Untuk Sebuah Status : Pegawai Negeri (III)

•November 14, 2009 • 1 Comment

Menjalani kehidupan & rutinitas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)  adalah salah satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun Papa & hampir sebagian besar keluarga saya berkarir sebagai PNS toh itu tidak membangkitkan napsu saya buat ikutan jadi PNS juga. Padahal semua bilang kalau PNS itu benefitnya bla.. bla.. bla.. Tetep aja saya nggak pengen jadi PNS. Nggak tahu ya, kayanya kok kurang “nendang” aja gitu kalau jadi PNS. . (hei, apa-apaan ini kok pakai tendang-tendangan?! ha5x). Ya begitulah, singkat kata pokoknya nggak pengen jadi PNS..

Bahkan pun ketika ada salah satu anak buah yang getol banget ikutan test CPNS sejak pertama dibuka juga menanyakan keengganan saya buat ikut seleksi CPNS  :

” mbak Devi nggak pengen ikutan seleksi CPNS? Lagi buka banyak lho..”
” iya aku tahu.. “
” trus nggak pengen ikut nyobain? “
” mmh, nggak tahu ya, kok kayanya nggak pengen aja gitu..”
” kenapa? ribet ya mbak? “
” hehehe, iya.. parno & males banget ngurusin SKCK, kartu kuning, surat kesehatan, anti narkoba.. Beuh.. nggak ada waktu aku jeng..”
” iya sih.. tapi ya kan nggak papa nyoba aja, siapa tahu masuk.. Kan lumayan mbak.. “
” iya sih.. Tapi kayanya udah ketuaan buat ikut cpns-cpnsan..”, tetep ngeles :p
” lho, emang usiamu berapa sih mbak? kan maksimal usianya 35 tahun “
” ho-oh aku tau.. meskipun usiaku baru 25 tahun & aku yakin masih bisa ikutan seleksi, tapi embuh ya.. males aja gitu..”
” mmh, gitu ya.. Lho, eh.. tadi berapa usianya? 25 tahun?! “

Nyahahahahaha.. :lol:

Sampai akhirnya, pada suatu hari (halah, kaya dongeng), pas iseng blogwalking, nemulah saya situsnya Setneg yang membuka lowongan & syarat-syaratnya kok kebetulan mudah ya. I mean, nggak pakai SKCK & teman-temannya itu. Jujur, males aja kalau belum-belum udah ngurus ini itu tapi belum tentu ketrima. Kok kayanya mubadzir aja gitu. Itu pikiran saya lho.. :D . Jadilah singkat cerita, saya submit berkas-berkas PNS itu lengkap dengan segala “derita” superlebay itu disini . Setelah melalui proses deg-degan tahap pertama, alhamdulillah lolos seleksi administrasi & IPK dengan cerita kaya disini . Setelah nunggu kurang lebih semingguan ternyata saya masih diberi kesempatan buat ikut test terakhir yaitu psikotest selama 2 hari di UI yang ceritanya sebagian ada disini .

Hasil akhirnya kayanya kok lama bener ya, hampir 2 minggu deg-degan & mules nggak jelas. Sampai akhirnya tibalah tanggal keramat itu, 12 November 2009 sebagai hari penentuan & bersejarah. Dari pagi sampai sore menjelang pulang herannya itu situsnya Setneg kenapa nggak diupdate-update. Entah apa karena load yang tinggi atau panitianya lupa. Yang jelas sampai saya mau pulang pengumumannya belum ada. Teman-teman peserta psikotest juga bergantian saling telpon & sms buat crosscheck soal pengumuman. Alhasil sayapun akhirnya menyerah. Mutung & memutuskan untuk pulang, dengan pikiran udahlah ntar malem atau besok ajalah dilihat lagi. Tapi jujur tetep penasaran :D , kira-kira saya masuk apa kagak ini.. Saya juga minta tolong update ke temen yang masih online buat cek ulang, apakah situsnya udah bener apa belum, apakah pengumumannya udah ganti/belum?

Dan hasilnya adalah… alhamdulillah, nama saya ada di situsnya Setneg , lolos seleksi bersama 2 orang calon Sekretaris  lainnya. Eh, akhirnya saya jadi sekretaris juga nih, ha5x. Padahal dari awal saya kerja samapai sekarang nggak pernah pegang kerjaan sekretaris. Istilahnya sekretaris murtad ya saya ini. Lulusan sekretaris tapi nggak pernah jadi sekretaris. Malah jadi desainerlah, callcentre officer-lah, trainerlah, quality assurance-lah, sekarang jadi team leader . Nggak ada nyambung-nyambungnya sama background edukasi. Tapi saya anggap semuanya itu sebagai tipping point untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Subhanallah, langsung terharu. Perjuangan panjang itu alhamdulillah berujung keberhasilan. Kalau ingat betapa nggak tertariknya saya jadi PNS kayanya sekarang terpaksa harus menjilat ludah  sendiri deh. Gimana enggak, lha wong sekarang saya akhirnya jadi PNS juga :D . Kualat nih kayanya.. :lol:

Akhirnya saya ngurus surat-surat itu (SKCK, Surat Keterangan Kesehatan Jasmani dan Rohani, urat Keterangan tidak mengkonsumsi/ menggunakan narkotika, psikotropika, prekursor, dan zat adiktif lainnya, plus fotokopi-fotopi, materai, & kelengkapan lainnya. Tinggal ngurus legalisir STTB/Ijazah SD-SMA aja yang belum. Bersyukur semua prosesnya berjalan lancar. Yang awalnya saya bayangkan kecamatan, RSKO & Polres bakal penuh sesak karena banyak yang juga ngurus buat CPNS, nyatanya pas saya datang justru sepi banget. Jadi semua bisa selesai lengkap dalam satu hari. Alhamdulillah. Malah waktu di RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan Obat) Cibubur petugasnya sangat welcome & helpful. Saya diantar & dipandu step-stepnya hingga surat keterangannya jadi. Pun halnya di Polres Matraman, hampir semua polisi & petugas yang membantu melayani pembuatan SKCK  juga sangat helpful, cekatan & tidak bertele-tele. Ibu yang membantu saya ngurus SKCK juga bilang, “ya udah yuk mbak, ikut saya.. diisi semua formulirnya. Syarat-syarat lainnya udah lengkap kan? Monggo diisi semua, nanti saya bantu biar bisa selesai sore ini juga “. Wow, pelayanan yang sangat.. oke bangeeet.. Padahal awalnya saya pesimis lantaran datang kesana udah sore banget  jam 14.30 wib. Tapi alhamdulillah SKCK dalam waktu 30 menit sudah ada di tangan saya. Makasih banyak ya bu, pak.. Udah dibantu dengan sangat helpful :) . Kalau udah rezeki tuh ada aja ya jalannya.. Duh, merinding saya kalau inget-inget lagi..

Oh ya, saya belum cerita pas sesi interview sama psikolog waktu itu ya.. Ditanya, tentang apa sih yang ada dalam pikiran saya tentang PNS itu? Mau tahu jawaban iseng saya nggak? Saya jawab gini, ” jujur ya bu, saya itu sebenernya heran.. PNS itu kerjaannya ngapain aja ya. Kok kadang jam 9-10 mereka udah ada di mall, di pasar? “. Psikolognya bukannya kaget, tapi malah ketawa. Buset dah nih anak ngajakin ngegosip abis. Gitu kali pikirnya ya. Eh, tapi ya pastinya bukan hanya jawaban ngasal kaya gitu yang saya kasih ke psikolognya. Nyari masalah itu namanya :lol: . Ada jawaban diplomatis yang okelah (menurut saya) yang saya berikan waktu itu..

” Dulu saya nggak pernah tertarik menjadi PNS. Karena saya pikir kok kayanya kerjaannya nggak jelas & nyantai melulu. Bukannya nggak seneng kalau dapat kerjaan yang dikit. Siapapun pasti seneng kalau kerjaannya dikit ya. Tapi kembali lagi ke prospek, masa depan. Kalau kita bicara pekerjaan yang safe, sifatnya longterm & ada jaminan hari tua, PNS adalah salah satu jawabannya. Saya ingin menjadi agent of change dari sebuah perubahan. Saya ingin menjadikan status PNS sebagai sebuah prestige sebuah status pekerjaan..”

Whoaah, panjang ya ternyata? Sampai berbuih-buih itu. Saking panjangnya saya sampai nggak nyadar kalau selama saya ngomong itu ternyata bu psikolognya tidur. Kehipnotis. Mungkin dari jawaban inilah saya ditrima jadi PNS di Setneg. Ha5x, gak denk becanda… :D

Ya begitulah temans, insyaallah saya akan segera menyandang status Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Sekretariat Negara. Kalau nggak ada halangan insyaallah Desember ini pengangkatan. Ini lagi ribet ngurusin printhilan-printhilan buat pemberkasan buat dikumpulin tanggal 17 & 18 November nanti. Kayanya bakal terbang ke Surabaya & Malang lagi buat ngurus legalisir STTB/Ijazah SD – SMA. Phew, alamat tidur jam 2 lagi kaya yang dulu lantaran pakai penerbangan paling akhir..

Buat yang masih belum berhasil melalui proses seleksi CPNS tahun ini, jangan patah semangat. Masih ada banyak kesempatan yang terbuka lebar. Nggak berhasil tahun ini ya dicoba lagi tahun depan. Kalau toh udah nyoba tapi belum berkali-kali tapi belum berhasil juga ya udah, yang namanya rejeki kan nggak harus jadi PNS. Siapa tahu justru ada keberhasilan & rezeki yang bagus yang menanti di luar sana yang justru bukan jadi PNS. Ya kan? :) . Goodluck buat semua yah.. Segala sesuatu yang kita yakini dalam hati, disertai usaha yang maksimal, plus kekuatan doa dari kita & keluarga, insyaallah ada hal baik yang menyertainya. Jika semuanya sudah kita lakukan secara maksimal, untuk akhirnya biarkan Allah yang bekerja untuk menentukan jawaban & hasil yang terbaik buat kita :)

So, tetap semangat yah !! :)

Sang Penari Tobong ..

•November 13, 2009 • 1 Comment

tayub1

 

Aku berkaca pada cermin tua yang buram di sudut ruang yang suram. Menatap sayu pada wajahku yang muram & masa depanku. Kata orang aku muda, cantik, luwes, grapyak. Akulah idola bagi mereka. Akulah sang kembang pentas. Akulah sang primadona. Namun, layakkah untukku semua tepuk tangan & puja-puji seperti itu? Bahagiakah aku sesudahnya? Tidak !

Duniaku terasa begitu sepi walau dalam keriuhan. Seperti malam ini yang hanya ditemani suara jengkrik yang sahut menyahut di tengah tanah lapang yang lengang. Menerpa punggungku yang hanya tersekat kebaya tipis yang mulai pudar warnanya. Padahal disudut sekat ruang yang lain pendar cahaya bohlam kekuningan cahaya campur lampu neon yang menyilau pada sebuah panggung tempatku hidup.

Lelah & keringatku mencair menyusuri tepian kota bersama serombongan pria & wanita paruh baya dalam sebuah kendara. Melanglang dari satu kota ke kota lain, dari desa yang satu ke desa yang lain. Mirip seperti sebuah rombongan sirkus dengan berbagai hewan terlatih di dalamnya. Tapi apa hendak dikata justru untuk lelahku itulah terbayar rupiah. Tak jarang hanya beberapa lembar uang kertas yang jumlahnya tak seberapa jika harus terbagi rata. Cukupkah? Jelas jauh dari ungkapan kata cukup. Tak jarang aku masih harus menahan lapar & dahaga ketika jumlah yang kuterima jumlahnya tak seberapa. Ya semua ini untuknya.. Untuk simbok & Siti buah hatiku..

Sekilas terbayang wajah anak semata wayangku di desa bersama simbokku yang menua & sakit-sakitan, berlompatan mereka silih berganti memenuhi gumpal otakku. Ah, maafkan ibu yang belum mampu membelikanku golekan kayu yang kamu mau, Nak. Maafkan ibu yang belum mampu membelikanmu baju yang layak untukmu. Maafkan ibu yang setiap hari hanya bisa merindumu tanpa bisa menggendong atau menyentuhmu. Mbok, maafkan anakmu yang harus meninggalkanmu sendiri merawat Siti tanpa teman untuk membantu keseharianmu. Biarlah aku, anakmu yang akan berjuang menambal sulam hutang kita, mencarikan uang untuk sekolah cucumu kelak agar hidupnya kelak tak seperti aku. Anakku, baik-baiklah di desa bersama simbah. Ibu akan segera pulang, ketika sudah cukup rupiah di tangan ibu.

Lamunanku seketika mengelupas saat ujung tangan Yu Surti menowel lenganku. 
” Lha, kok ngelamun lagi kamu, Sri? Hayo, tinggal sedikit lagi gitu. Ndang dirapikan rambutnya.. Sebentar lagi pertunjukan akan segera dimulai. Kenapa lagi kamu, he? Kangen lagi sama anakmu? “

Aku tersenyum kelu pada wanita setengah baya yang tubuhnya masih sintal & sigrak itu.
” Iya, Yu. Kangeeen banget. Sudah berapa bulan ya kita ndak pulang ke kampung kita? “, gumamku dengan pandangan setengah menerawang.

” Lhadalah, kok malah ngelamun pengen mbalik ke kampung? Sudahlah, lupakan dulu sementara kampung yang tak punya harapan itu! Mau jadi apa kita disana, Sri? Angon bebek & kambing yang hasilnya ndak seberapa itu? Itu juga bukan bebek & kambing kita tho?”

” iya.. aku tahu. Tapi, tenanan aku kangen simbokku Yu.., juga kangen Siti anakku..”

” terus, kamu mau langsung pulang ke kampung gitu aja? atau malah mau membawa mereka ikut dalam rombongan kita ini? “, tanyanya tegas sambil menatap tajam kearahku.

Aku hanya terdiam bisu. Mendadak aku merasa menyusut dalam pandangan tajam matanya yang bulat itu.

” Pikirkanlah. Mau kamu ajak tinggal dimana mereka? Kita saja yang tidur dimana-mana, masa iya kamu rela anak sama simbokmu kamu ajak tidur ngemper dalam udara terbuka? Ora mesakke tho kamu sama mereka?”, cecar Yu Surti seolah menghempaskan seluruh khayal & impianku untuk mengajak simbok & Siti hidup bersamaku di kota ke karang terjal. Hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil-kecil.

” Ingat Sri, lagian kamu itu masa depan kita. Kalau ndak ada kamu, grup kita ini siapa yang bakal ngelirik? Kamu yang paling muda diantara para pengrawit & penari disini. Kalo ndak ada kamu, mau nonton apa mereka? Kowe sing sik sigrak, seger, lan katon ayu.. Kamu daya tarik grup ini Sri.. Pikirkanlah masak-masak sebelum kamu mengambil keputusan..”, tukas Yu Surti sambil memasang konde & menyisipkan mawar disela kondenya.

Aku menghela nafas berat. Ah, kenapa sungguh egois sekali kehidupan yang kujalani ini. Sebuah pekerjaan yang mudah namun berat. Salahkah jika aku kangen sama anakku sendiri setelah terpisah hampir satu tahun lamanya? Salahkah jika aku merindukan simbokku yang menua dan mulai sakit-sakitan itu? Salahkah aku ketika ingin hidup mendampingi dua orang yang tersisa dalam kehidupanku? Ketika hidup serasa tak pernah berlaku adil bagiku. Suamiku yang meninggal 2 tahun yang lalu setelah dihajar massa karena dikira maling ayam, membuatku harus hidup sendiri mengasuh Siti yang saat itu masih bayi merah, sekaligus merawat simbokku yang mulai sakit-sakitan. Pun saat kuputuskan ikut rombongan ini hanya satu harapanku, kelak akan terjadi keadilan dalam hidupku.

Airmata menggenang di pelupuk mataku, membuat celakku sedikit belepotan. Kuseka sedikit celak yang luntur itu dengan ujung kainku. Lalu melanjutkan lagi kesibukan mengonde rambut, memulas bibirku dengan gincu warna merah terang. Membentuk segurat alis, memberikan rona kemerahan di pipiku yang “nduren sajuring” & merapikan celak di atas & bawah kelopak mataku.. Penampilan luarku terlihat sangat luar biasa malam ini. Wajah bulat telur, kulit kuning langsat, & tubuh yang ramping (jika tidak ingin dibilang kurus lantaran jarang makan). Aku terlihat sempurna, walau yah.. terlihat sangat lelah. Aku lelah.. lahir & batin..

” Sri ! Cepatlah kau keluar. Pertunjukan akan segera dimulai. Penonton sudah menunggumu! “, seru lelaki tua yang kami anggap ketua.
” I..iya, pakdhe.. aku sudah siap..”, sahutku sambil mengalungkan sampur hijau & merapikan pending perak dipinggangku.

Seperti biasa, tak banyak yang melihat pertunjukan kami. Beberapa diantaranya duduk di bangku kayu seadanya yang diatur sedemikian rupa persis di depan tumpukan balok-balok yang dibuat mirip sebuah panggung. Kebanyakan mereka adalah laki-laki. Beberapa perempuan diantaranya adalah ibu-ibu yang menatap kami dengan pandangan sinis & bibir mencibir. Gending tayub mulai teralun merdu, mengiringi setiap seblak & goyang pinggul kami. Tak lama kemudian, beberapa pria mulai ikut turun menari bersama kami. Seperti biasa kamipun menari dengan sebagian dari mereka yang tatap mata & tawanya menjijikkan serta mulut bau alkohol yang membuatku serasa ingin muntah. Tapi apalah daya.. aku tak punya pilihan lain selain berpura-pura senang menari bersama mereka.

Sesekali tangan iseng mereka mendarat berusaha menggerayangi tubuhku, yang langsung kutampik secara halus. Tak jarang pula mereka ngotot menungguku selesai tampil hanya untuk menawarkan sebuah kencan yang berbau mesum. Aku tidak semurah & semudah itu ! Untuk sebuah hubungan yang seriuspun aku masih belum mampu. Aku belum bisa melupakan mendiang suamiku, yang hidup dalam kesederhanaan & kejujuran yang dipegang teguh hingga ajal menjemputnya. Hatiku masih belum sepenuhnya terbuka untuk lelaki yang berniat menggantikan sosoknya dalam kehidupanku selanjutnya. Entah sampai kapan aku mampu bertahan. Hanya pada Gusti Allah-lah kuserahkan semua keputusan & pilihan hidupku.

Beginilah kehidupanku, dalam hidup yang nomaden persis manusia purba. Hidup yang tergantung pada seblakan sampur satu, ke seblakan sampur yang lain. Hidup dari keping receh & lembar rupiah sebagai upah goyangan tubuh kami. Berpindah dari pinggiran kota yang satu ke pinggiran kota yang lain. Hidup dijalanan bersama siang yang teriknya memanggang sampai ke sumsum & malam yang dinginnya mencekat tulang. Bertahan sekaligus bernafas diantara debu & laju truk yang mengangkut kami ke persinggahan berikutnya. Semua kulakukan demi rupiah, demi kehidupan yang kami impikan akan jauh lebih baik. Walau tak selamanya nasib kami baik. Tapi setidaknya untuk sebuah harga diri yang akan aku banggakan pada simbok, mendiang suamiku & Siti buah hatiku.

Ibu tak ingin hidupmu kelak sesengsara ini, Anakku. Kelak kehidupanmu harus jauh lebih baik daripada kehidupan ibu & bapakmu. Senantiasa ingatlah akan satu hal.. Hiduplah dalam kebersihan hati & kejujuran. Dan jangan pernah kau jual harga diri & kehormatanmu pada seorang yang tak berhak mendapatkannya darimu, selain pasangan hidupmu.

Seperti ibumu… Sang penari tobong..

 

Jakarta, 11 November 2009
Atrium Mulia, 17.39 wib

 

 

 ilustrasi dipinjam dari

Jiwa Yang Terabai

•November 12, 2009 • 1 Comment

crossroad

 

Berdiri dia dalam diam
di sudut sebuah persimpangan..
Jalanan didepannya terpecah dalam satuan kilometer
yang panjang dan tak beraturan
Debu jalanan mengaburkannya
menjadi jalanan panjang tak berujung
dan kumparan yang terulur

Dimanakah sosok itu?
Meninggalkan sebuah hati yang bias dan tak jelas
Terabai bagai angin yang tak tergapai
Tercekik, mengejang..
Lalu melayang..

Akankah sosok itu akan hilang menembus labirin waktu yang berbeda?
Pelahan memasuki sekat ruang yang tak bisa dia ingat kalau dia pernah ada
Atau akankah hanya horizon sang waktu
yang mampu menjawab sebuah tanya?

 

 

 

 

gambar dipinjam dari sini

 

 

Untuk Jakarta Fashion Week..

•November 11, 2009 • 9 Comments

 

First of all, saya mau cerita kalau saya alhamdulillah kepilih jadi salah satu penonton yang nantinya akan membuat reportase (eh, gila bahasanya ketinggian bu), apa ya, cerita tentang Jakarta Fashion Week yang salah satu sponsor utamanya adalah majalah Femina. Nanti kita akan diminta posting tentang Jakarta Fashion Week ini di blog masing-masing yang selanjutnya akan dipilih oleh Femina menjadi ulasan terbaik.

Oh Man, ini kesempatan langka. Bisa join di event besar macam ini. Kebanggan tersendiri buat saya untuk bisa membuat sebuah apresiasi terhadap dunia yang pernah saya singgahi beberapa tahun lalu sebelum saya aktif bekerja di telekomunikasi seperti sekarang ini.

Dulu, saya pernah bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan garment yang bergerak di bidang menswear & jeanswear di kota Malang. Nggak nyambung sama background edukasi saya yang sekretaris itu sih. Lebih ke hobby  sebenernya. Hobby menggambar yang saya mix dengan ketertarikan saya dengan dunia fashion, meski saya nggak bisa jahit.. :D

Dan siang ini ada sebuah email dari salah satu moderator yang meminta saya kirim url blog saya, nomor HP & foto diri buat ID Card masuk ke event pagelaran JFW nantinya. Percakapan lucu via email terjadi antara saya & mbak moderator ..

————————————–
Dear Olive n Devi,

Bisa tolongin gak? Kita butuh nmr hape, alamat blog dan foto kalian berdua buat ID card ke acara ini (JWF). sori kalo udah ngirim di email sebelumnya, sini lg ribet panik bingung mo bongkar2 inbox lagi. Pretty please…aku tunggu secepatnya ya? Thx a lot :)

—————————————-

Saya : xixixixix.. tenang bu..
nyoh tak kasih..
* Devi Eriana Safira
0811 177x xxx
http : www.devieriana.wordpress.com
fotonya mesti pasfotokah? aku ndak bawa..

 

Mod :  fotonyaaaaaaaa………. *kok pasfoto sih* :lol:

 

Saya :  lho lha iya kan katanya foto.. foto diri kan?
butuhnya yang gimana? berbentuk pasfoto atau boleh apa aja pokoke gambar diri kita?

 

Mod : berbentuk poster atau baliho gitu lah, wahahahaha…
eh mbuh deng aku jg blm tanya fotonya yg kyk gmn, blm ngirim fotoku jg. doh… bntr aku tanyain ya..

 

Saya : woooo emang deh, dasar.. :lol: . Kirain udah paham, ternyata enggak.. :mrgreen: *ngesend foto dalam bentuk spanduk*

 

Mod : Ok pasfoto aja katanya, diattach di email aja. Gak trima spanduk apalagi keset :lol:

 

Saya : lhoo.. terlanjur tak send dalam bentuk celana dalam.. :D
Udah tak bilang tadi kalo yang pasfoto diriku ndak bawa. Tapi kalo foto narsis agak-agak tampak samping gitu ada.. Udah tak crop, tak kasih cap bibir sekalian :lol:    .Boleh ndak? wis tho, yang penting kan mukanya sama .. :D .
Kalo ok, tak kirim sekarang nih..

 

Mod : Ya udah kirim aja lah  *males mikir*  :lol:

 

Saya : mwahahahahahahahahahaha.. Ya wis, ini aja ya.. Nggak punya lagi aku..

 

Mod : *glek* SIAPA INIIIII???? CHRISTINE PANJAITAN YAAAAAAA????  :lol:

 

Saya : ya.. daripada dibilang Azis Gagap.. ya sudahlah, tak apa kau bilang Christine Panjaitan.. Eh butuh yang lainkah? yang ada brengos sama jakunnya mungkin?tak kasih pose yang sebelum operasi ke Thailand..
*ngakak kayang*

 

——————————————-

 

 

Ya begitulah.. Emmh, wish me luck yah.. :)

 

 

 

Untuk Bulat Duniamu..

•November 11, 2009 • 4 Comments

world in hand

 

Kau bilang duniamu itu bulat, persis seperti bola yang mudah menggelinding kesana kemari. Aku bilang duniaku bentuknya kotak persis seperti kubus yang hanya bisa diam di tempat mana dia diletakkan & hanya pindah ketika ada yang memindahkan. Kau menertawakanku terbahak-bahak, “Mana mungkin dunia itu kubus!”. Hei, tapi coba kau lihat, duniaku memang kubus. Lagi-lagi kau tertawa, bahkan kali ini lebih keras.

 

Aku termenung, mulai memikirkan. Kami sama-sama punya dunia. Tapi dunia kami bentuknya berbeda. Seringkali kami berbeda kata menyikapi hal-hal yang terjadi di dunia kami. Ah ya, baiklah.. mungkin karena aku belum sempat mengasah sudut-sudutnya, hingga nantinya tampak bulat seperti duniamu ya..

 

Kau hanya diam saat melihatku mengikir & mengasah sudut-sudut kubus duniaku. Ya, lihatlah, setidaknya aku mencoba membulatkan duniaku. Kupinta kau untuk melihat sejenak dunia yang ada di tanganku, menggunakan kacamataku. Dan kaupun mulai mengajariku mengasah sudut-sudut kubusku dalam kesabaran pangkat tujuh..

 

Ya.. aku tahu, akan butuh ribuan pangkat kesabaran dan tenaga yang besar untuk membuat duniaku sebulat duniamu. Namun toh, jika itu semua terlalu sulit & mahal bagimu, yang kupinta hanya satu.. sebuah pengertian..

 

 

* sebuah perenungan dari curhat seorang teman *

 

 

gambar pinjam dari sini

 

 

Inilah Jakarta, Darling!

•November 10, 2009 • 16 Comments

 

Beberapa kali saya melintasi daerah-daerah pinggiran kota Jakarta yang kumuh. Kadang hanya sekedar melintas, tapi kadang juga karena mencari jalan tikus untuk menghindari banjir atau kemacetan. Pemandangan yang membuat trenyuh kerap tersaji secara gamblang & apa adanya. Gambaran sebuah usaha untuk survive di ibukota terpampang jelas di depan mata.

 

Salah satunya adalah para penjaja makanan di sepanjang kolong kereta api. Jika ditilik dari keamanan & kenyamanan tentu jauh dari kata “aman & nyaman”, apalagi jika dibandingkan dengan restoran dengan pelayanan prima dan lingkungan yang cozy baik untuk sekedar hangout, ngobrol atau makan bersama keluarga/kerabat. Tapi apalah daya ketika perut mulai meronta minta diisi tentu tak banyak pilihan yang ada di otak mereka selain bagaimana cara menyumpal mulut dengan makanan yang “nampol” di perut. Higienitas? Ah itu urutan nomor sekian, yang penting kenyang aja dulu.

“Welcome to Jakarta, darling! Inilah Jakarta, lengkap dengan kehidupan keras yang menempa manusia-manusia di dalamnya. Jadi, jangan heran kalau lihat hal-hal begitu. Itu mah udah biasa. Kalau nggak kaya gitu mana bisa hidup di ibukota kaya begini. Bukankah ibukota lebih kejam dari ibu tiri,? “, begitu kata seorang sahabat ketika iseng saya bercerita tentang hal-hal yang saya lihat.

 

Kenapa jadinya ironis banget sama slogan pariwisatanya Jakarta, “Enjoy Jakarta”, ya. Buat yang kemampuan finansialnya diatas rata-rata  ya jelas enjoy. Lha kalau buat yang kemampuan finansialnya cekak, nggak punya pekerjaan alias pengangguran, apanya yang mau di-enjoy? Paling-paling juga dijawab, “siapa suruh datang Jakarta?” :D

 

Seperti pemandangan yang saya lihat, yaitu menjamurnya warung-warung di bawah rel kereta api. Hanya mencoba membayangkan, bagaimana ya rasanya makan di sela getaran kereta api yang setiap kali melintas tepat diatas mereka? Bagaimana rasanya berusaha menikmati makanan tapi dalam keadaan was-was (buat yang tak terbiasa makan disana)? Katakanlah saya sedang berkhayal ya.. apa mereka tidak khawatir kalau tiba-tiba kereta apinya anjlok lalu menimpa mereka yang tengah asyik makan disana? “ya jangan makan disanalah, kaya nggak ada pilihan tempat makan yang lain aja, kan banyak tuh yang nggak di bawah rel kereta api..”. Ok, ini hanya sebuah umpama. Pada kenyataannya mereka justru hidup dari hasil membuka kedai makanan disana selama bertahun-tahun. Toh buktinya mereka juga bisa eksis walaupun kondisi kedai makanan mereka sangat jauh dari kata “aman & nyaman”. Karena buat konsumen kelas mereka, “yang penting murah & kenyang”. Meski mungkin pernah terselip juga kekhawatiran di benak mereka seperti yang saya bayangkan tadi. Life must go on. tak ada pilihan lain selain bertahan dengan bisnis di lokasi berbahaya, karena mendirikan “usaha” dengan lahan & lokasi yang layak jelas jauh dari kemampuan finansial mereka. Jangankan buka usaha dengan lokasi yang layak, buat hidup aja mereka masih ngos-ngosan.

 

Ah, bisnis memang tak pernah kenal rasa takut. Setidaknya bagi para pemilik warung di bawah rel kereta api itu. Bagi mereka, dimana ada pasar & kesempatan, disitulah ada uang. Terlebih lagi jika menilik kondisi perekonomian negara kita yang sering tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 

Ya, seperti kata sahabat saya :  Inilah Jakarta, darling!

 

 

 

Arif.. Oh Arif..

•November 9, 2009 • 10 Comments

call

 

Malam itu saya masih ada di parkiran Plaza Semanggi ketika ada miscall dari nomor 08563342xxx. Saya pikir salah satu teman saya yang nelpon, mau konfirmasi kalau nomor kartuHALO-nya sudah aktif. Jadi ya udah saya biarin aja, toh nanti kalau dia butuh lagi pasti nelpon.

Sampai dirumah, setelah makan & mandi ternyata nomor itu telpon lagi.  Berhubung tangan masih basah habis nyuci piring akhirnya saya minta tolong suami buat angkatin telpon karena saya pikir teman saya itu lagi yang telpon. Setelah melihat saya selesai berurusan dengan piring-piring itu akhirnya dia mengangsurkan telpon ke saya, “bukan dari Lukman nih.. katanya dari Arif..”.
Sayapun menerima telepon sambil berusaha mengingat-ingat Arif mana yang “tumben” nelpon saya.

“halo..”, jawab saya.
“Halo, mbak Devi?”, sahut suara diujung sana dengan logat Suroboyoan
“he-eh.. siapa ini?”
“aku Arif, mbak..”
“oh.. ya, ada apa Rif?”, jawab saya sambil berusaha loading mengingat Arif siapakah ini.
“Iku lho mbak, aku arep takon, sampeyan wingi mari nggawe SPK, trus sampeyan deleh endi file’e, Mbak?”
(Itu lho mbak, aku mau nanya, kamu kemarin habis bikin SPK , trus kamu taruh mana file-nya, Mbak?)

” eh.. SPK? SPK yang mana ya? “, tanya saya bloon
” itu lho, SPK yang kemarin disuruh bikin..”
” kemarin.. disuruh bikin SPK? eh, SPK itu apa sih?, jawab saya makin bingung
” halah, SPK-SPK mbak.. yang kemarin disuruh bikin sama Pak.. (dia menyebut nama, tapi saya udah lupa) itu lho. Sampeyan taruh mana? Udah selesai kan?”, jawab suara diseberang sana berusaha menjelaskan.

” bentar deh, ini Arif mana sih?”, tanya saya curiga
” halaah mbaak.. ini aku Arif, Arif.. Arif PLN! Mosok sampeyan nggak kenal sama aku..”, jawab si Arif berusaha membuat saya kenal sama dia
” Arif PLN? “, tanya saya masih belum loading..
” iya, masyaalloh rek mbak Devi iki.. Aku Arif mbak, lantai tigaa..”, jawabnya makin gemes
” Arif, lantai TIGA?! “
” iya.. aku kan sering ke tempatnya sampeyan tho. Wis inget ta?”

” enggak.. :( “, jawab saya polos
” sik..sik bentar.. tapi iki bener mbak Devi kan?”, tanyanya mulai ragu
” iya..aku Devi “
” sampeyan sekretaris’e Pak.. (dia menyebut nama lagi), bukan?”
” bukan, hehehhe..”, jawab saya cengengesan
” woalaaah.. pantes nggak nyambung. Tak kirain mbak Devi yang sekretaris. Nomer’e sampeyan tadi aku langsung copy dari HPnya si Erfan. Mungkin sampeyan yang kenal sama Erfan ya?”

” Emh, Erfan mana ya? kayanya kok enggak juga ya..”, jawab saya makin geli
” waduh mbak.. sepurane ya.. salah sambung nih kayanya.. Maaf ya mbak..”
” iya, gapapa.. “
” monggo mbak..”
” monggo..monggo..”

KLIK ..

Habis nutup telpon saya jadi cengengesan sendiri. Salah sambung kok nyambung. Erfan ini Erfan yang mana? Kenapa ada nomor HPku di HP-nya dia ya? Trus, kenapa salah sambung itu saya tanggepin? ya karena saya memang Devi. Dan kalau mendengar suaranya kok kayanya agak familiar & dia ngotot kenal sama saya. Udah gitu logatnya Suroboyoan pula, jangan-jangan saya kenal sama dia tapi sayanya yang lupa. Nanti kalau saya lupa kan nggak enak, kalau dibilang ngelupain temen.. :p

Dan nyatanya..
.
.
.
.
.

Saya emang nggak kenal.. :(

 

*hayo siapa anak PLN yang namanya Arif yang nanya-nanya SPK sama saya? :lol:

 

 

Think Before You Speak

•November 1, 2009 • 24 Comments

words

 

Dalam keseharian pasti kita pernah mengeluarkan kata-kata yang menurut kita lucu, tapi belum tentu buat orang lain juga sama maknanya dengan kita. Maksudnya menghibur tapi malah jatuhnya ngajak berantem. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita harus lebih hati-hati dengan pernyataan atau bahkan jokes kita sendiri.

 

Masih ingat kan dengan “stop using words autis for your daily jokes”? Sudah lama saya meninggalkan kata-kata itu sebagai bahan becandaan. Bukan hanya kata-kata autis, tapi juga kata-kata lain yang berisi tentang ejekan untuk menunjukkan kekurangan orang lain. Baik itu fisik, mental, maupun status seseorang. Apa untungnya juga kita menggunakan bahasa-bahsa macam itu? Akankah kita akan jauh merasa lebih baik & sempurna setelah mengucapkannya? Apakah lantas derajat kita akan jadi lebih tinggi setelah menggunakan kata-kata itu sebagai guyonan sehari-hari? Bagaimana jika ternyata kita sendirilah yang menyandang segala keterbatasan & ketidakberuntungan itu? Apa yang akan kita rasakan ketika ada orang lain yang menggunakan bentuk kekurangan fisik/psikis kita sebagai lelucon? Perih, pedih, sedih, marah, tersinggung, atau justru legowo menerima dengan  pasrah? Selegowo-legowonya orang pasti masih akan tersembul rasa pedih ketika ada kekurangannya yang disinggung orang lain, apalagi digunakan sebagai lelucon atau cela-celaan.

 

Sebelum saya menuliskan inti tulisan ini, saya ingin bertanya, apa sih yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata-kata “JANDA”? Apakah mata Anda langsung membulat, imajinasi Anda berputar pada sosok wanita tanpa suami, yang masih muda, cantik, seksi, yang image-nya sering dilekatkan dengan perusak rumah tangga orang? Atau seorang sosok wanita tanpa suami yang tegar, berjuang sendiri membesarkan buah hatinya, pontang-panting mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, berperan menjadi ayah & ibu sekaligus?

 

Beberapa hari lalu saya mendapati status facebook seorang teman yang merasa dilecehkan karena orang lain menggunakan status pernikahan (baca : janda) sebagai guyonan. Dia adalah seorang single mother sekaligus wanita karir yang cerdas dengan dua buah hati yang menjelang remaja. Sebut saja dia Mbak Cantik. Sebagai seorang ibu yang sangat tough menjaga keluarganya dia memang berjuang sendirian, tanpa didampingi oleh seorang suami. Kehidupan pernikahannya hancur ditengah jalan karena adanya prinsip yang sudah tak bisa lagi sejalan. Perannya sekaligus menjadi ibu & ayah membentuknya sebagai a half mother & a half father. Sosok ibu yang hangat & penyayang, sekaligus sebagai ayah yang melindungi & mencari nafkah.

 

Saya pribadi mengenalnya sebagai sosok yang keras & tegar. Jauh dari gambaran seorang “janda” yang image-nya di masyarakat selalu saja dikonotasikan negatif. Padahal siapa yang ingin hidup sendiri? Siapa yang dulunya menjawab ketika ditanya “apa cita-citamu?” dengan lantang menjawab “menjadi janda!”. Siapa yang sengaja memilih kehidupan perkawinannya tidak utuh, membesarkan buah hatinya sendiri tanpa didampingi seorang suami? Rasanya tidak ada. Semua pasti bercita-cita hidup secara complete, utuh, dengan didampingi seorang pasangan.

 

Lantas apa yang membuat beliau sedemikian marah? Lagi sensitifkah dia? Saya kurang tahu pasti, tapi yang jelas semua itu berawal dari celoteh salah satu presenter acara talkshow di TV yang sempat membuat jokes dengan kata-kata “janda”. Tentu saja lengkap dengan konotasi negatif yang sudah melekat didalamnya. Membuat seisi studio tertawa terpingkal-pingkal mungkin merupakan sebuah prestasi besar buat dia sebagai seorang presenter, komedian, entertainer. Tapi tak sadarkah dia bahwa leluconnya itu telah melukai hati seorang perempuan yang terpaksa harus hidup tanpa suami seperti Mbak Cantik tadi? Bersyukurlah dia yang keluarganya masih utuh. Tapi apa lantas sang presenter itu berhak mengeluarkan jokes semena-mena dengan kata-kata “janda” tadi? Well, katakanlah teman saya ini sedang sensitif, not in the good mood. Tapi saya juga tidak berhak untuk menyuruhnya diam, jangan protes. Itu hak dia untuk suka atau tidak suka dengan lelucon yang sebenarnya tidak lucu untuk dijadikan bahan tertawaan.

 

Tidak ingin menggurui siapapun, hanya sekedar ingin mengajak Anda semua berbagi, berpikir, merenungkan. Sudah sempurnakah kita sebagai manusia? Kepuasan macam apakah yang sebenarnya kita cari ketika berhasil mentertawakan kekurangan & ketidaksempurnaan orang lain? Apakah setelah kita berhasil mengajak orang lain tertawa dengan apa yang kita pikir lucu padahal bodoh itu lantas akan membuat derajat kita jadi lebih tinggi daripada orang yang kita hinakan? Apakah kita tahu bagaimana sulitnya menjadi seorang single mother yang berjuang menghidupi buah hatinya? Hidup ditengah terpaan & cibir miring akan stereotype yang sudah terbentuk dalam masyarakat kita tentang status seorang “janda”. Belum lagi media yang juga ikut menambah kuat image “janda” sebagai sosok penggoda rumah tangga orang. Memang, kalau mau cuek, nggak usah mikirin, sebodo teuing juga bisa. Tapi apa yang bisa kita lakukan sebagai sosok diluar beliau? Apakah kalau beliau cuek-cuek saja berarti hatinya ikhlas menerima? Apakah kalau dia juga ikut tertawa hatinya juga demikian adanya? Belum tentu, teman. Dalamnya laut memang bisa kita ukur, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu?

 

Semoga ada hal baik yang bisa kita ambil & renungkan bersama. Sehingga kedepannya kita bisa lebih bijaksana dalam berbuat & berkata-kata. Terutama sebelum kita melontarkan pernyataan atau lelucon untuk orang disekitar kita…

 

Think your thoughts & choose your words carefully

 

 

 

Selamat Ulang Tahun, Ma..

•October 31, 2009 • 6 Comments

mother

Ibu..
merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian,
manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa..


Ibu adalah segalanya.
Ibu adalah penegas kita di kala lara, impian kata dalam rengsa,
rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.
Siapa pun yang kehilangan ibunya,
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya..


Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu.
Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi
sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian..


Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan…
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya.
Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian..


Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian..

 

 

:+: Khalil Gibran :+:

 

 

Selamat Ulang Tahun ya Ma.. semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, perlindungan & memberkati kehidupan Mama..

.. We love you ..

* peluk cium : Papa, aku, Echa, Dista *

kadonya tar menyusul ya Ma :)

 

 

 

picture taken from here


Suatu Sore Didepan Balairung UI

•October 30, 2009 • 9 Comments

RainOnLeaves

 

Lama ya saya nggak posting disini ya :D . Bukan karena udah ogah, tapi ada banyak kegiatan yang menyita waktu saya akhir-akhir ini. Ide nulis sih ada, bahkan sampai saya tulis dimana-mana untuk “menyelamatkan” dari mendadak hilangnya ide-ide itu. Tapi ya sekali lagi karena kesibukanlah yang membuat saya nyaris nggak punya waktu untuk menuliskannya disini.. *alasan..* :mrgreen:

Beberapa hari yang lalu saya disibukkan sama seleksi CPNS yang hampir tahap final & setumpuk kerjaan yang menunggu saya konsumsi satu persatu. Ada satu kejadian yang membuat saya trenyuh ketikaa saya menunggu di sekitar Balairung UI tempat saya psikotest kemarin. Sore itu hujan cukup deras, bahkan disertai dengan angin kencang. Saya bersama 2 orang peserta psikotest ngobrol di teras balairung sambil menunggu jemputan & hujan reda. Diujung sana ada seorang wanita setengah baya terlihat sedang sibuk mengutak-atik isi tempat sampah. Ya, dia seorang pemulung. Sore yang makin pekat itu agaknya tak menyurutkan langkah wanita itu untuk berhenti memungut apapun yang bisa dimasukkan tas plastik besar warna hitam itu. Tak terkecuali kardus bekas makan siang kami, bekas botol/gelas air mineral, dan kertas-kertas yang sudah tidak terpakai.

Ada satu pemandangan yang membuat nyaris tidak bisa membendung airmata saya. Ibu itu menyisihkan nasi sisa makan siang kami yang tidak termakan & mengumpulkannya di tempat tertentu. Dengan telaten dia memisahkan nasi dengan lauk pauknya. Dikumpulkan jadi satu dalam sebuah tempat yang sudah dia bawa sebelumnya. Entah, mata saya yang minus ini kurang jelas melihat bentuk tempatnya. Tapi sepertinya sebuah tas plastik warna hitam.

Trenyuh melihatnya. Bayangkan, nasi sisa itu dikumpulkan & akan dibawa pulang oleh ibu itu. Mungkinkah nasi yang tentu saja sudah tidak layak konsumsi itu akan dimakan, dimasak, atau dijadikan nasi aking? membayangkan mereka makan nasi sisa saja sudah bikin saya mau nangis, gimana saya mau melihat langsung ya? Saya tahu bukan hal yang mudah, pun bukan sebuah pilihan hidup untuk menjadi seorang pemulung & hidup dalam garis kemiskinan. Siapa juga yang bercita-cita hidup serba berkekurangan macam ibu itu, kan?

Jadi merasa bersalah karena siang itu saya tidak menghabiskan seluruh makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Bukan karena makanannya nggak enak, atau kurang layak. Tapi kebetulan saya masih kenyang karena sarapan agak banyak, belum lagi jam 10 ada break & snack yang agak berat. Jadilah jatah makanan saya itu hanya mampu saya makan setengahnya. Setengahnya lagi.. tidak saya makan.. :(

Pelan-pelan saya menghampiri pemulung setengah baya itu. Kembali menggenggamkan beberapa lembar ribuan ke tangan ibu itu yang sekali lagi saya tahu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya hanya membayangkan dirumahnya sekarang (kalau dia punya rumah), pastilah sudah menanti anak/keluarganya untuk diberi makan. Itu kalau mereka dalam keadaan sehat, kalau ternyata dalam keadaan sakit? Duh saya yang yang nggak tega membayangkannya..

“Bu, ini buat ibu.. Maaf saya nggak bisa kasih banyak ya bu.. Semoga bermanfaat..”

Ibu itu melihat saya sambil setengah berkaca-kaca. Ah mata teduh itu, bikin saya yang sensitif ini juga pengen nangis.

“Makasih mbak.. Alhamdulillah. Alhamdulillah ya Allah..”

Saya hanya tersenyum sambil setengah mati menahan supaya airmata saya tidak jatuh.

Dalam hati saya merasa, duh kok saya sok banget ya sudah buang-buang makanan. Sementara ibu ini harus rela memungut sisa makanan orang buat dikonsumsi lagi. Berkali-kali saya istighfar & tak henti-henti saya mengucap syukur atas semua yang sudah Tuhan kasih sama saya. Sekali lagi, Tuhan mengajak saya belajar dari hal-hal & orang-orang kecil disekitar saya. Pelajaran kecil yang tentunya “nancep” banget dikepala & benak saya..

 

 

gambar dari  sini