Kebetulan tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya ikut sertakan dalam Rose Heart Writing Article Competition bulan Oktober lalu & terpilih sebagai juara 3. Saya posting disini hanya ingin sekedar berbagi. Tanpa ada maksud menggurui, & semoga ada sebuah pencerahan bagi yang belum bertemu jodohnya
. Oh ya, kenapa saya beri judul A Beautiful Mind & kesannya kurang nyambung sama tulisannya? Ya suka-suka sayalah, wong saya yang nulis, hehehe..
.Nggak kok. Saya berpikir bahwa selama kita berpikir positif, apa yang kita anggap sebagai beban (pikiran) nggak akan seberat yang kita pikirkan kok.. Gampang ngomongnya ya?
. Ya setidaknya itulah yang saya rasakan & sejauh ini sih it works.. Jadi, monggo dibaca, dihayati, diresapi & diamalkan.. Halah, apa sih?
*****
Hari ini saya dikejutkan oleh sebuah berita bahagia dari salah seorang sahabat yang setelah berkali-kali gagal dalam urusan percintaan akhirnya beberapa hari lagi akan segera melangsungkan pernikahannya. Terharu. Untuk pertama kalinya saya merasakan perasaan seemosional ini ketika mendengar seorang sahabat yang berniat mengakhiri masa lajang. Istimewa, karena beliau akhirnya menemukan jodohnya di usia hampir kepala lima. Dia adalah seorang sahabat terbaik yang pernah saya punya. Sahabat yang sering mempercayakan kisah cintanya pada saya, baik suka, duka, jatuh cinta atau lagi patah hati.
Uniknya kami belum pernah sekalipun bertemu. Pertemanan kami yang hampir berjalan 4 tahun ini berjalan apa adanya sebagaimana kisah persahabatan via dunia maya. Samasekali tidak melibatkan perasaan lho. Karena memang kami masing-masing lebih nyaman dengan status persahabatan kami. Usianya yang terpaut jauh dari saya membuat saya juga nyaman bercerita tentang apa saja padanya, begitu juga sebaliknya. Meskipun saat saya menikah dia tidak bisa hadir lantaran kesibukannya yangs aat itu sebagai seorang manager IT di sebuah perusahaan terkemuka, namun saya yakinwaktu itu doanya hadir untuk saya.
Bukan hanya sekali dua kali dia mempercayakan kisah kegagalannya pada saya. Kalau dibilang bosan ya mungkin sayalah orangnya, hehehe.. Tapi sebagai seorang sahabat, berusaha untuk all ears & all heart untuknya. Memang saya tidak selalu memberikan solusi yang terbaik, tapi berusaha untuk memberikan saran & mengembalikan kembali pada beliau untuk semua keputusan akhirnya.
Ah, masalah cinta & pasangan hidup memang selalu menjadi tema yang tak akan pernah habis untuk dibahas ya. Selalu saja ada energi untuk menuliskannya dalam berbagai versi & bahasa. Kita diciptakan berpasang-pasangan namun kita tak pernah tahu kapan & dimana kita akan bertemu dengan pasangan hidup kita.
Kita, para perempuan pasti semasa kecil punya dong gambaran tentang sosok ideal seorang pasangan hidup. Pengen punya yang type-nya begini, begini, begini. Pengen yang sifatnya bla, bla, bla, bla. Secara fisik begini, dan lain sebagainya. Ya namanya pengen punya pasangan hidup yang sempurna wajar tho? Nikah kan niatnya juga cuma sekali seumur hidup, dan kalau bisa dapat yang sempurna sekalian. Begitu kan?
Saya punya banyak sahabat perempuan yang punya almost perfect life, semua dia punya : pribadi yang hangat & menyenangkan, karir yang bagus, gaji dalam digit rupiah diatas enam digit, keluarga yang supporting penuh, sahabat yang seabreg-abreg. Tapi hanya satu yang dia belum punya : pria yang tepat sebagai pasangan hidup. Mungkin bisa disimplifikasi lagi sebagai pria single, tidak sedang terikat hubungan & pernikahan dengan siapapun alias bukan suami/pacar orang, mapan (setidaknya dia punya pekerjaan sehingga mampu menafkahi keluarga kelak, walaupun istri juga sebagai wanita karir), punya kepribadian yang baik. Soal wajah mungkin bisa nomor sekianlah, ya misal Tuhan kasih yang seganteng Brad Pitt sih disyukuri (banget) .
Siapa sih yang tidak ingin menemukan pasangan hidupnya sesegera mungkin? Kalau ada yang bilang “enggak” mungkin dalam artian “pending” bukan “nggak mau”. Nah, masalahnya kan jodoh itu ngga bisa dibeli layaknya kita pengen beli tomat di pasar, ngga bisa asal comot sesuka hati mana yang kelihatan mateng trus kita beli & bawa pulang, kita makan atau bikin jus. Hidup juga bukan jalan tol yang bebas hambatan yang mulus, lancar sampai ke tujuan. Demikian juga sebuah perjalanan dalam menemukan (saya pinjam istilah Cinderella) “prince charming”. Kita tidak pernah mengira “path” apa yang sedang kita jalani dalam proses menemukan pasangan hidup itu. Untuk urusan jodoh masih jadi misteri terbesar Tuhan yang tidak pernah bisa di tebak kapan datangnya layaknya hidup & matinya manusia.
Ada yang sudah ngoyo banget, tapi jodoh yang diharapkan belum datang-datang juga padahal usia juga sudah “pantes” berkeluarga. Tapi ada juga yang nggak dicari eh malah datang sendiri. Ya, itulah uniknya jodoh.
Kalau bicara masalah usia, sebuah pernikahan bukanlah sebuah hal yang dilakukan karena emosi, sekedar pantes-pantesan, atau karena tuntutan usia. Menikah , selain masalah hati, kesiapan mental, juga masalah waktu. Seberapa ngoyonya kita kalau Yang Diatas belum “say yes” ya nggak bakal ketemu. Tapi kalau Tuhan sudah bilang, “My Dear, this is the right time for you to marry with the man you deserve to live with..”.. Voilla.. segala rencana akan dimuluskan oleh-Nya. Seperti halnya sahabat saya tercinta yang menemukan jodohnya di hampir usia kepala lima. It’s no big deal, right?
Saya juga punya sahabat yang sudah pacaran hampir 7 – 8 tahun, sudah berniat akan melanjutkan hubungan serius mereka ke jenjang pelaminan. Lha kok ndilalah menjelang rencana lamaran salah satu diantara mereka justru memutuskan pertunangan & memilih untuk menikah dengan orang lain. Ada juga kisah seorang sahabat yang sudah menanti pasangan hidup sedemikian lama, namun ketika kemudian hari diketemukan dengan “prince charming” yang ternyata tak lebih baik dari Ja’far ( tokoh penasehat sekaligus penyihir jahat di film Aladdin). No, no, saya bukan bermaksud menakuti atau bikin paranoid terhadap pernikahan ya.. (jadi inget sama Manohara kalau begini).
Saya juga tahu kok bagaimana rasanya & betapa BT-nya dihujani “terror” pertanyaan “kapan menikah?”, “eh, mbak Devi udah punya calon kan?”, “aduh gedenya udah semanten nih, kapan nikah Jeng?”. Hoalaaah.. Capek ya? Ya bagaimana lagi, itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita memang hidup diantara “kultur” masyarakat yang terlalu peduli dengan urusan pribadi orang lain (maafkan saya ya para tetangga, sodara-sodara yang pernah tanya hal itu beberapa tahun yang lalu sama saya). Tapi okelah kita ambil posistifnya saja ya, because they do care about us. Ya siapa tahu mereka tanya ini itu hanya untuk memastikan kapan kita menikah selain itu mereka mau jadi wedding organizernya, penyandang dana, atau penyedia katering. Who knows?
Buat yang belum bertemu dengan pasangan hidupnya, someday, somehow, somewhere, you’ll find your Prince Charming soon. Banyak orang yang sudah pada nikah aja belum tentu happy (even they pretend to be happy), so as long as you are happy with your life, surrounded by fun-loving friends, you’ll be just fine. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, masalah usia, atau jabatan yang sudah kalian miliki, sehingga nantinya justru malah akan membuat kalian, para perempuan membuat pilihan yang salah. Juga jangan pernah memutuskan menikah karena orang lain sudah menikah lebih dulu daripada kalian. Menikah bukan masalah kalah atau menang antara teman, siapa yang menikah duluan, atau siapa yang bisa dapet jodoh duluan. Nikmati saja semua alur proses pencarian itu, tidak ada salahnya kok untuk berhati-hati. Kan kita juga pengennya hanya menikah sekali untuk seumur hidup ya. Boleh kok agak keluar sedikit dari lingkungan yang ada, siapa tahu “si dia” itu justru nyempil di tempat-tempat yang tidak pernah kita duga sekalipun.
Ah, jadi ingat pesan moral yang saya dapatkan ketika melihat film He’s Just Not That Into You. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”. Tapi semua kembali ke hati & pikiran. Happiness is entirely a state of mind. Ada banyak hal yang bisa kita share dengan orang lain, yang justru akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri untuk kita.
Oh ya, pernah dengar kisah Margareth Maxwell istri John C Maxwell seorang pembicara & pakar kepemimpinan yang memberikan statement bahwa suaminya tidak pernah memberikan kebahagiaan yang dia cari? Kaget dong, seorang pakar, pembicara, yang sering “menguliahi” orang tentang hidup, kebahagiaan, kepribadian & kepemimpinan ternyata dia tidak cukup expert untuk memberikan kebahagiaan kepada istrinya sendiri. Namun apa jawaban sebenarnya dari Margareth Maxwell ini?
“tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri”.
Artinya apa? Tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia. Baik itu pasangan hidup kita, sahabat kita, hobi maupun harta/uang kita. Semua itu tidak bisa membuat kita bahagia secara hakiki. Karena sumber kebahagiaan yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Kalau kita sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kita tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidup bukan hanya ditentukan oleh seberapa kaya kita, seberapa cantik/tampan pasangan kita, atau sesukses apa hidup kita. Ini masalah pilihan : apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak. Itulah yang saya maksud dari Happiness is entirely a state of mind.
Jangan pernah berpikir ada kata terlambat untuk menikah. Kalau memang harus menunggu sedikit lebih lama, ya kenapa tidak? Toh semua itu untuk sesuatu yang sangat precious to have. Sampai nanti saat itu tiba, datangnya seseorang yang akan menjadi partner seumur hidup kita, seseorang yang tentunya tidak pernah menjadi sebab penyesalan kita karena telah salah memilih. Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya kok ..
The beauty of life doesn’t depend on how happy I am…but on how happy others can be, because of me..
Jakarta, 12 Oktober 2009, 13.30 wib
Devi Eriana Safira

























RSS - Posts
Yang kasih komen