Tamasya Yang Tanggung

•December 15, 2009 • 2 Comments

Kali ini saya mau curhat nggak penting. Hari Minggu kemarin boleh dibilang “harlotnas”, hari nyolot nasional. Betapa tidak, saya yang sudah empot-empotan menahan emosi sejak seminggu menjelang “bulanan” harus berhadapan dengan segala hal menjengkelkan sejuta umat :evil: . Maklumlah ya, namanya perempuan pasti ada saat-saat dimana harus dilanda emosi yang tidak stabil selama beberapa hari. Menjengkelkan? Iya banget :lol: . Buat diri sendiri aja sudah terasa menjengkelkan, buat orang lain apalagi.. Untung suami sudah paham & bisa mengerti “tabiat” bulanan perempuan satu itu. Kalau enggak, mungkin sudah terjadi huru-hara & perang antar suku kali ya.. :mrgreen:

Rencana mau ke Cibubur lihat rumah. Lihat-lihat doang kok, belum beli. Kan isi celengannya belum sampai se-tong minyak tanah :D . Dan kenapa yang dipilih daerah Cibubur, Cileungsi dan sekitarnya? Kenapa nggak di Pondok Indah, kan lebih deket tuh. Alasannya cuma satu. Mahal, bos ! *nangis*. Rencana awal berangkat pagi biar nggak terlalu panas tapi berhubung suami harus menjalankan banyak ritual pagi (untunglah dia nggak sampai prosesi luluran, spa & siraman), jadilah kita sampai sana sudah dalam suasana tengah hari bolong nan panas membakar kulit. Tahu sendiri & bisa dibayangkan kan akses kearah Cibubur & seterusnya bukan main panasnya & kita bermotor ria ke arah sana. Well no problemlah untuk masalah bermotor ria itu, sudah biasa. Lha terus masalahnya?

Nah, setelah dari Cibubur, Jonggol dan endebrey endebrow itu, suami mengajak ke.. taraaaaaa.. Taman Buah Mekarsari !. WHAT?! Iya, ke Taman Buah Mekarsari. Ngapain coba?. “Ya kan kamu belum pernah kesini, sekali-kali kesini aja biar tahu. Aku juga belum pernah kok..”, jawabnya enteng. Percuma juga saya bilang nggak pengen kesitu tapi toh yang bawa motor kan dia, jadi ya terpaksa dengan wajah gondok & emosi berlebihan saya melangkahkan kaki dengan amat sangat ogah-ogahan. Lha, kenapa mau kalau nggak suka? Ya dalam hati sebenernya saya juga penasaran seperti apa sih Taman Buah Mekarsari yang katanya taman buah terbesar didunia itu, sambil menenangkan diri dari emosi yang naik turun nggak jelas itu.

Ternyata, kalau mood kurang menyatu dengan lokasi bisa jadi lokasi senyaman apapun bisa jadi biasa-biasa saja atau bahkan menjadi kurang menarik ya. Itu yang terjadi sama saya kemarin :mrgreen: . Datang sudah sangat siang, melihat venue-venue yang (menurut saya) kurang menarik & wahana yang “begitu-begitu” saja membuat mood saya makin turun & ingin segera enyah dari bumi Taman Buah Mekarsari. Apalagi sepanjang jalan hanya melihat jajaran pohon nggak jelas itu makin membuat saya bosan. Iya saya tahu, saya belum melihat semua lokasi kebun buahnya. Cuman, berhubung saya udah nggak mood, jadi ya semua terasa serba nggak asik. Apa sih? :lol: . Suami sih enjoy aja, sambil mengabadikan beberapa spot yang menurut dia menarik. Suami kebetulan lumayan pinter kalau mengambil angle-angle atau spot-spot untuk foto. Tapi tetep aja kalau menurut saya nggak ada yang menarik ngapain difoto. Nyebelin banget deh saya waktu itu. Ngerasa sendiri aja :mrgreen:

Karena Taman Buah Mekarsari termasuk arena wisata keluarga jadi yang datang juga keluarga-keluarga gitu, kebanyakan dalam rombongan besar, datang dengan menggunakan mobil keluarga atau bis (kebanyakan berplat daerah luar Jakarta). Ditambah lagi kemarin hari Minggu pula. Jadi makin kloplah keramaian & hiruk pikuknya, begitu pula dengan peringatan harlotnas yang saya rayakan itu :mrgreen: . Suami yang berusaha setengah mati membuat saya antusias dengan suasana disana, harus menyerah karena mood saya tak juga berubah sejak kedatangan kami di tempat itu.

” Mau naik kano nggak? Nanti kita foto-foto ditengah danau situ..”
” Ogah ah, panas.. Nanti item.. Tengah hari bolong kok panas-panas ditengah danau..”
” ya udah, mau foto disitu nggak, ditempat teduh situ?”
” Enggak ah, pemandangannya jelek. Nggak ada bunga-bunganya. Gersang..”

Masih sabar, tapi yakin deh pasti pengen njambak :lol:

” Kamu udah laper? Mau makan nggak? “
” Enggak. Belum laper.. “, dengan muka yang amat sangat nggak mood banget.
” sama sih aku juga belum laper. Mau naik bis yang itu, buat keliling-keliling nggak?”
” ogah ah, males. Liat tuh, selalu rebutan & penuh banget..”, jawab saya bikin alasan.
” ya kalau nggak mau yang penuh, harusnya tadi kamu bawa bis sendiri..”

Kali ini saya yang nahan ketawa. Membayangkan membawa sendiri bis warna-warni yang gandeng dua itu buat keliling taman Buah Mekarsari aja saya udah sakit perut. Belum lagi melihat wajah suami yang datar banget tanpa emosi, malah sesekali cengengesan. Haduh dia memang sabar banget ngeladenin saya yang pecicilan ini :lol: . Untunglah dia tabah. Kalau enggak mungkin saya udah disuruh pulang sendiri, kali. Jangan sampai deh, kan saya paling bodoh kalau menghafal jalan. Nanti saya tersesat gimana? :lol: .  Jadilah acara yang seharusnya fun, karena saya yang lagi nggak mood seenggak mood-moodnya umat, akhirnya tak lama kemudian harus pulang. Suami juga memilih untuk mengalah, daripada bonyok katanya, hehe.. Iyalah ngapain lama-lama di tempat yang saya nggak bisa menikmati keindahannya samasekali :lol: *ditabok bolak-balik*

Jadi? Ya, akhirnya kita pulang ke Mampang dengan sebuah cerita tamasya yang tanggung :mrgreen: . Sekianlah posting nggak penting dari saya.

Makasih :mrgreen:

 

Renungan Sesuap Nasi

•December 11, 2009 • 18 Comments

 

Tulisan ini saya tulis karena saking herannya saya sama orang-orang disekeliling saya tentang betapa pilih-pilihnya mereka sama makanan. Awalnya ok, mungkin saja masakan hari itu kurang menggugah selera sehingga kurang menerbitkan nafsu makan. Tapi ketika pemandangan itu semakin sering saya lihat, saya kok jadi bertanya-tanya sendiri ya, ada apa sih? Wong saya makan juga nggak kenapa-kenapa, enjoy aja. Kalau dibilang nggak enak banget, dimananya sih yang nggak enak? Kayanya normal-normal aja deh.  “Ya namanya orang seleranya kan beda-beda bu, belum tentu yang buat lidah kamu enak, buat lidah orang lain juga enak..”. Apa mungkin saya yang rakus ya, apa aja mau? :)

Nggak tahu apa yang membuat mereka berubah & seringkali nggak mau makan menu yang sudah disediakan. Padahal menunya selalu berganti-ganti tiap hari, dan menurut saya menunya juga pantas, layak & bersih. Sekarang “trend” yang berkembang di sekeliling saya adalah “nggak makan ah, menunya nggak enak” & berbondong-bondonglah mereka memesan makanan dari luar. Awalnya saya menganggap okelah ya, mungkin mereka bosan karena menurut mereka menunya begitu-begitu saja (walaupun aslinya ganti-ganti lho menunya.. :)   ). Ya namanya juga jatah makan dengan budget yang sudah ditentukan. Jadi ya wajarlah kalau menyesuaikan dengan harga. Nggak mungkin misal jatah makan siang Rp 20.000,- tapi menunya seharga Rp 50.000,- , ya rugi bandarnya. Istilahnya gitu..

Kalau saya kebetulan nerimo aja, selain saya juga males kalau mesti ribet delivery order. Kebetulan juga nggak pernah rewel soal makanan. Enak enggak enak & apa yang tersedia ya itu yang akan saya makan, nggak komplain, nggak menuntut mesti gini gitu. Lha wong saya juga nggak bisa masak, plus nggak ada waktu juga buat masak :D . Tapi memang hal itu juga yang jadi salah satu wejangan kedua orangtua saya. Enak/nggak enak, apapun yang dihidangkan, nikmatilah, sambil disyukuri bahwa kita masih bisa makan. Salah satu bentuk penghargaan buat oraang yang sudah bersusah payah menyediakan makanan buat kita & ingatlah diluar sana ada banyak orang yang kekurangan, yang nggak bisa makan karena nggak mampu beli makanan atau nggak ada yang bisa dimakan.

Saya bukan bermaksud sok bener, sok menggurui, atau sok perhatian sama orang yang berkekurangan ya. Cuman seringnya suka introspeksi dalam diri sendiri aja, kalau misal saya sekarang jadi yang terlalu pilih-pilih makanan, apa iya dulunya mama saya tiap hari selalu masak makanan yang enak & mewah buat kami? Dengan gaji papa yang nggak besar itu mama harus berusaha mengatur keuangan bagaimana caranya biar cukup buat hidup sebulan dengan 3 anak yang biaya kuliah & sekolahnya juga besar. Makan enak sekali-kali bolehlah, ibaratnya “rekreasi”, masa iya mau makan tahu &  tempe terus, sekali-kali makan lauk ayam boleh dong. Ya maklumlah, kami hanya keluarga sederhana. Itulah yang membuat saya selalu merasa bersyukur Alhamdulillah Tuhan masih ngasih rezeki cukup sehingga kami sekeluarga masih bisa makan dengan layak sampai dengan hari ini.

Sekedar ingin membuka mata, coba deh lihat sekeliling kita, ada banyak kaum yang hanya untuk sesuap nasi saja mereka harus bekerja banting tulang, susah payah, kadang tak peduli cuaca, musim, & waktu. Jangankan untuk makan sehari 3x, ada makanan yang bisa dimakan aja sudah alhamdulillah banget. Seperti kisah yang saya tuturkan disini & disini, kalau kita yang jadi bapak dan ibu itu mungkin akan bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya cari makan ya. Jangankan untuk memilih makanan yang enak, mikir hari ini bisa makan apa enggak aja sudah bikin stress kali ya. Iya kalau ada yang bisa dimakan, lha kalau enggak?

Jadi, coba mulailah syukuri apa yang sudah Tuhan kasih sama kita. Apapun itu bentuknya. Karena ada banyak orang diluar sana yang nasibnya tidak seberuntung kita yang masih bisa ketemu makanan (enak) setiap hari…

Maaf, hanya sebentuk renungan.. :)

 

Tarian (Diatas) Luka

•December 8, 2009 • 10 Comments

Perempuan itu menari dengan kain & selendang warna-warni diatas awan-awan putih yang bergumpal, terserak dilangit yang pucat. Matari enggan menampakkan diri, menyelimuti tubuhnya yang lesu dengan kabut warna kelabu. Perempuan itu terus menari diiringi langgam guntur & kilat yang beradu. Hujan bak air bah tak jua menyurutkan niatnya tuk terus menari. Berputar cepat bagai gasing, menumpu pada kedua kaki kecilnya yang ringkih & tertatih. Sesekali diseringai tawa pun tangis yang bergema. Ada luka di hatinya yang masih menganga. Namun dia tak peduli. Atau, masih adakah yang akan peduli? Gumamnya lirih..

Bahkan ketika darahnya menetes jadi rintik gerimis kemerahan pun dia masih saja tergelak. Gelak yang terpaksa. Karena tawa itu keluar disela derai  airmata. Tawa itu terdengar pilu, pedih dalam lara yang tak terperikan. Senyum kering yang membuatmu yakin bahwa perempuan itu bisa menerima kejoramu yang berpijar jauh melebihi pendar cahayanya.

Jika kau ingin tahu seberapa parah luka jiwanya.. Coba lihatlah keatas, rasakan hadirnya. Kan kau temukan seorang perempuan yang menari tertatih, berputar makin cepat bagai gasing di lanskap langit kemerahan.

Perempuan itu adalah aku..

kekasihmu..

 

 

gambar dipinjam dari sini

 

A Beautiful Mind

•December 3, 2009 • 13 Comments

Kebetulan tulisan ini adalah salah satu tulisan yang saya ikut sertakan dalam Rose Heart Writing Article Competition bulan Oktober lalu & terpilih sebagai juara 3.  Saya posting disini hanya ingin sekedar berbagi. Tanpa ada maksud menggurui, & semoga ada sebuah pencerahan bagi yang belum bertemu jodohnya :) . Oh ya, kenapa saya beri judul A Beautiful Mind & kesannya kurang nyambung sama tulisannya? Ya suka-suka sayalah, wong saya yang nulis, hehehe.. :lol: .Nggak kok. Saya berpikir bahwa selama kita berpikir positif, apa yang kita anggap sebagai beban (pikiran) nggak akan seberat yang kita pikirkan kok.. Gampang ngomongnya ya? :D . Ya setidaknya itulah yang saya rasakan & sejauh ini sih it works.. Jadi, monggo dibaca, dihayati, diresapi & diamalkan.. Halah, apa sih? :mrgreen:

 

*****

 

Hari ini saya dikejutkan oleh sebuah berita bahagia dari salah seorang sahabat yang setelah berkali-kali gagal dalam urusan percintaan akhirnya beberapa hari lagi akan segera melangsungkan pernikahannya. Terharu. Untuk pertama kalinya saya merasakan perasaan seemosional ini ketika mendengar seorang sahabat yang berniat mengakhiri masa lajang. Istimewa, karena beliau akhirnya menemukan jodohnya di usia hampir  kepala lima. Dia adalah seorang sahabat terbaik yang pernah saya punya. Sahabat yang sering mempercayakan kisah cintanya pada saya, baik suka,  duka, jatuh cinta atau lagi patah hati.

Uniknya kami belum pernah sekalipun bertemu. Pertemanan kami yang hampir berjalan 4 tahun ini berjalan apa adanya sebagaimana kisah persahabatan via dunia maya. Samasekali tidak melibatkan perasaan lho. Karena memang kami masing-masing lebih nyaman dengan status persahabatan kami. Usianya yang terpaut jauh dari saya membuat saya juga nyaman bercerita tentang apa saja padanya, begitu juga sebaliknya. Meskipun saat saya menikah dia tidak bisa hadir lantaran kesibukannya yangs aat itu sebagai seorang manager IT di sebuah perusahaan terkemuka, namun saya yakinwaktu itu  doanya hadir untuk saya.

Bukan hanya sekali dua kali dia mempercayakan kisah kegagalannya pada saya. Kalau dibilang bosan ya mungkin sayalah orangnya, hehehe.. Tapi sebagai seorang sahabat, berusaha untuk all ears & all heart untuknya. Memang saya tidak selalu memberikan solusi yang terbaik, tapi berusaha untuk memberikan saran & mengembalikan kembali pada beliau untuk semua keputusan akhirnya.

Ah, masalah cinta & pasangan hidup memang selalu menjadi tema yang tak akan pernah habis untuk dibahas ya. Selalu saja ada energi untuk menuliskannya dalam berbagai versi & bahasa. Kita diciptakan berpasang-pasangan namun kita tak pernah tahu kapan & dimana kita akan bertemu dengan pasangan hidup kita.

Kita, para perempuan pasti semasa kecil punya dong gambaran tentang sosok ideal seorang pasangan hidup. Pengen punya yang type-nya begini, begini, begini. Pengen yang sifatnya bla, bla, bla, bla. Secara fisik begini, dan lain sebagainya. Ya namanya pengen punya pasangan hidup yang sempurna wajar tho? Nikah kan niatnya juga cuma sekali seumur hidup, dan kalau bisa dapat yang sempurna sekalian. Begitu kan?

Saya punya banyak sahabat perempuan yang punya almost perfect life, semua dia punya : pribadi yang hangat & menyenangkan, karir yang bagus, gaji dalam digit rupiah diatas enam digit, keluarga yang supporting penuh, sahabat yang seabreg-abreg. Tapi hanya satu yang dia belum punya : pria yang tepat sebagai pasangan hidup. Mungkin bisa disimplifikasi lagi sebagai pria single, tidak sedang terikat hubungan & pernikahan dengan siapapun alias bukan suami/pacar orang, mapan (setidaknya dia punya pekerjaan sehingga mampu menafkahi keluarga kelak, walaupun istri juga sebagai wanita karir), punya kepribadian yang baik. Soal wajah mungkin bisa nomor sekianlah, ya misal Tuhan kasih yang seganteng Brad Pitt sih disyukuri (banget) .

Siapa sih yang tidak ingin menemukan pasangan hidupnya sesegera mungkin? Kalau ada yang bilang “enggak” mungkin dalam artian “pending” bukan “nggak mau”. Nah, masalahnya kan jodoh itu ngga bisa dibeli layaknya kita pengen beli tomat di pasar, ngga bisa asal comot sesuka hati mana yang kelihatan mateng trus kita beli & bawa pulang, kita makan atau bikin jus. Hidup juga bukan jalan tol yang bebas hambatan yang mulus, lancar sampai ke tujuan. Demikian juga sebuah perjalanan dalam menemukan (saya pinjam istilah Cinderella) “prince charming”. Kita tidak pernah mengira “path” apa yang sedang kita jalani dalam proses menemukan pasangan hidup itu. Untuk urusan jodoh masih jadi misteri terbesar Tuhan yang tidak pernah bisa di tebak kapan datangnya layaknya hidup & matinya manusia.

Ada yang sudah ngoyo banget, tapi jodoh yang diharapkan belum datang-datang juga padahal usia juga sudah “pantes” berkeluarga. Tapi ada juga yang nggak dicari eh malah datang sendiri. Ya, itulah uniknya jodoh.

Kalau bicara masalah usia, sebuah pernikahan bukanlah sebuah hal yang dilakukan karena emosi, sekedar pantes-pantesan, atau karena tuntutan usia. Menikah , selain masalah hati, kesiapan mental, juga masalah waktu. Seberapa ngoyonya kita kalau Yang Diatas belum “say yes” ya nggak bakal ketemu. Tapi kalau Tuhan sudah bilang, “My Dear, this is the right time for you to marry with the man you deserve to live with..”.. Voilla.. segala rencana akan dimuluskan oleh-Nya. Seperti halnya sahabat saya tercinta yang menemukan jodohnya di hampir usia kepala lima. It’s no big deal, right?

Saya juga punya sahabat yang sudah pacaran hampir 7 – 8 tahun, sudah berniat akan melanjutkan hubungan serius mereka ke jenjang pelaminan. Lha kok ndilalah menjelang rencana lamaran salah satu diantara mereka justru memutuskan pertunangan & memilih untuk menikah dengan orang lain. Ada juga kisah seorang sahabat yang sudah menanti pasangan hidup sedemikian lama, namun ketika kemudian hari diketemukan dengan “prince charming” yang ternyata tak lebih baik dari Ja’far ( tokoh penasehat sekaligus penyihir jahat di film Aladdin). No, no, saya bukan bermaksud menakuti atau bikin paranoid terhadap pernikahan ya.. (jadi inget sama Manohara kalau begini).

Saya juga tahu kok bagaimana rasanya & betapa BT-nya dihujani “terror” pertanyaan “kapan menikah?”, “eh, mbak Devi udah punya calon kan?”, “aduh gedenya udah semanten nih, kapan nikah Jeng?”. Hoalaaah..  Capek ya? Ya bagaimana lagi, itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita memang hidup diantara “kultur” masyarakat yang terlalu peduli dengan urusan pribadi orang lain (maafkan saya ya para tetangga, sodara-sodara yang pernah tanya hal itu beberapa tahun yang lalu sama saya). Tapi okelah kita ambil posistifnya saja ya, because they do care about us. Ya siapa tahu mereka tanya ini itu hanya untuk memastikan kapan kita menikah selain itu mereka mau jadi wedding organizernya, penyandang dana, atau penyedia katering. Who knows?  :-)

Buat yang belum bertemu dengan pasangan hidupnya, someday, somehow, somewhere, you’ll find your Prince Charming soon. Banyak orang yang sudah pada nikah aja belum tentu happy (even they pretend to be happy),  so as long as you are happy with your life,  surrounded by fun-loving friends, you’ll be just fine. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, masalah usia, atau jabatan yang sudah kalian miliki, sehingga nantinya justru malah akan membuat kalian, para perempuan membuat pilihan yang salah. Juga jangan pernah memutuskan menikah karena orang lain sudah menikah lebih dulu daripada kalian. Menikah bukan masalah kalah atau menang antara teman, siapa yang menikah duluan, atau siapa yang bisa dapet jodoh duluan. Nikmati saja semua alur proses pencarian itu, tidak ada salahnya kok untuk berhati-hati. Kan kita juga pengennya hanya menikah sekali untuk seumur hidup ya. Boleh kok agak keluar sedikit dari lingkungan yang ada, siapa tahu “si dia” itu justru nyempil di tempat-tempat yang tidak pernah kita duga sekalipun.

Ah, jadi ingat pesan moral yang saya dapatkan ketika melihat film He’s Just Not That Into You. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”. Tapi semua kembali ke hati & pikiran. Happiness is entirely a state of mind. Ada banyak hal yang bisa kita share dengan orang lain, yang justru akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri untuk kita.

Oh ya, pernah dengar kisah Margareth Maxwell istri John C Maxwell seorang pembicara & pakar kepemimpinan yang memberikan statement bahwa suaminya tidak pernah memberikan kebahagiaan yang dia cari? Kaget dong, seorang pakar, pembicara, yang sering “menguliahi” orang tentang hidup, kebahagiaan, kepribadian & kepemimpinan ternyata dia tidak cukup expert untuk memberikan kebahagiaan kepada istrinya sendiri. Namun apa jawaban sebenarnya dari Margareth Maxwell ini?

“tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri”.

Artinya apa?  Tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia. Baik itu pasangan hidup kita, sahabat kita, hobi maupun harta/uang kita. Semua itu tidak bisa membuat kita bahagia secara hakiki. Karena sumber kebahagiaan yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Kalau kita sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kita tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidup bukan hanya ditentukan oleh seberapa kaya kita, seberapa cantik/tampan pasangan kita, atau sesukses apa hidup kita. Ini masalah pilihan : apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak. Itulah yang saya maksud dari Happiness is entirely a state of mind.

Jangan pernah berpikir ada kata terlambat untuk menikah. Kalau memang harus menunggu sedikit lebih lama, ya kenapa tidak? Toh semua itu untuk sesuatu yang sangat precious to have. Sampai nanti saat itu tiba, datangnya seseorang yang akan menjadi partner seumur hidup kita, seseorang yang tentunya tidak pernah menjadi sebab penyesalan kita karena telah salah memilih. Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya kok ..  :)

 

The beauty of life doesn’t depend on how happy I am…but on how happy others can be, because of me..

 

 

 

Jakarta, 12 Oktober 2009, 13.30 wib

Devi Eriana Safira

 

 

Email Untuk Seorang News Anchor

•November 25, 2009 • 23 Comments

Sejak beberapa bulan yang lalu saya unya hobi baru yang unik, yaitu “ngasih masukan”. Eh biasa aja ya? Sebenernya bukan hobby ya, kesannya kalau hobby kok sesuatu yang dikerjakan dengan suka cita & kontinyu. Ini kegiatan yang ngasal & seseneng-senengnya saya aja. Kalau lagi mood ngasih masukan ya ngasih kalau enggak ya bakal saya biarin sampai busuk.. halah, apa sih? :lol:

Saya ngerti sih kalau saya juga belum tentu bener, masih sering bikin salah, malah seringnya ngawur tapi kenapa berani-beraninya ngritik orang? Kapan hari dengan 3 orang penulis novel. Syukurlah semua tanggapannya positif. Bahkan ada yang sampai bela-belain nyamperin ke kantor saya buat nganterin edisi revisi novelnya. Nggak tahu ya kalau soal yang ini saya suka spontan aja & nggak tanggung-tanggung. Karena menurut saya itu salah satu bentuk perhatian saya sama seseorang.

Nah kalau sebelum-sebelumnya saya pernah ngasih masukan atau kritik sama beberapa penulis yang bukunya saya baca, sekarang sama news anchor alias pembaca berita. Belagu ya? :D . Kalau yang kemarin-kemarin lebih ke kenapa begini, kenapa begitu. Kenapa nggak sebaiknya begini atau begitu. Nah kalau sama mas yang satu ini saya masih maju mundur. Takut kalau dia nggak menerima masukan saya, atau bahkan nantinya malah saya yang dicap sok tahu.

Sebelum ngantor salah satu kebiasaan pagi saya pasti liat berita di salah satu stasiun televisi.. soalnya nggak mungkin di stasiun kereta api *dilempar ember isi pel-pelan*. Nah sejak pergantian news anchor favorit saya menjadi ke yang “belum” jadi favorit saya pasti membuat zona nyaman saya sedikit terganggu. Wong biasanya ngeliat mas X kok sekarang ganti mas Y. Nggak asik ah gaya siarannya (Ini liat beritanya apa orangnya sih?). Iya saya tahu nggak fair sih memang, kesannya jadi membandingkan, lagian namanya orang kan punya style masing-masing. Nggak bisa disamain. Ya sudahlah saya terima. Tapi nggak tahu kenapa kok hati ini rasanya gemes banget sama mas Y ini ya, kalau siaran kok ngomongnya balapan melulu sama partner siarannya. Kaya mendominasi gitu & itu nggak cuma sekali dua kali dia kaya begitu, hampir tiap hari. ” Duuh, nih orang udah ada yang ngebilangin belum sih kalau gaya siarannya itu bikin gemes karena memotong percakapan melulu? Emangnya dia itu baca beritanya sendirian apa?”, pikir saya geregetan.

Akhirnya begitu sampai kantor, bukan langsung buka aplikasi kerja tapi buka.. facebook :D . Saya cari namanya.. ketemu, saya add, tentu saja dengan membubuhkan kata-kata mesra yang bikin dia langsung accept invitation saya :D . Halah, maksudnya kata-kata yang begini lho.. ” Halo mas Y, saya add yah..Makasiiih :) “. Ealah, standar ya? Tapi jangan salah nggak berapa lama saya langsung diapprove lhoo.. Ciih, gitu aja bangga :D . Tindakan selanjutnya, kasih dia message. Bilang makasih udah di approve dululah, baru selanjutnya melancarkan serangan saya.. eh mulai lebayatun.

Intinya saya minta maaf kalau nanti isi message saya bikin hati kurang berkenan, karena berisi kritikan. Nyadar dong, wong nggak ada orang didunia ini yang dengan sukarela mau menerima kritikan, apalagi yang bikin kuping merah. Dengan segenap kehati-hatian saya ungkapkan preambule uneg-uneg saya. Dia bilang nggak apa-apa selama itu buat kemajuan dia & acara yang dibawakannya.

Merasa dapet lampu ijo, langsung saya sampaikan apa yang saya lihat plus kegemesan saya tiap kali ngeliat dia siaran. Tapi tentu dengan tidak membandingkan dia dengan anchor sebelumnya, nggak etislah. Sambil deg-degan saya tunggu responnya. Duh, bakal marah apa makasih nih balasan emailnya ya? Sejam kemudian email saya baru ada respon. Hasilnya adalah.. Pffiuh sangat welcome. Dia bilang makasih udah nyampein semua itu ke dia. Selama ini ternyata belum ada orang yang bilang semua itu sama dia. Kalau selama ini dia terkesan mendominasi atau sering memotong percakapan partner itu secara nggak sadar (pingsan dong mas?). Berkali-kali dia menyampaikan terimakasih buat masukan saya & akan segera memperbaikinya. Saya sih seneng-seneng aja, dengan harapan nantinya nggak sekedar masukan tapi diperhatikan beneran.

Sehari, dua hari saya kok malah nggak ketemu sama mas itu di siaran paginya dia ya? Walah kemana ini? Pikir saya. Jangan-jangan dia “mutung” gara-gara habis saya kritik kemarin. Ah tapi enggak ah.. wong dianya welcome kok. Siapa tahu memang ini bukan jadwal siarannya dia. Coba besok pagi aja deh.. Hibur saya dalam hati..

Besoknya.. Taraaa.. dia siaran bersama si mbak partner  tetapnya itu. Deg-degan menantikan setiap kali pemotongan  kata atau kalimat spontan bersama sang partner.. Hasilnya? Wow, saya nggak nyangka kalau saran saya bener-bener diperhatikan. Dia sekarang jadi lebih tertata bicaranya. Kalaupun dia nggak sengaja memotong percakapan langsung mengalah & memberikan waktu buat partnernya untuk bicara duluan. Nggak ada istilah balapan ngomong lagi. Sangat tertib & tektok sama partnernya. Duh, terharu saya. Nggak nyangka kalau ternyata saran saya itu beneran dipraktekkan, didenger & dimasukin ke hati, nggak cuman “inggih-inggih mboten kepanggih” alias ngiyain doang nggak dilakukan.

Terlepas dari apakah reply email saya kemarin cuma buat nyenengin saya aja atau memang dari dalam hati Anda, buat mas anchor news yang udah terima email saya beberapa waktu yang lalu, makasih udah mau berubah jadi jauh lebih OK ..
Good job, Bro ! ;)

gambar dipinjam dari sini

JFW 09/10 : Mango & Bebe @Fashion Bay

•November 21, 2009 • Leave a Comment

Beberapa hari yang lalu Pasific Place disibukkan oleh segenap aktivitas Jakarta Fashion Week, ditandai dengan banyaknya panitia yang bersliweran dengan ID card yang tergantung di leher masing-masing, para fotografer profesional & wartawan dengan DSLR masing-masing, para perancang mode & model-model dengan high heels & tampilan yang sangat memukau, plus para undangan yang tak kalah stylish & fashionable-nya. Tak heran karena ajang ini bukan sekedar ajang fashion, tapi ajang bergengsi yang hanya bisa kita lihat setahun sekali. Tampil “heboh” setahun sekali nggak apa-apa kan? ;) . Sudah pasti dari ajang bergengsi macam Jakarta Fashion Week inilah akan menjadi wadah bagi lahirnya bibit-bibit baru yang berkualitas di dunia fashion.

Perhelatan akbar Jakarta Fashion Week 09/10 akhirnya usai digelar. Terlihat dari sudah mulai sepinya mall terbesar itu, tak seramai beberapa hari yang lalu. Media centre juga sudah sepi walau masih ada beberapa yang masih standby. Stand, runway & panggung promenade-pun sudah mulai dibereskan. Tirai-tirai hitam yang jadi sekat sementara penanda ruangan pagelaranpun sudah mulai dibereskan. Tinggal satu atau dua ruangan bertirai yang masih bertahan, karena memang masih ada event launching majalah Grazia.

Oh ya ngomong-ngomong tentang majalah Grazia, ini salah satu majalah franchise terbaru keluaran Femina Group. Majalah bulanan tentang kecantikan, selebriti, gaya, tips & trik fashion, intinya masih majalah tentang wanita. Majalah aslinya, di Italia sana, menjadi majalah nomor 1 di Italia. Kalau edisi internasionalnya sudah ada di Autralia, Bulgaria, China, India, Inggris, Kroasia, Perancis, Rusia, Thailand, Timur Tengah, Yunani, dan sekarang.. Indonesia. So get them! ;)

Acara Jakarta Fashion Week ditutup oleh salah satunya fashion bay by Mango & Bebe di runway sepanjang 200 meter. Di lintasan yang bisa dilihat secara bebas oleh para pengunjung ini menampilkan model-model yang menampilkan casual outwear yang ringan namun tetap chic, anggun & glamour. Beberapa koleksi yang ditampilkan malam itu menampilkan gabungan lengkap mulai dari tampilan tshirt, jaket, short, tube dress, baju pesta, sampai dengan yang berbahan wool.

Sedangkan Bebe menampilkan koleksi warna-warna kuat yang bertemakan gothic, macam hitam, merah marun, coklat. Koleksi yang ditampilkan diantaranya jaket & dress. Intinya desain yang ditampilkan disini masih “make sense”, nggak yang terlalu heboh “gimana” gitu, masih bisa dipakai buat daily wear kok :D . Beda kan kalau baju-baju yang buat pagelaran fashion yang kebanyakan jarang bisa kita pakai buat sehari-hari. Intinya Bebe disini pengen bilang kalau “walaupun bukan mass product namun bisa dijangkau oleh konsumen”. Mewah nggak selalu harus mahal kan? Bebe & Mango boleh dikatakan produk yang masih affordable kok :)

So, dengan berakhirnya seluruh rangkaian acara Jakarta Fashion Week 09/10 ini, sampai jumpa lagi di Jakarta Fashion Week 10/11 tahun depan ya.. Buat seluruh panitia acara ini yang sudah bekerja keras, membuat acara tahunan ini sempurna, you did a great job. You Rock! ;)

JFW 09/10 : CLEO’s Fashion Award

•November 19, 2009 • 4 Comments

Malam itu saya sudah standby di lokasi acara CLEO Fashion Award yang seharusnya sudah mulai pukul 19.00 wib tapi baru dimulai sekitar pukul 20.00 wib. Setelah menuntaskan rasa lapar sayapun kembali ke lokasi.. eh yang ini kayanya nggak begitu penting ya? :D . Di lokasi sudah terlihat Thomas Djorghi, Soraya Larasati yang malam itu tampil cantik banget dengan tube dress warna fuschia & tosca bersebelahan dengan make up artist Gusnaldi, serat ada beberapa “petinggi” dunia fashion disana.

Sementara panitia sibuk hilir mudik melakukan koordinasi disana-sini. Para undanganpun satu persatu mulai berdatangan. kebanyakan menggunakan busana warna hitam. Entah karena memang kompak, malam hari, atau memang ada dress code-nya. Beberapa diantaranya menggunakan tema serupa, gaun hitam dengan potongan backless, atau mini dress dengan stiletto dengan hak diatas 12 centimeter.

Hentakan musik yang dinamis mengiringi langkah para model yang melenggang anggun diatas catwalk membawakan rancangan pembuka by Najib & Geulis. Bajunya lucu-lucu. Setelah Najib & Geulis tampil selanjutnya adalah pengumuman pemenang CLEO’s Choice Award. Beberapa pemenangnya adalah   :

* The Most Favorite Denim :
- Readers Choice Award : Mango
- CLEO Choice Award : ZARA

* The Best Denim Store  :
- Readers Choice Award : Levi’s
- CLEO Choice Award : Levi’s

* The Best Shoe Store  :
- Readers Choice Award : VNC
- CLEO Choice Award : Pedder Red

* The Most Wanted Bag  :
- Readers Choice Award : GUESS
- CLEO Choice Award : Longchamp

* The Sexiest Underwear  :
- Readers Choice Award : La Senza
- CLEO Choice Award : La Senza

* The Best Store for Stylish Basic
- Readers Choice Award : Giordano
- CLEO Choice Award : Mphosis

* The Most Fashionable Watch
- Readers Choice Award : Swatch
- CLEO Choice Award : DKNY

* The Most Stunning Cocktail Dress
- Readers Choice Award : Body & Soul
- CLEO Choice Award : Miss Selfridge

* The Best Store for Sunglasses
- Readers Choice Award : Optik Melawai
- CLEO Choice Award : Optik SEIS

* The Most Stylish Accessories & Jewelries
- Readers Choice Award : Forever 21
- CLEO Choice Award : Forever 21

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan SOUL ID yang malam itu tampil memukau membawakan dua buah lagu Miss Etalase & Wanita Ingin Dicinta. Lagu yang “fashion” banget karena ada menyebut beberapa brand macam Manolo Blahnik & Jimmy Choo.. :)

 

Berikutnya acara dilanjutkan oleh penampilan Petite Cupcake yang lebih ke daily wear, rancangan yang temanya ringan & dinamis.

Tak kalah asyiknya melihat rancangan Danjyo & Hiyoji yang menyajikan rancangan pop culture. Heboh banget di sisi panggung sebelah kanan ketika Danjyo & Hiyoji mulai menampilkan model-modelnya berlenggak-lenggok diatas catwalk. Kurang tahu kenapa mereka heboh banget.

Tapi emang seru sih, unik.. Sayangnya saya nggak sampai selesai ikut seluruh acaranya, karena kondisi tubuh memang sedang drop. Ini ngeliput juga dalam keadaan demam tinggi, hiks :(

Lah, kok malah curhat.. :lol:

JFW 0910 : Poppy Dharsono – Recapturing Banyumas

•November 18, 2009 • Leave a Comment

Poppy Dharsono, salah satu desainer senior yang dalam ajang Jakarta Fashion Week tahun lalu mengangkat tema motif kain tenun ikat dari daerah Jepara dengan tema Passion of Kartini, kali ini menampilkan beberapa rancangan yang masih berasal dari Jawa yaitu bertema Recapturing Banyumas yang berusaha memadupadankan dengan batik Banyumas yang motif, warna & tehnik pengerjaannya dikenal unik.

Selama hampir kurang lebih 32 tahun berkarir secara konsisten & selalu identik dengan perpaduan unsur maskulin dan feminin, kali ini Poppy kembali mengusung perpaduan siluet tegas, namun anggun & feminin. Seperti yang tertuang dalam rancangannya yang disajikan dalam Jakarta Fashion Week kali ini. Ada diantaranya model jas/jaket/blazer yang dipadu-padankan dengan dress/blouse dari bahan chifon yang lembut, anggun sekaligus feminin. Dia berani menggabungkan material halus & keras sekaligus menjadi balutan yang mewah dan kaya gaya.

Tetap membawa materi lokal namun tidak terkesan lokal yang “biasa” saja. Namun menggubahnya menjadi sesuatu yang feminin, unik, & elegan. Tak heran rasanya jika karena kekonsistensian & kemampuannya itulah yang tetap menjadikan Poppy Dharsono sebagai salah satu desainer senior favorit saya.

Good Job, Bu!  ;)

 

gaambar dari sini

 

JFW 09/10 : Anne Avantie – Kasmaran

•November 18, 2009 • Leave a Comment

 

Sebagai pecinta kebaya, kehadiran Anne Avantie ibarat angin segar bagi dunia fashion Indonesia. kehadirannya mampu mengubah kiblat fashion kebaya semua wanita di Indonesia, tak terkecuali  saya. Awalnya Eduard Hutabarat yang sengaja ingin membuat wanita tampil lebih gaya, anggun, glamour, & tetap bisa tampil seksi  dengan kebaya. Sekarang sudah banyak perancang kebaya yang memutakhirkan rancangannya menjadi kebaya yang sophisticated, elegan, & prestige. Salah satunya adalah desainer kenamaan, Anne Avantie.

Saya yang dulu awalnya hanya mengkhususkan kebaya untuk acara wisuda, atau sebatas seragam panitia acara pernikahan yang itupun bermodel kebaya encim. Kini saya harus mengubah model kebaya jadul saya pada Anne Avantie.  Jelas, karena kreatifitasnya dalam mengolah mode sehinggaa membuat kebaya tidak lagi menjadi busana yang ketinggalan jaman, namun menjadi sebuah must have item yang wajib dimiliki oleh  semua wanita Indonesia. Bangga dengan berkebaya. Oh ya, salah satu kebaya pernikahan saya juga by Anne Avantie lho.. Eh, boleh bangga ya saya? ;)

Dalam ajang Jakarta Fashion Week 09/10 kali ini Anne Avantie mengusung tema Kasmaran. Beberapa karya yang ditampilkannya kali ini bernuansa batik dari jawa Tengah & menggubahnya menjadi sajian mahakarya luar biasa. Kenapa mengambil tema ini, karena dia ingin memadukan atau “mengawinkan” beberapa karakter batik yang kuat dari Yogya, Lasem, Solo, Semarang & Pekalongan dalam satu nuansa kebaya.

Seperti halnya kebaya-kebaya khas Anne Avantie yang selalu bermain-main dengan bahan lace, brokat, tulle, bordir, plus dengan printed organdi kali inipun dia masih kental mempertahankan kekhasan desainnya yang sophisticated, glamour, anggun dengan memadukan batik sebagai penguat kebaya kontemporernya ini. Untuk semakin memperkuat atmosfir Jawa Tengah dia juga menambahkan aksesoris sumping pada model-model yang membawakan rancangannya. Jjadi inget pas jaman masih aktif nari Jawa nih, suka banget kalau pakai sumping :D –> asli, komen nggak penting :lol: ..

Jatuh cinta? Pasti.. Kalau sudah pakai kebayanya Anne Avantie siapa yang tidak bangga menjadi wanita Indonesia? ;) .

* duh, jadi inget sama kain kebaya yang nongkrong kelamaan di lemari nggak saya jahit-jahitkan itu..

 

sumber gambar dari sini & Teh Rina

 

Diatas Langit Masih Ada Langit ..

•November 17, 2009 • 10 Comments

Yang namanya manusia pasti nggak luput dari yang namanya sombong. Sudah manusiawi itu. Ketika sedikit saja merasa dirinya lebih baik dari yang lain pasti bibit-bibit kesombongan mulai muncul di hati masing-masing. Eh, saya lagi nggak ngomongin siapa-siapa kok, lagi ngomongin diri sendiri :D . Lagi pengen kontemplasi aja seperti biasa. Perenungan yang saya dapat dari hal-hal yang seringkali luput dari mata kita.

Jadi, ceritanya ada seorang ibu yang ketemu sama saya di lobby waktu ngurus kelengkapan & pemberkasan cpns. Dengan begitu bangganya dia menceritakan seluruh prestasi & kehebatan si anak. Yah, saya pikir wajarlah. Karena ketika seorang anak berprestasi pasti nama baik orangtua akan ikut terangkat. Karena itu juga akan menunjukkan bagaimana perjuangan orangtua mendidik & menjadikan anaknya sukses. Walaupun itu juga sebagian besar karena kerja keras anaknya sendiri, karena ketika berjuang, orangtua hanya mendukung, mendoakan, mensupport dari belakang sementara sang anak berjuang sepenuh tenaga mencapai apa yang dicita-citakan.

Saya sendiri ketika mencita-citakan sesuatu selalu berusaha melihat kemampuan saya sendiri. Karena hanya saya yang mampu mengukur kapasitas & kemampuan saya sampai mana. Nggak kan ngoyo kalau saya merasa nggak mampu. Orangtua pun sifatnya hanya mendukung untuk apapun yang saya cita-citakan, apapun yang saya lakukan selama itu baik & bermanfaat buat saya kedepannya. Tutwuri handayani, gitulah :D .

Kemarin, ibu yang saya temui di lobby itu bercerita dengan semangat ‘45 tentang anaknya yang asisten dosen, yang lulus dengan IPK cumlaude, yang pas cpns selalu melampaui test interview. Intinya aanaknya itu pinteer & dia sangat bangga sama anaknya. Iyalah, wajar. Sayapun kalau jadi dia mungkin juga sama rasa bangganya sama anak saya. Tapi mendadak ilfil ketika dia mulai meremehkan, mengecilkan orang lain seolah hanya anaknyalah yang paling hebat diantara semuanya. Saya yang waktu itu ditanya IPK-nya berapa & lulusan mana harus menelan hampir seluruh kesabaran saya ketika  jawaban-jawaban saya berujung pada nada yang seolah bilang.. ” it’s ok. But sorry, you loose, darling”. Tahu gitu saya nggak usah jawab kali ya :) .

Seperti misal tentang IPK, responnya bikin males banget, ” Oh, anak saya IPK-nya lebih tinggi dari mbak, 3.8. Kalau mbak berarti nggak nyampe 3.8 dong ya..”. Bu, kalau IPK saya nggak nyampe 3.8 ya berarti lebih rendah dari anak ibu. Paham kok, nggak perlu dipertegas lagi..

Atau pas nanya lulusan mana, ” Oh, lulusan Unibraw.. anak saya Unpad lho..”. Hmm, masalahnya dimana ya? Toh sama-sama negeri kan?

Atau pas nanya saya sekarang kerja dimana, ” Oh di Telkomsel.. Kalau anak saya udah asisten dosen.. sebenernya dia udah ditawarin kerja ikatan dinas di Unpad tapi dianya nggak mau..dengan alasan.. bla..bla..bla..”. Nih ya bu, saya mah yang penting alhamdulillah udah kerja, dapet gaji, and I love my boss.. eh my job.. Rejeki orang kan beda-beda. Emang kalau jadi asisten dosen itu gengsinya lebih tinggi gitu ya?

Baru agak kesekaknya disini  : ” anak saya itu udah nyoba cpns kemana-mana & alhamdulillah semuanya melampaui tahap interview, mulai departemen ini, departemen itu, depdagri, deplu, dll.. kalau tes tulis sih selalu lulus semua deh.. Sampai bingung mau konsen ke yang mana. Ini aja pas lolos disini ya udah saya suruh konsen kesini aja. Kalau mbaknya udah nyoba berapa kali & berapa yang lolos?”. Kali ini suami saya yang jawab, ” alhamdulillah cuma sekali doang & langsung lolos bu..”. Aduh, sebenernya saya pengen ngikik-ngikik denger jawaban suami. Maafkan suami saya ya bu.. harusnya saya jawab ” saya udah nyoba berkali-kali nyoba test cpns & hanya ini yang lolos.. ” :lol:

Saya sih paham betul, mungkin beliau overexcited dengan kepandaian & keberhasilan anaknya. Ya iyalah wajar, anak perempuan, masih muda, pinter, sekarang diterima di instansi yang sama kaya saya. Wajib bangga. Tapi kebanggaan itu akhirnya membawa dia jadi sedikit pongah, mengecilkan arti & keberadaan orang lain. Makanya tadi saya sms mama buat sekedar ngingetin kalau emang mama/papa ditanya sama orang tentang kami (saya & adik-adik saya), berceritalah sewajarnya. Jangan over excited, jangan sampai mengecilkan orang lain, ikutlah berbangga ketika orang lain juga bercerita tentang kelebihan anak-anaknya. Intinya jangan berlebihan. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain yang dengar cerita kita juga sama excited responnya seperti saat kita saat menceritakannya. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain juga sama tertariknya mendengar cerita kita. Karena tak jarang maksud mereka hanya sekedar ingin berbasa-basi :)

Jadi keywordnya adalah.., jangan lebay, diatas langit masih ada langit. Itulah perenungan bagus saya dapat hari ini.  :D