“Dear Transjakarta…”


 

Hari Selasa kemarin, di tengah mood swing dan ke-cranky-an akibat PMS, ternyata masih harus ditambah dengan kejengkelan dan keletihan luar biasa akibat menunggu bus Transjakarta selama kurang lebih 2 jam ~X(. Saya keluar kantor sekitar pukul 16.00 wib. Dengan semangat ’45 karena ingin segera sampai di umah untuk istirahat ditambah langit yang sudah gelap saya maka pun bergegas menuju ke halte Harmoni, halte busway terdekat dengan kantor saya. Ketika tiba di halte, kondisi antrean penumpang masih berjumlah 6 orang, tapi semakin sore semakin bertambah, dan makin mengular.

Biasanya sih saya naik Transjakarta yang ke arah Blok M, tapi sejak jurusan Ragunan-Kota dibuka saya pun memilih jurusan ini karena lebih praktis, tinggal sekali kali naik saja dan langsung turun di halte Duren Tiga. Memang pintu antrean ini tidak selalu dibuka, ada kalanya mas-mas petugas Transjakarta sengaja menutup pintu antrean yang ke arah Ragunan ini sambil menginfokan kalau armadanya bakal lama, sehingga calon penumpang bisa memilih antrean jurusan lainnya.

Tapi tidak dengan hari Selasa kemarin, pintu antrean untuk jurusan ini sengaja dibuka, dan ternyata kami harus menunggu selama kurang lebih 2 jam hingga bus yang ke arah Ragunan itu datang :-w. Mau ganti naik transportasi lainnya kok ya sudah keburu males, belum lagi di luar halte hujan mengguyur dengan deras, jadi ya sudahlah ya, hampir semua calon penumpang yang terlantar ini sepertinya berpikiran sama, memilih pasrah menunggu bus dengan kondisi kaki pegal-pegal :((.

Gusar itu pasti, apalagi melihat yang ke arah Blok M lebih sering dan lebih banyak yang lewat ketimbang bus ke arah Ragunan yang mungkin hanya Tuhan dan supir Transjakarta saja yang tahu kapan dia bakal lewat. Nah, kenapa nggak pindah ke antrean yang ke arah Blok M saja? Ada sih yang memilih pindah antrean ke jurusan Blok M, tapi sepertinya sebagian besar masih berharap bus yang ke arah Ragunan segera datang sehingga kita nggak perlu ribet gonta-ganti bus. Tetep keukeuh, ya… m/

Kedongkolan kami ternyata masih harus ditambah ketika melihat salah satu petugas Transjakarta menjawab pertanyaan kami dengan kata-kata yang kurang simpatik. Waktu itu kami bertanya, “Mas, busnya ada nggak sih? Kira-kira datangnya jam berapa? Udah 2 jam nih! :|”  Mas-mas yang tidak diketahui namanya itu pun menjawab pertanyaan kami dengan songongnya, “Ibu jangan tanya sama saya dong! Tanya tuh  sama petugas yang di sono, sama di sono! Saya nggak tahu apa-apa!”  Oh, ok, kalau Mas nggak tahu apa-apa, trus Mas ngapain sok sibuk semprat-semprit sana sini, sok sibuk ngatur bus yang datang? Tupoksinya Mas di situ ngapain aja, sih? Kenapa nggak helpful sedikit, bantu carikan info kek, atau kasih alasan apa kek yang sekiranya bisa menenangkan hati calon penumpangnya. Kalau melihat attitude petugas  yang kaya begitu jadi curiga, jangan-jangan manajemen bus Transjakarta memang tidak pernah menyelenggarakan training soft skills buat pegawai-pegawainya, ya?😕

Akhirnya bus yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Jangan ditanya bagaimana beringasnya kami ketika naik bus. Saling dorong, saling seruduk, saling berebut tempat duduk. Bahkan teriakan mas guide, “biasa aja dong naiknya, nggak usah berebutan!” tidak kami hiraukan lagi. Yang penting sudah di dalam bus, capcus! Bus pun melaju dengan kecepatan sedang karena hujan dan jalanan yang macet. Ternyata penumpukan penumpang bukan hanya di halte Harmoni saja, tapi di halte-halte pemberhentian lainnya pun juga. Kebanyakan mereka mengeluh sudah 2 jam menunggu dan ketika bus datang pun mereka masih dipaksa harus menunggu lagi, karena bus kami sudah terlalu penuh.

Perjalanan terasa sangat lambat karena sudah semakin malam sehingga otomatis jalanan juga sudah semakin padat karena sudah jam pulang kantor, ditambah hujan pula. Perfect!

Puncak kegusaran hampir semua penumpang di dalam bus itu terjadi ketika bus yang kami tumpangi itu harus berhenti total selama kurang lebih 30 menit di daerah Dukuh Atas.  Tidak ada seorang polisi atau petugas dari Transjakarta pun yang terlihat membantu mengatur kendaraan yang melintas di daerah itu. Biasanya sih ada satu petugas dari Transjakarta yang membantu bus untuk mendapatkan prioritas jalan untuk menyeberang. Tapi tidak dengan sore itu, bus benar-benar stuck di tengah jalan, kalaupun bisa bergerak paling jaraknya tidak sampai satu meter. Sementara di dalam bus penumpang sudah saling celometan mengomentari pengemudi yang kurang cekatan, kurang sigap, kurang punya inisiatif untuk mengambil sela, dll. “Haduh, sudah dong, please… kalau kalian ngerasa lebih bisa mengemudi ya sudah ambil alih, gih :|” batin saya. Bukan bermaksud membela si pengemudi, tapi ya sudahlah, kita ada di kondisi yang sama, capek, ngantuk, gusar, tapi nggak perlulah menambah panas suasana dengan saling celometan kaya gitu! #-o

Dalam hati saya masih bersyukur karena masih kebagian tempat duduk. Penumpang-penumpang yang berdiri di depan dekat bangku pengemudi rupanya sudah tidak kuat berdiri, sebagian memilih untuk lesehan, duduk di bawah. Mereka sudah tidak peduli lagi apakah lantai busnya bersih/tidak, mereka sudah terlalu lelah untuk berdiri. Kalau dihitung-hitung total waktu yang saya perlukan untuk menempuh perjalanan dari Harmoni ke Mampang kurang lebih 1.5 jam, Sodara! Berasa rumah saya di sekitaran Bogor, ya?

Sekedar saran buat manajemen BLU Transjakarta, kalau memang rute Ragunan-Kota ini tidak sepenuhnya available, ketimbang pelayanannya setengah hati kenapa rutenya nggak ditutup aja sekalian? Kalau memang masih ingin membuka rute ini tapi armadanya terbatas, kenapa tidak dibuat saja jadwal seperti shuttle bus? Misalnya bus hanya beroperasi di antara jam sekian sampai jam sekian. Jadi kalau ada yang ingin menggunakan jasa layanan rute Ragunan-Kota bisa menyesuaikan di antara jam yang sudah diinfokan, di luar jam itu ya biarkan mereka mencari alat transportasi/jurusan alternatif. Atau kalau memang armada yang ke arah Ragunan memang terbatas, kenapa tidak dicarikan armada cadangan atau setidaknya kami diberikan update. Toh pihak manajemen pasti tahu jam berapa saja lonjakan penumpang itu terjadi, kan? Last but not least, khusus untuk petugas support (atau apapunlah istilahnya) mohon lebih sopan kepada penumpang, bukan menjawab dengan teriakan dan emosi yang seperti kemarin.

Saya tahu ini memang postingan ini sedikit nyinyir, tapi semoga bisa menjadi masukan buat manajemen BLU Transjakarta.

[devieriana]

 

 

ilustrasi dipinjam dari blog ini

 

“Dear Transjakarta…”

9 thoughts on ““Dear Transjakarta…”

  1. Saya sering baca di blog lain yang sering nulis tentang otomotif, memang katanya Transjakarta ini bagus, transportasi publik yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan. Tapi katanya lagi, masalah kurangnya armada, kurangnya profesionalisme dalam pengelolaan sering menjadi masalah.

    Ya mudah2an saja pengelola bisa memperbaiki kualitas layanan mereka, karena menurut saya dimana-mana transportasi publik adalah cara terbaik mengatasi kemacetan.

  2. setelahbbrp saat di JKT aku pikir TJ bukan pilihan yg tepat kl ngejar waktu mbak, Metromini atau Kopaja lbh powerfull u ngejar waktu, aku sampe apal rute-rute Kopaja dan mrk memang biasanya jauh lbh cepat ^^

  3. kalau tidak mau berdesak-desakkan di bus lebih baik naik kendaraan priadi saja, namanya juga kendaraan umum,. kalau masalah macet memang sudah biasa di alami kota2 besar jdi harus sabar aja,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s