PDA: Love or Lust?


love or lust

Disclaimer: lagi-lagi sebuah postingan nyinyir akan segera digelar.

——–

“Mbak, aku risih deh sama pasangan di sebelah aku. Mereka show off banget, peluk-peluk, cium-ciuman di depan umum gitu… ”

– seorang teman, di KRL, dalam perjalanan menuju Bogor –

PDA atau Public Display of Affection adalah sebuah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan sebuah kegiatan memamerkan keintiman fisik secara sengaja dan demonstratif di depan umum, baik dalam format yang lebih ‘halus’ atau secara terang-terangan. Mulai yang ‘cuma’ bergandengan tangan, berpelukan, sampai melakukan yang lebih dari itu. Dan ya, mereka melakukannya tanpa sungkan di depan umum.

PDA bukan hanya terjadi pada pasangan-pasangan yang baru dalam taraf berpacaran saja, tapi juga bisa terjadi pada pasangan yang sudah menikah. Biasanya sepasang PDA-ers sengaja melakukan itu untuk beberapa alasan, salah satunya untuk menunjukkan pada khalayak umum bahwa mereka taken (bukan jomblo), dan merupakan pasangan yang penuh cinta. Tapi terkadang alasannya belum tentu itu juga sih. Bisa saja mereka sengaja melakukan PDA untuk menutupi hal yang sebaliknya dengan tujuan supaya citra mereka di depan publik tetap terlihat baik-baik saja, dan ‘aman terkendali’. Semacam butuh sebuah rekognisi? :-??

Kalau di depan umum kita menyebut dengan istilah Public Display of Affection, kalau di social media (sebut saja twitter) ada pula istilah TDA (Twitter Display of Affection); alias sengaja mengumbar kemesraan di timeline.

Bio: “Si Anu’s otherhalf”
Location: “in Fulan’s heart”

Pernah lihat bio seperti itu? Pasti pernahlah, ya. Paham sih, mungkin maksudnya ingin menunjukkan status hubungannya kepada khalayak umum, “eh, gue nggak jomblo lho…” Lha terus, kalau bionya nggak ditulis kaya gitu berarti dia jomblo, gitu? *buru-buru cek bio akun sendiri*

Atau, ketika Si Y baru jadian dengan Si X, masing-masing lalu bikin pengumuman dengan saling mengenalkan pasangan barunya ke follower masing-masing. Hmm, nggak apa-apa sih, tapi… sedemikian pentingnyakah mengumumkan kalau kalian sudah jadian? Yakin bakal terus? Yakin nggak bakal putus di tengah jalan? :-”

“Ya, kalau putus mah gampang, nanti tinggal ngenalin lagi pasangan barunya ke timeline” *plak!*

Kalau pas jadian dikenalkan ke timeline, tapi kalau pas putus bakal diumumkan juga, nggak? Eh, tapi mari kita senantiasa berkhusnudzon, doakan semoga mereka taken se-taken-taken-nya, hubungan mereka akan awet dan langgeng selama-lamanya. Aamiin [-o<

Itu baru di bio lho ya. Bagaimana dengan di timeline? Selayaknya orang yang baru jadian, biasanya sih masih mesra, masih saling rajin mention untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatian kepada pasangan masing-masing. Timeline berasa milik berdua, TransTV milik kita bersama. Hmm, jadi heran, memangnya nggak ada media komunikasi lain yang jauh lebih pribadi dibandingkan dengan show off  obrolan mesra di twitter yang di-setting publik? Kalau ketemu  yang kaya begini biasanya saya cuma membatin, “hmm, coba kita lihat dalam beberapa bulan ke depan ya… ;))” Maksudnya kalau sudah agak lama pacaran, chemistry-nya masih kuat atau tidak, intensitas saling lempar tweet mesranya masih bakal sesering itu, nggak? /:)

Kalau buat saya pribadi sih, kasih sayang itu tidak untuk diumbar dan publikasi secara berlebihan. Sewajarnya saja;  biarkan hanya untuk konsumsi kita dan pasangan. Ada banyak cara yang lebih pribadi, lebih nyaman, dan lebih elegan untuk mengungkapkan rasa sayang pada pasangan, jadi tidak perlulah sampai seisi dunia tahu :-j

However, dibutuhkan kepekaan (yang tinggi) untuk tahu betul apakah semua PDA yang dilakukan pasangan benar-benar sebagai bentuk apresiasi rasa sayang mereka kepada kita, atau cuma sekadar bentuk lain penyaluran nafsu? Jangan sampai intensitas daya tarik seksual melenyapkan akal sehat dan intuisi kita.

So, PDA is love or lust?

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

PDA: Love or Lust?

9 thoughts on “PDA: Love or Lust?

  1. DV says:

    PDA itu udah tergantikan Blackberry.. lalu iPhone dan sekarang Samsung!🙂

    Nganu sih, saya sudah sampe taraf “EGP” kalo udah mnyangkut seperti itu. Bener kata orang, mungkin saya udah terpengaruh kultur ostrali dimana cuek is the best way dan aku genapi bahwa IT IS the best way di jaman yang semakin runyam karena derasnya arus informasi ini.

    Eh kok panjang sih?

  2. Kadang saya suka ngikutin PDA pasangan yang baru jadian/nikah buat menguji teori bahwa bulan madu itu panjangnya 7 bulan.😀 Entah teori siapa pula ini…. Tapi, biasanya sih kalo ada pasangan over-PDA, hubungan mereka di bawah 7 bulan. Di atas 7 bulan, paling ademan dikit. Kecuali emang disengaja entah untuk apa.😀

    Karena twitter itu ruang publik, boleh dong publik (kayak saya ini) ikut menikmati PDA itu … untuk ide tulisan misalnya.😀 *gak mau rugi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s