(Bukan) Negeri Dongeng

Posted in life, love, relationship on February 7, 2010 by devieriana

Disclaimer : tulisan ini diilhami oleh sebuah curhat seorang teman yang menurut saya inspiratif  :) .

Siapa sih yang waktu kecil nggak kenal sama cerita putri-putri cantik & pangeran tampan dari negeri Disney, macam Cinderella, Snow White, Beauty and The Beast, atau cerita-cerita dengan perfect ending lainnya? Sempat mikir nggak kalau cerita-cerita dongeng seperti inilah yang akhirnya “meracuni” otak perempuan untuk terus berkhayal tentang sosok sang Prince Charming? Mengkhayalkan hadirnya sosok lelaki sempurna yang keren, berkarir cemerlang, kaya, baik hati, rajin menabung, suka berkebun, berkemah, berlatih semaphore & tali temali? lah jadi Pramuka.. :mrgreen: .Saya aja dulu kalau nonton cerita putri-putrian yang endingnya romantis, happily ever after gitu suka dengan mulut ternganga, sambil khayalan terbang kemana-mana Maksudnya berkhayal saya yang jadi putrinya, trus nanti ada pangeran tampan yang bakal menikahi saya gitu.. Ya gapapalah namanya juga masih kecil ya, wajar. Lha kalau sekarang saya masih mikirin yang kaya begitu nggak nikah-nikah kali sayanya. Tapi bukan berarti kalau saya menikah karena nggak ada pangeran manapun yang mau sama saya ya. Ya memang iya sih.. *histeris*. Ya yang pasti karena sudah ada seleksi alam yang akhirnya menyatukan kita dengan seseorang.  :) .

Itu kalau khayalan perempuan ya, sedikit berbeda dengan kaum lelaki, mereka punya sosok ideal yang disebut “cantik” secara lebih real, bisa ditunjukkan keberadaannya dengan jelas seperti sosok siapa, contohnya Dian Sastro, Pevita Pearce, Luna Maya, Mulan Jameela atau ikon-ikon cantik lainnya. Tapi pada umumnya kaum lelaki jauh lebih realistis. Artinya, meskipun mereka punya atau memimpikan sosok ideal, tapi mereka sukup sadar kalau itu semua di luar jangkauan mereka. Dengan demikian mereka lebih pasrah dan mau menerima siapapun sosok yang lebih realistis untuk menjadi pasangan hidup mereka :mrgreen: .

Logikanya, kalau dunia ini hanya dipenuhi oleh perempuan cantik dan lelaki tampan, semuanya sukses, kaya, dan  berkarir cemerlang, lha terus yang tidak cantik , tidak tampan, tidak punya karir cemerlang &  tidak kaya mau dikemanakan? Disuruh tenggelam aja di laut? Nggak kan? Ayolah, kita bukan hidup di negeri dongeng. Kadang kita jatuh cinta justru dengan orang-orang yang tidak sempurna, jauh dari sosok ideal kita dulunya. Nggak ada yang salah dengan cinta. Kita juga tidak mungkin menahan diri lantaran kita jatuh cinta dengan orang-orang yang bukan standar massa kan?

Hidup juga tidak selalu seperti cerita dongeng atau film Hollywood yang berakhir bahagia dengan dua tokohnya yang berciuman mesra. Hidup kita juga kan skenario film atau panggung broadway dengan peran-peran tertentu dan orang lain yang jadi penontonnya plus berhak me-rating apakah bagus, sedang atau jelek.

Orang lain kadang “menetapkan” tuntutan & standar tersendiri yang menjadi ukuran baik/buruk seseorang. layak atau tidak untuk menjadi pasangan kita. Tapi balik lagi, yang akan menjalani hidup selanjutnya kita sendiri juga kan? Jadi kalau memang kita sudah mantap, sudah merasa sesuai dengan calon pasangan kita ya go a head. Sekaranglah saat bagi kita untuk melepaskan diri dari “penjara” tuntutan- tuntutan atas hidup kita. Karena yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dengan kita adalah diri kita sendiri. Apakah nantinya kita akan bahagia atau tidak bukan orang lain yang menentukan tapi kita sendiri.

Lagi pula, ukuran kebahagiaan bukan hanya diukur dengan fisik atau materi, kan? Fisik bisa luntur seiring dengan usia, materi juga bisa dicari kan? Kalau sudah rezeki nggak akan kemana-mana kok. Kan semua sudah ada yang mengatur, bukan? :) . Jodoh adalah masalah waktu, someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told implores us to wait for it. Saat seorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang dengan sendirinya tanpa diundang & kita rencanakan. Happiness is entirely a state of mind.

gambar dari sini

Masa Inkubasi

Posted in blog, cpns, me, work on February 4, 2010 by devieriana

Judul postingan ini nggak ada hubungannya sama isi tulisannya. Ngasal aja, seolah mengumpamakan saya sedang dalam masa inkubasi. Berasa jadi virus sama kuman nggak sih? :mrgreen:   . Hmm, ternyata lama juga saya nggak update blog yah? Maklumlah ya, sejak saya memutuskan resign mendadak kemarin (hanya dalam tempo seminggu sejak pemanggilan di Setneg) saya kejar setoran, kerja ngebut, paling tidak menyelesaikan 90% kewajiban sayalah. Kasian leader pengganti saya nanti kalau kerjaan masih banyak yang belum selesai. So, pikiran , energi, konsentrasi semua tercurah ke penyelesaian kerjaan yang seharusnya selesai tanggal 4 jadi dikebut harus selesai tanggal 31 Januari 2010.

Jadi ya begitulah, selama beberapa hari ini saya memasuki masa inkubasi. Halah kok malah kaya virus :lol: . Penyesuaian dengan pekerjaan & status yang barulah intinya. Karena selama lebih dari 6 tahun saya bekerja di perusahaan swasta membuat mindset, kultur & cara bekerja saya sangat swasta. Kalau saya sekarang bekerja jadi PNS tentunya ya jauh berbeda. Sempet agak kaget sedikit. Apalagi berhubungan dengan surat menyurat tingkat tinggi. Dulunya kan saya cuma pegang urusan surat menyurat internal antar bagian aja. Kalau sekarang sudah antar instansi & departemen. Bayangkan betapa stressnya saya di awal hari kerja saya.

Tapi untungnya disana semua baik & helpful. Sebagai PNS newbie (walaupun sudah sekian tahun bekerja sebagai pegawai swasta tentu buat mereka jelas saya newbie, wong masih nggak tahu apa-apa). Untungnya banyak anak mudanya, gaul pula. Jadi ya nggak berasa dalam lingkungan PNS jaman dulu, berasanya fun. Eh ya sebenernya belum fun-fun amat juga sih Gimana mau fun, wong hari ini saya dikasih kabar yang bikin hati saya meloncat kaget  :

teman  : “nanti kamu juga bakal kaya saya, nanganin ini sendirian..”

saya  : “hah, apa? sendiriaaaan? kapan?”

teman  : “sekitar bulan Juli paling..”

saya  : “kamu mau kemana mas?”

teman  : “aku pindah bagianlah..”

saya  : *stress, pengen pingsan*

Saya khawatir? Takut? Paranoid? Jelas. Tapi kalau saya seperti itu terus pasti bukan hal yang positif buat saya juga kan? Khawatir, takut menghadapi sesuatu yang baru & belum kita kenal, takut keluar dari zona nyaman itu hal yang lumrah & sering dialami oleh semua orang. Lha kalau kaya begitu terus ya nggak bakal maju-maju. Jalan ditempat.

Khawatir dan takut adalah dua hal yang berbeda, sekalipun nyaris mirip. Rasa takut punya objek yang jelas, contoh : saya takut sama kucing, saya takut sama bos saya yang galak, saya takut sama hantu. Tetapi khawatir  tidak, lebih abstrak. Ada perasaan tak menentu terhadap sesuatu yang tak jelas. Ketakutan, paranoid terhadap sesuatu yang asing, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dijalani sebelumnya itu pasti pernah dirasakan semua orang. Punya rasa seperti itu wajar-wajar saja. Tapi jika berlebihan dan sudah mengganggu, itu namanya sudah tak wajar. Kekhawatiran sifatnya hanya sementara, karena ketika kita sudah terjun didalamnya kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti & menjadi sesuatu yang biasa, yang menyenangkan, yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Kekhawatiran yang diciptakan oleh pikiran. “Aduh, besok mau kerja di tempat yang baru nih, bisa ga ya? Kira-kira nanti temennya asik-asik kaya di tempat kerja yang lama ga ya? Lingkungan kerjanya nanti enak nggak ya? Kerjaanku nanti sulit nggak ya?” dan sejuta pertanyaan paranoid yang lain, padahal ya belum tentu, wong belum dijalani. Sama ketika saya mengalami perpindahan dari officer ke team leader kapan hari. Saya sudah berpikir kerjaan saya bakal ribet, sulit. Tapi setelah dijalani ya nggak gitu-gitu amat, lama-lama juga biasa :) .

Ya semoga kekhawatiran itu nggak terjadi. Mengingat saya kan bakal berkarir lama disini, bahkan sampai di usia senja saya nanti (nah, jadi mikirin usia senja kan? :D ).

Step Into A New House

Posted in cpns, jurnal harian, me, work on January 28, 2010 by devieriana

 

 

Akhirnya, semuanya terjawab. Ya, tepatnya 3 hari yang lalu saya ditelpon oleh Biro Kepegawaian salah satu instansi yang seleksi PNS-nya kemarin saya ikuti & saya alhamdulillah masuk. Saya diminta mengambil undangan untuk pengangkatan PNS tanggal 1 Februari 2010 nanti. Surprised? jelas. Karena setelah sekian lama saya menunggu & akhirnya ada kepastian juga, jadi buat saya ya masih berasa ajaib.. lebay deeh.. :mrgreen:

Melihat teman-teman bahkan sepupu saya yang sudah mulai aktif bekerja tidak lama setelah hasil proses seleksi CPNS diumumkan , membuat saya jadi bertanya-tanya, “giliran saya kapan ya? Kok nggak ada telpon lagi ya?”, dan sejuta kata tanya lainnya. Iyalah, wong tiap hari saya ketemu sama orang-orang kantor selalu pertanyaannya, “kapan kamu mulai aktif jadi PNS?”, atau “kok SK-nya lama banget nggak turun-turun?”, atau pertanyaan spv saya yang kaya begini “Dev, kamu masih lama kan disini?”. Mmh, sedikit beda sih, tapi intinya tanya kapan saya terakhir ditempat bekerja saya yang sekarang & kapan mulai bekerja di tempat yang baru. Sayapun harus memberikan jawaban yang sama dari satu penanya ke penanya lainnya. Andai bisa saya rekam, sudah saya rekam kali tuh jawabannya. Atau kalau ada ujian menghafal jawaban, saya pasti lulus dengan nilai A karena saking fasihnya saya menjawab pertanyaan mereka :mrgreen: . Ya wajar juga sih, kan pengumumannya sendiri sekitar pertengahan November 2009 & baru ada pengumuman lagi sekitar 3 hari yang lalu. Alhasil saya yang sekarang harus ngebut menyelesaikan pekerjaan yang biasanya maksimal selesai tanggal 4, harus saya kebut selesai tanggal 31 Januari 2010. Karena tanggal 1 Februari 2010 sudah pengangkatan.

Saya sempet diledekin saya sahabat saya  :

” ciyeeh, punya NIP nih dia sekarang..”
” Ah, dari dulu aku juga sudah punya NIK.. apa bedanya sih? Sama-sama nomor induk karyawan/pegawai kan?”
” ya bedalah. sama-sama punya NIP/NIK, tapi kop surat bergambar garuda pancasila nggak semua instansi punya. Kamu akan bekerja di “dapurnya” negara. Be proud of that.
” iya yah? “, jawab saya manggut-manggut.

Dulu Pakdhe saya juga pernah bekerja di sini menjadi asisten Mensesneg jaman masih Moerdiono, terakhir jaman saya masih kuliah kali ya. Sudah lama banget. Orang juga mungkin sudah lupa. Wong saya dulu sempat cerita ke salah satu interviewer saya waktu pemberkasan beliaunya juga sudah nggak mengenali siapa orang yang saya maksud. Iya sih, sudah lama banget ya Bu.. :mrgreen: . Nggak nyangka kalau saya akhirnya “meneruskan” karir beliau disini. Dulu ngeliat gedungnya dari jauh aja saya sudah kagum. Sekarang justru sama Allah saya dikasih kesempatan untuk masuk & berkiprah didalamnya. Alhamdulillah..

Supervisor saya kemarin kirim sms begini   :

” Jyaah, akhirnya keluar juga tuh SK, hiks. Ya udah nggak apa-apa. Anyway congrats again ya Dev, orang emang kalau bagus selalu ada aja jalannya.. Oh ya, kali-kali aja 10 tahun lagi kamu jadi bu Mentri, pan lumayan ada 1 mentri yang aku kenal.. :mrgreen:

Ya begitulah.. Habis ini selesai sudah karir saya di dunia telekomunikasi yang sudah saya geluti selama kurang lebih 6 tahun, dan berganti di bidang pemerintahan, eh? :D . Agaknya Tuhan nggak menginginkan saya untuk tidak mempergunakan ilmu yang saya ambil waktu kuliah dulu, hingga diberikan-Nya sebuah posisi yang  belum sempat saya jamah sekalipun selama bertahun-tahun. Menjadi seorang sekretaris :lol: . Semoga bisa melalui semua fase ini dengan baik & lancar. Amien.. :)

 

 

 gambar dari sini

 

Frase Yang Tak Terucap

Posted in cerita mini, fiksi, persepsi bebas on January 22, 2010 by devieriana

Dipinggir jalanan yang basah, di ruang kubus transparan & berembun itu aku kembali menekan sejumlah angka bernada yang kuhafal diluar kepala dengan gugup. Detik jam berjalan merangkak, lambat bagai keong. Seiring dengan cemasku menanti seseorang menjawab teleponku diujung sana. Semilir angin menerobos dari sela pintu yang tak tertutup rapat, meniup riap-riap anak rambut di tengkukku, membuatku semakin gugup menggila.

Tepat disaat terakhir nada sambung itu, kudengar teleponku dijawab seseorang. Aah, akhirnya..  Aku menghela nafas lega.. Namun, aku kembali dilanda perasaan cemas bukan kepalang. Didera dilema luar biasa. Kini, hanya ada aku dan orang di seberang sana yang mulai membuka topik pembicaraan yang sama, sementara aku disini megap-megap merangkai kata.

Aku kembali menegang & mendadak berkeringat dingin. Kakiku gemetar menahan bobot tubuh yang tak seberapa. Gigiku gemeletuk saling beradu. Keringat dingin mengalir sebulir-bulir biji jagung. Padahal angin dingin di sekitarku masih tak berhenti bertiup. Aku makin merapatkan leher jaketku hingga menutup dagu. Untuk cuaca sebeku ini harusnya aku tidak berkeringat kan? Ya, sewajarnya memang seperti itu. Alisku bertaut, urat leherku mulai menegang. Arrgh.. aku mendadak gagu. Lidahku kelu. Diujung sana kau menyapaku dalam halo yang bernada gusar sama seperti minggu lalu. Dan sejurus kemudian..

K L I K !

Kau kembali menutup teleponku. Sama.. semuanya masih sama seperti minggu lalu. Dejavu. Aku gagal lagi memulai percakapan denganmu seperti minggu itu. Nyata -nyata temanya hanyalah sebuah pengakuan. Tentang sesuatu yang tak pernah kamu tahu. Tentang rahasia yang kusimpan rapat-rapat itu. Tentang pergulatan batin itu. Tentang rasa bersalah itu. Tentang pengakuan yang tak pernah terucap di depanmu. Tentang semua kamuflase & bualan-bualan sampah itu. Cerita tentang para pecundang itu. Tentang mulut yang terkunci setiap kali memandang wajah teduhmu..

 

Tentang kisah cinta rahasia sahabat baikmu & lelakimu ini..
Ya.. tentang pengkhianatan itu..

 

Maafkan aku sayang, karena tak bisa menjadi lelaki terbaikmu..

I love you..

 

 

 

gambar dipinjam dari sini

 

Serpihan Senja

Posted in persepsi bebas, poem on January 20, 2010 by devieriana

 

 

Langit yang menggelap di bentang lazuardi menyapaku teduh
Aku menyungging senyum menyapa hadirnya senja
Di sudut sebuah ruang diatas awan-awan merah muda,
jauh diatas ribuan mil di bumiku menjejak

 

Ketika awan putih itu mulai disinari warna jingga temaram
Ketika zat dan partikel itu mulai menari-nari di sekelilingku
Ketika aku mulai menyatu dengan lembayung senja di awang-awang
Dan ketika sudah mulai kupejamkan mata

 

Ya..
Lembayung cantik itupun kini mulai berselimut
Sang mata dewa tak lagi murka dengan sinar panasnya yang menyala
tergantuikan cahya sang dewi malam yang mulai berjaga..

 

Aku sedang dalam perjalananku..
Meninggalkan kisah yang sulit untuk pergi mengurai kisah lainnya
Melupakan siapa diri yang dulu nyata
Mencari bentang ujung pelangi seperti ucapmu
Hingga kelak kita ‘kan bertemu pada satu ujung pelangi lainnya
Juga pada muara hujan yang akan membuat kita menari

 

Kau yang sedang sibuk dengan duniamu yang beriak
Mungkin kau tengah menata komposisinya hingga duniamu mampu menggeliat, ya?
Andai saja aku bisa berkompromi dengan waktu
Aku akan menjadi pemerhati dan tetap (akan) sebagai pemerhati setiamu..

 

Andai Tuhan berkata sama dengan kita..
Tapi bukan Tuhan namanya jika menuruti semua mau makhluknya..

 

Ah, Tuhan,
aku hanya ingin bertanya..
Apa masih boleh sisa cerita itu untukku?

 

 

 

gambar dipinjam dari sini 

 

Selera Yang Menular

Posted in family, jazz, jurnal harian, me, music on January 14, 2010 by devieriana

 

Boleh dibilang selera musik saya sangat gado-gado. Karena semua yang terdengar catchy atau syairnya bagus bisa langsung masuk dalam kategori lagu favorit. Genrenya bisa macam-macam, tergantung mood & selera saya lagi lagu apa saat itu :D . Bisa dilihat sebagian  disini , atau  disini ,dan masih banyak sederetan lagu yang bergenre musik jauh dari selera musik suami saya.

 

Berbeda dengan suami yang konsisten dengan koleksi lagu di jalur jazz (sentimental romantic jazz, instrumental, hampir semua koleksi lagunya jazz,  atau instrumental yang mengandung saxophone atau lagu-lagu slow yang kalau didengarkan kapan saja masih bisa masuk & nggak ketinggalan jaman. Kadang kalau didengerin dalam suasana syahdu gitu bisa berasa kaya lagi di cafe-cafe yang menyajikan nuansa romantis. Jangankan gitu deh, pas kapan hari ada acara gathering sama temen-temen saya aja pas malem-malem di salah satu villa di Puncak sambil temenin kita nyiapin buat makan malam dia langsung play koleksi lagu-lagunya. Hadooh, berasa dimana gitu. Kaya nggak lagi di Jakarta gitu. Berasa lagi di Puncak.. eh emang ya? :mrgreen: .Beda banget sama saya yang pethakilan & dengan selera musik yang berubah-ubah sesuka-sukanya saya apa saat itu.

 

Koleksi macam Dave Koz, Kenny G, David Benoit, Incognito, Earl Klugh, Lee Ritenour, Michael Buble, Barry White, Al Jarreau, Jammie Cullum nangkring dengan manis di mana-mana : rak CD, ipod, blackberry. Saya yang awalnya nggak peduli dengan koleksi suami lha kok sekarang-sekarang ini malah ketularan :D . Ringtone saya jadi jazz banget ini gimana? :lol: . Ya kalaupun iya sekarang jadi suka dengerin yang jazzy tunes, sukanya sama yang ringan-ringan sajalah, sama kaya dia juga. Nggak sampai yang jazznya “black” banget, nggak ngerti saya :mrgreen: . Ya, yang masih bisa dinikmati dan easy listening aja.

 

Salah satu lagu favorit saya yang adem banget buat didengerin malem-malem sambil hujan kaya gini, yang versi aslinya dibawakan bareng David Benoit – Know You by Heart. Tapi versi yang bareng  Jim Brickman juga ok banget lho, kaya gini  :

 

atau ringtone saya, David Benoit – Watermelon Man yang tersohor  ini  :

 

atau mau yang anak muda banget, Photograph – Jammie Cullum yang ini  :

 

Kalau urusan musik mungkin masih bisa ketularan, tapi kalau sudah masalah hobby sudah masing-masing. Saya sibuk apa, dia ribet apa. Saya konsen ngeblog & ini itu (mulai nggak jelas), dia sibuk ngaskus sama ngerjain yang berhubungan sama IT, gadget & teknologi..

Halaaahh :mrgreen:

 

 

gambar pinjam dari sini

 

 

 

The Dance Company

Posted in favourites, me, song on January 12, 2010 by devieriana

 

Saking banyaknya grup band yang bermunculan, saking seringnya mereka mondar-mandir di layar televisi dengan format yang nyaris sama, sampai saya nggak ada satu lagupun yang hafal. Nggak tahu kenapa bisa begitu, apa karena materi lagu yang begitu-begitu aja (maaf nih, saya mungkin bukan orang yang tepat untuk menghakimi musikalitas seseorang. Hanya opini awam saja), atau karena “packagingnya” yang tampak biasa saja layaknya anak band yang sudah ada, atau promo yang “alakadarnya” (muncul cuma sekali, dua kali doang habis itu nggak tahu kabarnya). Jadi sepertinya kurang ada sesuatu yang “menggigit”, kesannya sekedar numpang lewat saja. Parahnya kalaupun iya saya sampai hafal sama melodinya, tapi salah satu pasti lupa nama bandnya :mrgreen:

 

Dulu teman saya pernah bilang, ketika kita sudah memutuskan untuk terjun di dunia yang homogen & sudah banyak digeluti orang seharusnya kita bisa menunjukkan sebuah cirikhas yang bisa membuat orang lain langsung notice bahwa itu kita, itu produk kita. Dari segi apanya? Ya macem-macem, bisa jadi dari packagingnya, dari harganya, dari marketing & promosinya, keberagaman jenisnya, dan banyak lagi yang lain. Sebagai konsumen kan kita juga berhak memilih mana yang sesuai, mana yang bagus & mana yang sesuai dengan selera kita. Nah kalau sama-sama bikin band, tapi mulai materi lagu, gaya busana sampai iramanya sama dengan band lain yang sudah eksis sebelumnya ya buat apa? Apa bedanya dengan yang sudah ada, kecuali beda personilnya doang?

 

Dari sekian banyak grup band baru yang bersliweran di layar kaca yang paling catchy buat saya ya The Dance Company. Sebenarnya mereka bukan orang-orang baru di dunia musik Indonesia. Saya sendiri juga sudah tahu band ini sejak awal kemunculan mereka sekitar pertengahan tahun lalu. Tapi tingkat kekaguman saya masih dalam batas normal, alias biasa-biasa aja. Walau dalam hati mengakui kalau mereka “beda”. Itu saja. :mrgreen:

 

Grup band yang digawangi oleh Riyo ( Ariyo Wahab), Bebe (Baim), Wega (Pongki Barata) dan Mbot (Nugie)  memang bukan orang baru di dunia musik. Ya wajarlah kalau banyak yang sudah familiar. Belum lagi mereka lebih mudah mengumpulkan fans dibandingkan dengan grup band baru yang mulai merilis karir. Tapi sebenarnya mereka justru lebih tertantang. Bagaimana mengelola ego & idealisme masing-masing untuk lebur menjadi satu band, bagaimana memanfaatkan ketenaran yang sudah dimiliki oleh masing-masing personilnya digabung menjadi satu fans grup band mereka, bagaimana sulitnya meninggalkan comfort zone masing-masing untuk bertualang pada wilayah kreatifitas yang lain.

 

By the way, jujur  memang saya lagi jenuh banget sama suguhan lagu-lagu Indonesia yang kompak seragam bergenre Melayu. Meskipun jenis musik itu lagi digandrungi,  lagi “in”, banyak yang download RBT-nya, banyak yang beli kaset & CD-nya. Bukan sok gimana-gimana ya, memang ada lagu bernuansa Melayu yang masih enak didengar, tapi kalau semua band kompak menyajikan konsep yang sama ya namanya pasar lama-lama jenuh jugalah :( .

 

Tapi yang jelas The Dance Company ini ibarat angin segar buat dunia musik Indonesia. Tanpa mengecilkan keberadaan grup band lainnya mungkin justru bisa jadi wacana & inspirasi bagi (calon) band pendatang baru. Supaya bisa memilih materi & format tampilan group band yang segar, berbeda & tidak membosankan..

 

 Eh, kalau papa-papanya sekeren mereka mah saya juga ga bosen ngeliatnya.. *ganjen* :lol: :lol: :lol:

 

 

gambar dari sini

 

 

Kota Tua Jakarta : Dulu & Kini

Posted in heritage, jurnal harian, me, tourism on January 3, 2010 by devieriana

 

Di setiap negara pasti memiliki warisan sejarah berupa Kota Tua yang pasti menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk lebih mengenal sejarah bangsa tersebut. Begitupun di Indonesia, di masing-masing kota pasti juga masih ada peninggalan sejarah yang patut dilestarikan. Di Jakarta sendiri siapa yang tidak mengenal keberadaan wisata Kota Tua yang berada di Jakarta Barat? Bangunan khas bergaya kolonial yang menjulang tinggi dengan bentuk bangunan yang kokoh menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal & mancanegara. Karena disanalah melekat erat sejarah sang kota yang masih bisa terbaca melalui siluet bangunan, kanal, jalur kereta api, jembatan, kuliner, folklore & tradisi.

Kita mengenal istilah wisata Kota Tua sebagai heritage tourism atau cultural heritage tourism. Dulu ketika saya beru pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta langsung memfavoritkan Kota Tua sebagai icon lokasi foto yang bagus & mungkin juga para fotografer atau para calon pengantin yang akan melangsungkan sesi foto preweddingnya.  Bukan suatu hal yang aneh karena memang Kota Tua menyajikan bangunan-bangunan tua bergaya kolonial yang berasa kental sekali unsur vintage-nya. Yang pasti bakal keren banget kalau bisa foto disana. Belum lagi dengan disediakannya sepeda onthel & mobil-mobil kuno sebagai tambahan objek foto makin memperkuat kesan betapa oldiesnya Kota Tua ini.

Saya yang sempat beberapa kali berfoto disana (halaaah, jadi ketahuan deh betapa banci fotonya saya :mrgreen: ) merasakan memang Kota Tua merupakan lokasi yang tepat buat mengabadikan moment. Karena kebetulan saya suka sekali dengan bangunan-bangunan tua yang pasti bakal keren banget kalau dijadikan objek foto atau dijadikan background foto. Kita juga nggak perlu sampai keluar kota buat mendapatkan spot foto yang bagus. Belum lagi kalau sampai diniatin banget dengan busana yang sesuai, dijamin hasil fotonya pasti bagus banget. Ah, kerenlah pastinya .. :)

Tapi menjadi sedikit kecewa ketika iseng saya sama suami kesana lagi sekitar seminggu yang lalu. Tempat yang dulu nyaman & sepanjang jalan bisa dijumpai ada banyak sekali orang-orang yang berfoto atau menjadikan beberapa lokasi tersebut sebagai objek foto, sekarang.. penuh sesak dengan para pedagang kaki lima, penjual makanan, pedagang voucher isi ulang & pedagang baju. Lokasinya sendiri lebih persis seperti pasar malam yang buka siang hari. Nah lho, gimana modelnya tuh “pasar malam yang buka di siang hari?”. Maksudnya penuh sesak banget, berantakan & sudah bukan tempat yang asyik lagi buat spot foto-foto. Apalagi hari libur seperti Sabtu atau Minggu, dipastikan disana sudah tidak ada lagi spot kosong yang bisa diambil buat objek foto.Walaupun masih banyak yang berkeliaran membawa DSLR di tangan masing-masing  yang menunjukkan bahwa lokasi wisata Kota Tua masih menarik minat sebagian fotografer yang berburu objek foto.

Dulu, gedung-gedung dengan pintu-pintu antiknya yang tetap dibiarkan tertutup, sekarang dibuka,  dindingnya diperbaiki & dicat ulang. Lho, bukannya jadi bagus? Iya,  tapi kenapa sekarang justru dijadikan tempat usaha? Menurut saya kok malah sayang ya. Padahal dulu  Kota Tua terkesan natural banget, catnya dibiarkan mengelupas, dindingnya yang “bocel-bocel” itu dibiarkan apa adanya memberikan kesan tua yang kuat, belum lagi tanaman rambat yang tumbuh alami di dinding-dinding bangunan memberikan kesan vintage di kota ini makin kentara. Menurut saya, sekarang sudah tidak ada lagi menarik-menariknya Kota Tua sebagai salah satu lokasi foto selain benar-benar sebagai tempat wisata . Lah, bukannya sebelumnya memang sebagai tempat wisata, jeung? Iya, tapi sekarang lingkungannya sudah terlalu crowded & terkesan berantakan banget. Belum lagi  sekarang pakai ada “sekat-sekat” berbentuk bola-bola besar yang terbuat dari semen yang menurut saya malah sangat mengganggu pemandangan & para pejalan kaki /wisatawan disana. Masa kita mesti jalan miring-miring atau melangkahi bola-bola semen itu dulu untuk bisa ke jalan sebelahnya? Belakang museumpun sekarang lebih banyak dipakai orang pacaran dan para ABG yang nggrumbul-nggrumbul (ngumpul) nggak jelas. Hmm, atau jangan-jangan dulunya memang sudah begitu?

Entah pertimbangan apa yang menyebabkan pengelola membiarkan wisata Kota Tua yang dikenal dengan bangunan-bangunan kolonialnya itu menjadi tempat usaha seperti yang sekarang. Yang jelas jauh banget dengan Kota Tua yang saya lihat 2 tahun lalu ketika untuk pertama kali saya menyambangi lokasi tersebut untuk memperbarui koleksi foto pribadi saya. Halaaaaah.. :mrgreen:

 

 

keterangan gambar : itu foto Kota Tua yang saya ambil kurang lebih setahun yang lalu. Sekarang  jangan harap pemandangannya akan ada yang se-vintage itu. Beberapa bangunan diantaranya dibuka & digunakan sebagai tempat usaha. Didepannya sendiri sudah ramai dengan pedagang kaki lima.

 

 

 

 

Hobby Yang Terabaikan

Posted in dress designing, hobby, jurnal harian, me on January 1, 2010 by devieriana

Kalau beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menceritakan hobby saya disini , sebenarnya ada lagi hobby yang sudah sejak jaman SMP saya tekuni tapi sekarang-sekarang ini sudah mulai menurun trafficnya karena sudah nggak ada waktu, hiks :( . Apakah itu?

Menggambar (baca : mendesain baju).

Awalnya saya cuma suka menggambar aja, nggak mengkhususkan diri untuk membuat desain baju. Tapi berhubung mendadak terinspirasi sama salah satu lomba di harian pagi di Jawa Timur waktu saya masih SMP, alhasil kecemplunglah saya sama dunia desain yang hanya saya pelajari secara otodidak itu. Namun walaupun otodidak, saya toh memberanikan diri juga untuk mengisi posisi sebagai desainer di salah satu perusahaan garment di Malang – Jawa Timur :D . Modal nekat & pengetahuan tentang jahit yang nol besar, tapi toh betah juga saya jalani sampai dengan 3 tahun lamanya sebelum saya berkarir di dunia telekomunikasi. Dua-duanya sama-sama nggak nyambung dengan background edukasi saya sih, tapi apa salahnya mencoba hal-hal baru, toh semua pasti ada ilmu yang bisa kita ambil & terapkan di pekerjaan kita yang lain jika nantinya kita masih berniat mencari pekerjaan baru. Gitu aja sih pikir saya waktu itu :D .

Dari satu, dua desain menjadi puluhan bahkan ratusan desain yang sudah saya buat untuk saya pakai sendiri, untuk keluarga, atau teman. Wong namanya otodidak, ya ngerancangnya suka-suka saya, se-mood-moodnya saya. Inspirasi kan nggak bisa dipaksakan ya :D . Sampai teman-teman saya yang pesen suka ngeledek , ” Dev, gue nggak tahu elunya masih inget apa nggak, kayanya gue pernah pesen bikinin gambar ke elu, gue mesti nunggu berapa tahun lagi ya biar desain buat gue kelar? ” , gyahahahaha.. Ya begitulah, namanya itu tadi.. nunggu mood & senggangnya waktu, baru saya bikinin. Namanya gratis ya mesti sabarlah.. *dilempar sapu* .

Pernah beberapa tahun lalu iseng saya ikut nyerahin desain ke majalah GADIS, dua buah rancangan busana promnite party buat remaja. Saya yang waktu itu sudah kuliah & ngerasa sudah agak ketuaan untuk segmen pembaca majalah remaja favorit saya sejak SMP ini, lagi-lagi nekat. Kirim ajalah, siapa tahu dimuat. Lumayan untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Eh ternyata beneran dimuat lho xixixix. Lah, kok bisa? Iyalah, wong saya pakai identitas adik saya yang waktu itu masih kelas 1 SMA. Alhasil, adik saya dikasih selamat oleh seluruh penjuru sekolah & dia nggak tahu apa-apa :D . Oh ya, jangan salah, gambar mereka bagus-bagus banget lho.Ya, kepuasan tersendiri melihat gambar saya terpampang di majalah gaulnya para gadis itu :mrgreen: .

Berikutnya, kali ini saya pakai identitas jujur nih, saya iseng kirim lagi ke majalah Cita Cinta . Pas dikantor mendadak banyak yang kasih komentar & kasih selamat. Lho, ada apa nih? Kirain karena saya habis ulangtahun. Wong saya juga nggak banyak berharap dimuat karena pasti banyak yang lebih ok daripada saya nih. Baru ngeh ketika salah satu teman saya di HRD kasih lihat majalahnya & ada sekelumit profil saya & 2 desain saya terpampang disana. Siangnya saya juga langsung ditelpon sama mbak dari majalah Cita Cinta untuk konfirmasi masalah honorarium. Ah senangnya, Walaupun nggak seberapa tapi lumayanlah, keisengan saya bermanfaat juga ternyata :mrgreen:   . Makanya pas kemarin dapat kesempatan untuk menulis tentang pagelaran Jakarta Fashion Week saya seneng banget, seolah nostalgia aja :) .

Sekarang sih masih suka nggambar, tapi sudah nggak seaktif dulu. Lebih sering beli baju jadi entah buat pesta atau sehari-hari. Bukan apa-apa, pilih praktisnya aja. Toh kalaupun iya baju pesta, saya juga jarang pesta. Lebih sering mix & match aja. Kecuali kebaya ya. Kalau kebaya kayanya saya tetep harus bikin. Jadi inget sama kain yang mangkrak di lemari belum sempat saya apa-apain & mau saya bikin desainnya seperti apa padahal pernikahan adik saya kurang 2 bulan lagi :cry: .

All Good Things in 2009

Posted in jurnal harian, life, me, new year on December 30, 2009 by devieriana

 

Pergantian tahun kali ini buat saya berasa cepat sekali. Betapa tidak, sepertinya baru kemarin saya berhiruk-pikuk  dengan hal-hal yang serba baru dalam kehidupan saya, menjalani pekerjaan & rutinitas yang serba terjadwal membuat saya begitu merasakan cepatnya pergantian hari demi hari, bulan demi bulan, dan tak terasa akan segera menjadi pergantian tahun yang sekarang tinggal dalam hitungan jam ini.

Seperti biasa, saya tidak terlalu mengistimewakan pergantian tahun dengan acara yang gimana-gimana. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya selalu saja dirumah & pastinya.. selalu ketiduran tepat saat pergantian tahun
:mrgreen: (nggak berbakat jadi hansip sayanya). Lha wong pas saya tanya sama suami, jawabannya juga begini kok   :

Saya  : ” kemana kita tahun baru ntar? “
Suami  : ” emang penting harus kemana & dimana? “
Saya  : ” kagak, kali aja mau ngajak plesir kemana gitu..” *ngarep*
Suami  : ” halah, pake nanya mau plesir dimana.. Wong kamu seringnya tiap tahun baru pasti ketiduran. Jangankan melek tengah malam, wong jam 9 aja matamu udah tinggal segaris. Udah, dirumah aja..”
:mrgreen:

Memang moment pergantian tahun buat sebagian orang dianggap penting & patut untuk dirayakan, tapi buat saya kok (selalu) biasa-biasa aja ya? Apa gara-gara nggak ada yang ngajak saya begadang atau hangout buat tahun baruan ya? Ciih, kasian banget deh, kesannya kagak ada yang ngajak  :D . Buat saya yang penting bukan acara hura-hura atau perayaannya, tapi lebih ke esensi, berkontemplasi, mengadakan perenungan tentang apa saja yang sudah saya raih, kegagalan apa yang sudah terjadi sepanjang tahun ini, apa saja yang sudah saya lakukan buat keluarga, teman, karir saya. Itu yang menurut saya jauh lebih penting, supaya kita bisa menentukan ke arah mana & apa tujuan kita di tahun depannya.

Intinya sampai dengan saat ini sih belum ada rencana kemana-mana , akan ada dirumah aja sepanjang malam, besok paginya juga bakal jadi ibu rumah tangga, nyuci & beberes rumah. Kalau tahun lalu adalah tahun yang super berat buat saya karena ada banyaknya masalah yang menimpa saya. Termasuk salah satunya ketika Tuhan mengambil (calon) buah hati saya. Namun tak lama sesudahnya di tahun ini alhamdulillah ada banyak berkah yang saya terima. Bahkan jika saya catat di bulan November 2009 kemarin Allah memberikan saya rezeki yang nggak tanggung-tanggung & beruntun. Sampai saya takut menerimanya. Bukan apa-apa, takut saya jadi terlalu euphoria & jadi lupa diri. Tapi syukurlah ada banyak teman & keluarga yang selalu mengingatkan saya untuk tetap “menjejak kaki di tanah” (eh, saya bukan kuntilanak lho yang nggak menjejak tanah), artinya tetap down to earth dengan segenap berkah yang Tuhan sudah kasih sama saya.

Tahun ini ada banyak berkah yang saya terima. Diantaranya, suami yang jauh lebih sabar, mengerti & mendukung saya 100% (yang sering baca disini pasti tahu gimana kesabaran suami saya kan? :mrgreen: ). Karir yang alhamdulillah ada peningkatan di awal tahun & pertengahan tahun ini. Saya juga diberikan kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman baru lewat banyak jejaring sosial & blog. Itu belum termasuk betapa groginya saya ketika diinterview & masuk majalah TEMPO  bersama teman-teman dari ngerumpi :D . Ciih, norak deeeh :mrgreen: .  Di bulan Oktober waktu iseng saya ikut seleksi CPNS Setneg dan alhamdulillah diterima. Kenapa saya bilang iseng? Karena memang nggak pernah ada rencana saya mau ikut-ikutan cpns. Tapi pas nyoba sekali, kok ya alhamdulillah masuk. Di bulan November saya juga iseng ikut lomba menulis artikel tentang perempuan alhamdulillah dapat juara 3. Terpilih untuk meliput pagelaran akbar Jakarta Fashion Week yang beberapa postingannya bisa dijumpai disini . Sekarang dapat kabar kalau buku kompilasi : Berbagi Cerita Berbagi Cinta bersama  teman-teman blogger juga sudah mau di-publish. Saya bersyukur untuk setiap berkah yang saya terima sepanjang tahun ini.

Buat sebagian orang mungkin cerita ini akan dianggap belum seberapa & biasa saja ya, tapi buat saya, teman dekat & keluarga saya yang tahu benar betapa tahun 2008 adalah tahun penyesuaian yang benar-benar berat buat saya, di tahun ini saya bersyukur bisa melalui itu dengan baik & Tuhan memberikan pengganti atas semua yang dicobakan pada saya tahun lalu.

Jika ditanya resolusi, saya bukannya nggak punya resolusi. Resolusi, rencana, keinginan, cita-cita yang ingin dicapai pasti ada. Yang jelas pasti harus ada pencapaian yang jauh lebih baik lagi di tahun depan. Point-point rencana juga pasti ada, tapi harus selalu diukur dengan kemampuan &  menyesuaikan dengan situasi & kondisi nantinya seperti apa. Yang lebih penting lagi adalah konsistensi & ketika kita menjalani seluruh rencana kita dengan positif thinking, selalu optimis & usaha yang maksimal, insyallah nanti hasilnya juga akan maksimal.

Jadi, apapun resolusi kita, semoga semuanya tahun depan bisa tercapai ya.. Semoga ada hal-hal baik yang senantiasa menyertai kita di tahun depan.. Amien..

 

Happy New Year 2010 everyone :)

 

 

gambar dipinjam dari sini