Batuk Yang Tak Kunjung Sembuh Itu (2)

Jadi ceritanya, kurang lebih 2 bulan yang lalu, saya mengalami lagi batuk pilek yang nggak sembuh-sembuh. Diawali dari Alea yang flu, lalu menular ke mama, ke saya, dan ke suami. Ketika yang lain berangsur sehat kembali, tinggallah saya yang masih didera batuk pilek yang bukannya makin sembuh tapi justru makin menjadi-jadi.

Saya itu sebenarnya paling sebal sama yang namanya batuk, karena kalau sudah batuk pasti sembuhnya lama. Seperti kejadian 2 tahun yang lalu, ketika saya mengalami batuk yang ‘nggak biasa’ lantaran hampir 3 bulan saya batuk-batuk nggak jelas. Sudah berbagai obat saya minum, sudah berbagai dokter saya datangi, tapi toh batuk saya tak kunjung sembuh. Hiks…

Setelah ‘absen’ selama 2 tahun, ternyata si batuk itu datang lagi menghampiri saya. Sama seperti tahun sebelumnya. Sembuhnya pun lama, hampir 2-3 bulanan. Mulai dokter umum, hingga dokter spesialis sudah saya datangi. Mulai obat tradisional, sampai obat yang harganya bikin ngelus dada sudah saya konsumsi, tapi nyatanya batuk itu tak kunjung pergi, malah ditambah sesak nafas yang rasanya sangat menyiksa.

Puncaknya pas upacara 1 Juni 2017 kemarin, kok ndilalah saya pas tidak sedang jadi petugas upacara. Biasanya kan kalau nggak ngemsi, ya baca UUD. Di upacara kali ini kebetulan sama sekali tidak tugas, dan tidak sedang mem-back up petugas lainnya. Di tengah upacara berlangsung, lha kok mendadak saya batuk tak berhenti-henti. Jeda sebentar, batuk lagi, jeda sebentar, batuk lagi, begitu seterusnya. Hingga puncaknya pas di mobil saya batuk-batuk sepanjang jalan sampai tiba di rumah. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya saya waktu itu, kan? Dan gara-gara batuk itulah saya terpaksa membatalkan ibadah puasa saya karena harus minm obat untuk meredakan batuknya. Hiks…

Akhirnya, dengan tekad bulat ingin sembuh beneran, keesokan harinya saya memutuskan untuk ke RS St. Carolus, khusus untuk konsultasi ke dokter spesialis paru. OMG! Pulmonologist! Ya Tuhan, baru kali ini saya mendatangi dokter penyakit kelas berat begini. Padahal dulu kalau flu saya cukup ke dokter umum saja sudah sembuh, ini kok ya pakai ‘tour’ ke dokter spesialis THT, spesialis penyakit dalam, dan sekarang malah ke spesialis paru. Pas ulang tahun pula.

Berhubung saya belum pernah sama sekali ke dokter spesialis paru, dan tidak ada rekomendasi sebelumnya harus ke dokter spesialis paru mana yang bagus, akhirnya saya pilih saja secara random, dr. Muherman Harun, SpP. Alasannya simple saja, jadwal praktiknya siang, pukul 12.00-14.00, jadi saya bisa ambil waktu sebentar ke RS. Carolus yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor, yaitu daerah Salemba.

Siang itu antrean pasien di dr. Muherman tidak terlalu banyak, tapi memang rata-rata waktu konsultasinya lama. Mungkin beginilah tipikal dokter yang menangani penyakit kelas berat, konsultasinya (harus) lama dan detail. Pikir saya. Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya nama saya pun dipanggil. Di dalam, saya sudah ditunggu oleh seorang perawat dan dokter senior yang kalau saya taksir usianya mungkin di atas 80 tahun, tapi masih terlihat sehat dan segar bugar sih. Setelah menceritakan keluhan kesehatan yang saya alami, beserta riwayat penyakit sebelumnya, dan beliau menginterview saya dengan beberapa pertanyaan seputar anak dan suami untuk memastikan apakah ada hubungan dengan penyakit yang saya derita (kebetulan saya dan suami memang ada alergi, jadilah Alea pun ‘mewarisi’ hal yang sama dengan kami berdua), beliau pun mulai memeriksa saya dengan saksama.

Nah, herannya, seharian itu ndilalah saya sama sekali pas tidak ada batuk pilek, beda dengan hari sebelumnya yang batuk-batuk luar biasa ditambah dengan sesak nafas yang bikin tersiksa seharian. Saya pikir-pikir kok kasusnya jadi sama seperti rambut ya. Coba deh, kalau kita sudah niat mau potong rambut, rambut kita itu seolah berubah jadi lebih lembut, lebih enak diaturnya, lebih sehat, jadi sayang mau motong. Begitu juga dengan sakit yang saya alami kemarin. Giliran diperiksa dokter, eh seperti orang yang sedang nggak sakit. Hrrr…

Setelah dicek, dokter pun menuliskan resep untuk saya.

Me: Jadinya, saya sakit apa, Dok?

Him: Bronkhitis. Itu pun levelnya ringan kok

Me: Bronkhitis saja, Dok?

Him: Oh, maunya sama apa?

Me: Hahaha, bukan gitu. Dua tahun lalu kan saya juga mengalami hal yang sama; dan dideteksi oleh dokter kena faringitis, rhinofaringitis, bronkhitis, dan asthma. Nah 3 penyakit lainnya itu udah enggak ada ya, Dok? Maksud saya itu…

Him: Kamu bronkhitis aja kok. Sama seperti cucu saya, dia juga bronkhitis. Dia terapi renang, sekarang renangnya jago. Renang itu bagus untuk paru-paru. Kalau kamu bisa renang, akan jauh lebih bagus. Anak kamu nanti juga harus bisa renang ya. Usia 3 tahun sudah harus dikenalkan dengan renang, usia 5 tahun sudah harus mulai bisa…

Me: Ok, Dok.

Him: Ok, kalau kamu makan gorengan, minum es, makan yang manis-manis, atau pas kecapekan, kamu sering batuk/pilek, nggak?

Me: Mmmh… kebetulan saya memang bukan fans makanan dan minuman itu sih, Dok. Dari dulu memang sengaja mengurangi

Him: Kenapa?

Me: Tenggorokan saya kayanya sensitif deh, jadi sering banget radang

Him: Ok, habis ini kamu saya beri obat yang kalau sudah kamu minum nanti kamu bebas mau makan apa saja. Kamu boleh makan gorengan yang paling enak, makan es, makan/minum yang manis juga boleh. Minggu depan kamu ke sini lagi, khusus untuk cerita apa yang kamu rasakan setelah kamu minum obat dari saya. Ok, ya?

Me: Siap, Dok!

Tak berapa lama setelah mengantri di farmasi, saya menerima obat yang jumlahnya hanya 10 biji, yang aturan minumnya hanya di pagi hari setelah sarapan, dan sore hari jika diperlukan. Harganya pun tidak tertera di kuitansi, atau saya yang siwer, ya? Eh, tapi beneran nggak tertera harganya lho. D kasir saya hanya membayar Rp90.000,00 sejumlah sisa biaya kekurangan pembayaran jasa dokter spesialis yang tidak ditanggung oleh asuransi, tidak ada biaya obat sama sekali. Berbeda dengan dokter (di rumah sakit) sebelumnya yang meresepkan banyak sekali obat, hampir 1 tas plastik yang terdiri dari antibiotik, sirup obat batuk, sampai inhaler, yang harga totalnya bisa beli high heels Guess. Lha ini, dokter Muherman hanya meresepkan 1 jenis obat saja tapi alhamdulillah ternyata manjur. Batuk saya berhenti total hanya dalam waktu 3 hari!

MYXJ_20170608154200_save
Mencari dokter yang ‘mengerti’ penyakit kita itu sama seperti mencari jodoh. Cocok-cocokan. Buktinya saya dan Alea yang dalam 2 tahun ini sering ‘berkelana’ dari dokter ke dokter akhirnya menemukan dokter yang ‘cocok’ dengan sakit yang kami derita setelah ‘berkelana’ dari dokter satu ke dokter lainnya, dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya.

Kesehatan itu terasa begitu mahal ketika kita dihadapkan dengan lembar kuitansi dokter spesialis plus kuitansi farmasi rumah sakit. Sekalipun itu ditanggung oleh asuransi, akan tetap nyesek ketika melihat nominal yang tertera di sana.

Semoga kita senantiasa dihindarkan dari segala macam penyakit. Aamiin…
Sehat selalu yaaaa…

-devieriana-

Status

Alea+Demam=Baper

20170410_151344

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu (1/4/2017) Alea demam. Seperti biasa, saya sudah sedia obat penurun demam dan obat flu racikan dokter yang biasa saya minumkan kalau Alea demam, flu, batuk, pilek. Demamnya sempat turun, tapi cuma karena reaksi obat saja, sekitar 3-4 jam pasca minum penurun demam, tapi setelah itu demam lagi. Bahkan suhunya sempat mencapai 39 derajat celcius.

Hari Minggunya (2/4/2017) saya coba minumkan air kelapa hijau, Alea langsung berkeringat banyak sekali, dan suhu badannya langsung turun ke suhu badan normal 37 derajat celcius. Alhamdulillah, sedikit lebih tenang. Apalagi dia juga jadi mau makan dan minum susu, padahal sebelumnya dia menolak, dengan alasan rasa makanannya asin. Mungkin maksudnya pahit ya.

Hari Seninnya (3/4/2017) suhu badannya kembali naik pelan-pelan, padahal Alea harus saya titipkan di daycare. Sedih deh ninggalin anak di daycare tuh, apalagi kalau anak lagi sakit. Sementara kita tidak ada pilihan lain selain menitipkannya di daycare. Walaupun sudah saya bekali obat-obatan tetap kondisi Alea saya pantau dan meminta bunda-bundanya di sana untuk secara berkala mengecek kondisi Alea dengan memeriksa suhu badannya dan meminumkan obat sehabis makan siang. Alhasil badan Alea demam plus batuk pilek yang lagi hebat-hebatnya karena baru mulai. Makin baperlah saya.

Tanpa berlama-lama, saya segera membuat janji konsultasi dengan dokternya Alea di RS Metropolitan Medical Centre (MMC), Prof. dr. Soepardi Soedibyo, Sp.A(K). Sengaja saya pulang lebih cepat karena saya dapat nomor antrean 6, yaitu pukul 16.00.

Eyang dokter (demikian beliau memanggil dirinya sendiri untuk para pasien kecilnya) melakukan pemeriksaan dengan seksama. Selain batuk, pilek, penyebab demamnya adalah virus. Jadi kalau virus obatnya bukan dengan antibiotik, tapi kekebalan si anaklah yang akan bekerja melawan virus tersebut. Eyang Dokter hanya meresepkan obat penurun demam dan obat racikan untuk batuk pileknya saja.

Sehari, dua hari, tiga hari, kok Alea masih demam? Duh, kenapa ya? Terhitung sudah lebih dari 4 hari dia demam tinggi, dan tidak biasanya seperti ini. Mulailah bermunculan berbagai kekhawatiran di kepala saya. Bagaimana kalau demam berdarah? Bagaimana kalau thypusMengingat salah satu teman di daycare-nya Alea juga ada yang didiagnosa typhus dan harus rawat inap selama 3 hari di rumah sakit. Nah, kan saya jadi makin baper ya.

Daripada saya baper sendiri, akhirnya saya konsul lagi via whatsapp (untungnya Eyang Dokter ini berkenan ditanya-tanya via whatsapp), sekadar tanya, kalau masih demam, kapan Alea harus kembali lagi ke dokter? Jawabannya, “Kamis, kalau masih panas”.

Dan ternyata hari Kamis (6/4/2017) suhu badan Alea masih tinggi. Panik? Lebih ke khawatir sih ya, karena Alea sudah tidak mau makan, hanya minum saja, kalaupun iya mau makan hanya 1 -2 sendok saja, alasan rasanya asin (pahit). Otomatis kondisi badannya makin drop, lemah, dan hanya mau tidur saja. Itu juga tidak nyenyak, hanya mau bobo gendong.

Tapi #MamaKuduSetrong , hari Kamis (6/4/2017) setelah maghrib, saya dan eyangnya membawa Alea ke dokter, naik taksi, dan ternyata harus menghadapi kemacetan luar biasa parah di sekitar Mampang akibat adanya pengerjaan underpass yang memangkas jalur menjadi lebih sedikit. Pukul 18.45 saya masih parkir manis di Mampang belum bergerak sama sekali. Sementara dokter hanya praktik sampai pukul 20.00. Perjalanan jadi begitu lama karena macet yang luar biasa tadi.

Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.

Sepertinya driver taksi yang saya tumpangi itu membaca pikiran saya. Dia pun segera melesat sesegera mungkin setelah terbebas dari ujung kemacetan di sekitaran Gatot Subroto, dan sampai di RS MMC tepat pukul 19.20. Ya Allah, alhamdulillah akhirnya sampai juga. Baru kali ini Mampang-Rasuna yang biasanya tinggal ngegelundung doang sekarang harus ditempuh dalam waktu hampir 1.5 jam.

Tapi untunglah kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alea pun diperiksa dengan seksama. Diagnosa dokter masih tetap sama, penyebab demamnya ‘hanya’ karena virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Tapi namanya ibu, tetap saja saya ‘ngeyel’, kok diagnosanya ‘cuma gitu aja’? (woalah, Profesor kok dieyeli, hihihik). Lhaaah, terus maunya gimana? Ya, berasa kurang mantep gimana gitu ya. Ih, penyakit kok dimantep-mantepkan…

Eyang Dokter menjelaskan tentang berbagai penyebab demam, salah satunya jika demam disebabkan oleh virus. Bagaimana dengan typhus pada balita? Beliau menjelaskan bahwa tidak ada typhus yang menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kebanyakan demam yang menyerang anak-anak dikarenakan oleh virus, jadi kekebalan anaklah yang akan melawan virus itu, bukan dengan antibiotik. Bisa jadi kondisi badan si anak sedang drop, dengan mudah virus memasuki tubuh si anak. Ketika kondisi anak sedang kuat, virus akan lebih mudah dilawan. Tapi sebaliknya, ketika kondisi anak sedang drop, virus akan bertahan lebih lama di tubuh anak.

Bagaimana dengan demam berdarah? Beliau menjelaskan, demam berdarah ‘zaman sekarang’ tidak lagi menampakkan diri dengan bintik-bintik merah, tapi harus melalui tes darah.

Me: “Jadi, anak saya demamnya cuma karena virus aja, Dok?”

Dokter: “Iya, virus. Tapi ya sudah, coba kita cek darah sederhana aja ya. Makan dan minumnya gimana? Masih mau, nggak?”

Me: “Kalau minum sih dia mau, Dok. Makan yang dia nggak mau, alasannya rasanya asin… hehehe”

Dokter: “Kalau masih mau minum, itu bagus. Karena pada saat flu/demam, anak harus banyak minum supaya tidak dehidrasi. Sudah pup belum?”

Me: “Sudah, Dok. Malah sempat pup yang cair gitu, semacam diare”

Dokter: “Bagus, gapapa. Sekali aja, kan?”

Me: “Iya, sekali aja”

Dokter: “Itu tandanya tubuhnya sedang berusaha mengeluarkan racun. Gapapa. Jadi, sekarang kita coba ambil darah sambil sekalian diinfus aja ya…”

Saya pun mengangguk sambil trenyuh sendiri membayangkan tangan mungil batita saya untuk pertama kalinya disentuh jarum infus. Baper. Tapi sekali lagi, kan #MamaKuduSetrong , jadi ya harus kuat!

Percayalah, tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat batitanya menangis panik ketakutan melihat dirinya dikelilingi para petugas medis yang mulai melakukan penanganan. Dengan tangis yang keras, Alea saya peluk sambil tiduran, sementara tangan kirinya mulai dibebat untuk dicari urat nadinya, diambil darahnya, dan disusul dengan cairan infus.

Alea diinfus selama kurang lebih 2 jam, mulai pukul 20.00-22.00. Suhu badannya berangsur-angsur normal, 37.5 derajat celcius. Hasil cek darahnya pun menyatakan bahwa demam yang diderita Alea ‘hanya’ virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Alhamdulillah. Sekitar pukul 23.00 kami pun pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lebih lega ketimbang sebelumnya.

Sekarang tinggal batuk pileknya saja yang belum sembuh, tapi insyaallah berangsur-angsur membaik, walaupun nafsu makannya masih belum pulih seperti semula.

Semoga cepat sehat ya, Nak. Jangan sakit-sakit lagi ya. Mwach!

 

– devieriana –

 

ilustrasi: koleksi pribadi

Status

Batuk Yang Tak Kunjung Sembuh Itu

coughDari dulu, musuh utama saya adalah batuk. Karena kalau batuk, yang ‘menderita’ bukan cuma saya, tapi juga orang yang ada di sekitar saya; bukan cuma keluarga, tapi juga teman yang dengar saya batuk. Bukan cuma iba, tapi juga pasti akan meminta saya untuk segera ke dokter supaya ada solusi buat batuk saya. Padahal saya sebenarnya paling malas ke dokter, masa dikit-dikit ke dokter, dikit-dikit ke dokter. Ke dokter kok dikit-dikit… *eh, lho?!*

Kalau soal flu/pilek/demam ringan/pusing, masih bisa saya taklukkan dengan obat yang biasa dijual umum. Atau kalau misalnya parah, dan sudah mengganggu aktivitas di kantor ya paling saya ke klinik kantor untuk minta obat. Jadi, catatan di kartu pasien saya di klinik itu sama dari atas ke bawah: batuk, pilek, demam, radang; begitu saja diulang-ulang. Lha wong memang yang suka menghampiri saya ya itu-itu melulu.

Hingga akhirnya di sekitar bulan Juni kemarin saya mulai didera batuk. Awalnya ya biasa, radang, demam, pilek, trus mulai deh batuk-batuk ringan. Berhubung obat umum yang biasa saya minum sudah tidak mempan, terpaksalah saya ke dokter, itu pun selang setelah 3 minggu batuk pileknya tak kunjung reda, bahkan sudah mulai dibilang berat. Dua kali saya datang ke dokter kantor dengan resep yang berbeda tak mempan, akhirnya saya menyerah. Udah, nggak ke dokter-dokter lagi, bosen. Lho, gimana deh, sakit parah kok malah nggak ke dokter. Bahkan lebaran kemarin saya nggak cihuy sama sekali, lha wong bunyi batuknya sudah seperti perokok berat. Padahal kan saya nggak merokok 😦 . Sudah habis vitamin dan obat batuk berbotol-botol hasilnya tetap nihil. Sepertinya ini adalah batuk terparah yang pernah saya alami deh… *sedih*

Mama sempat menyarankan saya untuk pergi ke internist untuk memastikan batuk apa sih sebenarnya yang kerasan banget di badan saya ini. Tapi saya sempat menolak, bukan apa-apa, saya malah takut. Takut kalau ternyata di dalam paru-paru saya ada apa-apanya. Iya, saya aneh ya? Bukannya malah bagus kalau ketahuan penyakitnya apa biar cepat diobati, mengingat saya kan punya balita yang lagi lengket-lengketnya sama saya. Sempat antara geli dan sedih kalau Alea ditanya sama papanya, “gimana kalau Mama batuk?”. Dengan ekspresi lucu Alea menirukan gaya saya batuk, “uhuk, uhuk, uhuk!”

Akhir bulan lalu akhirnya saya beranikan diri ke rumah sakit untuk mengecek kondisi saya. Jangan ke internist dulu deh, ke THT aja. Dengan diantar suami, saya pun ke RS Medistra yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Di sana saya diperiksa oleh dr. Nirmala, Sp.THT. Ya saya ceritakan apa keluhan saya yang sudah mengalami kebosanan tingkat akut dengan batuk yang saya derita ini. Setelah dicek sana-sini, dokter bilang batuk saya ini berawal dari pilek, bisa juga karena alergi (entah debu, atau udara dingin), jadilah radang dan sebagian lendirnya turun hingga menyebabkan batuk. Dalam hati saya alhamdulillah, berarti tidak semengkhawatirkan apa yang ada di dalam pikiran saya sebelum ke rumah sakit. Oleh dokter saya dikasih obat yang dosisnya ringan saja mengingat saya masih menyusui. Awalnya kalau memang sudah parah, mau dikasih obat yang mengandung morfin, tapi risikonya ya saya bakal teler berat. Lha ya nanti anak saya ikutan teler dong? Nggaklah, jangan, ini aja dulu. Toh belum seberapa berat.

Selama mengonsumsi obat itu, lumayanlah batuk pileknya berkurang, tapi masalah datang lagi, ketika obat itu habis lha kok batuk pileknya datang lagi :(( *stress* . Sampai akhirnya saya menyerah, ya sudah… saya ke spesialis penyakit dalam :((. Sore itu, sepulang kantor saya langsung ke RS Medistra lagi sambil terbatuk-batuk. Suara saya sudah serak tak ‘berbentuk’ lagi. Sesampainya di loket pendaftaran saya tanpa memilih dokter (karena saya belum pernah ke internist mana pun di sini), akhirnya saya dipilihkan dengan dr. Telly Kamelia, SpPD. Setelah menunggu selama 30 menit, dr. Telly pun datang. Dokter yang ramah dan komunikatif, itulah kesan pertama saya pada dokter berhijab di depan saya itu.

Saya diinterview hingga detail kira-kira apa penyebab batuk yang tak kunjung sembuh ini. Dicari penyebabnya, mulai faktor dari dalam keluarga, teman, lingkungan rumah, lingkungan kerja, aktivitas sehari-hari, dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Hingga akhirnya tiba di kesimpulan yang sama dengan dr. Nirmala, SpTHT, sepertinya saya alergi debu dan udara dingin. Setelah diperiksa dada, punggung, hidung, tenggorokan, akhirnya penyakit saya ‘ketemu’, saya didiagnosa terkena rhino-faringitis, faringitis, dan bronchitis. Intinya saluran pernafasan saya terkena infeksi, gitu deh kira-kira kesimpulannya. Dan saya harus foto thorax untuk lebih memastikan apa yang ada di sekitaran paru-paru saya. Sampai sekarang foto thoraxnya belum saya ambil, nanti saja sekalian pas kontrol lagi hari Rabu, 16/09/2015. Semoga sih nggak sampai ada apa-apa di paru-paru saya ya, hiks… 😦

resep
Alhamdulillah, sepertinya obatnya mulai bereaksi. Kata dokter sengaja memang diberi obat yang agak tinggi dosisnya, nanti ketika kontrol kedua akan dilihat hasilnya apakah ada perubahan/tidak. Kalau memang manjur, akan pelan-pelan dikurangi dosisnya. Baru setelahnya akan diterapi. Syarat terapinya saya harus total washed out dari segala konsumsi obat, vitamin, atau jamu selama kurang lebih satu minggu. Kalau terapi itu diberikan sekarang ketika saya masih sakit, kata dokter tidak bisa. Karena saya jadi tidak punya tameng untuk menangkal penyakitnya. Jadi biar sembuh dulu baru diterapi.

Dalam sakit kemarin, walaupun ‘cuma’ batuk, saya jadi merasakan betapa kesehatan itu amat sangat berarti. Pilek sedikit saja, itu sudah pengaruh ke mana-mana. Sudah saatnya jaga kondisi kesehatan dengan lebih baik lagi, mengingat kondisi badan saya termasuk rentan, plus saya bukan pehobi olahraga pula *self keplak*.

Baik-baik jaga kondisi badan ya, temans. Sehat itu mahal dan ribet (sekalipun biaya ditanggung asuransi). Ribet karena tetap harus pergi ke rumah sakit, ketemu dokter, nebus obat, and the blablabla. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, supaya bisa memanfaatkan usia, kesempatan, dan hari-hari yang diberikan Allah dengan lebih baik lagi, terutama bersama orang-orang tercinta. Aamiin…

 

 

sumber ilustrasi: nedandlarry.com dan pribadi

Status