Berkompromi dengan Kemacetan

TrafficJam

Hari Rabu (25/6) kemarin sepertinya menjadi hari macet yang paling epic se-Jakarta. Betapa tidak, saya terjebak dalam kemacetan luar biasa selama hampir 6 jam sepulang kantor! *mewek*

Sore itu mendung gelap sudah menghiasi langit Jakarta sejak pukul 15.30. Saya yang mengintip dari balik jendela sudah mulai panik-panik bergembira, bergembira semua, karena kalau hujan itu berarti saya harus berdiri di halte menunggu shuttle bus yang biasa saya tumpangi itu lewat sampai hujan reda, sementara kondisi saya sedang kurang memungkinkan untuk berdiri terlalu lama. Hiks :(

Pukul 16.00 saya pun bergegas menuju ke halte sambil berlomba dengan awan hitam yang sudah siap menurunkan hujan dengan lebatnya. Tepat sesuai dengan perkiraan saya, hujan pun langsung turun dengan lebatnya tepat setibanya saya sampai di halte. Tak tanggung-tanggung, hujan mengguyur Jakarta selama satu jam lamanya. Jakarta yang di hari biasa dan sedang tidak hujan saja macetnya luar biasa, apalagi ketika hujan, volume macetnya pun menjadi berkali-kali lipat.

Jalanan di depan saya sudah diam tak bergerak. Kalaupun iya ada pergerakan, hanya mampu semeter-semeter, dan itu berlangsung selama satu jam lamanya. Kaki saya pelan-pelan mulai basah terkena percikan hujan. Untung saya sedang memakai flat shoes yang terbuat dari bahan karet, jadi akan lebih mudah dibersihkan/dicuci sesampainya di rumah nanti. Tepat di saat hujan mulai reda, busa saya pun datang. Merangkak lambat di tengah jalan yang padat, driver-nya pun sudah enggan mengambil penumpang ke arah pinggir jalan karena dia harus ‘menyibak’ deretan pengendara motor. Ya daripada ribet. Ya sudahlah, yang penting saya sudah berada di dalam bus. Kalau macet ya tinggal tidur saja, semoga baby yang di perut nggak gelisah karena terlalu lama di jalan.

Sepanjang perjalanan saya hanya mampu melek-tidur-melek dan kembali tidur, karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh hampir semua penumpang. Baterai gadget pun mulai menipis karena terlalu lama digunakan untuk mengisi waktu di sela kemacetan yang luar biasa itu. Ya wajar sih, karena perjalanan pulang kali ini memakan waktu selama hampir 6 jam! Rekor perjalanan pulang terlama sepanjang saya pulang kerja :cry: . Untunglah baby saya anteng, seolah tahu kalau dia pun sedang dalam kemacetan yang sama dengan mamanya dan seluruh penumpang di bus yang ditumpanginya. Kaki dan celana saya yang awalnya basah, lama-lama kering dengan sendirinya. Namun ada ‘konsekuensi’ yang harus saya alami, kaki saya jadi bengkak mulai mata kaki sampai ke telapak kaki selama 2 hari :|

Hidup di Jakarta itu, seperti yang sudah beberapa kali saya tulis di sini, memang harus ekstra sabar, dan dituntut untuk mampu berkompromi dengan kemacetan yang semakin luar biasa dari hari ke hari. Andai tidak semua orang menggunakan kendaraan pribadi dan mulai sadar untuk menggunakan angkutan massal, mungkin kondisinya tidak akan separah ini :|

Semoga cukup sekali itu sajalah saya mengalami kemacetan selama 6 jam sepulang kantor :cry:

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Balada Sopir Taksi

taxi driver

Mengingatkan seseorang yang sok tahu itu kadang nggak harus dengan sok tahu juga. Biarkan saja, nanti dia juga akan tahu sendiri di mana letak kesalahannya – Pak Suami

—–

Jadi ceritanya, kemarin saya dan suami berangkat ke kantor naik taksi. Seperti biasa kami melewati tol Jagorawi dan lalu masuk ke tol dalam kota yang akhirnya keluar di Semanggi. Selama perjalanan, biasanya sih saya selalu (ke)tidur(an), karena perjalanan yang lumayan jauh dan setengah perjalanan yang dihabiskan di jalan tol.

Tapi tidak dengan pagi itu. Sejak adanya berita tentang kecelakaan taksi yang memakan korban meninggal akibat sopir yang mengemudi dalam keadaan mengantuk, saya jadi waspada dan memilih untuk menjaga mata saya agar tetap terjaga selama perjalanan. Karena kata beberapa pengemudi taksi yang kebetulan sempat mengajak ngobrol, mereka ‘curhat’ kalau ada kalanya mereka merasa mengantuk jika harus mengantar penumpang di pagi/malam hari dan kebetulan penumpangnya tidak mengajak mengobrol (entah karena sibuk sendiri atau karena ketiduran), dan atau ketika jalanan yang dilewati lurus-lurus saja seperti jalan tol.

Jujur, saya pun pagi itu sebenarnya sangat mengantuk, suami saya pun begitu. Makanya saya ajak suami saya tetap mengobrol supaya mata kami tetap terjaga. Walaupun akhirnya bahan obrolan kami pun habis dan kami terpaksa hanya bisa diam memandang lalu lintas tol yang mulai macet.

Demi melihat suami yang matanya menjelang 5 watt dan mulai sering menguap, saya bilang ke dia dengan suara pelan:

“kalau kamu mau tidur gapapa, nanti kalau sudah sampai Polda/Sudirman aku bangunin. Aku mau ‘nemenin’ supir taksinya, dia kayanya ngantuk, tuh…”

Untunglah suami saya memilih untuk terjaga, menahan kantuk, dan menemani saya walaupun menguap berkali-kali :lol:

Hingga akhirnya menjelang daerah Pancoran, taksi yang saya tumpangi itu terus merapat ke arah kanan, ke jalur contra flow, yang saya tahu keluarnya pasti di Slipi, bukan di depan Polda. Saya pun mengkode suami untuk mengingatkan Pak Sopir supaya tidak masuk ke jalur contra flow, karena memutarnya nanti bakal jauh.

Suami: “Ini Bapak mau ambil contra flow ya, Pak?”
Pak Sopir: “Iya, Pak… “
Suami: “Oh, keluarnya di Slipi dong, Pak?”
Pak Sopir: “Enggak dong, Pak. Keluarnya tetap di Polda. Kan nanti di sana ada patahan ke arah jalur kiri. Nanti kita ambil di situ ke arah Sudirman…”, jawabnya dengan yakin dan sok tahu
Suami: “Oh, ada ya? Setahu saya kalau contra flow itu keluarnya di Slipi, Pak…”
Pak Sopir: “Bukan, Pak. Tetap keluar Polda, kok. Ibu mau ke arah Istana, kan? Sekitar Monas, kan?”
Saya: “Iya, Pak…”
Pak Sopir: “Iya, tetap bisa kok… tenang aja Pak, Bu…” *dengan nada yakin*

Saya dan suami cuma bisa berpandangan. Ya sudah, kita lihat saja nanti deh…

Ketika sudah berhasil masuk jalur contra flow, taksi melaju dengan kencang.
Patung Pancoran, lewat.
Medistra, lewat.
Balai Kartini, lewat.
Dan…Polda pun lewat! :mrgreen:

“Astaghfirullah! Ya Tuhaan… Ah, bener apa kata Bapak, ternyata di sini nggak ada jalan patahan ke kiri ya, Pak? Ah, saya salah ambil jalan ternyata! Waduh, beneran kita jadi keluar di Slipi nih, Pak :(“

Nada suaranya terdengar kaget sendiri dan menyesal. Terlihat berkali-kali dia mengusap wajahnya seolah menyadari kesoktahuannya tadi.

Suami: “Saya waktu masih bawa mobil juga sering ambil contra flow, Pak. Memang keluarnya di Slipi. Kalau mau ke Sudirman ya ambil yang non-contra flow, ambil jalur biasa, toh macetnya cuma di depan situ aja kok. Selebihnya ke arah Gatot Subroto lancar… :D”

Pak Sopir: iya saya salah. Mohon maaf ya Pak, Bu. Nanti biar argonya dikurangi saja… :(“

Suami: “Hehehe, sudah,Pak. Gapapa… :D”

Pelajaran hari ini adalah:
1. Kadang sopir taksi merasa merekalah yang paling tahu jalan karena mereka yang lebih sering di jalanan dibandingkan dengan penumpangnya (walaupun banyak juga yang tidak tahu jalan karena mungkin selain masih baru, mungkin juga jalur yang ditempuh bukan jalur tempat dia biasa beroperasi). Tapi banyak juga kok yang mampu menawarkan jalur alternatif ketika kita tidak tahu jalan atau menanyakan jalur mana yang tidak macet/banjir :D
2. Ingatkan pengemudi taksi jika kita tahu dia salah arah. Tapi kalau sudah diingatkan tapi lebih ngeyelan dia, ya sudah biarkan dia belajar dari kesalahannya :D
3. Usahakan untuk tetap terjaga, kecuali kantuk yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
4. Kita terjaga saja, pak sopirnya ‘nyasar’, apalagi kita mengantuk :mrgreen:

Btw, pernah punya pengalaman dengan pengemudi taksi yang ngeyel juga? :mrgreen:

 

 

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

About The Kapan Things

pertanyaan tanpa akhir

Tak terasa, sebentar lagi puasa, dan lalu lebaran. Sebuah moment yang pasti sudah ditunggu-tunggu bagi semua muslim yang merayakannya, bukan? Tapi bagi sebagian orang mungkin acara kumpul-kumpul dengan keluarga tidak selalu menjadi saat yang menyenangkan. Kenapa? Berkumpulnya keluarga besar justru akan memberi kesempatan terlontarnya pertanyaan-pertanyaan klise seputar the ‘kapan’ things. Iya, pertanyaan: “kapan lulus?”, “kapan nikah?”, “kapan punya anak?” dan sejenisnya itu.

Ketika kita berada di tengah banyak anggota keluarga seperti itu rasanya tidak mungkin kalau kita tiba-tiba menghilang, atau menghindar pergi tanpa basa-basi. Apalagi di moment yang memungkinkan kita mengobrol dengan banyak teman atau keluarga yang tidak setiap hari bertemu. Jadi jangan heran kalau pertanyaan ‘the kapan things’ akan menjadi pertanyaan yang tidak mungkin untuk dihindari.

Setiap kali kita melewati satu tahap, maka akan ada pertanyaan mengenai tahap berikutnya. Ketika sampai pada tahap berikutnya, akan muncul pertanyaan baru untuk tahap yang lebih tinggi, begitu seterusnya. Mungkin bagi yang sudah melewati berbagai fase kehidupan yang hampir lengkap (lulus kuliah, sudah bekerja, sudah menikah, sudah punya anak, dan sudah mau punya mantu), tidak sepenuhnya pertanyaan itu bermaksud untuk menyakiti atau menyinggung orang yang diajak bicara. Tapi terkadang justru ‘ice breaker’ semacam itulah yang tanpa sadar bisa menimbulkan rasa sedih, tersinggung, atau tersakiti bagi orang yang ditanya, sekalipun mereka berusaha menjawab dengan wajah yang (di)ceria(-ceriakan), karena bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan semacam itu termasuk pertanyaan pribadi, dan tidak selalu membuat yang ditanya merasa nyaman.

Sadarkah bagi yang bertanya kalau orang yang belum lulus itu benar-benar tidak ingin menyelesaikan kuliahnya? Atau bagi yang belum punya pasangan itu bukan berarti dia sengaja tidak berusaha mencari calon tambatan hati? Atau bagi yang sudah lama pacaran tapi belum menikah, itu berarti mereka tidak punya rencana ke arah sana sehingga harus ditanya berulang kali dan diburu-buru? Atau bagi yang sudah menikah tapi belum dikaruniai keturunan itu sudah pasti mereka tidak ingin punya anak dan tidak berusaha, sehingga harus ‘dinasihati’ kalau punya anak itu jangan ditunda-tunda? Belum tentu seperti itu, kan? Sadarkah bagi yang bertanya kalau jodoh, rezeki, anak, hidup, dan mati itu masih menjadi otoritas Sang Mahakuasa? Saya percaya, ketika ada doa dan harapan kita yang belum diijabah oleh Allah, sebenarnya Dia ingin menjadikan kita seorang yang terbaik dari diri kita lebih dulu; become an ultimate us.

I have been dealing with those questions for last 7 years since 2007. Respon saya? Mulai ekspresi saya yang masih bisa cengar-cengir, lalu berubah jadi cuek, berubah mulai BT, lalu jadi BT beneran, dan jadi BT banget, sampai malas ketemuan, dan akhirnya berubah jadi netral dan santai lagi. Jujur, bukan hal mudah untuk mengendalikan perasaan saya, butuh proses yang panjang untuk bisa berdamai dengan hati saya sendiri.

Hingga akhirnya, ketika saat itu tiba; ketika Allah memberikan saya kembali kesempatan untuk mengandung, reaksi saya jelas bersyukur, tapi tidak lantas euforia. Saya bahkan cenderung lebih pendiam, tidak terlalu banyak ‘omong’ di dunia nyata maupun di social media. Bahkan di kantor pun pada awalnya juga tidak ada yang ngeh kalau saya sedang mengandung hingga kehamilan saya menginjak usia 5 bulan dan perut saya terlihat mulai membuncit. Saya juga tidak lantas menulis secara heboh apapun yang saya rasakan selama menjalani masa kehamilan, baik itu di blog pun di status bbm/socmed.

Saya juga tidak lantas ganti melontarkan pertanyaan yang dulu sering ditanyakan ketika saya belum hamil ke teman/saudara yang belum hamil, karena saya tahu bagaimana rasanya berada di posisi yang sama dengan mereka. Bahkan untuk mengunggah foto kehamilan saya ke socmed atau menjadikannya sebagai profil picture gadget pun sengaja tidak saya lakukan. Bukan bermaksud tidak ingin berbagi kebahagiaan, selain memang kebetulan selama hamil saya jadi tidak suka difoto (dilarang narsis sama yang di perut kayanya sih), buat saya lebih penting adalah menghargai perasaan orang-orang terdekat yang belum diberikan kesempatan itu oleh Yang Di Atas.

Teman saya pernah bilang begini,

“Kalau kamu ditanya soal jodoh, itu masih jauh lebih ringan ketimbang kamu ditanya soal “kapan punya anak?” Karena menurutku, itu sama aja seperti kita sedang di-judge sama mereka tentang kemampuan kita untuk hamil”.

Andai saja jodoh dan anak bisa dibeli di supermarket, mungkin kita bisa memilih kapan dan dengan siapa kita akan menikah. Kapan saatnya kita ‘membeli’ anak untuk pertama kali dan kapan akan menambahnya sesuai dengan yang kita mau.Tapi toh kenyataannya tidak seperti itu, bukan? Buat saya dua-duanya itu murni rezeki dari Allah. Sebagai manusia kita cuma bisa menjalani sambil berdoa dan berusaha. Rezeki Allah itu bisa hadir dalam bentuk apa saja dan dari mana saja. Kedatangannya pun bisa dipercepat atau diperlambat tergantung dari kesiapan kita menerima rezeki itu. Mungkin menurut kita, kita sudah siap, tapi kalau menurut Allah belum, ya berarti memang belum saatnya. Begitu juga sebaliknya. I do believe, if God brought you to it, He will bring you through it.

Pertanyaan basa-basi seperti “kapan menikah”, “kapan punya anak”, dan berbagai pertanyaan ‘kapan’ lainnya tidak akan seketika berhenti setelah kita menikah atau punya anak. Pertanyaan “kapan nambah anak”, hingga “kapan mantu” pun harus siap kita hadapi saat kita sudah menikah. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, sebagai makhluk sosial kita tidak mungkin menghindari obrolan-obrolan ice breaker semacam itu. Tinggal siapkan saja hati dan mental kita sembari menebalkan telinga. Tapi tidak perlulah sampai kita masukkan ke dalam hati, dibawa rileks saja. Keep enjoy the whole process, dan tetap percaya bahwa Allah selalu memberi sesuatu tepat pada waktunya.*group hugs*

Try to speak for peace and (always) think before you speak

:)

 

 

[devieriana]

 

sumber ilustrasi dipinjam dari @komik_jakarta

A Year Older Again

birthday-gift

“Do not count the candles but notice the light they give. Do not count the years; look at the life you live… “

Sehari sebelum ulang tahun, adik saya dan beberapa teman menanyakan saya ingin kado apa. Hihihik, biasalah basa-basi :lol: . Eh, tapi adik saya serius, ding. Bahkan sampai hari ini dia masih menanyakan saya ingin dikado apa. Ah, kalau saya minta kado beneran, saya bisa sekalian minta yang mahal lho. Misalnya dibeliin lemari, kasur, atau… minta dibiayain persalinan saya. Hayo, gimana? *kikir kuku* :mrgreen:

Sebenarnya, saya bukan tipikal orang yang mengeramatkan hari ulang tahun, apalagi mengharuskan orang-orang terdekat saya untuk memberikan kado. Walaupun kalau dikasih, jelas nggak bakal nolak sih :D. Jangankan dikasih kado, hari ulang tahun saya diingat saja saya sudah senang bukan main kok.

Di sekian tahun perjalanan usia yang telah saya lalui, tentu bukan melulu hal-hal yang manis saja yang saya alami, pasti juga banyak hal yang kurang menyenangkan. Bukankah kehidupan itu seperti rollercoaster yang meliuk-liuk dan terjungkir balik? Seperti itulah kurang lebih perjalanan kehidupan saya selama sekian puluh tahun terakhir ini. Hingga akhirnya Allah menyentuh saya dengan sangat halus dan mengantarkan saya pada sesi kehidupan yang sekarang. I am so thankful for that.

Tadi malam, di sela dialog saya dengan-Nya, dengan khusuk saya memanjatkan segenap doa terbaik untuk perjalanan kehidupan saya ke depan. Bukan cuma untuk saya dan keluarga saya, tapi juga untuk calon anggota baru keluarga kami yang sekarang insyaallah sedang tumbuh kembang dalam rahim saya. Mohon doanya semoga kami berdua diberikan kesehatan dan kelancaran hingga saatnya lahiran nanti, ya. Aamiin…

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Resign: Emosi Sesaat atau Keputusan Matang?

resign

Beberapa waktu yang lalu, adik saya didera galau luar biasa lantaran dia harus membuat keputusan besar dalam karirnya, yaitu resign. Mungkin buat sebagian orang, soal resign itu sebuah hal yang lumrah. Namanya kerja pasti ada enak-nggak enak, cocok-nggak cocok. Alasan resign pun bermacam-macam; ingin punya karir yang lebih baik, ingin situasi kerja yang lebih nyaman, dan punya penghasilan yang lebih tinggi, dll. Tapi banyak juga yang memutuskan untuk resign karena alasan-alasan di luar itu, misalnya ingin melanjutkan sekolah, mengurus keluarga, ingin berwiraswasta, dll. Tapi kalau resign dari tempat yang telah menerimanya sejak awal, telah membuatnya banyak pengalaman dan pembelajaran sehingga menjadi seperti sekarang, plus lama bergabungnya sudah hampir satu dasawarsa mungkin lain lagi ceritanya.

Ceritanya Si Adik memang sudah lebih dari 9 tahun berkarir di salah satu bank swasta di bilangan Tendean, Jakarta Selatan. Sejak masih sekolah dia memang dikenal di keluarga sebagai anak yang rajin, anak yang total ketika mempelajari sesuatu, anak yang teliti, dan seorang fast learner. Dia juga tak segan mempelajari hal-hal baru yang sekiranya bermanfaat untuk menunjang pekerjaannya. Maka tak heran, baik ketika dia masih di kantor cabang Surabaya sampai sekarang di kantor pusat Jakarta dia selalu dijadikan andalan perusahaan karena keseriusan, ketelitian, dan kedisiplinannya dalam bekerja. Eh, saya menulis hal-hal baik ini bukan karena mentang-mentang dia adik saya lho, ya :lol: . Tapi juga sebagai sebagai sesama pegawai kantoran saya benar-benar merasa salut dan bangga karena belum tentu saya bisa se-qualified dia :mrgreen:

Sampai akhirnya dia curhat galau gara-gara salah satu pimpinan ternyata tidak mengizinkan dia untuk resign dengan alasan saat ini dia adalah andalan perusahaan. Berbagai ‘rayuan’ digunakan oleh Sang Pimpinan agar adik saya memikirkan ulang rencana pengunduran dirinya, syukur-syukur kalau sampai membatalkan niatnya untuk bergabung dengan perusahaan lainnya. Saya cuma bisa menasihati agar Si Adik tetap konsisten dengan pilihannya. Di mana-mana risiko mengajukan resign memang begitu, ada yang langsung disetujui, tapi ada juga yang ditahan supaya jangan sampai resign. Semua tergantung pimpinan dan kualitas apa yang dimiliki oleh karyawan tersebut sehingga menyebabkan perusahaan jadi sedemikian ketergantungannya dengan Si Karyawan. Si Adik cerita, kalau banyak teman yang resign dan langsung disetujui, tapi giliran dia, harus menghadap pimpinan sebanyak 2-3x untuk bernegosiasi masalah posisi, dan gaji. Pun ketika di hari terakhir dia berkantor di sana pun Pimpinan Divisinya pun masih penasaran apa sebenarnya alasan adik saya resign dari bank tempat dia berkarir selama 9 tahun terakhir ini, padahal sudah diiming-imingi nominal gaji yang sama persis dengan tempat kerjanya yang baru nanti. Tapi syukurlah Si Adik tidak tergoda, dan tetap berkeinginan untuk memulai karir yang baru di tempat yang baru.

“Jadi, sudah beneran mantep buat resign nih? Saya itu sebenarnya heran dan penasaran banget sama kamu. Apa sih sebenarnya yang mendasari keinginanmu untuk resign? Padahal gajimu sudah saya naikkan sama dengan tempat kamu bekerja nanti, tapi kenapa kok kamu tetap pengen resign? Teman-teman kamu yang lain ketika diberi kenaikan gaji dengan nominal yang sama dengan tempat kerja yang baru mereka langsung memilih tetap bergabung di sini lho. Cuma kamu aja yang beda…”

Padahal alasan seseorang mengundurkan diri dari perusahaan kan bukan melulu karena uang, ya? Dan adik saya berseloroh di bbm:

“Aku ingin juga membuktikan sama pimpinanku, kalau aku bukan pegawai ‘murahan’ yang cuma bisa dinilai dari besaran rupiah :lol:

Seperti ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya dan terdampar menjadi PNS, alasan utamanya juga bukan karena gaji dan posisi. Saya sadar kok, ketika saya menjadi PNS, karir saya akan dimulai dari nol lagi, dengan jabatan staf, dengan gaji pokok yang jauh di bawah gaji di perusahaan sebelumnya. Tapi kenapa saya mau? Ya, selain karena sudah terlanjur diterima, ada pertimbangan lain yang mendasari itu semua (dan kalau di-list banyak sekali), salah satunya sih dari segi ketersediaan waktu untuk keluarga.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, ada sisi positif dan negatifnya. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah jangan resign karena emosi sesaat, apalagi karena latah. Melihat teman-teman yang lain resign, eh jadi terpengaruh ikut-ikutan resign padahal alasannya juga belum tentu sama, cuma gara-gara alasan,

“Abisnya kalau nggak ada temenku yang itu, nggak enak. Suasana kerjanya jadi nggak asik lagi…”

Mungkin saja karena kalian kurang berteman jadi temannya cuma satu itu saja :mrgreen: .

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang juga menangani human resources di sebuah perusahaan, dia mengatakan kalau rasa tidak betah dalam bekerja dapat disebabkan karena ada harapan karyawan yang tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan, sehingga ketika mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lain harapan mereka di tempat yang baru nanti mereka akan dapat mewujudkan impian mereka baik dari segi gaji, jenjang karir, reward, maupun fasilitas/kesejahteraan.

Selain semua itu, ada faktor lain yang menyebabkan mengapa seseorang memilih untuk resign, selain tekanan pekerjaan yang tinggi, dan adanya tawaran pekerjaan lain yang jauh lebih menarik, alasan lainnya adalah karena lingkungan kerja yang kurang kondusif, dan adanya ketidaksesuaian nilai-nilai perusahaan dengan diri pribadi. Kalau ini sih saya sempat mengalami sendiri. Dulu, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan keluarga, di mana kata-kata kasar dan makian terdengar hampir setiap hari antaranggota keluarga; seolah tak peduli bahwa karyawan di sekitar mereka adalah orang di luar keluarga yang tidak pantas untuk ikut mendengarkan kata-kata tersebut sebagai sebuah hal yang lumrah apalagi di lingkungan kerja. Jujur, terasa sangat intimidatif, sekalipun kata-kata itu bukan ditujukan pada kami.

Tapi syukurlah, semua sudah berhasil saya lalui dengan baik, setidaknya saya sudah berhasil melalui masa-masa galau pindah-pindah tempat kerjalah :lol: . IMHO, tidak ada ilmu dan pengalaman yang tidak berguna. Semua ilmu dan pengalaman yang pernah kita dapat di masa lalu tetap akan bisa diaplikasikan di pekerjaan kita yang sekarang, tergantung waktu dan kesempatan saja.

Ngomong-ngomong, kalian sudah pindah tempat kerja berapa kali sampai sekarang? :D
*nyeruput secangkir earl grey tea hangat*

[devieriana]

sumber ilustrasi diambil dari sini

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.