalau nyetir ugal-ugalan. Sekarang aku ngerti gimana rasanya naik angkutan umum di Jakarta. Kamu juga harus hati-hati ya kalau di terminal Blok M, banyak premannya gitu :|” Saya sudah waspada sejak awal saya datang ke Jakarta kok, Kak :). Ya kadang kalau saya lagi males naik angkutan umum, lagi pengen borju dikit,  ya saya naik taksi juga sih. Tapi ya nggak sering-seringlah, bisa bangkrut saya.

Dulu saya sempat “mengidolakan” sarana trasportasi Transjakarta sebagai transportasi alternatif yang manusiawi karena ber-AC, tempat duduknya nyaman, dan aman. Tapi namanya orang bisa punya niat jahat kapan saja dan di mana saja, bahkan di Transjakarta sekalipun. Bukan hanya kriminalitas saja yang kerap terjadi, tapi juga pelecehan seksual yang bisa terjadi di atas sarana transportasi ini.

Saya juga pernah hampir mengalami pelecehan seksual di Transjakarta dan membuat sedikit trauma kalau harus pulang malam dari kantor dan naik Transjakarta. Dipepet sampai muka berhadap-hadapan dengan sangat dekat pernah. Hampir dicium sama bapak-bapak bertubuh gempal dan berbaju batik juga pernah :((. Baru kali itu saya begitu ketakutan sampai harus lari tunggang langgang turun dari Transjakarta di terminal Blok M, dan buru-buru naik Kopaja, dan menyembunyikan diri di bangku kosong paling depan.

Kalau kejadian yang paling baru sih kemarin, dalam perjalanan saya pulang kantor naik Metromini 75 arah Pasar Minggu tiba-tiba segerombolan siswa berseragam putih abu-abu memaksakan naik bus yangsudah penuh sesak. Mereka bergelantungan bukan hanya di pintu bus di depan saya sambil saling berpegangan tangan teman-teman lainnya yang punya posisi lebih masuk ke dalam, mereka bergelantungan di jendela-jendela yang saya tahu kacanya juga punya batas kekuatan untuk menahan beban. Sungguh miris dan ngeri. Belum lagi ketika bus harus berbelok ke arah Mampang Prapatan, sopir bus sengaja membelokkannya dengan tajam sehingga belasan siswa SMA itu nyaris terjatuh dan terlindas kendaranan lainnya. Berbagai cacian dan komentar miris menghiasi perjalanan saya sore itu, demi melihat mereka yang seperti punya nyawa cadangan bergelantungan di luar bus seperti itu.

Tiba-tiba seorang bapak duduk di sebelah saya sambil bersedekap dan geleng-geleng kepala.

Bapak X: “Yang di belakang udah bawa parang sama rantai tuh, Mbak…”

Saya: “Oh, ya? 😮 Mereka ini pulang sekolah atau mau tawuran sih, Pak?”

Bapak X: “Kayanya sih opsi yang kedua, Mbak… Mereka ini biasanya nggak bayar ongkos juga…”

Benar saja, sedetik kemudian mereka turun di daerah Buncit Raya dan memang mereka tidak membayar ongkos naik bus. Sambil mengacungkan kode ibu jari, mereka berteriak, “sampai ketemu di lokasi, yaaa!” Sekelebat saya melihat ikat pinggang spike yang digulung dan dimasukkan ke dalam tas. Hadeeeuh, selain nyawanya yang rangkap tujuh, mereka rupanya juga ikut kursus tawuran, ya? 😐

Beginilah pemandangan rutin yang saya temui ketika pulang kantor. Tetap waspada kalau mau naik transportasi apapun, sekali pun itu menggunakan taksi. Kalau naik taksi sendirian saya hampir selalu menginformasikan ke keluarga atau teman untuk mencatat nomor lambung taksi, nama pengemudinya, dan arah tujuan ke mana. Ya buat jaga-jaga aja sih. Yang waspada saja kadang masih kecolongan, apalagi yang lengah.

Buat yang baru datang di Jakarta, selamat datang di Ibu Kota kita yang tercinta. Selamat bergelut dengan segala kemacetan, kekusutan, dan hiruk-pikuknya Jakarta. Semangat ya, Kak! m/

[devieriana]

Cerita Sepanjang Jalan

Serba-serbi CPNS

 Sejak beberapa bulan yang lalu hampir semua kementerian sudah mulai disibukkan dengan aktivitas rekrutmen/seleksi CPNS. Memang tahun ini masih terhitung tahun moratorium (penundaan) pengadaan CPNS, tapi berhubung ada banyak permintaan jabatan yang dikecualikan, maka rekrutmen pun dilaksanakan tapi dengan jumlah formasi yang tidak sebanyak rekrutmen reguler. Di kementerian saya saja hanya tersedia 20 formasi yang akan diperebutkan oleh ribuan pelamar.

Metode seleksinya pun berbeda dengan seleksi di tahun-tahun sebelumnya. Ujian dilakukan secara serentak tanggaln 8 September 2012 di semua kementerian. Kalau dulu kita bisa ikut ujian di beberapa kementerian karena jadwal ujian yang tidak bersamaan, kalau sekarang pelamar harus memilih akan mengikuti ujian di kementerian mana.

Dari sekian ribu pelamar yang masuk tentu saja tidak semua lolos seleksi administrasi dan hadir waktu verifikasi berkas fisik. Ada saja yang gagal karena faktor tertentu. Nah, mulai tanggal 28-31 Agustus kemarin pelamar-pelamar yang sudah lolos seleksi administratif diharuskan datang sendiri untuk verifikasi berkas ke Pusdiklat Setneg.

Kebetulan saya bertugas di hari ketiga dan keempat. Di hari pertama saya tugas kok ya pas pusing luar biasa dan demam tinggi setelah vaksin HPV sehari sebelumnya. Entah kenapa setiap kali habis vaksin badan saya selalu demam, nah yang kemarin termasuk reaksi yang terlebay, karena disertai pusing, mual, dan demam tinggi. Jadi,  memaksakan tetap tugas di sela kondisi badan yang kurang fit itu sesuatu banget. Karena tetap harus ramah padahal kepala nyut-nyutan dan badan menggigil. Alhamdulillah hari terakhir tugas badan sudah mendingan dan bisa lebih maksimal ketika melayani verifikasi berkas.

Jadi panitia CPNS itu tentu ada suka dukanya, termasuk lucu dan gemesnya. Berhubung telepon biro ada di meja saya, otomatis sayalah yang harus mengangkat dan kadang menjawab pertanyaan mereka. Seringnya mereka kurang membaca pengumuman dengan teliti, padahal di sana sudah disebutkan dengan jelas semua syarat, ketentuan, dan keterangan lainnya. Yah, berasa dejavu jadi petugas callcentre, padahal sudah pensiun 7 tahun yang lalu 😀

Ada beberapa kejadian absurd yang terjadi selama proses rekrutmen cpns ini. Berikut ini beberapa diantaranya.

 

1. Sudah diprint, Mbak!

Suatu siang, seorang pelamar dari Maluku Utara menelepon untuk memastikan informasi yang dibacanya di website kami.

Pelamar: Mbak, saya Raymond (bukan nama sebenarnya) pelamar dari Maluku Utara. Saya sudah dinyatakan lolos seleksi administrasi kemarin, kartu ujian juga sudah saya print, jadi saya tinggal datang nanti tanggal 8 September di Gelora Bung Karno ya, Mbak? *logat Indonesia Timur yang sangat kental*

Saya: Mas Raymond sudah baca semua pengumumannya, belum?

Pelamar: Oh, sudah, Mbak. Sudah.. Di situ disebutkan saya lolos seleksi administrasi, sudah saya print kartu ujiannya, dan saya nanti datang ujian tanggal 8 September 2012, toh?

Saya: Mas Raymod mendaftar untuk posisi apa?

Pelamar: Perancang Perundang-undangan

Saya: Kalau Perancang Perundang-undangan berarti Mas Raymond harus datang ke Jakarta Hari Kamis, 30 Agustus, pukul 09.00-15.00 wib, dong

Pelamar: E.. saya tidak ada informasi itu, Mbak. Mbak bisa kirimkan saja infonya ke email saya?

Saya: Lho, semua ada di website, silakan dilihat kembali, di sana juga sudah disebutkan secara jelas apa saja yang perlu dibawa. Atau silakan pengumumannya di-print saja biar bisa dibaca-baca ulang, sekaligus di situ kan ada petanya, biar nanti Mas Raymond nggak kesasar waktu mau ke Pusdiklat…

Pelamar: Oh sudah, Mbak… itu sudah saya print *mulai ngeyel*

Saya: Apanya, Mas?

Pelamar: Kartu ujiannya….

Saya: :(( *banting-banting konde*

 

2. Depannya aja, Mbak?

Setiap pelamar yang datang ke meja verifikator sudah haruis membawa berkas lengkap berupa ijazah, transkrip, KTP, surat pernyataan yang sudah dibubuhi materai, dan foto 3×4 dengan background warna merah.

 

Saya: Di belakang foto silakan ditulis nama dan nomor pesertanya ya, Mbak….

Pelamar: Oh, ok… di belakang belakangnya aja ya, Mbak?

Saya: Ya kalau Mbak mau bagian depannya digambarin kumis juga gapapa…

 

3. Toilet di mana, ya?

 

Pelamar: (sambil mengisi form surat pernyataan dan menulisi bagian belakang foto) Mbak, kalau toilet di mana ya, Mbak?

Saya: Tuh, di gedung depan, kan ada petunjuknya toilet belok kanan…

Pelamar: (sambil menulis tapi ngga menoleh ke arah yang saya tunjukkan tadi) Di mananya, Mbak? Di gedung depan itu terus ke?

Saya: Itu lho, gedung depan setelah keluar pintu ini lho, kan nanti ada tulisan toilet, trus ada panah-panahnya. Atau kalau kamu bingung ikutin aja remah-remah roti yang kita sebar menuju toilet….

Pelamar: emang saya semut? ;))

 

Lho, emang bukan? Ya kali, bakal lebih mudah nemuin toiletnya kalau dikasih remah-remah roti atau patahan ranting pohon 😐

 

4. Tolong dibulatkan…

Namanya juga usaha, ada saja usaha calon pelamar untuk mengelabuhi panitia demi bisa mengikuti seleksi, salah satunya dengan memudakan usia, dan atau memperbesar IPK. Kebetulan di kementerian kami minimal IPK yang dipersyaratkan adalah 3.00. Jadi ketika pelamar mencoba memasukkan IPK yang kurang dari 3.00 pasti akan ditolak. Nah, banyak yang berusaha menginput IPK 3.00 supaya bisa masuk ke sistem dan mengisi data. Biasanya ketahuannya kalau verifikasi berkas asli, karena kadang ukuran bekas yang di-attach terlalu kecil sehingga tidak bisa diverifikasi secara maksimal, jadi kita beri kesempatan untuk menunjukkan berkas asli.

 

Saya: Maaf ini IPK kamu kan 2.99, jadi mohon maaf belum bisa ikut ujian, ya. Kan minimal IPK yang dipersyaratkan 3.00. Jadi ini berkas aslinya saya kembalikan, surat pernyataan dan kartu ujian saya tarik, ya…

Pelamar: Lho, kalau saya nggak lolos kenapa saya diinfokan lolos seleksi administratif, Mbak? 😐

Saya: Karena IPK yang coba kamu masukkan 3.00, otomatis sistem mengizinkan kamu masuk untuk mengisi data. Sementara file attachment yang kamu masukkan sangat kecil jadi nggak bisa terbaca oleh kami. Makanya kami beri kesempatan kamu untuk menunjukkan berkas asli. Dan ternyata IPK kamu kurang dari yang dipersyaratkan. Jadi mohon maaf belum bisa ikut ujian, ya…

Pelamar: Yah…, tapi kan IPK 2.99 kalau dibulatkan juga bisa jadi 3.00, Mbak 😐

 

Kayanya anak ini belum pernah dibulatkan terus ditaburi wijen, ya? 😐

Sebenarnya jadi panitia itu seru, karena ada “hiburan” dibalik menyeleksi pelamar yang masuk. Seperti ketika ada seorang pelamar yang memasukkan data tertulis secara serius, tapi begitu dilihat attachment-nya lha kok semuanya foto. Empat file yang seharusnya berisi lampiran foto 4×6 background merah, ijazah, transkrip, dan KTP itu semuanya terisi foto narsis. Mending kalau dia perempuan ya, ini laki, Kak ;)).

Foto pertama adalah foto dia ketika diwisuda, memakai toga lengkap, menggenggam ijazah, senyum lebar, dengan pose yang agak miring. Foto kedua adalah foto dia bersama seorang bayi di baby stroller, tampak atas. Foto ketiga adalah foto gaya alay, diambil dengan kamera HP yang diambil tampak atas. Foto keempat adalah foto dia dengan baju batik lengan panjang dengan background katering kondangan, lengkap dengan dekorasi bunga di pinggir-pinggir meja prasmanan. Hmppfft… Dikira aplikasi kita ini facebook apa, yah? 😐

Alhamdulillah tahapan-tahapan awal seleksi sudah terlampaui, tinggal hari besarnya aja nanti tanggal 8 September nanti. Buat yang akan mengikuti ujian, jangan lupa berdoa, dan sarapan. Nggak usah terbebani, santai aja, kalau sudah rezeki nggak akan ke mana kok 😉

Good luck, ya! :-bd

 

[devieriana]

Serba-serbi CPNS