Blessing in Disguise

blessing

Di sebuah siang yang terik, saya memenuhi janji temu dengan seorang teman lama. Kebetulan dia sedang ada dinas di Jakarta, jadi ya ketemuan saja, lepas kangen sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan topik random. Namun obrolan jadi lebih serius ketika kami membahas salah satu teman baik kami yang sedang melalui titik nadir dalam kehidupan berumah tangga.

Selama ini saya selalu menilai teman-teman saya baik-baik saja dengan kehidupan masing-masing, begitu juga dengan hubungan personal dengan teman-teman yang lain. Kalau pun iya ada masalah rumah tangga ya wajar, namanya hidup berumah tangga pasti ada saja masalahnya, kan? Kalau sekadar salah paham, beda sudut pandang, selama itu bukan hal yang prinsip dan masih discussable sepertinya masih wajar-wajar saja ya.

Pun halnya dengan teman yang diam-diam saya kagumi sosoknya ini. Bagaimana tidak jadi idola, di mata saya dia adalah sosok yang nyaris sempurna. Memiliki pasangan yang sempurna, selalu terlihat harmonis, rumah tangga mereka terasa lengkap dengan 3 anak yang lucu-lucu, karier suami isteri yang cemerlang, kehidupan yang agamis, pokoknya pasangan yang serasi luar dalam. Setidaknya itu yang ada di mata saya. Hingga akhirnya saya dengar kalau rumah tangga sang teman idola ini sedang berada di ujung tanduk. Kaget dan sedih itu pasti. Layaknya sebuah tamparan keras di siang bolong. Betapa kadang yang terlihat sempurna di luar itu belum tentu sempurna di dalam, vice versa.

Belum selesai keterkejutan saya, masih dikejutkan lagi dengan cerita teman-teman lainnya di komunitas lama, yang mengalami masalah tak kalah peliknya. Tentang masalah keuangan, hutang piutang, dan bahkan ada yang terjerat kasut penipuan. Hiks… sedih 😦

Tapi ada hal yang perlu saya bold, underlined, dan stabilo tebal-tebal. Mungkin saya selama ini terlalu sederhana dalam menilai seseorang, atau terlalu naif ya? Tidak selamanya penampilan luar itu berbanding lurus dengan apa yang ada di dalamnya. Banyak orang yang terlihat jauh lebih baik dari kita tapi sebenarnya tidak lebih dari kita. Banyak orang yang terlihat lebih bahagia belum tentu merasa bahagia sebagaimana diperlihatkan.

Kalau boleh saya mengambil istilah psikologi, semacam Eccedentesiast, orang yang mampu menyembunyikan rasa sakit dan kesedihan mereka di balik senyum atau wajah yang baik-baik saja, sehingga terlihat tidak sedang mengalami masalah, demi menjaga hubungan dengan orang lain. Pendek kata, bukan tipe pengeluh.

Dari dialog siang itu, ada banyak perenungan di pikiran saya. Bahwa bahagia itu bukan berarti segala sesuatunya serba sempurna, tapi justru ketika kita bisa melampaui segala ketidaksempurnaan yang kita miliki.

Hidup itu kadang penuh dengan kejutan dan guncangan, pasti ada yang namanya suka dan duka, ada sahabat, ada musuh, ada senyum, ada air mata. Tapi hidup itu kan sejatinya bukan membahas tentang siapa kita, tapi bagaimana kita menjalaninya; how we live it. Hidup juga bukan melulu membahas tentang kapan/bagaimana kita jatuh, tapi tentang bagaimana kita bangkit berdiri setelah diterpa berbagai masalah.

Selalu percaya bahwa, segala sesuatu itu terjadi karena suatu alasan. Seperti kata Marylin Monroe,

“People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies to you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.”

Tidak selalu yang namanya musibah, ketidakberuntungan, ketinggalan kesempatan, dan berbagai masalah itu pasti buruk. Karena bisa saja segala hal yang buruk itu justru akan membawa kita ke hal-hal yang jauh lebih baik, menjadikan kita jauh lebih kuat, atau setidaknya ada sebuah pembelajaran yang bisa kita ambil. And that is always a good thing. Often times, it is for the best; we might just not know it.

My two cents…

 

– devieriana –

PS: hasil kontemplasi selama berhari-hari yang ditulis sambil ngopi di sore hari, pas jam kosong

 

picture source: here

Status

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

-----

“Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”

—–

Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan? 🙂

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sejak itulah kehidupan spiritual saya berubah 180 derajat, karena sejatinya dengan dekat dengan-Nya-lah hidup saya jauh lebih tenang. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering meninggalkan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun hampir di setiap sujud di sepertiga malam. Padahal sebelumnya, jangankan untuk tahajud, menggenapkan shalat 5 waktu saja rasanya enggan. Shalat hanya saya lakukan ketika ingin, ketika sempat, ketika ada maunya. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia saya yang sudah lebih-lebih dari seperempat abad ini 😦

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.

Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini…

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: clipartbest.com

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

Bahagia Itu Sederhana

Tadi pagi, di kantor kedatangan teman yang sekarang sudah pindah tugas ke Malang. Kebetulan dia sedang tugas di Jakarta dan disempatkanlah untuk mampir. Ada banyak kisah yang dia ceritakan selama kurang lebih 2 jam (sejak saya datang pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00), ya pekerjaan, ya keluarga, ya lingkungan sekitarnya. Jadi selama 2 jam itu khusus buat dengerin dia cerita. Untungnya belum ada kerjaan yang turun atau perlu dinaikkan ke atasan ;))

Ada banyak perubahan drastis yang terjadi dengan si teman ini sejak menikah dan tinggal di Malang, mulai dari penampilan sampai dengan gaya hidup. Yang dulunya “apa sih yang nggak bisa kubeli?”, sekarang kalau mau beli apa-apa mikir dulu, bahkan sekarang pakai nawar. Kalau dulu nelepon bisa lama-lama, sekarang, “eh, udah dulu yak, pulsa gue mau abis nih…” Yang dulunya kalau handphone rusak tinggal beli lagi yang baru dan yang rusak nanti setelah diperbaiki tinggal dijual, sekarang mikir seribu kali mau beli gadget baru. Tas dan sepatu dengan brand apa sih yang nggak bisa dibeli? Sekarang, tasnya ya itu-itu melulu, dan hei… dia sekarang udah mau lho pakai sepatu yang harganya 80-100 ribuan. Intinya dia sudah berubah banget, lebih sederhana >:D<

Secara materi dia sangat jauh berkecukupan, semua perubahan yang terjadi sekarang karena semata-mata karena dia ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan kantornya. Saya justru melihat semua perubahan ini sebagai hal yang positif  karena semua perubahan itu berasal dari keinginannya sendiri, bukan atas permintaan suami atau orang lain. Dan yang lebih penting adalah, dia terlihat jauh lebih bahagia, lebih tenang, lebih menikmati kehidupan dan perannya sekarang 🙂

Kebetulan di hari yang sama kok ndilalah saya juga sempat ngobrol dengan sahabat yang berbeda tapi dengan topik yang hampir sama. Benarkah kebahagiaan seseorang itu bisa diukur hanya dari materi? Topik yang sedikit berat kalau dibahas pagi-pagi, ya? Tapi toh tetap kami bahas juga.

Teman: “Aku ngerasa high society di Indonesa tuh emang rada aneh. Kalau di Jepang, high society itu sibuk dengan donasi, menjadi volunteer, atau ikut philantropic group. Well, they are rich, tapi nggak norak. Di TV juga nggak ada tuh yang namanya acara yang membahas top to toe fashion kaya disini. Kadang pengen tahu juga, gimana sih rasanya pakai semua barang branded, top to toe gitu. Berasa kaya manekin nggak, sih? Suka iseng sinis juga, emang harus dipakai semua ya, biar orang tahu itu mahal dan asli, gitu? Emang kalo nggak dipake takut dibilang KW? ;))

Saya: “hahaha, nggak kaya gitu juga kali. Tapi setahu aku memang di sini ada kaum-kaum yang bukan artis tapi gaya hidupnya memang mewah. Biasa disebut kaum “socialite”. Barang yang dipakai hampir semuanya high end. Kesibukannya selain berkegiatan sosial juga hadir di acara peresmian ini, gathering itu, arisan ini, seminar itu, dan beberapa kegiatan sejenislah… :D”

Ngomong-ngomong tentang barang bermerk dan mahal, pernah suatu ketika saya ngobrol dengan seseorang. Dia dan isterinya memang hobby beli barang-barang branded. Alasannya bukan untuk pamer, tapi justru untuk menghemat. Untuk beberapa alasan tertentu, dia bilang kalau umumnya, barang branded itu berkualitas dan lebih awet. Itulah alasan dia tidak pernah melarang isterinya membeli barang bermerk karena dia memperhatikan dari sisi kualitas dan daya tahannya. Daripada beli barang yang kualitas dan harganya dibawah itu tapi mudah rusak dan nantinya harus beli-beli lagi.

Sependek yang saya pahami, ada barang-barang yang memang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tertentu. Pertama, biasanya barang-barang high end memang terbuat dari material berkualitas tinggi dengan proses pembuatan yang rumit, jadi tak heran kalau akhirnya barang-barang tersebut dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa berubah bentuk. Kedua, barang tersebut memang sengaja dicitrakan sebagai barang mewah, jadi dengan menggunakan barang tersebut secara otomatis akan menaikkan status sosial atau gengsi penggunanya. Jadi yang dijual selain dalam fisik barang juga psikologis (calon) pembeli 😀

Teman: “Aku boleh tanya, nggak? Pernah nggak sih kamu punya mimpi jadi salah satu mereka? Jadi mereka itu enak lho. Kamu bisa jalan-jalan kemana aja, bisa pake baju dan aksesoris mahal yang selama ini cuma bisa kamu lihat di halaman majalah fashion, mau kemana-mana tinggal dianter driver, mau beli apa-apa tinggal gesek. Kamu pasti senenglah, kan apa-apa serba keturutan :p”

Saya: “Mimpi jadi kaya mereka, bener-bener sosialita, gitu? Hmm, jujur belum pernah. Tapi kalau iseng-iseng berkhayal jadi orang superkaya sih pernah ;)) Eh, tapi emang kalau jadi orang superkaya itu menjamin kita pasti akan bahagia nggak sih?”

Nah, dari sini topik bahasan kami pun lama-lama makin berkembang. Dari urusan brand, berlanjut ke mimpi, dan lalu kebahagiaan yang hakiki. Beuh, beraaat… ;))

Memang, nggak ada orang yang bercita-cita jadi orang miskin. Semua pasti pengen punya kehidupan yang baik, layak, tercukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari sekarang pun manusia berlomba-lomba mengejar ke arah sana, but is it really promise you a complete happiness? Is it your true happiness?

Teman: “Eh, kalo nggak salah Prince Edward, kakaknya Ratu Elizabeth, menolak menjadi raja karena ingin menikah dengan orang biasa. Hei, ternyata ada ya yang nggak mau jadi raja, dan pengen cuma jadi rakyat biasa aja. Apa mungkin karena dia merasa kebahagiaan sejatinya adalah dengan menikmati kehidupan sebagai rakyat biasa, bukan menjadi raja, ya?”

Ada kalanya kebahagiaan manusia itu bukan melulu datang dari materi yang berlimpah ruah atau jabatan yang tinggi. Terkadang kebahagiaan hakiki itu justru lahir dari hal-hal kecil yang sederhana, bukan dari hal-hal yang sophisticated. Nah, terus apa sih sebenarnya inti tulisan panjang saya kali ini? ;))

Jadi teringat dengan salah satu scene My Best Friend’s Wedding:

A: “Okay, you’re Michael, you’re in a fancy French restaurant, you order… Creme Brulee for dessert, it’s beautiful, it’s sweet, it’s irritatingly perfect. Suddenly, Michael realises he doesn’t want Creme Brulee, he wants something else…”

B: “What does he want?”

A: “Jell-O”

B: “Jell-O?! Why does he want Jell-O? :-o”

A: “Because he’s comfortable with Jell-O! Jell-O makes him… comfortable. I realise, compared to Creme Brulee it’s… Jell-O, but maybe that’s what he needs!”

Mungkin kebahagiaan itu justru lahir ketika kita bisa makan nasi goreng kampung pinggir jalan bersama teman/keluarga, bukan steak dan makanan mahal di restaurant yang eksklusif. Mungkin kebahagiaan itu justru hadir ketika kita masih diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga kita masih berkesempatan berkumpul dengan orang-orang tercinta. Bahagia itu mungkin ketika Anda pulang ke rumah disambut dengan tawa dan pelukan hangat sang buah hati. Atau mungkin ketika bisa kembali ke rumah dalam kondisi jalanan yang lancar dan tidak terjebak macet? 😉

Bahagia itu (sebenarnya bisa lahir dari hal-hal yang) sederhana, dan tiap orang bisa saja berbeda versi 😉

Apa sih bahagia menurutmu?

 

[devieriana]

foto posterous saya

Bahagia Itu Sederhana

Sebuah Teguran

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah komentar panjang di salah satu tulisan lama saya, di blog yang lama. Komennya bukan tentang isi postingan sih, tapi justru tentang ilustrasi yang saya gunakan di postingan itu. Menurut beliau, ilustrasi yang ada dalam tulisan saya itu adalah foto miliknya ketika ada pementasan tari di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2008. Yang membuat sedikit kurang nyaman adalah kata-kata:

“Saya tahu ini adalah postingan lama tapi soal tata krama penggunaan karya orang lain rasanya perlu diperhatikan. Saya hanya kecewa saja dan mari kita belajar dari hal ini.”

Jadi, saya dianggap tidak punya tata krama karena tidak meminta izin pada beliau dan langsung mempergunakan gambar tersebut di blog saya yang abal-abal itu, meskipun saya sudah menyertakan link ke flickr beliau.

Menanggapi statement itu saya jadi gamang sendiri. Mau marah kok ya saya sama sekali tidak punya energi untuk marah, tapi kalau saya diam saja kok sepertinya mengiyakan kalau saya tidak paham etika berinternet 😦

Jadi, ada sebuah postingan di Kompasiana yang diunggah oleh seorang blogger. Nah, kebetulan salah satu ilustrasi di sana mempergunakan ilustrasi yang juga (pernah) saya pergunakan di blog saya untuk tulisan dengan topik tarian. Bedanya adalah, saya menyertakan link dari mana gambar itu berasal  (yang gambarnya sudah di-remove oleh pemiliknya) , yaitu di flicker milik siapa waktu itu saya lupa karena sudah lama sekali (dan baru saya ketahui ketika pemilik aslinya komplain kalau itu adalah miliknya) . Credit  itu  saya letakkan di bagian paling bawah postingan saya. Sedangkan penulis di Kompasiana tersebut menyertakan link blog saya sebagai sumber ilustrasi.

Sebenarnya sama-sama memperhatikan etika memposting tulisan dan gambar ya, tapi ada sesuatu yang missed disini hingga menyebabkan saya disebut sebagai orang yang tidak tahu tata krama penggunaan karya orang lain, walaupun sudah menyertakan backlink dari mana saya ambil gambarnya pertama kali. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya si penulis di Kompasiana, hanya saja dia kurang jeli melihat bahwa sebenarnya ada sumber awal gambar yang saya jadikan ilustrasi, yang seharusnya dia juga kutip sebagai credit. Jadi bukan blog saya yang langsung di-refer. Tapi justru disitulah kesalahpahaman ini bermula. Kalau saya dianggap salah karena tidak meminta izin kepada pemilik gambar aslinya, baiklah saya akan terima. Saya sudah meminta maaf langsung ke pemiliknya, dan dengan inisiatif saya sendiri saya hapus gambar tersebut dari blog saya.

Di dunia blogosphere memang umur blog saya terbilang masih sangat muda (jika dibandingkan dengan yang sudah ngeblog sejak tahun 1996). Saya juga terbilang blogger baru, karena saya baru ngeblog sekitar awal 2007, jadi baru 5 tahun. Selama 5 tahun ngeblog itu apa ya lantas saya hanya diam pasif tidak mempelajari netiket? Apakah saya lantas grubyak-grubyuk asal bikin tulisan dan klik publish tanpa mempedulikan etika penulisan blog?

Selama kurun waktu 5 tahun itu tulisan saya bertransformasi dan mengalami perombakan di sana-sini. Dari yang dulunya belum terarah, sedikit demi sedikit mulai saya arahkan. Yang dulu tata bahasanya kacau balau, pelan-pelan saya benahi. Yang dulunya saya tidak tahu bagaimana etika penulisan blog, sedikit demi sedikit saya pelajari dan saya up date. Intinya sampai sekarang saya masih dalam proses belajar.

Koreksi jika saya salah, sependek yang saya ketahui, jika memang kita ingin mengutip pernyataan orang lain dan atau ingin mempergunakan karya orang lain sebagai ilustrasi di blog kita, sebaiknya minimal mencantumkan backlink ke sumber asal, atau bisa juga dengan meminta izin langsung kepada pemilik tulisan/gambar aslinya. Bukan apa-apa, saya juga pernah mengalami tulisan di blog saya di-copy paste oleh orang lain tanpa menyebutkan sumber dari mana dia mengambil kata-kata di blognya, jangankan izin, ngelink juga enggak (saya juga heran, lha wong blog abal-abal kaya gitu kok ya di-copy paste). Berhubung saya tidak ingin hal yang  sama terjadi pada saya, maka saya juga berusaha memperlakukan hal yang sama kepada karya orang lain. Kalau tidak meminta izin secara langsung, alternatifnya/minimal dengan mencantumkan credit link dari mana sumbernya. Jadi, kalau saya dibilang nggak punya etika atau tata krama mengunggah postingan di blog kok ya agak gimana, ya 😕 Tapi ya sudahlah…

Saya memang hampir selalu mempergunakan ilustrasi dalam setiap postingan saya. Entah itu hasil dokumentasi pribadi, atau mengambilnya dari mesin pencari, Google. Kita pasti sadar bahwa sebuah gambar/postingan yang sudah diunggah via internet dan telah tersimpan/terbaca dalam database google akan dengan mudah ditemukan oleh kita sebagai pengguna internet, kecuali memang postingan itu sengaja tidak dibuka untuk umum, ya (private setting). Soal nanti gambar/postingan yang kita unggah itu dimanfaatkan seperti apa oleh penggunanya ya itu sudah di luar batas kemampuan kita. Disinilah diperlukan kesadaran akan pentingnya etika berinternet.

Utamanya untuk gambar, terjadinya kemungkinan duplikasi juga sangat besar. Jika sudah terjadi hal semacam ini, kita hampir tidak bisa memastikan dari mana sumber asal gambar tersebut, dan kemana kita harus meminta izin menggunakan gambar tersebut untuk diunggah ke dalam website kita. Bisa saja gambar yang sama kita temui dari satu website ke website yang lain.

Itulah sebabnya saya lebih memilih menggunakan cara paling sederhana dengan menyertakan backlink dari mana saya mengambil gambar tersebut. Tapi setelah kejadian kemarin saya jadi mendapatkan pelajaran bahwa terkadang menyertakan backlink saja tidak cukup, karena preferensi pemberian izin terhadap penggunaan karya pribadi yang akan dipergunakan oleh orang lain bisa saja berbeda bagi masing-masing orang. Ada yang cukup menyertakan backlink, ada juga yang selain  backlink juga wajib izin dari pemilik aslinya. Saya jadi membayangkan,  gimana ya kalau aturan itu dipukul rata secara zaakelijk, dan ternyata pemilik sumber aslinya sudah meninggal dunia. Kemana saya harus meminta izin padahal butuh buat ilustrasi di blog ini aja? Masa harus ke kuburannya? Mending saya nggak usah pakai ilustrasi deh. Ini misalnyaa…  😀

Kalau saya pribadi, selama itu hanya untuk postingan di blog semata, bukan untuk tujuan komersil, apalagi untuk tindakan negatif/kriminal, saya masih memperbolehkan orang lain mengutip tulisan asli saya, atau meminjam dokumentasi pribadi yang saya unggah ke internet, dengan  menyertakan sumber dari mana tulisan atau gambar itu berasal. Tidak zaakelijk harus meminta izin kepada saya, walaupun saya juga sudah menyediakan contact page yang bisa dihubungi kapan saja.

Jadi, soal apakah hasil karya yang sudah kita unggah di internet itu akan bermanfaat atau tidak bagi orang lain, atau apakah nantinya akan dipergunakan secara positif atau negatif semua terpulang pada niat penggunanya, karena kita tidak mungkin mengawasi pergerakan dan aktivitas yang dilakukan orang lain ke web kita selama 24 jam penuh. Sekali lagi, jangan bosan-bosan untuk tetap berada dalam koridor etika berinternet. Itu sih menurut saya.

Bagaimana menurut kalian? Let’s discuss! 🙂

 

[devieriana]

Sebuah Teguran

A Reason, A Season or A Lifetime

Salah satu project menulis di awal tahun 2011 yang menurut saya cukup unik dan spektakuler adalah menulis surat untuk mantan yang nantinya akan dibukukan via @nulisbuku yang deadline-nya adalah kemarin tanggal 8 Januari 2011. Project unik ini berawal dari idenya Naluri yang berniat untuk membukukan kumpulan surat untuk mantan. Dia mengundang para penulis yang berminat untuk berbagi cerita menjadi sebuah buku. Bagi penulis perempuan bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars (STUPM), sedangkan para lelaki bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (STUPV).

Jujur awalnya saya antusias untuk ikut project ini. Mengingat ada penggalan cerita mirip sinetron yang pernah terjadi dalam hidup saya  dan sepertinya saya akan dengan mudah menuangkannya lagi dalam bentuk prosa. Tapi entah kenapa, seiring dengan waktu, ide menulis dengan tema tersebut maju mundur, seolah berkompromi dengan mood yang naik turun. Bingung, antara ingin membagikannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca secara bebas oleh orang lain, atau biar saya simpan saja sendiri. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang (halaah..) akhirnya saya putuskan untuk membatalkan keikutsertaan saya dalam project itu karena sepertinya memang tidak ada lagi yang perlu saya sampaikan pada si beliau 😐

Di twitter sempat saya baca ada beberapa tweet dari peserta project STUPM dan STUPV yang di RT oleh @nulisbuku ; rata-rata mereka sampai nangis-nangis nulisnya. Mungkin juga karena efek emosional. Mereka “terpaksa” harus mengulik kisah lama yang (bisa saja) menyakitkan, yang sebenarnya tidak untuk diingat-ingat lagi, tapi demi project buku ini mereka mau untuk menuliskannya ulang dengan risiko ‘menangis darah’.

Tak ada yang salah dengan project unik ini, animo pesertanya juga terlihat sangat tinggi. Sepertinya seluruh kontributor sukses menulis dengan hati. Iyalah, wong pengalaman pribadi. Tapi buat saya ya sudahlah, yang sudah ya sudah. Saya merasa sudah tidak ada ‘hutang’ yang belum terselesaikan dengan siapapun. Apa yang sudah terjadi di masa lalu biarlah tersimpan rapi dalam kotak tersendiri.Itu kalau saya lho, ya… 😉

Beberapa hubungan di masa lalu tidak saya lewati secara mulus. Ada saat di mana kami sudah terantuk di depan jalan buntu, sehingga kami harus membuat keputusan apakah harus bertahan atau kami cukupkan sampai di situ saja. Buat yang sudah pernah mengalami patah hati sih pasti beratlah. Tapi syukurlah akhirnya kami bisa mengakhirinya secara baik, dan bahkan hubungan kami saat ini jauh lebih baik jika dibandingkan ketika masih jadi pacar ;)). Saya tidak ingin berusaha memaksakan sebuah hubungan yang kualitasnya sudah tidak lagi sehat. Jika memang komunikasi sudah terbentur dari berbagai sisi; semua cara untuk bertahan sudah dicoba; dan ketika masing-masing ternyata sudah tidak lagi nyaman melanjutkan hubungan, ya lantas untuk apa saling ngotot untuk mempertahankannya? Capek hati, capek pikiran, capek tenaga. Kalau toh memang akhirnya harus berpisah ya kenapa tidak? Karena siapa tahu justru setelah berpisah kita akan bertemu dengan sosok yang lebih baik, kan?

Walaupun sering kali keputusan yang sudah melalui pemikiran yang sangat matang sekalipun tidak selalu bisa memuaskan semua pihak; belum lagi harus berhadapan dengan rasa sakit dan kecewa lantaran kita harus berhadapan dengan akhir yang tidak sesuai dengan harapan di awal mula hubungan. Tapi ya itulah yang namanya hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit dua menit ke depan; apa yang akan terjadi esok hari; pun menebak dengan siapa kita berjodoh, karena nyatanya sering kali kenyataan berlari terlalu jauh dari harapan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan email yang isinya cukup bagus, dan membuat saya merenung sendiri. Kurang lebih isinya begini :

When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed. They have come to assist you through a difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you physically, emotionally or spiritually. They may seem like a godsend and they are. They are there for the reason you need them to be.

Some people come into your life for a SEASON, because your turn has come to share, grow or learn. They bring you an experience of peace or make you laugh. They may teach you something you have never done. They usually give you an unbelievable amount of joy. Believe it, it is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons, things you must build upon in order to have a solid emotional foundation. Your job is to accept the lesson, love the person and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life.

Ah, jadi ingat sama salah satu nasihat Papa saya. Ada kata-kata yang nancep banget sampai sekarang, saya menyebutnya dengan analogi kaca mobil. Nasihat itu diberikan ketika saya masih jadi ababil (ABG labil); lagi sedih menye-menye habis putus sama pacar :p :

“Pernah merhatiin nggak kenapa kaca depan mobil dibuat lebih besar daripada kaca spion? Itu karena ada banyak hal yang jauh lebih besar yang harus kamu lihat, dan harus kamu hadapi di depan sana. Lalu kenapa kaca spion ukurannya dibuat jauh lebih kecil dari pada kaca depan? Karena kadang kita perlu sesekali melihat ke masa lalu, tapi ingat, hanya sebatas untuk introspeksi dan belajar dari kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang… Chin up! ;)”

So, …

Thank you for being a part of my life, whether you were here for a reason, a season or a lifetime..

[devieriana]

gambar pinjam dari Corbis Images

A Reason, A Season or A Lifetime