Alea+Demam=Baper

20170410_151344

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu (1/4/2017) Alea demam. Seperti biasa, saya sudah sedia obat penurun demam dan obat flu racikan dokter yang biasa saya minumkan kalau Alea demam, flu, batuk, pilek. Demamnya sempat turun, tapi cuma karena reaksi obat saja, sekitar 3-4 jam pasca minum penurun demam, tapi setelah itu demam lagi. Bahkan suhunya sempat mencapai 39 derajat celcius.

Hari Minggunya (2/4/2017) saya coba minumkan air kelapa hijau, Alea langsung berkeringat banyak sekali, dan suhu badannya langsung turun ke suhu badan normal 37 derajat celcius. Alhamdulillah, sedikit lebih tenang. Apalagi dia juga jadi mau makan dan minum susu, padahal sebelumnya dia menolak, dengan alasan rasa makanannya asin. Mungkin maksudnya pahit ya.

Hari Seninnya (3/4/2017) suhu badannya kembali naik pelan-pelan, padahal Alea harus saya titipkan di daycare. Sedih deh ninggalin anak di daycare tuh, apalagi kalau anak lagi sakit. Sementara kita tidak ada pilihan lain selain menitipkannya di daycare. Walaupun sudah saya bekali obat-obatan tetap kondisi Alea saya pantau dan meminta bunda-bundanya di sana untuk secara berkala mengecek kondisi Alea dengan memeriksa suhu badannya dan meminumkan obat sehabis makan siang. Alhasil badan Alea demam plus batuk pilek yang lagi hebat-hebatnya karena baru mulai. Makin baperlah saya.

Tanpa berlama-lama, saya segera membuat janji konsultasi dengan dokternya Alea di RS Metropolitan Medical Centre (MMC), Prof. dr. Soepardi Soedibyo, Sp.A(K). Sengaja saya pulang lebih cepat karena saya dapat nomor antrean 6, yaitu pukul 16.00.

Eyang dokter (demikian beliau memanggil dirinya sendiri untuk para pasien kecilnya) melakukan pemeriksaan dengan seksama. Selain batuk, pilek, penyebab demamnya adalah virus. Jadi kalau virus obatnya bukan dengan antibiotik, tapi kekebalan si anaklah yang akan bekerja melawan virus tersebut. Eyang Dokter hanya meresepkan obat penurun demam dan obat racikan untuk batuk pileknya saja.

Sehari, dua hari, tiga hari, kok Alea masih demam? Duh, kenapa ya? Terhitung sudah lebih dari 4 hari dia demam tinggi, dan tidak biasanya seperti ini. Mulailah bermunculan berbagai kekhawatiran di kepala saya. Bagaimana kalau demam berdarah? Bagaimana kalau thypusMengingat salah satu teman di daycare-nya Alea juga ada yang didiagnosa typhus dan harus rawat inap selama 3 hari di rumah sakit. Nah, kan saya jadi makin baper ya.

Daripada saya baper sendiri, akhirnya saya konsul lagi via whatsapp (untungnya Eyang Dokter ini berkenan ditanya-tanya via whatsapp), sekadar tanya, kalau masih demam, kapan Alea harus kembali lagi ke dokter? Jawabannya, “Kamis, kalau masih panas”.

Dan ternyata hari Kamis (6/4/2017) suhu badan Alea masih tinggi. Panik? Lebih ke khawatir sih ya, karena Alea sudah tidak mau makan, hanya minum saja, kalaupun iya mau makan hanya 1 -2 sendok saja, alasan rasanya asin (pahit). Otomatis kondisi badannya makin drop, lemah, dan hanya mau tidur saja. Itu juga tidak nyenyak, hanya mau bobo gendong.

Tapi #MamaKuduSetrong , hari Kamis (6/4/2017) setelah maghrib, saya dan eyangnya membawa Alea ke dokter, naik taksi, dan ternyata harus menghadapi kemacetan luar biasa parah di sekitar Mampang akibat adanya pengerjaan underpass yang memangkas jalur menjadi lebih sedikit. Pukul 18.45 saya masih parkir manis di Mampang belum bergerak sama sekali. Sementara dokter hanya praktik sampai pukul 20.00. Perjalanan jadi begitu lama karena macet yang luar biasa tadi.

Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.

Sepertinya driver taksi yang saya tumpangi itu membaca pikiran saya. Dia pun segera melesat sesegera mungkin setelah terbebas dari ujung kemacetan di sekitaran Gatot Subroto, dan sampai di RS MMC tepat pukul 19.20. Ya Allah, alhamdulillah akhirnya sampai juga. Baru kali ini Mampang-Rasuna yang biasanya tinggal ngegelundung doang sekarang harus ditempuh dalam waktu hampir 1.5 jam.

Tapi untunglah kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alea pun diperiksa dengan seksama. Diagnosa dokter masih tetap sama, penyebab demamnya ‘hanya’ karena virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Tapi namanya ibu, tetap saja saya ‘ngeyel’, kok diagnosanya ‘cuma gitu aja’? (woalah, Profesor kok dieyeli, hihihik). Lhaaah, terus maunya gimana? Ya, berasa kurang mantep gimana gitu ya. Ih, penyakit kok dimantep-mantepkan…

Eyang Dokter menjelaskan tentang berbagai penyebab demam, salah satunya jika demam disebabkan oleh virus. Bagaimana dengan typhus pada balita? Beliau menjelaskan bahwa tidak ada typhus yang menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kebanyakan demam yang menyerang anak-anak dikarenakan oleh virus, jadi kekebalan anaklah yang akan melawan virus itu, bukan dengan antibiotik. Bisa jadi kondisi badan si anak sedang drop, dengan mudah virus memasuki tubuh si anak. Ketika kondisi anak sedang kuat, virus akan lebih mudah dilawan. Tapi sebaliknya, ketika kondisi anak sedang drop, virus akan bertahan lebih lama di tubuh anak.

Bagaimana dengan demam berdarah? Beliau menjelaskan, demam berdarah ‘zaman sekarang’ tidak lagi menampakkan diri dengan bintik-bintik merah, tapi harus melalui tes darah.

Me: “Jadi, anak saya demamnya cuma karena virus aja, Dok?”

Dokter: “Iya, virus. Tapi ya sudah, coba kita cek darah sederhana aja ya. Makan dan minumnya gimana? Masih mau, nggak?”

Me: “Kalau minum sih dia mau, Dok. Makan yang dia nggak mau, alasannya rasanya asin… hehehe”

Dokter: “Kalau masih mau minum, itu bagus. Karena pada saat flu/demam, anak harus banyak minum supaya tidak dehidrasi. Sudah pup belum?”

Me: “Sudah, Dok. Malah sempat pup yang cair gitu, semacam diare”

Dokter: “Bagus, gapapa. Sekali aja, kan?”

Me: “Iya, sekali aja”

Dokter: “Itu tandanya tubuhnya sedang berusaha mengeluarkan racun. Gapapa. Jadi, sekarang kita coba ambil darah sambil sekalian diinfus aja ya…”

Saya pun mengangguk sambil trenyuh sendiri membayangkan tangan mungil batita saya untuk pertama kalinya disentuh jarum infus. Baper. Tapi sekali lagi, kan #MamaKuduSetrong , jadi ya harus kuat!

Percayalah, tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat batitanya menangis panik ketakutan melihat dirinya dikelilingi para petugas medis yang mulai melakukan penanganan. Dengan tangis yang keras, Alea saya peluk sambil tiduran, sementara tangan kirinya mulai dibebat untuk dicari urat nadinya, diambil darahnya, dan disusul dengan cairan infus.

Alea diinfus selama kurang lebih 2 jam, mulai pukul 20.00-22.00. Suhu badannya berangsur-angsur normal, 37.5 derajat celcius. Hasil cek darahnya pun menyatakan bahwa demam yang diderita Alea ‘hanya’ virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Alhamdulillah. Sekitar pukul 23.00 kami pun pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lebih lega ketimbang sebelumnya.

Sekarang tinggal batuk pileknya saja yang belum sembuh, tapi insyaallah berangsur-angsur membaik, walaupun nafsu makannya masih belum pulih seperti semula.

Semoga cepat sehat ya, Nak. Jangan sakit-sakit lagi ya. Mwach!

 

– devieriana –

 

ilustrasi: koleksi pribadi

Status

Demam, Mau Pinter?

Sebenarnya saya kurang percaya sama yang namanya mitos. Ada hal-hal yang selama masih bisa dilogikakan, saya akan cenderung lebih percaya logika ketimbang mitosnya. Seperti mitos-mitos kehamilan dan perawatan anak, selalu saya usahakan untuk membandingkannya dengan opini dokter atau pakar yang lebih paham, bukan apa-apa, supaya kita tetap menjadi orangtua yang logis, smart, dan tetap aware. Namanya juga orangtua yang anaknya lahir dan hidup di era internet jadi mau tidak mau kita juga harus menyesuaikan diri.

Seperti misalnya ketika Alea tiba-tiba demam tinggi, ada yang bilang, “Udah, gapapa. Tenang aja, itu berarti anak kamu mau pinter…” Saya sih mengamini, semoga begitu adanya. Memang, konon, kalau anak tiba-tiba demam tinggi tandanya mau pinter, atau ada kebisaan baru, atau ada suatu perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Tapi apa iya seorang anak yang ‘mau pinter‘ itu harus didahului dengan demam/sakit?

Alea selama ini alhamdulillah jarang sakit. Ketika akan bisa tengkurap atau tumbuh gigi pun biasa saja, tidak disertai demam terlebih dahulu. Memang ada, bayi-bayi yang ketika akan tumbuh gigi badannya demam karena terjadi radang di gusinya. Kalau Alea demam/flu sih pernah, namanya kondisi badan manusia pasti ada up and down-nya, seperti orang dewasa kan juga begitu. Apalagi kondisi badan bayi/balita yang masih rentan terhadap virus, kondisi lingkungan yang tidak selamanya bersahabat, dan aktivitas bayi/balita yang cenderung meningkat. Jadi kalau bayi/balita mulai demam/batuk/pilek itu bagian dari tumbuh kembang mereka.

Nah, ceritanya saya ada dinas ke Bogor. Sepulang dinas, ketika Alea sedang memeluk saya, kok agak badannya terasa agak ‘anget‘ ya? Ketika saya ukur dengan termometer, memang benar ada sedikit kenaikan suhu badan, menjadi 38 derajat celcius. Tapi berhubung Alea tidak mengalami penurunan aktivitas, tetap semangat merangkak ke sana-ke mari, dan makannya pun lahap seperti biasa, jadi saya tidak seberapa khawatir. Jadi treatment-nya hanya saya beri minum air putih yang lebih sering, plus ASI kapan pun dia minta, plus sedia obat penurun demam anak yang diberikan oleh dokter just in case demamnya makin tinggi.

-----------Alea memang tidak rewel, tapi dia jadi lebih manja. Maunya dekat dengan saya. Hingga tidur pun dia tidak mau tidur di tempat tidur, maunya tidur di gendongan. Hingga akhirnya semakin malam, saya rasakan kok suhu tubuhnya semakin tinggi, dan puncaknya sekitar pukul 12 malam suhu tubuhnya mencapai 39.3 derajat celcius. Jujur, saya mulai panik. Tidak biasanya Alea demam setinggi ini. Paniknya karena obat penurun panasnya tidak bereaksi, dan suhu tubuhnya semakin tinggi, sementara dokter spesialis anak pasti tidak ada yang buka kalau Sabtu/Minggu. Masa iya harus ke UGD? Jangan dulu deh. Selain mengompres dahinya dengan air hangat suam-suam kuku, saya juga mencoba metode skin to skin, untuk menurunkan demam pada bayi. Hingga akhirnya saya ikut tertidur dalam kondisi duduk setelah berjaga sampai hampir pukul 4 pagi.

Ketika saya bangun, Alea masih dalam keadaan tidur pulas. Saya raba dahi, badan, dan telapak kakinya. Alhamdulillah suhu badannya mulai turun. Ketika saya ukur, suhu badannya sudah turun menjadi 37.9 derajat celcius. Sedikit lega, walaupun badannya masih terasa agak panas.

Hari itu Alea menjalani aktivitas seperti biasa. Dia makan dengan porsi seperti biasa, minum vitamin seperti biasa, tapi untuk air putih saya berikan lebih sering supaya dia lebih sering pipis jadi demamnya bisa lebih cepat turun lagi. Dan siangnya suhu badannya berangsur-angsur menjadi normal, terakhir saya ukur suhunya 36.7 derajat celcius. Alhamdulillah. Keesokan harinya saya sengaja ambil cuti dadakan untuk stand by, jaga-jaga kalau suhu badannya naik lagi. Tapi syukurlah suhu badannya stabil, jadi hari Selasa saya bisa kembali ngantor.

Percaya/tidak percaya, seminggu setelah kejadian demam tinggi itu dia mulai bisa jalan. Awalnya 1-3 langkah, lalu jatuh. Hari berikutnya menjadi 5 langkah, dan seterusnya hingga akhirnya lancar dengan sendirinya. Ah, saya jadi terharu… *kecup Alea*.

----------Jadi entahlah, ada hubungannya atau tidak antara demam dan ‘mau jadi pinter‘ itu tadi kok ndilalah pas habis demam dia bisa jalan. Padahal sih kalau menurut pemeriksaan dokter, waktu demam kemarin dikarenakan oleh virus. Tapi berhubung daya tahan tubuhnya bagus, jadi demamnya tidak terlalu lama.

Kalau yang pernah saya baca, demam itu semacam alarm dalam tubuh yang ‘menginformasikan’ bahwa sedang terjadi ‘sesuatu’ dalam tubuh (anak) kita. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘mau pinter‘. Kalau memang habis demam kebetulan dia nambah kebisaan ya memang sudah waktunya.

Kalau kata dokter, penyebab demam anak itu banyak sekali, tetapi kalau demam yang terjadi pada bayi/balita/anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus atau flu yang disertai batuk/pilek. Kebetulan waktu itu Alea memang juga pilek. Pada umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting disease, atau akan sembuh dengan sendiri oleh kekebalan/pertahanan tubuh dirinya. Jadi memang tidak perlu obat khusus. Ketika ada virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memberikan reaksi dengan cara menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Dengan suhu tubuh yang naik ini akan membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Alea waktu itu.

Mitos itu antara percaya dan tidak percaya sih. Ada teman yang ketika hamil sama sekali tidak diperbolehkan makan lele, karena lele dipercaya dapat membuat kepala bayi membesar sangat cepat sama seperti kepala ikan lele sehingga akan menyulitkan proses persalinan. Dia juga tidak makan belut karena belut kan licin, khawatir anaknya tidak bisa diatur. Padahal belut dan lele itu kandungan nutrisinya bagus, kolesterolnya rendah, mengandung lemak baik yang bisa mencegah kelelahan pada ibu hamil, dan juga mengandung protein dan mineral yang baik untuk pertumbuhan janin. Dulu, oleh dokter saya malah disuruh makan apa saja yang enak-enak, hehehe…

Jadi, ini tips dari dokternya Alea, kalau anak tiba-tiba demam, selama dia masih riang, masih beraktivitas seperti biasa, orang tua tidak perlu terlalu panik. Level aktivitas anak kita adalah indikator yang jauh lebih akurat daripada angka pada termometer. Kecuali dia mengalami dehidrasi dan kejang, itulah saat kita mulai waspada.

Jadi, benarkah demam itu tanda anak mau pinter?

 

 

– devieriana –

Status

Demam, Mau Pinter?

Sebenarnya saya kurang percaya sama yang namanya mitos. Ada hal-hal yang selama masih bisa dilogikakan, saya akan cenderung lebih percaya logika ketimbang mitosnya. Seperti mitos-mitos kehamilan dan perawatan anak, selalu saya usahakan untuk membandingkannya dengan opini dokter atau pakar yang lebih paham, bukan apa-apa, supaya kita tetap menjadi orangtua yang logis, smart, dan tetap aware. Namanya juga orangtua yang anaknya lahir dan hidup di era internet jadi mau tidak mau kita juga harus menyesuaikan diri.

Seperti misalnya ketika Alea tiba-tiba demam tinggi, ada yang bilang, “Udah, gapapa. Tenang aja, itu berarti anak kamu mau pinter…” Saya sih mengamini, semoga begitu adanya. Memang, konon, kalau anak tiba-tiba demam tinggi tandanya mau pinter, atau ada kebisaan baru, atau ada suatu perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Tapi apa iya seorang anak yang ‘mau pinter‘ itu harus didahului dengan demam/sakit?

Alea selama ini alhamdulillah jarang sakit. Ketika akan bisa tengkurap atau tumbuh gigi pun biasa saja, tidak disertai demam terlebih dahulu. Memang ada, bayi-bayi yang ketika akan tumbuh gigi badannya demam karena terjadi radang di gusinya. Kalau Alea demam/flu sih pernah, namanya kondisi badan manusia pasti ada up and down-nya, seperti orang dewasa kan juga begitu. Apalagi kondisi badan bayi/balita yang masih rentan terhadap virus, kondisi lingkungan yang tidak selamanya bersahabat, dan aktivitas bayi/balita yang cenderung meningkat. Jadi kalau bayi/balita mulai demam/batuk/pilek itu bagian dari tumbuh kembang mereka.

Nah, ceritanya saya ada dinas ke Bogor. Sepulang dinas, ketika Alea sedang memeluk saya, kok agak badannya terasa agak ‘anget‘ ya? Ketika saya ukur dengan termometer, memang benar ada sedikit kenaikan suhu badan, menjadi 38 derajat celcius. Tapi berhubung Alea tidak mengalami penurunan aktivitas, tetap semangat merangkak ke sana-ke mari, dan makannya pun lahap seperti biasa, jadi saya tidak seberapa khawatir. Jadi treatment-nya hanya saya beri minum air putih yang lebih sering, plus ASI kapan pun dia minta, plus sedia obat penurun demam anak yang diberikan oleh dokter just in case demamnya makin tinggi.

-----------Alea memang tidak rewel, tapi dia jadi lebih manja. Maunya dekat dengan saya. Hingga tidur pun dia tidak mau tidur di tempat tidur, maunya tidur di gendongan. Hingga akhirnya semakin malam, saya rasakan kok suhu tubuhnya semakin tinggi, dan puncaknya sekitar pukul 12 malam suhu tubuhnya mencapai 39.3 derajat celcius. Jujur, saya mulai panik. Tidak biasanya Alea demam setinggi ini. Paniknya karena obat penurun panasnya tidak bereaksi, dan suhu tubuhnya semakin tinggi, sementara dokter spesialis anak pasti tidak ada yang buka kalau Sabtu/Minggu. Masa iya harus ke UGD? Jangan dulu deh. Selain mengompres dahinya dengan air hangat suam-suam kuku, saya juga mencoba metode skin to skin, untuk menurunkan demam pada bayi. Hingga akhirnya saya ikut tertidur dalam kondisi duduk setelah berjaga sampai hampir pukul 4 pagi.

Ketika saya bangun, Alea masih dalam keadaan tidur pulas. Saya raba dahi, badan, dan telapak kakinya. Alhamdulillah suhu badannya mulai turun. Ketika saya ukur, suhu badannya sudah turun menjadi 37.9 derajat celcius. Sedikit lega, walaupun badannya masih terasa agak panas.

Hari itu Alea menjalani aktivitas seperti biasa. Dia makan dengan porsi seperti biasa, minum vitamin seperti biasa, tapi untuk air putih saya berikan lebih sering supaya dia lebih sering pipis jadi demamnya bisa lebih cepat turun lagi. Dan siangnya suhu badannya berangsur-angsur menjadi normal, terakhir saya ukur suhunya 36.7 derajat celcius. Alhamdulillah. Keesokan harinya saya sengaja ambil cuti dadakan untuk stand by, jaga-jaga kalau suhu badannya naik lagi. Tapi syukurlah suhu badannya stabil, jadi hari Selasa saya bisa kembali ngantor.

Percaya/tidak percaya, seminggu setelah kejadian demam tinggi itu dia mulai bisa jalan. Awalnya 1-3 langkah, lalu jatuh. Hari berikutnya menjadi 5 langkah, dan seterusnya hingga akhirnya lancar dengan sendirinya. Ah, saya jadi terharu… *kecup Alea*.

----------Jadi entahlah, ada hubungannya atau tidak antara demam dan ‘mau jadi pinter‘ itu tadi kok ndilalah pas habis demam dia bisa jalan. Padahal sih kalau menurut pemeriksaan dokter, waktu demam kemarin dikarenakan oleh virus. Tapi berhubung daya tahan tubuhnya bagus, jadi demamnya tidak terlalu lama.

Kalau yang pernah saya baca, demam itu semacam alarm dalam tubuh yang ‘menginformasikan’ bahwa sedang terjadi ‘sesuatu’ dalam tubuh (anak) kita. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘mau pinter‘. Kalau memang habis demam kebetulan dia nambah kebisaan ya memang sudah waktunya.

Kalau kata dokter, penyebab demam anak itu banyak sekali, tetapi kalau demam yang terjadi pada bayi/balita/anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus atau flu yang disertai batuk/pilek. Kebetulan waktu itu Alea memang juga pilek. Pada umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting disease, atau akan sembuh dengan sendiri oleh kekebalan/pertahanan tubuh dirinya. Jadi memang tidak perlu obat khusus. Ketika ada virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memberikan reaksi dengan cara menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Dengan suhu tubuh yang naik ini akan membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Alea waktu itu.

Mitos itu antara percaya dan tidak percaya sih. Ada teman yang ketika hamil sama sekali tidak diperbolehkan makan lele, karena lele dipercaya dapat membuat kepala bayi membesar sangat cepat sama seperti kepala ikan lele sehingga akan menyulitkan proses persalinan. Dia juga tidak makan belut karena belut kan licin, khawatir anaknya tidak bisa diatur. Padahal belut dan lele itu kandungan nutrisinya bagus, kolesterolnya rendah, mengandung lemak baik yang bisa mencegah kelelahan pada ibu hamil, dan juga mengandung protein dan mineral yang baik untuk pertumbuhan janin. Dulu, oleh dokter saya malah disuruh makan apa saja yang enak-enak, hehehe…

Jadi, ini tips dari dokternya Alea, kalau anak tiba-tiba demam, selama dia masih riang, masih beraktivitas seperti biasa, orang tua tidak perlu terlalu panik. Level aktivitas anak kita adalah indikator yang jauh lebih akurat daripada angka pada termometer. Kecuali dia mengalami dehidrasi dan kejang, itulah saat kita mulai waspada.

Jadi, benarkah demam itu tanda anak mau pinter?

 

 

[devieriana]

Status

Gejala (Sakit) Apakah Ini?

Nggak tahu apa yang terjadi sama kesehatan saya beberapa hari ini. Yang jelas awalnya radang tenggorokan. Kalau saya kena radang tenggorokan pasti disertai meriang & (sedikit) pusing kepala. Itu sudah satu paket. Nah ceritanya sejak Rabu, radangnya udah oke nih ya, udah nggak demam, sekarang mendadak badan agak anget, trus di lengan muncul ruam-ruam kemerahan.

Memang nggak terlalu jelas ya, tapi muncul seiring dengan (alaah..) demam saya itu. Rabu masih saya diemin, masih menunggu perkembangan gitu maksudnya, padahal sorenya mual luar biasa. Kamis, suhu badan naik turun nggak jelas. Kadang naik, nanti habis itu adem, begitu seterusnya. Ruam-ruamnya juga hilang-muncul-hilang-muncul (rupanya dia moody juga ya?). Sampai saya tulis di twitter :

Kenapa mendadak kulitku muncul ruam-ruam kemerahan? Akankah aku akan segera menjadi labu tepat pukul 12 nanti? Oh tidaaaak.. :((
7:11 AM Mar 3rd   via UberTwitter

Hari Jumat pagi pas orang-orang kantor lagi pada geal-geol senam akhirnya saya buru-buru putuskan ke klinik di kantor buat periksa (ih, nggak dari kemarin-kemarin sih? *tabok*) . Itupun dengan perasaan harap-harap cemas, wiridan, biar result dokternya saya cuma didiagnosa kena flu biasa :p (emang bisa ngatur diagnosa dokter? :))  ). Sampai akhirnya setelah saya dicek tenggorokannya (masih radang ternyata), dan disarankan ke ruang penanganan untuk kemudian lengan saya dibebat selama 5 menit sampai pegel, untuk memeriksa apakah ada bintik-bintik merah di lengan saya (karena yang kemarin kan ruam). Alhasil..

Muncullah bintik-bintik kemerahan imut yang dilingkari pakai uang koin limaratusan sama dokter dan asistennya. Yang akhirnya saya jadi tahu ternyata gitu tho cara memastikan apakah si pasien kena demam berdarah atau nggak. Lha, kalau pas nggak punya uang koin limaratusan nanti  dokternya ngecek pakai uang apa ya? Masa pakai uang limapuluh ribuan? Kotak dong nanti nggambarnya? =)) . Ah soal gambar-gambaran begini saya kok jadi inget sama temen saya yang ngerokin tubuh suaminya tapi malah dibuat gambar rumah-rumahan =)) . Kacau. Asli saya selalu ngakak saya kalau ingat itu.

Yah kembali ke penyakit saya. Duh nggak enak bener ya membahas beginian di blog. Ya sudahlah untuk kali ini saya mohon dimaapkeun yah 😦 . Akhirnya dokter meminta saya buat check darah ke lab malam ini juga dan hasilnya ditunggu via sms. Kenapa via sms? karena beliaunya lebih fokus baca result lab via tulisan ;)). Ya sudahlah akhirnya setelah setengah jam saya di rumah sakit, hasilnya seperti ini :

Dok, ini Devi. Udah cek darah, hasilnya :
1. Hemoglobin 12.0
2. Hematokrit 37
3. Leukosit 10.660
4. Trombosit 352.000
5. Widal : semuanya negatif

Itu artinya gimana ya Dok? *harap-harap cemas*

——————–

Dokter :
Artinya trombosit nya msh dlm batas normal jd belum bisa disebut ter kena  DB dan thypus jg tidak ya mdh2 an aja cuma flu tp kenapa di cek bnyk bercak2 kmerahan ya
——————-

Nah itu dia dok. Tadi apa karena saya tes darah sambil wiridan mungkin jadinya kaya gitu ya, hehehe. Perlu periksa darah lagi ga ya dok? Takutnya di hari keberapa drop gitu trombositnya.
——————

Dokter :
Untuk pasti nya cek hari ke 5 mungkin aja drop .Skrg demam nya gmn ?

—————–

Suhunya biasa aja dok. Tapi ruamnya masih ada tapi samar. Saya banyakin minum tadi.

——————

Dokter :
Tapi obat nya tetep di minum ya krn tadi lekosit nya diatas normal artinya memang ada infeksi . Minggu cek lg  darah lengkap,trombosit dan hematokrit sama Ig M dan Ig G dengue ya . Hasil nya smsin ya

—————-
Ok dok. Makasih banyak ya.. 🙂

Itu via sms lho :)). Temen saya sampai bengong pas saya ceritain kalau saya konsultasi by sms. Ya emang request dokternya kaya begitu, mau gimana lagi saya ;)) . Jadi ya begitulah, semoga sih nggak kenapa-kenapa ya. Masalahnya jadwal saya Maret ini padat banget, tsaahhh.. Iya, serius. Makanya kalau saya nggak jaga kondisi bisa kacau balau jadwal saya sebulan ini.

Semoga saya nggak kenapa-kenapa, seperti yang saya bilang ke dokter :

“yah Dok, saya jangan sampai diopname yaa.. Saya kan masih CPNS dok.. hiks.. :(( “, ujar saya mengiba-iba.

” lha, emangnya nyamuknya nggigitnya bisa milih-milih mana cpns mana pns? kamu ini ada-ada aja. Ya sudah saya bikinkan resep buat sakit pilek aja ya.. ;)) “

Ah, pak dokter ini lucu sekali deh. Tapi serius lho saya dikasih obat flu juga ;)) .

Ya semoga saya cuma kena pilek.. Saya cuma kena pilek.. Saya cuma kena pilek..
*menyugesti & menghipnotis diri sendiri* :-bd

[devieriana]

Gejala (Sakit) Apakah Ini?

.. Better :)

Alhamdulillah, kemaren abis dari dokter demamku udah turun.. dan yang bikin aku lega si kecil juga udah mulai aaktif bergerak2 di perutku .. yihaaaa… 🙂 . Kayanya emang kesehatan ibu sangat mempengaruhi aktivitas janin dalam kandungan ya.. Kalo mamanya sehat dia pasti aktif.. tapii.. kao pas mamanya teler kaya kemaren.. gerak aja enggak.. hiks.. sedih..

Sekarang udah kembali ceria lagi, semangat lagi.. Udah consuming obat/vitamin lagi, makan buah lagi, minum susu lagi.. :). Makasih ya Allah…  🙂

Yuukk dek.. kita have fun lagi yuukks…. Mommy luv you..  😉

.. Better :)