Happy 3rd Birthday, Alea!

MYXJ_20170727125523_save
Ulang tahun Alea tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya dirayakan bersama teman-teman di daycare, tahun ini dia merayakannya di rumah. Iya, sudah beberapa bulan ini Alea tidak lagi saya titipkan di daycare karena berbagai pertimbangan. Padahal sebenarnya daycare itu banyak membantu dan jadi bagian solusi ibu bekerja. Tapi ya sudahlah, sementara meninggalkan Alea di rumah kembali bersama eyangnya mungkin jadi solusi terbaik untuk saat ini.

Balik lagi ke ulang tahun, ide berbagi makanan ini sebenarnya justru datang dari mama saya yang beberapa hari menjelang tanggal 17 Juli 2017 sudah mulai mencicil belanjaan untuk bikin nasi kotakan buat teman-teman mainnya Alea yang tinggal di sekitaran rumah. Jadi ya sudah sekalian saya belikan bingkisan snack untuk dibagikan juga ke mereka.

Sehari menjelang ulang tahun, ada sedikit insiden yang agak bikin gondok sebenarnya. Setelah seharian ada acara di Cibinong, kami pulang agak kemalaman, hampir pukul 9 malam baru pulang ke Mampang, sementara kami belum membeli kue ulang tahun buat Alea. Kebanyakan toko sudah tutup transaksi pukul 21.00 atau paling lambat pukul 22.00. Akhirnya kami pun pasrah pulang dengan tangan kosong pukul 23.00 setelah berkeliling hingga ke Kemang yang notabene masih ada hidup kulinerannya hingga larut malam.

Keesokan harinya, Alea bangun dengan lebih semangat karena dia ingat kalau hari itu dia ulang tahun. Iya, beberapa hari sebelumnya memang sudah kami sounding kalau hari Senin, 17 Juli 2017 nanti dia akan berulang tahun yang ke-3. Apalagi malam sebelumnya dia juga ikut belanja kebutuhan ulang tahunnya. Tapi, berhubung kue ulang tahunnya belum ada, di kulkas kebetulan ada sepotong rainbow cake jadilah kue ulang tahun dadakan, cuma untuk prosesi tiup lilin. Hahaha, maaf ya Alea, tiup lilinnya pakai irisan rainbow cake dulu ya, Nak.

Sorenya, sepulang kantor, saya belikan kue ulang tahun yang beneran lengkap dengan lilin ulang tahun. Ketika melihat saya membawa kue ulang tahun betulan, wajah kecil itu pun terlihat sangat sumringah. Sama halnya ketika lagu Happy Birthday kami nyanyikan bersama, lilin ulang tahun yang menyala terang di atas kue, dan tentu saja ketika segala doa baik yang kami panjatkan untuknya sore itu. Ah, bayi papa dan mama sudah besar ya…

To my favourite cupcake in the world, happy 3rd birthday! You have been filling our lives with laughter and love for three years. Stay cute, smart, sholehah, and adorable!

We love you!

– devieriana –

Advertisements
Status

Happy Birthday, Alea!

Alea ketika baru lahir, dan Alea sekarang

 

Minggu pagi, tanggal 17 Juli 2016, sekitar pukul 5 pagi, Alea bangun lebih dulu daripada kami semua. Seolah dia tahu kalau hari ini adalah hari istimewanya, tiba-tiba dia bertepuk tangan sambil masih tiduran di antara kami, dan bersenandung lirih lagu Happy Birthday dengan logat dan suara anak-anaknya yang menggemaskan, “epi… tu yuuu… epi…. tu yuuu… Yeeeey!”. Sontak mata saya terbuka; sambil menahan senyum saya colek papanya Alea yang masih pulas di samping saya untuk ikut diam-diam mendengarkan nyanyian bayinya yang hari ini bukan lagi bayi. Ya, hari ini Alea tepat berusia 2 tahun!

Hari ini adalah ulang tahun Alea yang kedua. Jeda 12 bulan setelah ulang tahunnya yang pertama Alea mengalami banyak sekali perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. You are no longer a baby, but a little girl. I didn’t think I could love you more, but I do.

Penguasaan bahasa dan kata-katanya berkembang pesat. Dia sudah bisa menirukan kata apapun yang kami ucapkan, menirukan ekspresi wajah, hampir hafal setiap scene film animasi yang sengaja kami download-kan buat dia tonton di rumah, bahkan baru opening scene-nya saja dia sudah tahu itu film apa, sudah bisa minta minum kalau haus, minta maem kalau lapar, sudah bisa bilang pup, bahkan mengajukan protes ketika dia tidak berkenan terhadap sesuatu, seperti misalnya kemarin malam ketika kami memintanya gosok gigi sebelum tidur:

Eyang: “ayo Alea, gosok gigi dulu sini sama Nan…”
Alea: “Nan, nggak mau, Nan! Mamaaa!”
Eyang: “Oh, maunya sama Mama?”
Alea: “Mama, iya…”

and banyak lagi lainnya…

Kadang saya, papanya, atau eyangnya suka ‘frustrasi’ sendiri ketika tidak mengerti apa yang dia inginkan. Seperti misalnya, dia tiba-tiba bilang, “pipi panyas”. Biasanya, kalau memang iya benar apa yang kami katakan itu sesuai dengan maksud dia, Alea akan merespon, menganggukkan kepala atau mengiyakan apa yang kami katakan. Tapi kalau tidak, biasanya dia akan diam, menunggu sampai respon kami sesuai dengan maksudnya, hahaha… Sepertinya harus kursus bahasa asing nih, spesialisasi bahasa bayi.

Kadang dia juga suka marah kalau apa yang dia inginkan tidak selamanya kami turuti. Kadang sedih juga kalau lihat dia marah, tapi seringnya malah bikin geli. You are cute even when upset, Alea! Hahaha. Tapi sering juga ketika dia melakukan sesuatu dan itu bikin saya kesal ending-nya malah bukan kesal, tapi gemas. Seperti misalnya ketika dia minta snack Pringles, saya bilang:

Me: “Alea, nanti kalau maem, jangan di kamar ya, jangan di kasur, nanti banyak semut. Ya, Nak ya…”
Alea: *mengangguk tanda paham*

Ya sudah, saya nyuci piring di dapur, tapi di sela nyuci piring itu mata saya mengarah ke kamar. Eh, lha kok ndilalah Alea sedang menuangkan remah-remah Pringles ke lantai kamar *tepok jidat*

Me: “Alea! Huhuhu, kenapa kok ditumpahin ke lantai? Kan nanti banyak semut… Emang Alea mau bobo sama semut?” *sambil nyapu lantai*
Alea: “Mau! Hai cemuuuk, dadaaah….” *sambil kakinya diangkat ke kasur karena lantainya mau saya sapu*
Me: *speechless*

Lha? Kok jawabannya malah mau, pakai dadah-dadah segala ke semutnya… Moment seperti itulah kadang yang bikin kita awalnya kesel jadi gemes seketika.

Dan moment yang paling mengharukan adalah ketika dia tiba-tiba melakukan gaya shalat di keset depan pintu, sambil mengangkat kedua tangannya dan lalu sedekap sambil bilang, “Awoooo, hwa bas!”, maksudnya Allahu akbar… Saya bengong melihat dia rukuk dan sujud, lalu berdiri lagi. Kurang lebih mirip dengan gerakan shalat. Dia memang sering ikut saya shalat dan ketika sujud, dia pun ikut sujud. Tapi baru kali ini dia melakukan gerakan menyerupai orang yang sedang shalat. Ah, Alea…

Secara fisik pertumbuhan dia cukup bagus, bahkan banyak yang bilang kalau badannya panjang, lebih tinggi dari anak seusianya, tapi saya tetap saja kurang ‘ngeh‘ dengan perbedaan tingginya. Memangnya kalau anak usia 2 tahun harus seberapa sih? Ya alhamdulillah kalau memang tinggi, kan nanti bisa jadi Paskibraka ya, Nak… hihihik. Aamiin…

Selama beberapa bulan dia di daycare, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan emosi dan psikologisnya. Saya akui penguasaan emosinya luar biasa. Pernah suatu ketika dia saya drop di daycare dan saya tidak bisa lama-lama berada di sana karena saya harus mengemsi di sebuah acara. Saya tahu dia kurang suka saya tinggal begitu saja, tanpa saya temani dulu, saya tahu dia pengen nangis, tapi dia hanya mewek sedikit ketika mencium tangan saya dan saya cium kedua pipinya, melihat saya pergi sambil dadah-dadah dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dan ketika dipeluk salah satu bunda pengasuhnya itu saya lihat dia sedang menitikkan air mata. Dia menangis, tapi tidak tantrum, tidak menangis keras seperti anak lainnya. Dia mampu mengendalikan perasaannya. Ah, Alea… kamu bikin Mama baper ketika menuliskan ini, Nak…

Saya dan papanya Alea sedang belajar-belajarnya jadi orang tua. Sudah banyak nasihat yang kami terima baik itu dari orang tua maupun dari diskusi, buku/web parenting. Satu hal yang paling stuck out most adalah, ikutilah nalurimu. Dan itulah yang sedang saya coba. Menjadi orang tua memang tidaklah mudah, and yet you make it all worthwhile; menjadikan segalanya berharga. Bahkan di saat-saat yang sulit sekalipun.

I can’t tell you how much you mean to me, Alea; and how glad I am to have you in my life…

Happy 2nd birthday, my sweetie pie…
I love you now and for always…

– devieriana –

Happy Birthday, Alea!

Happy Thirty Something!

my thirty something

Seharusnya postingan ini saya publish tepat di hari ulang tahun saya, 2 Juni 2015 yang lalu. Tapi apa daya, berhubung bertepatan dengan hari libur, dan kalau sudah libur Alea maunya diemong sama saya, akhirnya baru sempat up date blog lagi hari ini. Gapapalah telat dikit, ketimbang telat banget, hahahaha…

Alhamdulillah, di 30 sekian tahun usia saya tahun ini, Allah masih memberikan kebahagiaan, kesempatan hidup, usia, pengalaman-pengalaman berharga, keluarga dan teman-teman yang sangat support. Ulang tahun di tahun ini alhamdulillah berkesan. Kalau tahun lalu saya ulang tahun dalam keadaan masih mengandung, tahun ini sudah ada tambahan anggota keluarga yang baru yaitu Alea. Bagi saya, Alea adalah salah satu bagian kado terindah yang Allah kasih pada saya.

Seperti tahun-tahun lalu, sejak shubuh hp saya sudah sibuk menerima ucapan selamat ulang tahun. Dan seperti biasa, doa dan ucapan selamat dari kedua orang tua adalah hal yang paling mengharukan. Doa dan ucapan dari para sahabat di Bincang Edukasi, teman-teman kantor, dan teman-teman socmed juga tak kalah menyempurnakan pertambahan angka usia saya tahun ini.

Ada hal unik yang sedikit berbeda dengan ulang tahun-ulang tahun sebelumnya. Tahun ini saya mendapatkan hadiah ulang tahun berupa batu akik dari teman-teman kantor saya, hahaha. Katanya, biar saya nggak ngecengin melulu tiap kali ada yang ngobrolin batu cincin. Jadi, biar saya nggak bawel, dan siap dibaiat sebagai anggota batu lovers, diberilah saya liontin batu Giok Aceh, dan batu Bacan Merah yang imut (katanya sih dipakai buat cincin aja). “Dipake, ya!”, gitu pesan mereka. Ya nantilah, kalau saya sudah ada waktu buat ngiket batunya.

Hadiah ulang tahun dari Mama adalah brownies spesial buatan Mama yang rasanya endeus surendeus (lupa saya abadikan karena keburu amblas sesampainya di kantor). Kalau kado dari adik saya beda lagi, dia memberi saya kado baju batik. Ah, dia paling tahu memang kalau saya sedang mengumpulkan koleksi baju batik; mengingat setiap kali pelantikan sekarang bukan lagi pakai baju PSL (Pakaian Sipil Lengkap, berupa setelan jas) tapi pakai batik. Alhasil saya sering pinjam koleksi dia ketimbang beli, hihihihik. Dasar nggak modal! Kalau dari Si Bungsu dan keluarganya, berupa foto masakan plus tulisan yang dibuat dari saos sambal, hahahaha…

Apapun itu, terima kasih banyak untuk segala doa dan ucapan yang telah kalian berikan. Semoga segala kebaikan tercurah pula untuk kalian semua. Semoga segala doa yang dikirimkan untuk ulang tahun saya kemarin semuanya diijabah oleh Allah SWT. Aamiin ya rabbal alamiin…

Love you loads!

[devieriana]

Happy Thirty Something!

Surprise!

Siapa sih yang nggak suka kalau dikasih surprise apalagi di saat spesial dan dilakukan oleh orang-orang yang spesial pula. Ah, saya juga mau, apalagi kalau pas ulang tahun.

Tapi apa jadinya ketika kita berulang tahun justru dapat kejutan yang bikin  jantungan, paranoid, atau hal-hal yang sama sekali tidak kita sukai? Menikmati surprise-nya? I don’t think so deh kayanya. Nah, pasti semua sudah tahu kemana arah pembicaraan saya kan? ;)) Iya, ke arah Tragedi Suster Ngesot yang sedang marak dibicarakan di berbagai media itu 😉

Mungkin buat sebagian orang, hari-hari spesial orang-orang terdekat itu harus dirayakan dengan cara yang “spesial” pula. Ok, saya setuju. Toh, nggak setiap hari ini, kan? Tapi apa iya harus dilakukan dengan cara yang menakutkan dan membahayakan orang lain atau diri sendiri? Kalau menurut saya pribadi sih kok nggak bijak, ya? 😕 Sama halnya dengan memaksa orang lain untuk melakukan kegiatan yang tidak mereka sukai/menakutkan (seperti yang sering dilakukan oleh salah satu stasiun televisi kalau sedang mem-bully host di salah satu acara). Sebenernya sih suka nggak tega aja ngeliatnya. Padahal kalau kondisinya dibalik, belum tentu yang ikut mengerjai itu juga mau menjalani hal yang sama, lho 😐

Bersyukur selama ini —ketika ultah— kejutan yang diberikan oleh teman-teman dan keluarga masih berupa kejutan yang wajar dan manis. Kalau soal dijutekin, dicuekin, atau dibikin nangis saat ultah, itu sih sudah biasa, tanpa itu pun saya sudah pasti mewek kok tiap ulang tahun :-s

Dua tahun ini saya mengalami ulang tahun yang sangat berkesan. Jauh dari kesan seram, malah lucu dan terharu. Ulang tahun yang paling berkesan ya waktu bersamaan dengan prajabatan. Begitu masuk kelas, widyaiswara langsung mengajak kami menyanyikan lagu Happy Birthday, dan itu bikin saya sukses berkaca-kaca. Jadi teringat juga bagaimana saya mengendus kesibukan teman-teman yang diam-diam mempersiapkan ulang tahun saya, mengamati bagaimana cara mereka menghilang satu persatu dari ruang makan dan kamar, sengaja meninggalkan saya sendiri, dan ketika tiba-tiba mereka sudah berkumpul di depan kamar sambil membawa beberapa kardus isi pizza, memahkotai saya dengan balon. Unyu! ;;) Itu asli lucu dan spontan bikin saya nangis dong, Sodara! Belum lagi ditambah ketika saya harus berantem dan dibikin nangis sama hubby hanya perkara kemana harus pesan kue tart! Asli, nggak penting! #-o . Oh ya, saya wajib waspada kalau lagi ulang tahun, karena pasti akan ada settingan-settingan aneh gitulah.

Tapi justru kejadian-kejadian lucu seperti itu yang akan terus teringat. Surprise yang menyeramkan juga akan tetap teringat sih, tapi bikin paranoid. Ya gimana nggak bakal sontak jejeritan kalau pas mau naik/turun lift, pintu terbuka dan tiba-tiba ada penampakan makhluk menyeramkan di depan kita? Iya kalau kita dalam kondisi sehat jasmani dan rohani, lha kalau nggak? Apa nggak tambah panjang urusannya? :-q

Nah, jadi pengen cerita deh. Waktu saya ulang tahun dan bersamaan dengan prajabatan, itu kebetulan di tempat yang ambience-nya memang horor, di Pusdiklat BPS, daerah Lenteng Agung. Namanya pusdiklat dengan banyak ruang kelas dan kamar begitu pastinya kan nggak setiap hari ada orang diklat, istilahnya nggak “bau manusia”. Kalau malam auranya spooky banget, banyak lampu yang sengaja dimatikan, dan hanya dinyalakan di tempat-tempat tertentu dimana kami sering lalu lalang, itu juga nggak semua lampu neon. Bahkan ada teman saya yang indigo sempat melihat penampakan dan tidak lama kemudian kerasukan. Kejadian itu sumpah, horor banget! Gimana nggak horor kalau jatuhnya si teman dan adegan melotot-melotot sambil nunjuk-nunjuk itu pas di depan pintu kamar saya, coba! ^X_X.  Kalau misal teman-teman saya tega sih bisa aja mereka memanfaatkan situasi kondisi pusdiklat yang sudah seram itu, tinggal menyamar menjadi sesuatu yang menyeramkan buat kejutan di ulang tahun saya. Tapi untung semua teman saya baik… ^:)^ *sujud syukur*

Mungkin tragedi suster ngesot di Bandung kemarin setidaknya bisa jadi pelajaran bagi semua pihak untuk nggak semena-mena memberikan kejutan pada teman, apalagi yang menyeramkan. Sebelum memberikan kejutan yang sedikit “heboh” dan “tidak wajar”, ada baiknya dipikir dulu masak-masak, jangan asal kasih surprise tanpa memikirkan aspek keamanan, supaya tidak ada lagi insiden tendang-tendang “hantu settingan” seperti kemarin.

Nah, ngomong-ngomong tentang surprise ulang tahun, kalian pernah dikasih surprise apa waktu ulang tahun? <:-P

[devieriana]

gambar pinjam dari google

Surprise!

Setengah Windu

Sebenarnya postingan istimewa ini terlambat satu hari. Ya, seharusnya postingan ini saya buat kemarin, tepat di hari ulang tahun pernikahan saya yang ke-4 :D. Tapi apa daya, kemarin adalah hari yang sibuk untuk saya. Mulai jam 08.00 – 11.00 harus sudah stand by untuk mempersiapkan sekaligus bertugas sebagai MC pada acara pelantikan pejabat eselon II dan IV di lingkungan Sekretariat Wakil Presiden (berdiri kelamaan itu pegel :-s). Sesampainya di kantor berkas sudah menggunung untuk menunggu penanganan. Sore/malamnya pun jadwal lain sudah menunggu. Meeting bersama @IDceritaJKT di Anomali Coffee sekaligus penyerahan hadiah yang kemarin :D/. Pffiuh.. Sedikit capek sih, tapi menyenangkan.. 🙂

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sms ucapan pertama datang dari Mama mewakili Papa dan adik-adik. Ucapannya walaupun nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya tapi selalu bisa bikin saya mewek terharu. Biasalah, saya kan emang orangnya gampang terharu :D.

Di usia pernikahan saya yang telah memasuki setengah windu ini saya melihat ada banyak perubahan nyata dalam diri saya maupun Hubby. Semoga sih mengarah ke yang lebih baik ya. Tapi kami masih terus saling belajar memahami diri masing-masing.

Memang benar apa yang orang sering katakan. Tuhan bekerja dengan cara dan bahasa yang misterius. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu itu yang akan diberikan. Tapi Dia selalu tepat ketika memberikan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Nah, apakah itu juga terjadi pada saya? Sepertinya iya..

Kalau diperhatikan, saya dan Hubby sekarang lebih saling melengkapi. Tuhan memberikan keseimbangan buat kami, diantaranya :

1. Si Hubby aslinya pendiam dan serius. Nah (seharusnya) dia merasa beruntung mendapatkan saya yang suka becanda, konyol dan yang senang menularkan hal-hal absurd, ya :p. Terbukti dia sekarang sudah tidak sependiam dan seserius dulu lagi. Sekarang dia tumbuh menjadi hubby yang lucu dan tertular absurd m/. Dulu nih ya, kalau dia lagi berdiri/duduk dekat tembok, tembok aja sampai minder karena kalah diem sama dia. Nah sekarang tembok sudah boleh berlega hati karena saingannya sudah berkurang satu ;)). Ah ya, semoga Hubby nggak baca postingan ini.. *ngaduk semen*

2. Buat saya yang buta jalan peta dan tukang nyasar merasa beruntung mendapatkan dia yang mirip peta. Bukan, bukan mukanya! Tapi pengetahuan dan ingatannya tentang jalanan. Kalau mukanya yang kaya peta, berasa saya menikahi buku atlas dong. Nah, gara-gara saya bego banget soal jalanan dia nggak pernah bosen buat menginstalkan google maps di setiap handphone saya. Hasilnya? Saya sudah jarang nyasar dong.. :D/. “Jarang” itu dalam artian sesekali masih nyasar ya.. ;))

3. Hubby orangnya sangat well organized, ketika akan membuat keputusan atau sedang merencanakan sesuatu benar-benar disusun secara hati-hati dan penuh perhitungan. Sementara saya orangnya agak-agak slonong boy, on the spot aja gitu. Jadi untuk hal ini saya merasa beruntung karena bisa belajar keteraturan dari dia. Contohnya saja rencana mudik lebaran ke Surabaya. Saya cenderung mikir cari tiket nantilah sebulan atau dua bulan sebelum hari raya. Kalau dia, sudah direncanakan sejak awal tahun. Dia juga sudah tahu kapan dia akan mulai mengambil cuti, berapa biaya yang kira-kira akan kita butuhkan, dll. Saya? Eerrr.. Boro-boro 😐 *milin-milin karpet*

4. Hubby termasuk orang yang telaten. Sementara saya adalah kebalikannya. Dia cenderung menikmati alur sebuah proses. Sementara saya orangnya suka gradak-gruduk. Maunya serba instant, serba cepat, nggak pakai lama. Tapi makin kesini saya melihat ternyata ketelatenan dia justru yang ada hasil konkretnya. Sepertinya saya harus banyak belajar sabar dan telaten sama dia 😀 Hubby termasuk juga yang sabar menunggu saya ketika saya sedang ada kegiatan di luar, misal meeting dengan komunitas saya. Dia juga mau mengantar dan menjemput bahkan pernah dia pulang kantor dan langsung menjemput saya trus menunggu di mobil sampai ketiduran, hihihi.. >:D<.

Sebenarnya sih ada beberapa hal lainnya yang ternyata saling menyeimbangkan diantara kami. Memang pernikahan kami baru seumur jagung. Masih banyak hal yang perlu kami benahi. Ada banyak rencana dan mimpi yang sedang berusaha kami wujudkan satu persatu. Semoga ada jalan terbuka yang mengarah kesana. Aamiin..

 

Dear Hubito, thanks for all experiences we did (happy and sad). Thanks for your acceptance and support on my undertakings. Thanks for the shoulder to cry on defeats. Thanks for filling my shortcomings. Thanks for the cheer on triumph and success. Last but not least, thanks for growing and learning each day with me.

 

 

I love you.. :-*

 

[devieriana]

 

ilustrasi : disini dan koleksi pribadi

Setengah Windu