Berkompromi dengan Kemacetan


TrafficJam

Hari Rabu (25/6) kemarin sepertinya menjadi hari macet yang paling epic se-Jakarta. Betapa tidak, saya terjebak dalam kemacetan luar biasa selama hampir 6 jam sepulang kantor! *mewek*

Sore itu mendung gelap sudah menghiasi langit Jakarta sejak pukul 15.30. Saya yang mengintip dari balik jendela sudah mulai panik-panik bergembira, bergembira semua, karena kalau hujan itu berarti saya harus berdiri di halte menunggu shuttle bus yang biasa saya tumpangi itu lewat sampai hujan reda, sementara kondisi saya sedang kurang memungkinkan untuk berdiri terlalu lama. Hiks😦

Pukul 16.00 saya pun bergegas menuju ke halte sambil berlomba dengan awan hitam yang sudah siap menurunkan hujan dengan lebatnya. Tepat sesuai dengan perkiraan saya, hujan pun langsung turun dengan lebatnya tepat setibanya saya sampai di halte. Tak tanggung-tanggung, hujan mengguyur Jakarta selama satu jam lamanya. Jakarta yang di hari biasa dan sedang tidak hujan saja macetnya luar biasa, apalagi ketika hujan, volume macetnya pun menjadi berkali-kali lipat.

Jalanan di depan saya sudah diam tak bergerak. Kalaupun iya ada pergerakan, hanya mampu semeter-semeter, dan itu berlangsung selama satu jam lamanya. Kaki saya pelan-pelan mulai basah terkena percikan hujan. Untung saya sedang memakai flat shoes yang terbuat dari bahan karet, jadi akan lebih mudah dibersihkan/dicuci sesampainya di rumah nanti. Tepat di saat hujan mulai reda, busa saya pun datang. Merangkak lambat di tengah jalan yang padat, driver-nya pun sudah enggan mengambil penumpang ke arah pinggir jalan karena dia harus ‘menyibak’ deretan pengendara motor. Ya daripada ribet. Ya sudahlah, yang penting saya sudah berada di dalam bus. Kalau macet ya tinggal tidur saja, semoga baby yang di perut nggak gelisah karena terlalu lama di jalan.

Sepanjang perjalanan saya hanya mampu melek-tidur-melek dan kembali tidur, karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh hampir semua penumpang. Baterai gadget pun mulai menipis karena terlalu lama digunakan untuk mengisi waktu di sela kemacetan yang luar biasa itu. Ya wajar sih, karena perjalanan pulang kali ini memakan waktu selama hampir 6 jam! Rekor perjalanan pulang terlama sepanjang saya pulang kerja😥 . Untunglah baby saya anteng, seolah tahu kalau dia pun sedang dalam kemacetan yang sama dengan mamanya dan seluruh penumpang di bus yang ditumpanginya. Kaki dan celana saya yang awalnya basah, lama-lama kering dengan sendirinya. Namun ada ‘konsekuensi’ yang harus saya alami, kaki saya jadi bengkak mulai mata kaki sampai ke telapak kaki selama 2 hari😐

Hidup di Jakarta itu, seperti yang sudah beberapa kali saya tulis di sini, memang harus ekstra sabar, dan dituntut untuk mampu berkompromi dengan kemacetan yang semakin luar biasa dari hari ke hari. Andai tidak semua orang menggunakan kendaraan pribadi dan mulai sadar untuk menggunakan angkutan massal, mungkin kondisinya tidak akan separah ini😐

Semoga cukup sekali itu sajalah saya mengalami kemacetan selama 6 jam sepulang kantor😥

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Berkompromi dengan Kemacetan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s