I’m not always right, but i’m never wrong


i am always right
Anyway, saya suka sekali memperhatikan karakter dan sifat/sikap orang lain, karena dari situ kadang saya bisa belajar tentang karakter manusia😀.
Dari sekian banyak teman yang saya kenal, saya memang dekat dengan salah seorang kakak tingkat saya waktu kuliah dulu. Sebut saja Kak Anggrek (karena penggunaan nama ‘Bunga’ sudah terlalu mainstream). Kebetulan dia dari fakultas dan jurusan yang berbeda. Saya mengenalnya sebagai sosok yang sederhana namun wawasannya sangat luas, sehingga ketika diajak diskusi apapun enak-enak saja. Dia juga sangat luwes dalam menilai sesuatu, tidak judgemental, menilai sesuatu dari 2 sudut pandang. Kebetulan dia juga seorang pengajar di salah satu universitas. Sepertinya kalau jadi, tahun depan dia juga akan ambil post doctoral di US atau negara lainnya. Tapi di balik semua kelebihan yang dia miliki itu dia adalah seorang yang sangat rendah hati; tidak menunjukkan siapa dia atau apa yang dia punya.
Sebaliknya, ada seorang teman yang lain yang berkebalikan dengan teman yang tadi. Sebut saja Kak Raflesia Arnoldi:mrgreen: . Di socmed, sering kali dia mengunggah quotation-quotation buatannya yang kebanyakan berisi tentang hidup, “how life should be” kepada yang lain. Menganggap socmed adalah sekolahan, dia adalah guru, sedangkan follower adalah murid-muridnya. Tak heran kalau status-status yang dibuatnya banyak menggunakan kalimat-kalimat yang terkesan menggurui lainnya.
Uniknya, dia bisa dengan ‘bangga’ mengkritik/mem-bully seseorang di social media (sebut saja Path, yang bisa tagging nama seseorang), atau siapapun yang tidak setuju dengan pemikirannya. Pernah juga dia memarahi salah satu follower-nya di Path. Kok rasanya kurang etis ya? Kalau memang dia membuat salah, kenapa tidak diselesaikan saja di media yang lebih privat? Kenapa harus diumbar di socmed? Apa sih tujuan sebenarnya dengan mengumbar kesalahan orang lain di ranah publik? Supaya yang satu terlihat salah dan lainnya terlihat benar, begitu? Namun sebaliknya ketika kalimat-kalimatnya, pemikiran-pemikirannya, asumsi-asumsinya itu ada yang mengkritisi, serta merta dia langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Kalau sampai ada orang lain yang dia anggap menyaingi/menandingi dirinya, dia akan berusaha untuk membela diri, berperilaku layaknya orang yang tahu segalanya, padahal tujuan utamanya cuma satu. Menjaga harga diri. Hal itu selalu akan dilakukan secara spontan ketika dia diposisikan lebih rendah atau ketika dia diperlakukan kurang sesuai dengan apa yang dia mau. Baginya, apa yang dia katakan itu sudah yang paling benar, jadi jangan dibantah. Semacam sabda pandita ratu (?). Kalau sampai ada yang membantah/menyanggah, itu sama saja cari masalah. Bisa-bisa seharian dia ‘menyampah’ di akun socmednya dengan menyindir orang yang ‘berani’ menyanggah opininya. Eh, saya pernah lho sengaja mengkritisi dia dan berakhir dengan bbm yang panjang kali lebar kali tinggi, plus dibikinkan status sindiran di Path😆 . Padahal sayanya biasa saja, lha wong memang niatnya cuma pengen ngisengin Kak Raflesia ini saja kok:mrgreen:
Entahlah, sepertinya kok masih jarang ya ada orang yang rela ‘menyembunyikan’ kemampuannya demi menghormati orang lain. Kalaupun ada, dia pasti adalah orang yang sudah ada di level sadar, bahwa apa yang dimilikinya itu cuma sebagian kecil kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya; dan percaya bahwa ada banyak orang yang jauh lebih mampu, lebih pandai, lebih mumpuni ketimbang dirinya. Jadi, pikirnya, kalau cuma sekadar untuk show off ya buat apa? Bukankah akan lebih baik jika kemampuan yang dimiliki itu diajarkan saja tanpa perlu dipamerkan/diperlihatkan ke banyak orang, ya? Walaupun agak susah juga sih kadang, karena batas antara niat tulus berbagi ilmu dan pamer kemampuan itu terlalu tipis. Tapi ya semuanya terpulang pada niat masing-masing sih.
Kemampuan terhadap penguasaan satu ilmu dengan ilmu lainnya pasti berbeda-beda. Kalau misalnya ada satu orang yang lebih mumpuni dibandingkan orang lainnya ya wajar. Jadi jangan menuntut level penguasaan yang sama terhadap sesuatu, karena sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting untuk dicermati, yaitu ketika kita berani mengaplikasikan ilmu yang kita miliki itu untuk memberi manfaat bagi orang di sekitar kita, jadi bukan sekadar retorika semata. Kalau sudah sanggup mengaplikasikan keilmuan tersebut, nah… silakan membagikan ilmu yang dimiliki itu kepada orang lain dengan sepenuh hati.
IMHO. No matter what skills you have, but what is more important is how you enable others
Mungkin apa yang saya tulis ini cuma masalah perspektif, cara pandang. Bisa saja apa yang saya pikirkan ini berbeda dengan apa yang kalian pikirkan. Wajar, lha wong memang isi kepala kita juga beda. Tapi sebenarnya saya cuma ingin curhat, bahwa…
orang-orang yang seperti Kak Raflesia Arnoldi ini sejatinya ada…😐
I’m not always right, but i’m never wrong. Paradoks.
 – devieriana –

 

picture source here
I’m not always right, but i’m never wrong

2 thoughts on “I’m not always right, but i’m never wrong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s