Beberapa waktu yang lalu saya kebetulan diundang dalam acara pembukaan kantor barunya Kaskus. Rasa penasaran mendominasi kedatangan saya malam itu. Bagaimana tidak penasaran, karena katanya, kantor barunya Kaskus ini bakalan beda dengan tampilan kantor yang biasanya. Hmm, dalam bayangan saya mungkin kantornya nanti semacam ruangan luas  tanpa sekat dan kubikel gitu, ya? Atau interior yang modern dengan sentuhan furniture yang futuristik mungkin?

Meskipun kantor baru Kaskus yang berlokasi di Menara Palma – Rasuna Said itu terbilang dekat dengan tempat tinggal saya, tapi tetap saja terasa jauh karena macet. Tapi syukurlah saya datang tidak terlalu terlambat. Bahkan di depan lift saya sempat bertemu dengan Mbak Ainun dan Mbak Rara.

Begitu tiba di tempat acara kami disambut dengan mbak-mbak resepsionis yang sudah siap membagikan goodie bag. Sesudah mengisi buku tamu, kami lalu masuk ke ruangan yang berjuluk Green Room. Ruangan yang didesain dengan pencahayaan yang teduh, dengan sentuhan rumput dan pohon artifisial, disanalah kami (para undangan) disambut oleh manajemen Kaskus yang diwakili oleh Ghina Aliya

Selanjutnya adalah tour de office. Kami semua diajak untuk menelusuri satu persatu ruangan yang ada di kantor barunya Kaskus. Dari Green Room kami diajak melewati sebuah lorong yang lantai dan dinding kiri kanannya semua terbuat dari kayu. Dengan pencahayaan yang temaram mengingatkan saya pada jalanan tambang di bawah tanah. Di dinding sebelah kanan terpasang pigura-pigura yang berisi tulisan-tulisan/berita, dan juga foto-foto. Semacam hall of fame, gitu.

Ternyata lorong itu menghubungkan kami pada toilet yang didesain dengan unik. Dindingnya boleh kami coret-coret untuk menjejakkan nama, tanda tangan, dan akun socmed kami. Ketika menoleh ke arah kanan, terpasanglah sebuah WC duduk yang sengaja dipasang terbalik, sebagai tanda bahwa ini adalah kakus! Ya iyalah, masa ruang direksi kaya begini :mrgreen: . Uniknya, kalau tutup dudukan kloset itu dibuka, isinya adalah tempat scan sidik jari. Gokil abis, ya? :D

spot unik di toilet kantor Kaskus

Kami lalu diajak mengunjungi sebuah ruangan luas mirip hall dengan daun-daun artifisial yang menjuntai di plafon. Sebutan bagi ruangan ini adalah Playground. Disana ada 4 divisi yang tergabung dalam satu ruangan tanpa sekat/kubikel. Ada bagian Creative, Design, Content, dan Strategist. Jangan salah, disana juga ada tempat bernama X-BOX yang bisa digunakan untuk melepas stress, main games, dan atau main musik. Asli, keren! Jadi pengen kerja disini.. *eh*. Oh ya, masih di hall yang sama, disana juga ada ruangan IT yang dilengkapi dengan scan sidik jari kalau mau masuk kesini.

Playground

Yang paling menarik bagi saya adalah ruang meeting yang ada di balik dinding. Mengingatkan saya pada scene adegan film-film sci-fi. Ketika pintu yang mirip dinding itu dibuka, didalamnya ada sederetan kursi-kursi kulit berwarna putih, dengan meja kaca, pencahayaan putih yang terang benderang, layar LCD, dan dinding yang semuanya dilapisi kaca. Jadi, nggak ada tuh yang namanya whiteboard. Yang mau meeting boleh corat-coret dan brainstorming di kaca itu.

Ruang Meeting Rahasia yang terselip di balik dinding

Berikutnya, kami diajak ke sebuah ruangan yang namanya Secret Chamber. Oh ya, sebelum ke Secret Chamber, kami diajak makan malam dulu di sebuah ruangan mirip ruang makan besar yang terdiri dari meja-meja dan bangku-bangku kayu. Yang terpenting adalah, it’s all free food here! Lumayan kan, kita nggak perlu keluar uang buat beli makan siang/makan malam. Selesai makan malam yang ditutup dengan desert berupa cendol hijau, barulah kami ke secret chamber. Disanalah sejarah Kaskus ditayangkan di sebuah giant screen. Tak kalah menariknya, selain ada games yang memperebutkan Ipad, disana kami dihibur oleh Soulvibe penampilan yang makin memeriahkan suasana malam itu. Sayangnya sih saya nggak dapet Ipad-nya.Ya udahlah nggak apa-apa, ntar beli sendiri. Jiaah, gaya! :mrgreen:

Secret Chamber yang gelap gulita

Soulvibe

Salah satu spot lucu lainnya yaitu booth foto. Disini kami boleh berfoto dengan gaya apa saja, yang nanti akan dicetak dan langsung dibagikan pada kami. Biasalah, kalau ada moment tapi nggak foto-foto kan rasanya kurang afdol ya. Apalagi di kantor sekeren ini. Wajib hukumnya! :p

booth foto Kaskus

Kalau kemarin saya kapan hari pernah nanya kantor impian dan kantor yang asik itu seperti apa dan rata-rata banyak yang menjawab seperti kantornya Google, Facebook, dll. Here we go, di Indonesia ternyata juga ada lho. Dan, kantor dengan desain unik ini sepertinya baru dimiliki oleh Kaskus, yang notabene adalah perusahaan asli Indonesia.

Well, akhirnya malam itu saya pulang dengan perasaan puas karena sudah diajak mengubek-ubek seluruh isi kantor keren itu. Ah, andai kantor saya yang  tampilannya serius luar dalam itu tiba-tiba dirombak desain interiornya menjadi lebih hype dan modern, dengan fasilitas yang sama seperti kantornya Kaskus ini ya, pasti juga tak kalah kerennya, ya.. :mrgreen: . Iya, tahu, nggak mungkin juga sih kayanya :D

Nah, kalau desain kantor kalian seperti apa? ;)

Sebelumnya maafkan saya yang hampir sebulan belum mengupdate blog. Kali ini bukan karena alasan malas ataupun sibuk, melainkan masalah teknis di blog. Jadi, berhubung blog saya yang di http://devieriana.com sedang mati suri jadilah saya posting disini dulu. Keburu ceritanya basi, ya walaupun hampir basi, setidaknya masih bisa di-share deh :D Yang jelas saya ingin berbagi cerita tentang apa yang sudah saya lalui dalam sebulan ini.

Tentu teman-teman masih ingat dengan postingan One Step Closer menuju  Grand Final Desain Seragam Pramugari Citilink yang lalu, kan? Ya, pada tanggal 7 November kemarin adalah puncaknya. Acara itu diadakan di Planet Hollywood dan dihadiri oleh para undangan, manajemen Garuda Indonesia, Citilink, dan awak media cetak maupun elektronik.

Saya sengaja mengambil cuti, khusus untuk mempersiapkan acara itu. Beberapa hari sebelumnya saya masih ribet dengan pembuatan storyboard bersama Gum. Ah, saya harus banyak berterima kasih pada Gum yang telah bersedia meluangkan waktu seharian penuh bersama saya di Kopitiam Oey dekat rumah saya untuk menyelesaikan konsep storyboard yang sesuai dengan apa yang saya mau. Makasih ya, Gum *hugs*. Kapan-kapan kita bikin storyboard lagi ya :mrgreen:

Acara Grand Finalnya sendiri berlangsung pukul 19.00, tapi pukul 9 pagi seluruh kru dan pendukung acara wajib hadir untuk persiapan dan General Repetition (GR). Kami, para finalis, berkumpul pukul 11.00 untuk melakukan latihan tampil diatas panggung bersama para model dan pramugari. Baru kali ini saya merasakan tampil bersama model beneran diatas panggung. Dulu, saya hanya menangani persiapan di backstage, dan memastikan semua model tampil sesuai dengan konsep yang akan kami tampilkan.

Jangan tanyakan apa yang berkecamuk dalam pikiran saya hari itu, yang jelas saya pasrahkan semua pada Yang Diatas. Hingga sampai 4 besar saja buat saya sudah merupakan keajaiban, mengingat saya belum pernah sekali pun mengikuti lomba desain semacam ini. Kalau pun dulu pernah ikut hanya sampai tahap penyisihan saja, tidak sampai tahap pewujudan desain dalam bentuk mock up.

Sekitar pukul 15. 00 saya, Rico, dan Dinda, yang sebelumnya keluyuran di Plaza Semanggi —untuk sekedar merapikan tatanan rambut— kembali ke lokasi untuk mengadakan persiapan lebih lanjut. Ternyata Tina sudah rapi dengan tampilan make up yang soft hasil karya Mbak Irey, salah satu anggota tim Fortune PR. Sementara Dinda yang gantian ditangani oleh Mbak Irey, saya memilih untuk merapikan make up saya sendiri, biar sama-sama selesai tepat waktu, gitu :D

Sekitar pukul 16.00 Mbak Era Soekamto beserta tim datang membawa revisi mock up kami dalam keadaan sudah fix dan rapi lengkap dengan gantungan yang tertulis nama masing-masing pramugari/model yang akan membawakan rancangan kami masing-masing.

Jujur saya gugup, dan nyali saya langsung menciut ketika melihat hasil revisi teman-teman finalis yang lain yang mendadak langsung jadi ok. Hingga akhirnya muncul sebuah kepasrahan dalam diri saya. Posisi apapun yang akan saya raih malam ini, akan saya terima dengan besar hati. Sama sekali tidak berani berharap apa-apa, karena sudah ciut nyali duluan. Whatever will be, will be, deh..

Hingga akhirnya satu jam sebelum acara, dan dentuman musik itu dimulai, kami berempat pun mulai merapat ke tempat perhelatan acara. Kami berempat duduk di pojok, depan panggung, dekat dengan meja dewan juri. Acara di awali dengan pemutaran video profile para finalis. Gimana rasanya melihat wajah sendiri tampil di giant screen? Aneh dan malu :mrgreen: . Dilanjutkan dengan sambutan dari Mr. Con Corfiatis tentang acara ini. Makin deg-degan ketika kami berempat dipanggil untuk segera ke belakang panggung, menyiapkan diri untuk tampil bersama para model dan pramugari diatas panggung. Dari layar LCD di backstage kami melihat Bapak Elisa Lumbantoruan, Mbak Era Soekamto, dan Mr. Con Corfiatis dengan mengadakan sesi tanya jawab sekaligus press conference dengan awak media cetak dan elektronik yang hadir disana.

And, here we go! Satu persatu nama kami pun dipanggil. Diawali oleh penampilan Dinda Pertiwi bersama 3 modelnya, dilanjutkan dengan saya, Rico Tuerah, dan Nurlaela Tinambunan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya tampil kembali diatas panggung selain untuk pementasan tari. Setelah fashion show, kami pun kembali duduk di tempat kami masing-masing untuk menyaksikan kembali acara selanjutnya, yaitu peragaan flight safety demo yang diperagakan oleh para pramugari Citilink dalam balutan busana yang kami rancang.

Acara selanjutnya adalah final meeting by judges, yang terdiri dari Mr. Con Corfiatis, Bapak Elisa Lumbantoruan, Mbak Era Soekamto, dan Mbak Flo dari Citilink. Saat itu saya sudah pasrah. Apapun hasil yang akan saya daoatkan di atas panggung nanti pasti itu yang terbaik yang berhak saya terima. Karena ini kegiatan pertama saya yang berhubungan dengan lomba desain seragam. Hingga sampai ke tahap 4 besar ini saja saya sudah bersyukur, bahkan masih tak percaya. Karena desain yang masuk ke panitia sejak pendaftaran dibuka hingga pendaftaran ditutup adalah sebanyak 132 desain. Seperti Mbak Era bilang pada kami sesaat sebelum acara dimulai,

“kalian itu sebenernya sudah menang. Bayangkan dari 132 desain yang masuk, kalian mampu lolos hingga ke tahap 4 besar. That was so great! So, good luck for all of you! ;)

Oh ya, malam itu pemenang favorit pilihan media jatuh pada Rico Tuerah yang kebetulan jumlah vote-nya sama persis dengan saya dan Tina. Namun berdasarkan tepuk tangan yang paling meriah akhirnya pilihan media jatuh pada Rico. Jiyeee, Rico.. menang deh! ;)

Detik-detik yang menegangkan itu pun akhirnya tiba. Kami berempat kembali ke backstage untuk berkumpul dengan para model yang semua badannya sudah tertutup jubah hitam bertuliskan tanda tanya besar berwarna putih. Epic sekali tampilannya :D . Akhirnya kami berempat pun kembali diatas panggung untuk mulai deg-degan. Hyuk mari..

Saat juri mengumumkan juara ke-4 dan mulai berputar-putar mengelilingi kami, saya sudah GR bahwa mungkin sayalah yang akan menyandang sebagai gelar juara ke-4. Tahu nggak, rasanya deg-degan banget, jadi ikut merasakan, “oh, ternyata gini ya kalau pemilihan Puteri Indonesia, kan jurinya juga muter-muter” :lol: . Ketika Mbak Flo membuka salah satu jubah model dan terdengar tepuk tangan riuh ternyata juara 4 jatuh pada desain Tina, dan Tina berhak atas hadiah plakat dan 3 free ticket kemana saja by Citilink berlaku selama 3 bulan. Selamat ya, Tina ;) . Nah, tinggallah kami bertiga, saya, Dinda, dan Rico yang mules di atas panggung.

Untuk menentukan juara ke-3 Mbak Era Soekamto yang kali ini berputar-putar, menelusup, berjalan diantara kami bertiga. Dan akhirnya.. TARAAAA! Salah satu jubah model Rico ternyata yang dibuka, dan dengan demikian Juara ke-3 Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink jatuh kepada Rico Lambert Tuerah, dan Rico berhak atas 3 free ticket selama 3 bulan. Waah, selamat ya, Rico! Am proud of you! :D

Tinggallah saya dan Dinda yang diatas panggung beserta keenam model kami yang melanjutkan kemulesan. Yang berkenan membuka jubah salah satu model kami adalah Mr. Con Corfiatis dan Bapak Elisa Lumbantoruan. Jangan ditanya gimana dinginnya tangan saya diatas panggung. Diantara kilatan blitz yang menyambar kami berdua, saya yakin Dinda juga sama deg-degannya sama saya :mrgreen: . Siapa yang jubahnya dibuka terlebih dahulu, itulah yang juara pertama, dan desainnya berhak dipakai sebagai seragam baru pramugari Citilink.

Ternyata! Bapak Elisa Lumbantoruan membuka jubah salah satu model-nya Dinda, disusul oleh Mr. Con Corfiatis yang membuka salah satu jubah model saya, tepat saat confetti berhamburan diatas kepala kami. Yaay! Selamat buat Dinda yang karyanya sudah terpilih sebagai juara pertama Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink dan berhak atas unlimited ticket selama 6 bulan. Ikut seneng! :D

Demikianlah akhir kisah perjalanan panjang dan penuh liku-liku itu. Halah :lol: . Oh ya, ada yang unik disini. Susunan juaranya sama persis urutannya dengan ketika kita mengambil nomor urutan pas panjurian di Garuda kapan hari. Amazing, ya?

Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu hingga saya masuk ke dalam tahap ini. Terima kasih untuk Citilink, Fortune PR, dan juga Mbak Era Soekamto and crew yang memberikan kami kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang tak akan kami lupakan ini. Terima kasih juga untuk Goenrock, Cah Ndableg, dan Gum, yang sudah mau saya repotin bikin sample batik Megamendung dan storyboard *group hug*. Juga teman-teman kantor dan komunitas Bloggerngalam yang sudah memberikan dukungan penuh pada saya *ciumin satu-satu*. Juga untuk keluarga dan seseorang yang tidak mau disebut namanya dan tapi sudah memberikan dukungan yang tak kalah luar biasanya, you guys, thank you ;) .

I love you all!

Pindah Rumah Blog..

Posted: March 3, 2010 in blog
Tags: , ,

Setelah sekian lama absen menulis disini karena adanya perpindahan database dari rumah lama ke rumah baru akhirnya selesai sudah pemindahannya. Iya, jadi ceritanya sekarang saya punya “rumah baru” buat menulis.

Jadi, monggo diramaikan rumah baru saya di  http://www.devieriana.com. Perbaikan, maintenance dan lain-lainnya masih on progress. Nanti deh kalau pas agak senggang saya utak-atik lagi :mrgreen: . Buat yang sebelumnya sudah subscribe rss di wordpress nanti boleh resubscribe di blog yang baru ya :)

Sering-sering main rumah baru saya ya, biar rame gitu.. ;)

Nyanyian Hujan

Posted: February 19, 2010 in jurnal harian, life, me

Diantara padatnya lalulintas Jakarta menjelang akhir pekan, saya semobil bersama teman kantor saya menyelusuri sepanjang jalan raya dari Jl. Veteran, kant0r saya, menuju ke arah Cililitan. Sebelum akhirnya saya turun untuk ganti angkutan umum yang akan membawa saya ke Duren Tiga karena teman saya beda arah, belok ke Halim.

Ditengah hujan deras yang selama beberapa hari membasahi Jakarta, saya termangu-mangu dalam Kopaja 57 yang sore itu berjalan terseok-seok karena jalanan memang sedang macet total. Didepan Kalibata Mall mata saya tertuju pada dua sosok anak perempuan kecil yang berlari tergopoh-gopoh dengan tubuh basah kehujanan & tanpa alas kaki menaiki bus yang saya naiki sambil menenteng ukulele (gitar kecil) dan barang yang ketika saya perhatikan adalah beberapa pipa paralon yang diikat jadi satu dengan ujung-ujung pipanya ditutup dengan karet hingga menyerupai perkusi.

Si kakak (saya sebut saja begitu) memainkan ukulele dengan cukup mahir. Lumayan menghibur ditengah kemacetan lalulintas yang bikin bete ini. Permainannya pun cukup solid, hampir tidak ada nada fals, yang terdengar kecuali ada beberapa nada yang ketika dia menyanyi suaranya kurang sampai. Tapi kalau untuk ukuran anak-anak jelas kemampuan gadis yang saya perkirakan usianya sekitar 12 tahunan itu cukup bagus. Sedangkan si adik yang saya perkirakan usianya sekitar 5-6 tahunan memainkan perkusi dengan cukup.. wow.. saya sampai menoleh hanya untuk memperhatikan dia memainkan perkusi yang terbuat dari kumpulan pipa bekas itu. Perkusi itu terdiri dari 2 pipa besar, 1 pipa sedang, dan 1 pipa kecil. Semuanya berwarna putih gading, tiga diantaranya ditutup dengan selaput karet berwarna hitam. Sedangkan pipa yang paling kecil ujungnya ditutup dengan bahan entah apa namanya tapi ujungnya diberi semacam kawat yang jika ditekan ke lapisan penutupnya akan menimbulkan bunyi yang keren banget (menurut saya). Jadi kalau keempatnya ditabuh bersamaan akan menghasilkan sebuah harmonisasi macam musik keroncong. Bagus deh.. eh atau saya yang berlebihan ya? Ah, enggak ah.. untuk ukuran anak jalanan, anak perempuan, masih piyik baru netes begitu sih permainan mereka cukup baguslah..

Lagu pertama yang dibawakan dengan nuansa pop keroncong itu Mau Dibawa Kemana . Si adik yang berperawakan kecil dengan baju lusuh yang basah kuyup itu menabuh sambil sesekali berhenti. Dia duduk disamping saya, sehingga saya bisa memperhatikan dengan detail sosok si adik. Entahlah, mungkin karena dia sudah lelah atau bosan sudah seharian menemani kakaknya mengamen? Sementara si kakak relatif semangatnya lebih stabil. Ya mungkin karena dia lebih ada tanggung jawab untuk menyelesaikan lagu yang dibawakan supaya hasil mengamen di bis itu maksimal ya. Entahlah, saya hanya bisa menduga-duga.

Lagu kedua yang dibawakan sepasang bocah ini, masih dengan nuansa pop keroncong, adalah Pelan-Pelan Saja . Saya diam-diam menangkap kelelahan di wajah si adik. Saya yakin bukan hanya lelah secara fisik, tapi bahkan mungkin lelah juga secara batin. Untuk hasil yang tidak seberapa itu mereka harus rela berpanas-panas maupun berhujan-hujan. Belum lagi jika masih kena palak preman. Ah, tentu bukan hal yang ringan untuk kalian menjalani kehidupan jalanan macam ini ya, Nak? batin saya. Seharusnya kalian jam segini dirumah, istirahat sambil mengerjakan PR, menonton tivi, bermain boneka atau halma..

Ah, kehidupan ibukota memang tak seramah yang kita kira. Siapapun yang tidak bisa bertahan hidup didalamnya  tentu akan mati kelaparan dengan sia-sia. Bahkan untuk anak-anak dibawah usia macam kalianpun harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan di ibukota. Saya tahu orangtua kalian tentu bukan pula sengaja memberikan kehidupan keras macam ini untuk kalian. Namun keadaanlah yang memaksa kalian harus berjuang sendiri jika ingin bertahan hidup diantara gilasan roda kehidupan di Jakarta. Semoga akan ada masa depan indah yang menanti kehidupan kalian kelak ya. Gumam saya sambil mengiringi sodoran bekas kantong permen kearah saya dan penumpang lainnya.
” Terimakasih.”, ujarnya lirih termakan deru mesin bus kota..

Dan sayapun tersenyum manis kearah gadis kecil itu sambil mensyukuri kehidupan masa kecil saya yang berjalan indah & normal.. Alhamdulillah..

gambar saya pinjam dari sini

Serem, ah!

Posted: February 16, 2010 in film, review
Tags: ,

Dari dulu saya nggak pernah hobby nonton film horror maupun thriller. tapi kalau thriller masih bisa saya ikuti, masih bisa saya tonton walaupun nggak ngefans samasekali. Tapi kalau horror, walaupun dibayarin, nggak bakal saya mau nonton. Wong waktu kecil saya lihat film unyil atau film kartun yang ada adegan nenek sihir aja saya takut kok :mrgreen: . Kalau habis nonton film bernenek sihir pasti kalau mau tidur lihat ke kolong tempat tidur dulu :lol: . Itu baru cerita anak-anak ya, apalagi film beneran yang melibatkan manusia. Makasih deh, mending enggak, ha5x. Konyol kan? Ya, emang :mrgreen:

Kalau dulu nih yang namanya film bergenre horror ya sudah horror aja. “Tugasnya” adalah bikin penonton merinding, ketakutan, ngeri dan jejeritan. Ada sih jamannya Suzana, memang masih agak-agak dibumbui adegan seksi-seksi yang di jaman itu dianggap agak vulgar. Lha tapi kalau film itu ditonton lagi sekarang jelas nggak ada apa-apanya. Film horror sekarang itu itu seksi. Horror itu vulgar. Horror itu semi xxx. Setidaknya itu kesimpulan awam saya tentang film horror yang lagi “trend” disini.

Kenapa nggak strict kalau memang genrenya horror ya sudah main horror aja. Kenapa harus dicampuradukkan dengan adegan film xxx? Nonton film horror kok jadi berasa nonton film semi bokep. Para hantu seharusnya tersinggung karena kengerian mereka harus dicampuraduk dengan keseksian para pemainnya yang umbar adegan “bupati” & “sekwilda”.

Pertama kali saya dengar ada film yang judulnya Suster Keramas saja saya sudah geli. Maksudnya ingin menyajikan “sekuel” Suster Ngesot yang ngeri habis itu kali ya. Jadi dibuatlah judul serupa tapi nggak pakai ngesot, melainkan keramas. Sempat saya becandain, “abis ini ada film Suster Mandi Junub deh kayanya..” :mrgreen: . Herannya kenapa lagi-lagi harus profesi suster sih? Nggak adakah yang bisa dibuat lebih menyeramkan lagi? Misalkan calak, kondektur, mantri suntik, atau apalah situ? Yang setelah ditonton ternyata.. menyeramkan sih iya. Agak. Tapi kehadiran bintang jav Rin Sakuragi yang beberapa kali di syut dalam dalam keadaan setengah telanjang itu membuat kadar kengeriannya menurun drastis.

Itu pertama, film berikutnya yang seolah tidak mau kalah menghorrorkan diri adalah Diperkosa Setan & Hantu Puncak Datang Bulan. Ini apa sih maksud & motivasi pembuatan filmnya? Heran deh. Ketika iseng saya tonton trailernya kok banyak adegan begitu-begitunya. Ini sebenarnya niat nggak sih bikin film horror? Apa iya bikin film hanya untuk alasan memenuhi permintaan/selera pasar? Bikin film hanya untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan muatan moral bagi penontonnya? Masa iya orang-orang kita lebih suka nonton film horror kamuflase macam begitu sih? *thinking*

Kalau biasanya saya suka menyertakan video/youtube. Untuk kali ini saya nggak mau menyertakan videonya ah. Males.. :mrgreen:

gambar dari sini

[devieriana]

Penjara Hati

Posted: February 14, 2010 in persepsi bebas, poem

Terlena tarian gemulai
terbuai gending laras smarandhana..
diantara kidung rembulan ranum keperakan
pada helai dinginnya jelaga malam
sendiri terjebak di alam keluh & bimbang

Dekat membunuh, jauhpun demikian
Penjara ku dalam gamang tak berkesudahan

Andai mampu ku lawan hasrat
mungkin tak seperti ini
jalani cinta separuh jiwa
separuh untukmu & separuh (lagi) untuknya
cinta semu & cinta sejati
cinta sejati yang tak kunjung tumbuh
dan cinta semu yg dipertuhankan

Ingin kuberlari tanpa langkah
menjejak tanpa bekas
terpasung jadi sampah
pelan membunuhku dalam sepi & bungkam

hanya ada satu titik yang (kan) mengusaikan..


gambar dipinjam dari sini


Writer’s Block (II)

Posted: February 11, 2010 in blog, jurnal harian, me

Setiap kali saya menempati posisi atau pekerjaan baru, pasti ada sesuatu yang mendadak hilang sejenak. Mendadak buntu, mampet, bak hidung pilek, mau nafas aja susah bukan main, megap-megap nafas pakai mulut (yah, dia malah membahas influenza). Maksud saya, roh menulis saya kabur, menghilang sejenak dan akan kembali lagi entah kapan, sekehendaknya dia..

Seperti sekarang, sudah hampir seminggu saya di “rumah baru”, yang namanya ide menulis mendadak buntu. lagi-lagi saya mengalami “writer’s block”. Aib? Enggak juga sih. Wajar dialami para bloggerwan & bloggerwati :mrgreen: . Ini juga bukan pertama kalinya. Jadi saya sudah sedikit “kenal” dengan gejala si writer’s block ini.

Padahal kalau sekalinya ada ide, bisa lebih dari 3 tema & biasanya saya selamatkan dalam bentuk draft notepad yang saya simpan di laptop atau flashdisk berjaga-jaga jika suatu saat saya mengalami kebuntuan ide menulis. Biasanya sih berhasil. Tapi nggak tahu kenapa yang sekarang kok blas nggak bisa mengolah kata samasekali. Ide sudah ketemu nih, sudah ada konsepnya, tinggal mengembangkan saja. Gitu kok ya tetep aja nggak bisa berkembang jadi satu tulisan.

Kemarin waktu share sama temen blogger juga bilang, “jangan hanya terpaku pada satu gaya penulisan aja say. Kamu kan sukanya menulis artikel. Coba kembangkan jadi tulisan yang lain, fiksi, puisi, atau apalah.. you know what I mean..”. Jangan salah, itu sudah saya lakukan tapi gagal maning, gagal maning :( .

Jangankan menulis artikel, menghasilkan cerita fiksi, puisi pendek sederhanapun tidak bisa saya lakukan. Benar-benar mati gaya. Tapi uniknya hal ini selalu terjadi di awal-awal pekerjaan baru. Kalau sekarang, bukan hanya pekerjaan baru tapi juga situasi & lingkungan baru yang saya belum tahu celahnya. Kalau di kantor lama kan saya sudah kenal pekerjaannya, bisa internetan sepanjang hari. Tapi bukan berarti saya kerjaannya internetan sama ngeblog melulu ya, ha5x. Tapi saya tahu kapan memanfaatkan mood menulis saya. kadang dirumah masih suka menulis tapi kan kalau sudah capek suka males ya. Lebih banyak malesnya justru :mrgreen: . Lha kalau sekarang, semuanya serba berbeda. Pekerjaan yang saya tangani juga baru buat saya. Lingkungannya sebenernya kondusif banget, cuma saya masih sungkanlah. Masa kerjaannnya ngeblog melulu. Biasalah, anak baru jaim dikit *nyisir poni*.
Becanda..

Ya begitulah, kali ini saya cuma mau curhat aja, lagi nggak bisa menulis artikel. Nggak ada ide. Eh, ngakunya lagi nggak ada ide, tapi malah bisa posting tulisan ya? Apakah ini berarti saya sebenarnya sedang tidak terserang writers block? :mrgreen:

gambar dari sini

(Bukan) Negeri Dongeng

Posted: February 7, 2010 in life, love, relationship

Disclaimer : tulisan ini diilhami oleh sebuah curhat seorang teman yang menurut saya inspiratif  :) .

Siapa sih yang waktu kecil nggak kenal sama cerita putri-putri cantik & pangeran tampan dari negeri Disney, macam Cinderella, Snow White, Beauty and The Beast, atau cerita-cerita dengan perfect ending lainnya? Sempat mikir nggak kalau cerita-cerita dongeng seperti inilah yang akhirnya “meracuni” otak perempuan untuk terus berkhayal tentang sosok sang Prince Charming? Mengkhayalkan hadirnya sosok lelaki sempurna yang keren, berkarir cemerlang, kaya, baik hati, rajin menabung, suka berkebun, berkemah, berlatih semaphore & tali temali? lah jadi Pramuka.. :mrgreen: .Saya aja dulu kalau nonton cerita putri-putrian yang endingnya romantis, happily ever after gitu suka dengan mulut ternganga, sambil khayalan terbang kemana-mana Maksudnya berkhayal saya yang jadi putrinya, trus nanti ada pangeran tampan yang bakal menikahi saya gitu.. Ya gapapalah namanya juga masih kecil ya, wajar. Lha kalau sekarang saya masih mikirin yang kaya begitu nggak nikah-nikah kali sayanya. Tapi bukan berarti kalau saya menikah karena nggak ada pangeran manapun yang mau sama saya ya. Ya memang iya sih.. *histeris*. Ya yang pasti karena sudah ada seleksi alam yang akhirnya menyatukan kita dengan seseorang.  :) .

Itu kalau khayalan perempuan ya, sedikit berbeda dengan kaum lelaki, mereka punya sosok ideal yang disebut “cantik” secara lebih real, bisa ditunjukkan keberadaannya dengan jelas seperti sosok siapa, contohnya Dian Sastro, Pevita Pearce, Luna Maya, Mulan Jameela atau ikon-ikon cantik lainnya. Tapi pada umumnya kaum lelaki jauh lebih realistis. Artinya, meskipun mereka punya atau memimpikan sosok ideal, tapi mereka sukup sadar kalau itu semua di luar jangkauan mereka. Dengan demikian mereka lebih pasrah dan mau menerima siapapun sosok yang lebih realistis untuk menjadi pasangan hidup mereka :mrgreen: .

Logikanya, kalau dunia ini hanya dipenuhi oleh perempuan cantik dan lelaki tampan, semuanya sukses, kaya, dan  berkarir cemerlang, lha terus yang tidak cantik , tidak tampan, tidak punya karir cemerlang &  tidak kaya mau dikemanakan? Disuruh tenggelam aja di laut? Nggak kan? Ayolah, kita bukan hidup di negeri dongeng. Kadang kita jatuh cinta justru dengan orang-orang yang tidak sempurna, jauh dari sosok ideal kita dulunya. Nggak ada yang salah dengan cinta. Kita juga tidak mungkin menahan diri lantaran kita jatuh cinta dengan orang-orang yang bukan standar massa kan?

Hidup juga tidak selalu seperti cerita dongeng atau film Hollywood yang berakhir bahagia dengan dua tokohnya yang berciuman mesra. Hidup kita juga kan skenario film atau panggung broadway dengan peran-peran tertentu dan orang lain yang jadi penontonnya plus berhak me-rating apakah bagus, sedang atau jelek.

Orang lain kadang “menetapkan” tuntutan & standar tersendiri yang menjadi ukuran baik/buruk seseorang. layak atau tidak untuk menjadi pasangan kita. Tapi balik lagi, yang akan menjalani hidup selanjutnya kita sendiri juga kan? Jadi kalau memang kita sudah mantap, sudah merasa sesuai dengan calon pasangan kita ya go a head. Sekaranglah saat bagi kita untuk melepaskan diri dari “penjara” tuntutan- tuntutan atas hidup kita. Karena yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dengan kita adalah diri kita sendiri. Apakah nantinya kita akan bahagia atau tidak bukan orang lain yang menentukan tapi kita sendiri.

Lagi pula, ukuran kebahagiaan bukan hanya diukur dengan fisik atau materi, kan? Fisik bisa luntur seiring dengan usia, materi juga bisa dicari kan? Kalau sudah rezeki nggak akan kemana-mana kok. Kan semua sudah ada yang mengatur, bukan? :) . Jodoh adalah masalah waktu, someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told implores us to wait for it. Saat seorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang dengan sendirinya tanpa diundang & kita rencanakan. Happiness is entirely a state of mind.

gambar dari sini

Masa Inkubasi

Posted: February 4, 2010 in blog, cpns, me, work

Judul postingan ini nggak ada hubungannya sama isi tulisannya. Ngasal aja, seolah mengumpamakan saya sedang dalam masa inkubasi. Berasa jadi virus sama kuman nggak sih? :mrgreen:   . Hmm, ternyata lama juga saya nggak update blog yah? Maklumlah ya, sejak saya memutuskan resign mendadak kemarin (hanya dalam tempo seminggu sejak pemanggilan di Setneg) saya kejar setoran, kerja ngebut, paling tidak menyelesaikan 90% kewajiban sayalah. Kasian leader pengganti saya nanti kalau kerjaan masih banyak yang belum selesai. So, pikiran , energi, konsentrasi semua tercurah ke penyelesaian kerjaan yang seharusnya selesai tanggal 4 jadi dikebut harus selesai tanggal 31 Januari 2010.

Jadi ya begitulah, selama beberapa hari ini saya memasuki masa inkubasi. Halah kok malah kaya virus :lol: . Penyesuaian dengan pekerjaan & status yang barulah intinya. Karena selama lebih dari 6 tahun saya bekerja di perusahaan swasta membuat mindset, kultur & cara bekerja saya sangat swasta. Kalau saya sekarang bekerja jadi PNS tentunya ya jauh berbeda. Sempet agak kaget sedikit. Apalagi berhubungan dengan surat menyurat tingkat tinggi. Dulunya kan saya cuma pegang urusan surat menyurat internal antar bagian aja. Kalau sekarang sudah antar instansi & departemen. Bayangkan betapa stressnya saya di awal hari kerja saya.

Tapi untungnya disana semua baik & helpful. Sebagai PNS newbie (walaupun sudah sekian tahun bekerja sebagai pegawai swasta tentu buat mereka jelas saya newbie, wong masih nggak tahu apa-apa). Untungnya banyak anak mudanya, gaul pula. Jadi ya nggak berasa dalam lingkungan PNS jaman dulu, berasanya fun. Eh ya sebenernya belum fun-fun amat juga sih Gimana mau fun, wong hari ini saya dikasih kabar yang bikin hati saya meloncat kaget  :

teman  : “nanti kamu juga bakal kaya saya, nanganin ini sendirian..”

saya  : “hah, apa? sendiriaaaan? kapan?”

teman  : “sekitar bulan Juli paling..”

saya  : “kamu mau kemana mas?”

teman  : “aku pindah bagianlah..”

saya  : *stress, pengen pingsan*

Saya khawatir? Takut? Paranoid? Jelas. Tapi kalau saya seperti itu terus pasti bukan hal yang positif buat saya juga kan? Khawatir, takut menghadapi sesuatu yang baru & belum kita kenal, takut keluar dari zona nyaman itu hal yang lumrah & sering dialami oleh semua orang. Lha kalau kaya begitu terus ya nggak bakal maju-maju. Jalan ditempat.

Khawatir dan takut adalah dua hal yang berbeda, sekalipun nyaris mirip. Rasa takut punya objek yang jelas, contoh : saya takut sama kucing, saya takut sama bos saya yang galak, saya takut sama hantu. Tetapi khawatir  tidak, lebih abstrak. Ada perasaan tak menentu terhadap sesuatu yang tak jelas. Ketakutan, paranoid terhadap sesuatu yang asing, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dijalani sebelumnya itu pasti pernah dirasakan semua orang. Punya rasa seperti itu wajar-wajar saja. Tapi jika berlebihan dan sudah mengganggu, itu namanya sudah tak wajar. Kekhawatiran sifatnya hanya sementara, karena ketika kita sudah terjun didalamnya kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti & menjadi sesuatu yang biasa, yang menyenangkan, yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Kekhawatiran yang diciptakan oleh pikiran. “Aduh, besok mau kerja di tempat yang baru nih, bisa ga ya? Kira-kira nanti temennya asik-asik kaya di tempat kerja yang lama ga ya? Lingkungan kerjanya nanti enak nggak ya? Kerjaanku nanti sulit nggak ya?” dan sejuta pertanyaan paranoid yang lain, padahal ya belum tentu, wong belum dijalani. Sama ketika saya mengalami perpindahan dari officer ke team leader kapan hari. Saya sudah berpikir kerjaan saya bakal ribet, sulit. Tapi setelah dijalani ya nggak gitu-gitu amat, lama-lama juga biasa :) .

Ya semoga kekhawatiran itu nggak terjadi. Mengingat saya kan bakal berkarir lama disini, bahkan sampai di usia senja saya nanti (nah, jadi mikirin usia senja kan? :D ).

Step Into A New House

Posted: January 28, 2010 in cpns, jurnal harian, me, work

 

 

Akhirnya, semuanya terjawab. Ya, tepatnya 3 hari yang lalu saya ditelpon oleh Biro Kepegawaian salah satu instansi yang seleksi PNS-nya kemarin saya ikuti & saya alhamdulillah masuk. Saya diminta mengambil undangan untuk pengangkatan PNS tanggal 1 Februari 2010 nanti. Surprised? jelas. Karena setelah sekian lama saya menunggu & akhirnya ada kepastian juga, jadi buat saya ya masih berasa ajaib.. lebay deeh.. :mrgreen:

Melihat teman-teman bahkan sepupu saya yang sudah mulai aktif bekerja tidak lama setelah hasil proses seleksi CPNS diumumkan , membuat saya jadi bertanya-tanya, “giliran saya kapan ya? Kok nggak ada telpon lagi ya?”, dan sejuta kata tanya lainnya. Iyalah, wong tiap hari saya ketemu sama orang-orang kantor selalu pertanyaannya, “kapan kamu mulai aktif jadi PNS?”, atau “kok SK-nya lama banget nggak turun-turun?”, atau pertanyaan spv saya yang kaya begini “Dev, kamu masih lama kan disini?”. Mmh, sedikit beda sih, tapi intinya tanya kapan saya terakhir ditempat bekerja saya yang sekarang & kapan mulai bekerja di tempat yang baru. Sayapun harus memberikan jawaban yang sama dari satu penanya ke penanya lainnya. Andai bisa saya rekam, sudah saya rekam kali tuh jawabannya. Atau kalau ada ujian menghafal jawaban, saya pasti lulus dengan nilai A karena saking fasihnya saya menjawab pertanyaan mereka :mrgreen: . Ya wajar juga sih, kan pengumumannya sendiri sekitar pertengahan November 2009 & baru ada pengumuman lagi sekitar 3 hari yang lalu. Alhasil saya yang sekarang harus ngebut menyelesaikan pekerjaan yang biasanya maksimal selesai tanggal 4, harus saya kebut selesai tanggal 31 Januari 2010. Karena tanggal 1 Februari 2010 sudah pengangkatan.

Saya sempet diledekin saya sahabat saya  :

” ciyeeh, punya NIP nih dia sekarang..”
” Ah, dari dulu aku juga sudah punya NIK.. apa bedanya sih? Sama-sama nomor induk karyawan/pegawai kan?”
” ya bedalah. sama-sama punya NIP/NIK, tapi kop surat bergambar garuda pancasila nggak semua instansi punya. Kamu akan bekerja di “dapurnya” negara. Be proud of that.
” iya yah? “, jawab saya manggut-manggut.

Dulu Pakdhe saya juga pernah bekerja di sini menjadi asisten Mensesneg jaman masih Moerdiono, terakhir jaman saya masih kuliah kali ya. Sudah lama banget. Orang juga mungkin sudah lupa. Wong saya dulu sempat cerita ke salah satu interviewer saya waktu pemberkasan beliaunya juga sudah nggak mengenali siapa orang yang saya maksud. Iya sih, sudah lama banget ya Bu.. :mrgreen: . Nggak nyangka kalau saya akhirnya “meneruskan” karir beliau disini. Dulu ngeliat gedungnya dari jauh aja saya sudah kagum. Sekarang justru sama Allah saya dikasih kesempatan untuk masuk & berkiprah didalamnya. Alhamdulillah..

Supervisor saya kemarin kirim sms begini   :

” Jyaah, akhirnya keluar juga tuh SK, hiks. Ya udah nggak apa-apa. Anyway congrats again ya Dev, orang emang kalau bagus selalu ada aja jalannya.. Oh ya, kali-kali aja 10 tahun lagi kamu jadi bu Mentri, pan lumayan ada 1 mentri yang aku kenal.. :mrgreen:

Ya begitulah.. Habis ini selesai sudah karir saya di dunia telekomunikasi yang sudah saya geluti selama kurang lebih 6 tahun, dan berganti di bidang pemerintahan, eh? :D . Agaknya Tuhan nggak menginginkan saya untuk tidak mempergunakan ilmu yang saya ambil waktu kuliah dulu, hingga diberikan-Nya sebuah posisi yang  belum sempat saya jamah sekalipun selama bertahun-tahun. Menjadi seorang sekretaris :lol: . Semoga bisa melalui semua fase ini dengan baik & lancar. Amien.. :)

 

 

 gambar dari sini