A Beautiful Mind

•December 3, 2009 • 4 Comments

Kebetulan tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya ikut sertakan dalam Rose Heart Writing Article Competition bulan Oktober lalu & terpilih sebagai juara 3.  Saya posting disini hanya ingin sekedar berbagi. Tanpa ada maksud menggurui, & semoga ada sebuah pencerahan bagi yang belum bertemu jodohnya :) . Oh ya, kenapa saya beri judul A Beautiful Mind & kesannya kurang nyambung sama tulisannya? Ya suka-suka sayalah, wong saya yang nulis, hehehe.. :lol: .Nggak kok. Saya berpikir bahwa selama kita berpikir positif, apa yang kita anggap sebagai beban (pikiran) nggak akan seberat yang kita pikirkan kok.. Gampang ngomongnya ya? :D . Ya setidaknya itulah yang saya rasakan & sejauh ini sih it works.. Jadi, monggo dibaca, dihayati, diresapi & diamalkan.. Halah, apa sih? :mrgreen:

 

*****

 

Hari ini saya dikejutkan oleh sebuah berita bahagia dari salah seorang sahabat yang setelah berkali-kali gagal dalam urusan percintaan akhirnya beberapa hari lagi akan segera melangsungkan pernikahannya. Terharu. Untuk pertama kalinya saya merasakan perasaan seemosional ini ketika mendengar seorang sahabat yang berniat mengakhiri masa lajang. Istimewa, karena beliau akhirnya menemukan jodohnya di usia hampir  kepala lima. Dia adalah seorang sahabat terbaik yang pernah saya punya. Sahabat yang sering mempercayakan kisah cintanya pada saya, baik suka,  duka, jatuh cinta atau lagi patah hati.

Uniknya kami belum pernah sekalipun bertemu. Pertemanan kami yang hampir berjalan 4 tahun ini berjalan apa adanya sebagaimana kisah persahabatan via dunia maya. Samasekali tidak melibatkan perasaan lho. Karena memang kami masing-masing lebih nyaman dengan status persahabatan kami. Usianya yang terpaut jauh dari saya membuat saya juga nyaman bercerita tentang apa saja padanya, begitu juga sebaliknya. Meskipun saat saya menikah dia tidak bisa hadir lantaran kesibukannya yangs aat itu sebagai seorang manager IT di sebuah perusahaan terkemuka, namun saya yakinwaktu itu  doanya hadir untuk saya.

Bukan hanya sekali dua kali dia mempercayakan kisah kegagalannya pada saya. Kalau dibilang bosan ya mungkin sayalah orangnya, hehehe.. Tapi sebagai seorang sahabat, berusaha untuk all ears & all heart untuknya. Memang saya tidak selalu memberikan solusi yang terbaik, tapi berusaha untuk memberikan saran & mengembalikan kembali pada beliau untuk semua keputusan akhirnya.

Ah, masalah cinta & pasangan hidup memang selalu menjadi tema yang tak akan pernah habis untuk dibahas ya. Selalu saja ada energi untuk menuliskannya dalam berbagai versi & bahasa. Kita diciptakan berpasang-pasangan namun kita tak pernah tahu kapan & dimana kita akan bertemu dengan pasangan hidup kita.

Kita, para perempuan pasti semasa kecil punya dong gambaran tentang sosok ideal seorang pasangan hidup. Pengen punya yang type-nya begini, begini, begini. Pengen yang sifatnya bla, bla, bla, bla. Secara fisik begini, dan lain sebagainya. Ya namanya pengen punya pasangan hidup yang sempurna wajar tho? Nikah kan niatnya juga cuma sekali seumur hidup, dan kalau bisa dapat yang sempurna sekalian. Begitu kan?

Saya punya banyak sahabat perempuan yang punya almost perfect life, semua dia punya : pribadi yang hangat & menyenangkan, karir yang bagus, gaji dalam digit rupiah diatas enam digit, keluarga yang supporting penuh, sahabat yang seabreg-abreg. Tapi hanya satu yang dia belum punya : pria yang tepat sebagai pasangan hidup. Mungkin bisa disimplifikasi lagi sebagai pria single, tidak sedang terikat hubungan & pernikahan dengan siapapun alias bukan suami/pacar orang, mapan (setidaknya dia punya pekerjaan sehingga mampu menafkahi keluarga kelak, walaupun istri juga sebagai wanita karir), punya kepribadian yang baik. Soal wajah mungkin bisa nomor sekianlah, ya misal Tuhan kasih yang seganteng Brad Pitt sih disyukuri (banget) .

Siapa sih yang tidak ingin menemukan pasangan hidupnya sesegera mungkin? Kalau ada yang bilang “enggak” mungkin dalam artian “pending” bukan “nggak mau”. Nah, masalahnya kan jodoh itu ngga bisa dibeli layaknya kita pengen beli tomat di pasar, ngga bisa asal comot sesuka hati mana yang kelihatan mateng trus kita beli & bawa pulang, kita makan atau bikin jus. Hidup juga bukan jalan tol yang bebas hambatan yang mulus, lancar sampai ke tujuan. Demikian juga sebuah perjalanan dalam menemukan (saya pinjam istilah Cinderella) “prince charming”. Kita tidak pernah mengira “path” apa yang sedang kita jalani dalam proses menemukan pasangan hidup itu. Untuk urusan jodoh masih jadi misteri terbesar Tuhan yang tidak pernah bisa di tebak kapan datangnya layaknya hidup & matinya manusia.

Ada yang sudah ngoyo banget, tapi jodoh yang diharapkan belum datang-datang juga padahal usia juga sudah “pantes” berkeluarga. Tapi ada juga yang nggak dicari eh malah datang sendiri. Ya, itulah uniknya jodoh.

Kalau bicara masalah usia, sebuah pernikahan bukanlah sebuah hal yang dilakukan karena emosi, sekedar pantes-pantesan, atau karena tuntutan usia. Menikah , selain masalah hati, kesiapan mental, juga masalah waktu. Seberapa ngoyonya kita kalau Yang Diatas belum “say yes” ya nggak bakal ketemu. Tapi kalau Tuhan sudah bilang, “My Dear, this is the right time for you to marry with the man you deserve to live with..”.. Voilla.. segala rencana akan dimuluskan oleh-Nya. Seperti halnya sahabat saya tercinta yang menemukan jodohnya di hampir usia kepala lima. It’s no big deal, right?

Saya juga punya sahabat yang sudah pacaran hampir 7 – 8 tahun, sudah berniat akan melanjutkan hubungan serius mereka ke jenjang pelaminan. Lha kok ndilalah menjelang rencana lamaran salah satu diantara mereka justru memutuskan pertunangan & memilih untuk menikah dengan orang lain. Ada juga kisah seorang sahabat yang sudah menanti pasangan hidup sedemikian lama, namun ketika kemudian hari diketemukan dengan “prince charming” yang ternyata tak lebih baik dari Ja’far ( tokoh penasehat sekaligus penyihir jahat di film Aladdin). No, no, saya bukan bermaksud menakuti atau bikin paranoid terhadap pernikahan ya.. (jadi inget sama Manohara kalau begini).

Saya juga tahu kok bagaimana rasanya & betapa BT-nya dihujani “terror” pertanyaan “kapan menikah?”, “eh, mbak Devi udah punya calon kan?”, “aduh gedenya udah semanten nih, kapan nikah Jeng?”. Hoalaaah..  Capek ya? Ya bagaimana lagi, itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita memang hidup diantara “kultur” masyarakat yang terlalu peduli dengan urusan pribadi orang lain (maafkan saya ya para tetangga, sodara-sodara yang pernah tanya hal itu beberapa tahun yang lalu sama saya). Tapi okelah kita ambil posistifnya saja ya, because they do care about us. Ya siapa tahu mereka tanya ini itu hanya untuk memastikan kapan kita menikah selain itu mereka mau jadi wedding organizernya, penyandang dana, atau penyedia katering. Who knows?  :-)

Buat yang belum bertemu dengan pasangan hidupnya, someday, somehow, somewhere, you’ll find your Prince Charming soon. Banyak orang yang sudah pada nikah aja belum tentu happy (even they pretend to be happy),  so as long as you are happy with your life,  surrounded by fun-loving friends, you’ll be just fine. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, masalah usia, atau jabatan yang sudah kalian miliki, sehingga nantinya justru malah akan membuat kalian, para perempuan membuat pilihan yang salah. Juga jangan pernah memutuskan menikah karena orang lain sudah menikah lebih dulu daripada kalian. Menikah bukan masalah kalah atau menang antara teman, siapa yang menikah duluan, atau siapa yang bisa dapet jodoh duluan. Nikmati saja semua alur proses pencarian itu, tidak ada salahnya kok untuk berhati-hati. Kan kita juga pengennya hanya menikah sekali untuk seumur hidup ya. Boleh kok agak keluar sedikit dari lingkungan yang ada, siapa tahu “si dia” itu justru nyempil di tempat-tempat yang tidak pernah kita duga sekalipun.

Ah, jadi ingat pesan moral yang saya dapatkan ketika melihat film He’s Just Not That Into You. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”. Tapi semua kembali ke hati & pikiran. Happiness is entirely a state of mind. Ada banyak hal yang bisa kita share dengan orang lain, yang justru akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri untuk kita.

Oh ya, pernah dengar kisah Margareth Maxwell istri John C Maxwell seorang pembicara & pakar kepemimpinan yang memberikan statement bahwa suaminya tidak pernah memberikan kebahagiaan yang dia cari? Kaget dong, seorang pakar, pembicara, yang sering “menguliahi” orang tentang hidup, kebahagiaan, kepribadian & kepemimpinan ternyata dia tidak cukup expert untuk memberikan kebahagiaan kepada istrinya sendiri. Namun apa jawaban sebenarnya dari Margareth Maxwell ini?

“tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri”.

Artinya apa?  Tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia. Baik itu pasangan hidup kita, sahabat kita, hobi maupun harta/uang kita. Semua itu tidak bisa membuat kita bahagia secara hakiki. Karena sumber kebahagiaan yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Kalau kita sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kita tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidup bukan hanya ditentukan oleh seberapa kaya kita, seberapa cantik/tampan pasangan kita, atau sesukses apa hidup kita. Ini masalah pilihan : apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak. Itulah yang saya maksud dari Happiness is entirely a state of mind.

Jangan pernah berpikir ada kata terlambat untuk menikah. Kalau memang harus menunggu sedikit lebih lama, ya kenapa tidak? Toh semua itu untuk sesuatu yang sangat precious to have. Sampai nanti saat itu tiba, datangnya seseorang yang akan menjadi partner seumur hidup kita, seseorang yang tentunya tidak pernah menjadi sebab penyesalan kita karena telah salah memilih. Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya kok ..  :)

 

The beauty of life doesn’t depend on how happy I am…but on how happy others can be, because of me..

 

 

 

Jakarta, 12 Oktober 2009, 13.30 wib

Devi Eriana Safira

 

 

Email Untuk Seorang News Anchor

•November 25, 2009 • 21 Comments

Sejak beberapa bulan yang lalu saya unya hobi baru yang unik, yaitu “ngasih masukan”. Eh biasa aja ya? Sebenernya bukan hobby ya, kesannya kalau hobby kok sesuatu yang dikerjakan dengan suka cita & kontinyu. Ini kegiatan yang ngasal & seseneng-senengnya saya aja. Kalau lagi mood ngasih masukan ya ngasih kalau enggak ya bakal saya biarin sampai busuk.. halah, apa sih? :lol:

Saya ngerti sih kalau saya juga belum tentu bener, masih sering bikin salah, malah seringnya ngawur tapi kenapa berani-beraninya ngritik orang? Kapan hari dengan 3 orang penulis novel. Syukurlah semua tanggapannya positif. Bahkan ada yang sampai bela-belain nyamperin ke kantor saya buat nganterin edisi revisi novelnya. Nggak tahu ya kalau soal yang ini saya suka spontan aja & nggak tanggung-tanggung. Karena menurut saya itu salah satu bentuk perhatian saya sama seseorang.

Nah kalau sebelum-sebelumnya saya pernah ngasih masukan atau kritik sama beberapa penulis yang bukunya saya baca, sekarang sama news anchor alias pembaca berita. Belagu ya? :D . Kalau yang kemarin-kemarin lebih ke kenapa begini, kenapa begitu. Kenapa nggak sebaiknya begini atau begitu. Nah kalau sama mas yang satu ini saya masih maju mundur. Takut kalau dia nggak menerima masukan saya, atau bahkan nantinya malah saya yang dicap sok tahu.

Sebelum ngantor salah satu kebiasaan pagi saya pasti liat berita di salah satu stasiun televisi.. soalnya nggak mungkin di stasiun kereta api *dilempar ember isi pel-pelan*. Nah sejak pergantian news anchor favorit saya menjadi ke yang “belum” jadi favorit saya pasti membuat zona nyaman saya sedikit terganggu. Wong biasanya ngeliat mas X kok sekarang ganti mas Y. Nggak asik ah gaya siarannya (Ini liat beritanya apa orangnya sih?). Iya saya tahu nggak fair sih memang, kesannya jadi membandingkan, lagian namanya orang kan punya style masing-masing. Nggak bisa disamain. Ya sudahlah saya terima. Tapi nggak tahu kenapa kok hati ini rasanya gemes banget sama mas Y ini ya, kalau siaran kok ngomongnya balapan melulu sama partner siarannya. Kaya mendominasi gitu & itu nggak cuma sekali dua kali dia kaya begitu, hampir tiap hari. ” Duuh, nih orang udah ada yang ngebilangin belum sih kalau gaya siarannya itu bikin gemes karena memotong percakapan melulu? Emangnya dia itu baca beritanya sendirian apa?”, pikir saya geregetan.

Akhirnya begitu sampai kantor, bukan langsung buka aplikasi kerja tapi buka.. facebook :D . Saya cari namanya.. ketemu, saya add, tentu saja dengan membubuhkan kata-kata mesra yang bikin dia langsung accept invitation saya :D . Halah, maksudnya kata-kata yang begini lho.. ” Halo mas Y, saya add yah..Makasiiih :) “. Ealah, standar ya? Tapi jangan salah nggak berapa lama saya langsung diapprove lhoo.. Ciih, gitu aja bangga :D . Tindakan selanjutnya, kasih dia message. Bilang makasih udah di approve dululah, baru selanjutnya melancarkan serangan saya.. eh mulai lebayatun.

Intinya saya minta maaf kalau nanti isi message saya bikin hati kurang berkenan, karena berisi kritikan. Nyadar dong, wong nggak ada orang didunia ini yang dengan sukarela mau menerima kritikan, apalagi yang bikin kuping merah. Dengan segenap kehati-hatian saya ungkapkan preambule uneg-uneg saya. Dia bilang nggak apa-apa selama itu buat kemajuan dia & acara yang dibawakannya.

Merasa dapet lampu ijo, langsung saya sampaikan apa yang saya lihat plus kegemesan saya tiap kali ngeliat dia siaran. Tapi tentu dengan tidak membandingkan dia dengan anchor sebelumnya, nggak etislah. Sambil deg-degan saya tunggu responnya. Duh, bakal marah apa makasih nih balasan emailnya ya? Sejam kemudian email saya baru ada respon. Hasilnya adalah.. Pffiuh sangat welcome. Dia bilang makasih udah nyampein semua itu ke dia. Selama ini ternyata belum ada orang yang bilang semua itu sama dia. Kalau selama ini dia terkesan mendominasi atau sering memotong percakapan partner itu secara nggak sadar (pingsan dong mas?). Berkali-kali dia menyampaikan terimakasih buat masukan saya & akan segera memperbaikinya. Saya sih seneng-seneng aja, dengan harapan nantinya nggak sekedar masukan tapi diperhatikan beneran.

Sehari, dua hari saya kok malah nggak ketemu sama mas itu di siaran paginya dia ya? Walah kemana ini? Pikir saya. Jangan-jangan dia “mutung” gara-gara habis saya kritik kemarin. Ah tapi enggak ah.. wong dianya welcome kok. Siapa tahu memang ini bukan jadwal siarannya dia. Coba besok pagi aja deh.. Hibur saya dalam hati..

Besoknya.. Taraaa.. dia siaran bersama si mbak partner  tetapnya itu. Deg-degan menantikan setiap kali pemotongan  kata atau kalimat spontan bersama sang partner.. Hasilnya? Wow, saya nggak nyangka kalau saran saya bener-bener diperhatikan. Dia sekarang jadi lebih tertata bicaranya. Kalaupun dia nggak sengaja memotong percakapan langsung mengalah & memberikan waktu buat partnernya untuk bicara duluan. Nggak ada istilah balapan ngomong lagi. Sangat tertib & tektok sama partnernya. Duh, terharu saya. Nggak nyangka kalau ternyata saran saya itu beneran dipraktekkan, didenger & dimasukin ke hati, nggak cuman “inggih-inggih mboten kepanggih” alias ngiyain doang nggak dilakukan.

Terlepas dari apakah reply email saya kemarin cuma buat nyenengin saya aja atau memang dari dalam hati Anda, buat mas anchor news yang udah terima email saya beberapa waktu yang lalu, makasih udah mau berubah jadi jauh lebih OK ..
Good job, Bro ! ;)

gambar dipinjam dari sini

JFW 09/10 : Mango & Bebe @Fashion Bay

•November 21, 2009 • Leave a Comment

Beberapa hari yang lalu Pasific Place disibukkan oleh segenap aktivitas Jakarta Fashion Week, ditandai dengan banyaknya panitia yang bersliweran dengan ID card yang tergantung di leher masing-masing, para fotografer profesional & wartawan dengan DSLR masing-masing, para perancang mode & model-model dengan high heels & tampilan yang sangat memukau, plus para undangan yang tak kalah stylish & fashionable-nya. Tak heran karena ajang ini bukan sekedar ajang fashion, tapi ajang bergengsi yang hanya bisa kita lihat setahun sekali. Tampil “heboh” setahun sekali nggak apa-apa kan? ;) . Sudah pasti dari ajang bergengsi macam Jakarta Fashion Week inilah akan menjadi wadah bagi lahirnya bibit-bibit baru yang berkualitas di dunia fashion.

Perhelatan akbar Jakarta Fashion Week 09/10 akhirnya usai digelar. Terlihat dari sudah mulai sepinya mall terbesar itu, tak seramai beberapa hari yang lalu. Media centre juga sudah sepi walau masih ada beberapa yang masih standby. Stand, runway & panggung promenade-pun sudah mulai dibereskan. Tirai-tirai hitam yang jadi sekat sementara penanda ruangan pagelaranpun sudah mulai dibereskan. Tinggal satu atau dua ruangan bertirai yang masih bertahan, karena memang masih ada event launching majalah Grazia.

Oh ya ngomong-ngomong tentang majalah Grazia, ini salah satu majalah franchise terbaru keluaran Femina Group. Majalah bulanan tentang kecantikan, selebriti, gaya, tips & trik fashion, intinya masih majalah tentang wanita. Majalah aslinya, di Italia sana, menjadi majalah nomor 1 di Italia. Kalau edisi internasionalnya sudah ada di Autralia, Bulgaria, China, India, Inggris, Kroasia, Perancis, Rusia, Thailand, Timur Tengah, Yunani, dan sekarang.. Indonesia. So get them! ;)

Acara Jakarta Fashion Week ditutup oleh salah satunya fashion bay by Mango & Bebe di runway sepanjang 200 meter. Di lintasan yang bisa dilihat secara bebas oleh para pengunjung ini menampilkan model-model yang menampilkan casual outwear yang ringan namun tetap chic, anggun & glamour. Beberapa koleksi yang ditampilkan malam itu menampilkan gabungan lengkap mulai dari tampilan tshirt, jaket, short, tube dress, baju pesta, sampai dengan yang berbahan wool.

Sedangkan Bebe menampilkan koleksi warna-warna kuat yang bertemakan gothic, macam hitam, merah marun, coklat. Koleksi yang ditampilkan diantaranya jaket & dress. Intinya desain yang ditampilkan disini masih “make sense”, nggak yang terlalu heboh “gimana” gitu, masih bisa dipakai buat daily wear kok :D . Beda kan kalau baju-baju yang buat pagelaran fashion yang kebanyakan jarang bisa kita pakai buat sehari-hari. Intinya Bebe disini pengen bilang kalau “walaupun bukan mass product namun bisa dijangkau oleh konsumen”. Mewah nggak selalu harus mahal kan? Bebe & Mango boleh dikatakan produk yang masih affordable kok :)

So, dengan berakhirnya seluruh rangkaian acara Jakarta Fashion Week 09/10 ini, sampai jumpa lagi di Jakarta Fashion Week 10/11 tahun depan ya.. Buat seluruh panitia acara ini yang sudah bekerja keras, membuat acara tahunan ini sempurna, you did a great job. You Rock! ;)

JFW 09/10 : CLEO’s Fashion Award

•November 19, 2009 • 4 Comments

Malam itu saya sudah standby di lokasi acara CLEO Fashion Award yang seharusnya sudah mulai pukul 19.00 wib tapi baru dimulai sekitar pukul 20.00 wib. Setelah menuntaskan rasa lapar sayapun kembali ke lokasi.. eh yang ini kayanya nggak begitu penting ya? :D . Di lokasi sudah terlihat Thomas Djorghi, Soraya Larasati yang malam itu tampil cantik banget dengan tube dress warna fuschia & tosca bersebelahan dengan make up artist Gusnaldi, serat ada beberapa “petinggi” dunia fashion disana.

Sementara panitia sibuk hilir mudik melakukan koordinasi disana-sini. Para undanganpun satu persatu mulai berdatangan. kebanyakan menggunakan busana warna hitam. Entah karena memang kompak, malam hari, atau memang ada dress code-nya. Beberapa diantaranya menggunakan tema serupa, gaun hitam dengan potongan backless, atau mini dress dengan stiletto dengan hak diatas 12 centimeter.

Hentakan musik yang dinamis mengiringi langkah para model yang melenggang anggun diatas catwalk membawakan rancangan pembuka by Najib & Geulis. Bajunya lucu-lucu. Setelah Najib & Geulis tampil selanjutnya adalah pengumuman pemenang CLEO’s Choice Award. Beberapa pemenangnya adalah   :

* The Most Favorite Denim :
- Readers Choice Award : Mango
- CLEO Choice Award : ZARA

* The Best Denim Store  :
- Readers Choice Award : Levi’s
- CLEO Choice Award : Levi’s

* The Best Shoe Store  :
- Readers Choice Award : VNC
- CLEO Choice Award : Pedder Red

* The Most Wanted Bag  :
- Readers Choice Award : GUESS
- CLEO Choice Award : Longchamp

* The Sexiest Underwear  :
- Readers Choice Award : La Senza
- CLEO Choice Award : La Senza

* The Best Store for Stylish Basic
- Readers Choice Award : Giordano
- CLEO Choice Award : Mphosis

* The Most Fashionable Watch
- Readers Choice Award : Swatch
- CLEO Choice Award : DKNY

* The Most Stunning Cocktail Dress
- Readers Choice Award : Body & Soul
- CLEO Choice Award : Miss Selfridge

* The Best Store for Sunglasses
- Readers Choice Award : Optik Melawai
- CLEO Choice Award : Optik SEIS

* The Most Stylish Accessories & Jewelries
- Readers Choice Award : Forever 21
- CLEO Choice Award : Forever 21

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan SOUL ID yang malam itu tampil memukau membawakan dua buah lagu Miss Etalase & Wanita Ingin Dicinta. Lagu yang “fashion” banget karena ada menyebut beberapa brand macam Manolo Blahnik & Jimmy Choo.. :)

 

Berikutnya acara dilanjutkan oleh penampilan Petite Cupcake yang lebih ke daily wear, rancangan yang temanya ringan & dinamis.

Tak kalah asyiknya melihat rancangan Danjyo & Hiyoji yang menyajikan rancangan pop culture. Heboh banget di sisi panggung sebelah kanan ketika Danjyo & Hiyoji mulai menampilkan model-modelnya berlenggak-lenggok diatas catwalk. Kurang tahu kenapa mereka heboh banget.

Tapi emang seru sih, unik.. Sayangnya saya nggak sampai selesai ikut seluruh acaranya, karena kondisi tubuh memang sedang drop. Ini ngeliput juga dalam keadaan demam tinggi, hiks :(

Lah, kok malah curhat.. :lol:

JFW 0910 : Poppy Dharsono – Recapturing Banyumas

•November 18, 2009 • Leave a Comment

Poppy Dharsono, salah satu desainer senior yang dalam ajang Jakarta Fashion Week tahun lalu mengangkat tema motif kain tenun ikat dari daerah Jepara dengan tema Passion of Kartini, kali ini menampilkan beberapa rancangan yang masih berasal dari Jawa yaitu bertema Recapturing Banyumas yang berusaha memadupadankan dengan batik Banyumas yang motif, warna & tehnik pengerjaannya dikenal unik.

Selama hampir kurang lebih 32 tahun berkarir secara konsisten & selalu identik dengan perpaduan unsur maskulin dan feminin, kali ini Poppy kembali mengusung perpaduan siluet tegas, namun anggun & feminin. Seperti yang tertuang dalam rancangannya yang disajikan dalam Jakarta Fashion Week kali ini. Ada diantaranya model jas/jaket/blazer yang dipadu-padankan dengan dress/blouse dari bahan chifon yang lembut, anggun sekaligus feminin. Dia berani menggabungkan material halus & keras sekaligus menjadi balutan yang mewah dan kaya gaya.

Tetap membawa materi lokal namun tidak terkesan lokal yang “biasa” saja. Namun menggubahnya menjadi sesuatu yang feminin, unik, & elegan. Tak heran rasanya jika karena kekonsistensian & kemampuannya itulah yang tetap menjadikan Poppy Dharsono sebagai salah satu desainer senior favorit saya.

Good Job, Bu!  ;)

 

gaambar dari sini

 

JFW 09/10 : Anne Avantie – Kasmaran

•November 18, 2009 • Leave a Comment

 

Sebagai pecinta kebaya, kehadiran Anne Avantie ibarat angin segar bagi dunia fashion Indonesia. kehadirannya mampu mengubah kiblat fashion kebaya semua wanita di Indonesia, tak terkecuali  saya. Awalnya Eduard Hutabarat yang sengaja ingin membuat wanita tampil lebih gaya, anggun, glamour, & tetap bisa tampil seksi  dengan kebaya. Sekarang sudah banyak perancang kebaya yang memutakhirkan rancangannya menjadi kebaya yang sophisticated, elegan, & prestige. Salah satunya adalah desainer kenamaan, Anne Avantie.

Saya yang dulu awalnya hanya mengkhususkan kebaya untuk acara wisuda, atau sebatas seragam panitia acara pernikahan yang itupun bermodel kebaya encim. Kini saya harus mengubah model kebaya jadul saya pada Anne Avantie.  Jelas, karena kreatifitasnya dalam mengolah mode sehinggaa membuat kebaya tidak lagi menjadi busana yang ketinggalan jaman, namun menjadi sebuah must have item yang wajib dimiliki oleh  semua wanita Indonesia. Bangga dengan berkebaya. Oh ya, salah satu kebaya pernikahan saya juga by Anne Avantie lho.. Eh, boleh bangga ya saya? ;)

Dalam ajang Jakarta Fashion Week 09/10 kali ini Anne Avantie mengusung tema Kasmaran. Beberapa karya yang ditampilkannya kali ini bernuansa batik dari jawa Tengah & menggubahnya menjadi sajian mahakarya luar biasa. Kenapa mengambil tema ini, karena dia ingin memadukan atau “mengawinkan” beberapa karakter batik yang kuat dari Yogya, Lasem, Solo, Semarang & Pekalongan dalam satu nuansa kebaya.

Seperti halnya kebaya-kebaya khas Anne Avantie yang selalu bermain-main dengan bahan lace, brokat, tulle, bordir, plus dengan printed organdi kali inipun dia masih kental mempertahankan kekhasan desainnya yang sophisticated, glamour, anggun dengan memadukan batik sebagai penguat kebaya kontemporernya ini. Untuk semakin memperkuat atmosfir Jawa Tengah dia juga menambahkan aksesoris sumping pada model-model yang membawakan rancangannya. Jjadi inget pas jaman masih aktif nari Jawa nih, suka banget kalau pakai sumping :D –> asli, komen nggak penting :lol: ..

Jatuh cinta? Pasti.. Kalau sudah pakai kebayanya Anne Avantie siapa yang tidak bangga menjadi wanita Indonesia? ;) .

* duh, jadi inget sama kain kebaya yang nongkrong kelamaan di lemari nggak saya jahit-jahitkan itu..

 

sumber gambar dari sini & Teh Rina

 

Diatas Langit Masih Ada Langit ..

•November 17, 2009 • 10 Comments

Yang namanya manusia pasti nggak luput dari yang namanya sombong. Sudah manusiawi itu. Ketika sedikit saja merasa dirinya lebih baik dari yang lain pasti bibit-bibit kesombongan mulai muncul di hati masing-masing. Eh, saya lagi nggak ngomongin siapa-siapa kok, lagi ngomongin diri sendiri :D . Lagi pengen kontemplasi aja seperti biasa. Perenungan yang saya dapat dari hal-hal yang seringkali luput dari mata kita.

Jadi, ceritanya ada seorang ibu yang ketemu sama saya di lobby waktu ngurus kelengkapan & pemberkasan cpns. Dengan begitu bangganya dia menceritakan seluruh prestasi & kehebatan si anak. Yah, saya pikir wajarlah. Karena ketika seorang anak berprestasi pasti nama baik orangtua akan ikut terangkat. Karena itu juga akan menunjukkan bagaimana perjuangan orangtua mendidik & menjadikan anaknya sukses. Walaupun itu juga sebagian besar karena kerja keras anaknya sendiri, karena ketika berjuang, orangtua hanya mendukung, mendoakan, mensupport dari belakang sementara sang anak berjuang sepenuh tenaga mencapai apa yang dicita-citakan.

Saya sendiri ketika mencita-citakan sesuatu selalu berusaha melihat kemampuan saya sendiri. Karena hanya saya yang mampu mengukur kapasitas & kemampuan saya sampai mana. Nggak kan ngoyo kalau saya merasa nggak mampu. Orangtua pun sifatnya hanya mendukung untuk apapun yang saya cita-citakan, apapun yang saya lakukan selama itu baik & bermanfaat buat saya kedepannya. Tutwuri handayani, gitulah :D .

Kemarin, ibu yang saya temui di lobby itu bercerita dengan semangat ‘45 tentang anaknya yang asisten dosen, yang lulus dengan IPK cumlaude, yang pas cpns selalu melampaui test interview. Intinya aanaknya itu pinteer & dia sangat bangga sama anaknya. Iyalah, wajar. Sayapun kalau jadi dia mungkin juga sama rasa bangganya sama anak saya. Tapi mendadak ilfil ketika dia mulai meremehkan, mengecilkan orang lain seolah hanya anaknyalah yang paling hebat diantara semuanya. Saya yang waktu itu ditanya IPK-nya berapa & lulusan mana harus menelan hampir seluruh kesabaran saya ketika  jawaban-jawaban saya berujung pada nada yang seolah bilang.. ” it’s ok. But sorry, you loose, darling”. Tahu gitu saya nggak usah jawab kali ya :) .

Seperti misal tentang IPK, responnya bikin males banget, ” Oh, anak saya IPK-nya lebih tinggi dari mbak, 3.8. Kalau mbak berarti nggak nyampe 3.8 dong ya..”. Bu, kalau IPK saya nggak nyampe 3.8 ya berarti lebih rendah dari anak ibu. Paham kok, nggak perlu dipertegas lagi..

Atau pas nanya lulusan mana, ” Oh, lulusan Unibraw.. anak saya Unpad lho..”. Hmm, masalahnya dimana ya? Toh sama-sama negeri kan?

Atau pas nanya saya sekarang kerja dimana, ” Oh di Telkomsel.. Kalau anak saya udah asisten dosen.. sebenernya dia udah ditawarin kerja ikatan dinas di Unpad tapi dianya nggak mau..dengan alasan.. bla..bla..bla..”. Nih ya bu, saya mah yang penting alhamdulillah udah kerja, dapet gaji, and I love my boss.. eh my job.. Rejeki orang kan beda-beda. Emang kalau jadi asisten dosen itu gengsinya lebih tinggi gitu ya?

Baru agak kesekaknya disini  : ” anak saya itu udah nyoba cpns kemana-mana & alhamdulillah semuanya melampaui tahap interview, mulai departemen ini, departemen itu, depdagri, deplu, dll.. kalau tes tulis sih selalu lulus semua deh.. Sampai bingung mau konsen ke yang mana. Ini aja pas lolos disini ya udah saya suruh konsen kesini aja. Kalau mbaknya udah nyoba berapa kali & berapa yang lolos?”. Kali ini suami saya yang jawab, ” alhamdulillah cuma sekali doang & langsung lolos bu..”. Aduh, sebenernya saya pengen ngikik-ngikik denger jawaban suami. Maafkan suami saya ya bu.. harusnya saya jawab ” saya udah nyoba berkali-kali nyoba test cpns & hanya ini yang lolos.. ” :lol:

Saya sih paham betul, mungkin beliau overexcited dengan kepandaian & keberhasilan anaknya. Ya iyalah wajar, anak perempuan, masih muda, pinter, sekarang diterima di instansi yang sama kaya saya. Wajib bangga. Tapi kebanggaan itu akhirnya membawa dia jadi sedikit pongah, mengecilkan arti & keberadaan orang lain. Makanya tadi saya sms mama buat sekedar ngingetin kalau emang mama/papa ditanya sama orang tentang kami (saya & adik-adik saya), berceritalah sewajarnya. Jangan over excited, jangan sampai mengecilkan orang lain, ikutlah berbangga ketika orang lain juga bercerita tentang kelebihan anak-anaknya. Intinya jangan berlebihan. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain yang dengar cerita kita juga sama excited responnya seperti saat kita saat menceritakannya. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain juga sama tertariknya mendengar cerita kita. Karena tak jarang maksud mereka hanya sekedar ingin berbasa-basi :)

Jadi keywordnya adalah.., jangan lebay, diatas langit masih ada langit. Itulah perenungan bagus saya dapat hari ini.  :D

 

 

JFW 09/10 : Menuju Terwujudnya Pusat Mode Asia

•November 16, 2009 • 2 Comments

 

Perhatian seluruh pengamat & pelaku industri mode sedang teralih pada perhelatan akbar Jakarta Fashion Week yang digelar sejak tanggal 14 – 20 November 2009 di Pacific Place Jakarta. Ya, salah satu acara tahunan akbar yang diadakan oleh majalah Femina yang berkolaborasi dengan Pemerintah DKI Jakarta, stakeholder & media menawarkan sebuah suguhan fashion kelas internasional yang lahir dari tangan desainer lokal kita. Bangga? Pastinya.. ;)

Seperti yang dikatakan oleh Taruna Kusmayadi (Ketua Umum APPMI) di dalam Press Conference pembukaan Jakarta Fashion Week  kemarin :

 ”Jakarta Fashion Week 09/10 ini merupakan langkah awal dalam mewujudkan mimpi desainer dan buyer Indonesia. Sekaligus  juga membantu industri fashion lokal” .

Nah pastinya ini adalah sebuah langkah positif untuk makin mengembangkan industri fashion tanah air kita agar makin dikenal di dunia fashion internasional. Dalam pekan mode inilah juga diharapkan akan menjadi sebuah “giant media” yang akan mempertemukan banyak pihak. Karena idealnya, sebuah fashion week akan menjadi sebuah media bisnis jika didalamnya juga dilengkapi dengan trade show, sebuah section khusus yang menjadi tempat bagi desainer dan pelaku mode untuk menjual koleksinya langsung kepada penikmat mode dan buyer.

Tahun ini Jakarta Fashion Week dimeriahkan oleh 60 fashion desainer kenamaan Indonesia yang tergabung di dalam APPMI (Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia), IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia), dan juga beberapa desainer independen. Bayangkan, betapa serunya jika seluruh pelaku fashion tumplek blek di ajang tahunan ini. Akan ada berapa item yang akan jadi trend di tahun 2010 nantinya? Ah,s eru sekali pastilah.. :D

Para dedengkot fashion yang juga memeriahkan ajang Jakarta Fashion Week ini diantaranya adalah Ghea Panggabean, Barli, Carmanita, Anne Anaatie, Poppy Dharsono, Stephanus Hamy, Taruna Kusmayadi, Ivan Gunawan, Oscar Lawalata, Deden Siswanto, Oka Diputra, Sebastian Gunawan dan Priyo Oktaviano, yang kesemuanya akan hadir menyemarakkan ajang Jakarta Fashion Week ini.

Seperti halnya ajang yang sudah lebih dulu ada yaitu Lomba Perancang Mode Indonesia yang sudah melahirkan beberapa perancang kenamaan : Carmanita, Itang Yunasz, Anne Rufaidah, Samuel Wattimena, Tuty Cholid, Chossy Latu, Denny Wirawan, Edward Hutabarat, Musa Widyatmodjo, Widhi Budimulia, Sally Koeswanto, ajang Jakarta Fashion Week pun sudah siap menjadi wadah positif bagi lahirnya calon perancang muda berbakat yang selanjutnya akan bekerjasama memajukan dunia fashion Indonesia lewat karya-karya mereka. Jadi inget sama obsesi saya beberapa tahun lalu untuk mengikuti ajang ini.. tapi.. ah sudahlah.. *mulai lebay* :D

Diharapkan dari ajang Jakarta Fashion Week 09/10 inilah akan menjadi gerbang terwujudnya Indonesia sebagai pusat mode Asia. Amien..

I hope so. Yes, we do hope so..  :)

 

Penumpang Yang Ribet..

•November 16, 2009 • 10 Comments

 

Minggu pagi itu cuaca Jakarta sangat cerah. Sayapun bersiap-siap menuju ke bandara Soekarno Hatta untuk selanjutnya menuju Surabaya guna mengurus printhilan-printhilan buat legalisir & pemberkasan. Penerbangan dengan menggunakan Lion Air pukul 08.20 wib.

Ruang tunggu penuh sesak. Beberapa kali panggilan ditujukan untuk penumpang tujuan Makassar yang mungkin masih ada yang tertinggal entah di lobby, masih check in, atau dalam perjalanan menuju gate tempat pemberangkatan. Entahlah, yang jelas tujuan Makassar pagi itu nggak berangkat-berangkat gara-gara mungkin ada penumpang yang keselip.

Saya dengan tas ransel isi berkas-berkas & sepotong baju plus beberapa buku kumpulan soal CPNS buat adik saya :D (dia critanya juga pengen nyobain gitulah) melenggang ke pesawat setelah tak lama setelah panggilan ke Makassar itu berubah panggilan untuk tujuan Surabaya. Seat saya agak belakang, 2 seat setelah emergency exit door. tampak serombongan ibu-ibu yang tadi sempat saya lihat heboh foto-foto di ruang tunggu mulai berisik mencari seat masing-masing. Saya mempersilahkan seorang ibu yang seatnya persis di sebelah saya. Tak lama datanglah segerombolan ibu-ibu (pokoknya isi pesawatnya hari itu ibu-ibu semua) yang kebingungan karena seatnya kok sudah diduduki oleh ibu-ibu lain.

Seat depan saya adalah 32 A,B,C. Di seat ini ada 3 ibu-ibu rumpi yang ngecipris sejak saya naik. Inilah percakapan yang membuat saya geleng-geleng kepala..

” Lho, aku duduk dimana ini? kok 32 B udah ada orangnya? ” , tanya seorang ibu pada ibu lainnya
” Lho, aku yo iyo.. aku 32 C.. harusnya kan disini ya?”, tunjuk seorang ibu lainnya ke arah seat di depan saya.
Pramugari langsung menghampiri kerumunan ibu-ibu itu & memeriksa boarding pass-nyas atu persatu.

” Mohon maaf ibu, ibu seharusnya bukan duduk di 32 B & C, ibu duduknya di 32 D & E, sebelah sini ya..”, jelas pramugari pada 2 ibu-ibu yang tidak duduk pada seat yang sesuai dengan boarding passnya
” Mbak, kita ini temenan kok, satu rombongan.. biar enak gitu duduknya nggak pisah-pisah.. jadi satu aja mbak..”, salah satu jawaban ibu itu bikin saya ngikik dengan sukses.
” Bukan begitu bu, mohon kerjasamanya.. untuk duduk sesuai dengan boarding pas masing-masing ya..”, tegas pramugarinya terdengar agak dongkol
Halaah.. asline lho podho ae.. (aslinya sama aja), wong ya sama duduknya..”, tukas seorang ibu sambil pindah tempat duduk ke sebelahnya..

Yaelah bu, ini naik pesawat ya.. bukan naik damri yang bisa milih tempat duduk seenak sampeyan. Coba kalau sampeyan ngotot lagi, kan nggak berangkat-berangkat pesawatnya, batin saya. Belum habis rasa geli saya, muncul kegelian yang lain. Berhubung 6 orang ibu-ibu yang baru datang itu duduk persis di sebelah pintu darurat, otomatis harus diubah dong tempat duduknya. Karena yang duduk di dekat pintu darurat harus laki-laki untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu tenaga & kecekatan mereka membuka pintu darurat pada saat dibutuhkan.

” Mohon maaf ibu-ibu, sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan, maka untuk penumpang yang duduk di dekat pintu darurat semuanya harus laki-laki. Apakh ibu bersedia bertukar tempat dengan penumpang yang lain? Jika iya, akan segera saya carikan tempat penggantinya..”, jelas sang pramugari penuh keramahan.
” Wah, sudah ndak usah mbak.. enak gini, kaki saya bisa selonjoran.. ndak pegel, ndak ketekuk..”, jawab seorang ibu dengan.. yah.. menggelikan..
” Bukan masalah kaki bisa selonjor atau tidak bu, tapi ini untuk keselamatan penerbangan.. Jika ibu-ibu bersedia, akan segera saya carikan tempat duduk penggantinya..”
” Lah, tadi katanya suruh duduk sesuai boarding pass.. sekarang suruh pindah. Berarti sampeyan ndak konsisten ngomongnya mbak..”

DHAAAANG..!! *tepok jidat, jedukin ke aspal*

Dooh, mau ngomong apa & gimana ya. Bu, tau nggak, sampeyan-sampeyan itu sudah bikin pesawat ini nggak berangkat-berangkat. Aslinya berangkat jam 08.20 wib, ini udah 08.45. Udah molor, Nyah :( . Setelah mengalami eyel-eyelan yang cukup rumit & melelahkan (halah), akhirnya keenam-enamnya bersedia dipindahkan di.. bagasi.. Gaklah, di seat yang lain, pangku pilot. Enggaakkk.. di seat yang lain :D . Setelah bapak-bapak itu dibriefing singkat oleh sang pramugari, akhirnya penerbangan itupun berangkat dengan mulus.

Bagaimana dengan ibu yang disebelah saya? Hmm, asli ribet banget jadi dia. Yang ngeluarin permen, tar nggak lama, ngeluarin roti. Abis itu ngeluarin buku ngaji. Benerin jilbab. Ngalungin tas ke leher. Dilepas lagi, tasnya dipangku. Ngeluarin obat batuk, nggak jadi diminum. Masukin buku ngaji di saku tas belakang. Resleting tasnya nggak bisa nutup, buka lagi, keluarin lagi bukunya. Ditekuk jadi 2, tetep nggak bisa masuk. Masukin tas plastik. Diem sebentar, ngeluarin permen, nawarin ke tetangga kiri-kanan, nggak ada yang mau, masukin tas. Batuk-batuk, nutupin pakai syal. Buka tas lagi, ngeluarin buku & bermaksud baca-baca, baru satu halaman belum kelar udah ngobrol. Lipat lagi, masukin lagi bukunya.. dst sampe akhirnya tiba di Surabaya..

Btw, sampeyan kok nggak capek ya ribet kaya gitu? Saya lho yang dari tadi ngeliat sampeyan umek (gerak melulu) aja capek :(

Akhirnya pesawat landing juga di Surabaya tercinta. Akhirnya sayapun berpisah dengan ibu-ibu rumpi yang ajaib-ajaib itu. Ganti ribet sama adik saya yang njemput tapi lupa markir motornya dimana.. *ngelap keringet*

 

 gambar pinjam dari sini

 

 

Untuk Sebuah Status : Pegawai Negeri (III)

•November 14, 2009 • 18 Comments

Menjalani kehidupan & rutinitas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)  adalah salah satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun Papa & hampir sebagian besar keluarga saya berkarir sebagai PNS toh itu tidak membangkitkan napsu saya buat ikutan jadi PNS juga. Padahal semua bilang kalau PNS itu benefitnya bla.. bla.. bla.. Tetep aja saya nggak pengen jadi PNS. Nggak tahu ya, kayanya kok kurang “nendang” aja gitu kalau jadi PNS. . (hei, apa-apaan ini kok pakai tendang-tendangan?! ha5x). Ya begitulah, singkat kata pokoknya nggak pengen jadi PNS..

Bahkan pun ketika ada salah satu anak buah yang getol banget ikutan test CPNS sejak pertama dibuka juga menanyakan keengganan saya buat ikut seleksi CPNS  :

” mbak Devi nggak pengen ikutan seleksi CPNS? Lagi buka banyak lho..”
” iya aku tahu.. “
” trus nggak pengen ikut nyobain? “
” mmh, nggak tahu ya, kok kayanya nggak pengen aja gitu..”
” kenapa? ribet ya mbak? “
” hehehe, iya.. parno & males banget ngurusin SKCK, kartu kuning, surat kesehatan, anti narkoba.. Beuh.. nggak ada waktu aku jeng..”
” iya sih.. tapi ya kan nggak papa nyoba aja, siapa tahu masuk.. Kan lumayan mbak.. “
” iya sih.. Tapi kayanya udah ketuaan buat ikut cpns-cpnsan..”, tetep ngeles :p
” lho, emang usiamu berapa sih mbak? kan maksimal usianya 35 tahun “
” ho-oh aku tau.. meskipun usiaku baru 25 tahun & aku yakin masih bisa ikutan seleksi, tapi embuh ya.. males aja gitu..”
” mmh, gitu ya.. Lho, eh.. tadi berapa usianya? 25 tahun?! “

Nyahahahahaha.. :lol:

Sampai akhirnya, pada suatu hari (halah, kaya dongeng), pas iseng blogwalking, nemulah saya situs yang membuka lowongan & syarat-syaratnya kok kebetulan mudah ya. I mean, nggak pakai SKCK & teman-temannya itu. Jujur, males aja kalau belum-belum udah ngurus ini itu tapi belum tentu ketrima. Kok kayanya mubadzir aja gitu. Itu pikiran saya lho.. :D . Jadilah singkat cerita, saya submit berkas-berkas PNS itu lengkap dengan segala “derita” superlebay itu disini . Setelah melalui proses deg-degan tahap pertama, alhamdulillah lolos seleksi administrasi & IPK dengan cerita kaya disini . Setelah nunggu kurang lebih semingguan ternyata saya masih diberi kesempatan buat ikut test terakhir yaitu psikotest selama 2 hari di UI yang ceritanya sebagian ada disini .

Hasil akhirnya kayanya kok lama bener ya, hampir 2 minggu deg-degan & mules nggak jelas. Sampai akhirnya tibalah tanggal keramat itu, 12 November 2009 sebagai hari penentuan & bersejarah. Dari pagi sampai sore menjelang pulang herannya itu situsnya Setneg kenapa nggak diupdate-update. Entah apa karena load yang tinggi atau panitianya lupa. Yang jelas sampai saya mau pulang pengumumannya belum ada. Teman-teman peserta psikotest juga bergantian saling telpon & sms buat crosscheck soal pengumuman. Alhasil sayapun akhirnya menyerah. Mutung & memutuskan untuk pulang, dengan pikiran udahlah ntar malem atau besok ajalah dilihat lagi. Tapi jujur tetep penasaran :D , kira-kira saya masuk apa kagak ini.. Saya juga minta tolong update ke temen yang masih online buat cek ulang, apakah situsnya udah bener apa belum, apakah pengumumannya udah ganti/belum?

Dan hasilnya adalah… alhamdulillah, nama saya ada di situs ini , lolos seleksi bersama 2 orang calon lainnya. Subhanallah, langsung terharu. Perjuangan panjang itu alhamdulillah berujung keberhasilan. Kalau ingat betapa nggak tertariknya saya jadi PNS kayanya sekarang terpaksa harus menjilat ludah  sendiri deh. Gimana enggak, lha wong sekarang saya akhirnya jadi PNS juga :D . Kualat nih kayanya.. :lol:

Akhirnya saya ngurus surat-surat itu (SKCK, Surat Keterangan Kesehatan Jasmani dan Rohani, urat Keterangan tidak mengkonsumsi/ menggunakan narkotika, psikotropika, prekursor, dan zat adiktif lainnya, plus fotokopi-fotopi, materai, & kelengkapan lainnya. Tinggal ngurus legalisir STTB/Ijazah SD-SMA aja yang belum. Bersyukur semua prosesnya berjalan lancar. Yang awalnya saya bayangkan kecamatan, RSKO & Polres bakal penuh sesak karena banyak yang juga ngurus buat CPNS, nyatanya pas saya datang justru sepi banget. Jadi semua bisa selesai lengkap dalam satu hari. Alhamdulillah. Malah waktu di RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan Obat) Cibubur petugasnya sangat welcome & helpful. Saya diantar & dipandu step-stepnya hingga surat keterangannya jadi. Pun halnya di Polres Matraman, hampir semua polisi & petugas yang membantu melayani pembuatan SKCK  juga sangat helpful, cekatan & tidak bertele-tele. Ibu yang membantu saya ngurus SKCK juga bilang, “ya udah yuk mbak, ikut saya.. diisi semua formulirnya. Syarat-syarat lainnya udah lengkap kan? Monggo diisi semua, nanti saya bantu biar bisa selesai sore ini juga “. Wow, pelayanan yang sangat.. oke bangeeet.. Padahal awalnya saya pesimis lantaran datang kesana udah sore banget  jam 14.30 wib. Tapi alhamdulillah SKCK dalam waktu 30 menit sudah ada di tangan saya. Makasih banyak ya bu, pak.. Udah dibantu dengan sangat helpful :) . Kalau udah rezeki tuh ada aja ya jalannya.. Duh, merinding saya kalau inget-inget lagi..

Oh ya, saya belum cerita pas sesi interview sama psikolog waktu itu ya.. Ditanya, tentang apa sih yang ada dalam pikiran saya tentang PNS itu? Mau tahu jawaban iseng saya nggak? Saya jawab gini, ” jujur ya bu, saya itu sebenernya heran.. PNS itu kerjaannya ngapain aja ya. Kok kadang jam 9-10 mereka udah ada di mall, di pasar? “. Psikolognya bukannya kaget, tapi malah ketawa. Buset dah nih anak ngajakin ngegosip abis. Gitu kali pikirnya ya. Eh, tapi ya pastinya bukan hanya jawaban ngasal kaya gitu yang saya kasih ke psikolognya. Nyari masalah itu namanya :lol: . Ada jawaban diplomatis yang okelah (menurut saya) yang saya berikan waktu itu..

” Dulu saya nggak pernah tertarik menjadi PNS. Karena saya pikir kok kayanya kerjaannya nggak jelas & nyantai melulu. Bukannya nggak seneng kalau dapat kerjaan yang dikit. Siapapun pasti seneng kalau kerjaannya dikit ya. Tapi kembali lagi ke prospek, masa depan. Kalau kita bicara pekerjaan yang safe, sifatnya longterm & ada jaminan hari tua, PNS adalah salah satu jawabannya. Saya ingin menjadi agent of change dari sebuah perubahan. Saya ingin menjadikan status PNS sebagai sebuah prestige sebuah status pekerjaan..”

Whoaah, panjang ya ternyata? Sampai berbuih-buih itu. Saking panjangnya saya sampai nggak nyadar kalau selama saya ngomong itu ternyata bu psikolognya tidur. Kehipnotis. Mungkin dari jawaban inilah saya ditrima. Ha5x, gak denk becanda… :D

Ya begitulah temans, insyaallah saya akan segera menyandang status Pegawai Negeri Sipil. Ini lagi ribet ngurusin printhilan-printhilan buat pemberkasan buat dikumpulin tanggal 17 & 18 November nanti. Kayanya bakal terbang ke Surabaya & Malang lagi buat ngurus legalisir STTB/Ijazah SD – SMA. Phew, alamat tidur jam 2 lagi kaya yang dulu lantaran pakai penerbangan paling akhir..

Buat yang masih belum berhasil melalui proses seleksi CPNS tahun ini, jangan patah semangat. Masih ada banyak kesempatan yang terbuka lebar. Nggak berhasil tahun ini ya dicoba lagi tahun depan. Kalau toh udah nyoba tapi belum berkali-kali tapi belum berhasil juga ya udah, yang namanya rejeki kan nggak harus jadi PNS. Siapa tahu justru ada keberhasilan & rezeki yang bagus yang menanti di luar sana yang justru bukan jadi PNS. Ya kan? :) . Goodluck buat semua yah.. Segala sesuatu yang kita yakini dalam hati, disertai usaha yang maksimal, plus kekuatan doa dari kita & keluarga, insyaallah ada hal baik yang menyertainya. Jika semuanya sudah kita lakukan secara maksimal, untuk akhirnya biarkan Allah yang bekerja untuk menentukan jawaban & hasil yang terbaik buat kita :)

So, tetap semangat yah !! :)