Urip Iku Sawang Sinawang (II)


Tadi pagi saya chat dengan salah satu mantan teman sekantor pas jaman di Telkomsel dulu. Dia sekarang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UGM Yogyakarta. Perbincangan ringan ala ibu-ibu (tsaahh…) dan teman lama yang sekian lama nggak ketemu😀 . Share tentang keadaan terbaru masing-masing, cerita tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, dll.

Obrolan ringan sih, tapi justru dari situlah saya jadi ingat sama tulisan saya sendiri tahun lalu, yang juga sempat di-publish di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta , yang judul artikelnya Urip Iku Sawang Sinawang. Ya memang begitu ternyata. Duh saya sampai senyum-senyum sendiri. Bukan apa-apa, berasa kena sama tulisan sendiri aja ;)) . Dulu saya memposisikan diri sebagai orang lain yang curhatnya saya tulis disitu. Sekarang saya harus menelan mentah-mentah tulisan saya karena sekarang.. sayalah objeknya :)) .

Ada perbincangan yang kena banget ke saya, begini  :

Teman  : “aku tuh baru tahu lho mbak, sebenarnya kalau obsesi terbesar suamiku adalah menjadi PNS”
Saya  : “hah, seriuss? kok.. bisa? :O “
Teman  : “iya, pas aku cerita kalo mbak ketrima jadi PNS, dia tuh pengen banget. Dulu sih dia pernah nyoba, sekali doang, tapi gagal. Ya sudah daripada hancur harga martabak, akhirnya milih kerja di luar negeri aja sekalian, hehehe.. “
Saya  :  “eh, mosok sih kerjaanku ini diobsesiin sama suamimu? Padahal aku dulu ngira kalian sudah enak kehidupannya. Suami kerja di luar negeri, minyak pula. Kamu dengan kehidupan S2-mu. Mikir, what a perfect life you both gitu..”
Teman  : “apanya yang perfect sih mbak? Hidup terpisah dengan suami, akunya dimana, dianya dimana. Tapi jujur suamiku kalau disuruh milih,  pengen berkarir jadi PNS kaya mbak yang kerjanya nggak sengoyo sekarang, punya banyak lebih banyak waktu buat keluarga. Ah, mbak tuh yang ekarang udah settle, tinggal melangkah-melangkah doang.. Suami istri kerja, salah satunya PNS.. Ah, sempurnalah..”
Saya  : *masih bengong :O*  “ya sudah coba aja tar tahun ini pasti kan ada penerimaan CPNS lagi. Nah kamu ikut aja jeng..”
Teman  : “ya sih kayanya gitu. Tapi bingung mau kerja atau ikut suamiku ke Dubai ya?”
Saya  : “ya, apapun untuk saat ini yang menurut kalian bagus sih nggak masalah. asal nanti pas balik ke Indonesia usia kalian salah satu masih cukup daftar CPNS ya monggo..”

Ah, jujur saya terpana lho dengan percakapan simple itu. Bukan apa-apa, saya dulu sempat menganggap mereka memang nggak pernah sekalipun bermimpi jadi PNS seperti saya. Wong salah satunya sudah kerja di oil company,  yang notabene semua orang juga tahu prospeknya seperti apa tho? Ya saya shock dong ketika dikasih tahu kalau obsesi terbesar suaminya adalah justru menjadi PNS seperti saya.

Sekarang saya yang bingung nih. Saya mesti bangga, kagum, heran atau gimana ya? ;)) . Saya yang sudah terlanjur “silau” sama kehidupan mereka, lha kok malah mereka “ngiri” sama kehidupan saya yang alakadarnya begini?😀

Manusia itu memang susah ditebak ya. Ada saja ketidakpuasannya. Yang rambutnya lurus pengen punya rambut ikal/keriting, begitu juga sebaliknya. Yang kulitnya putih pengen kecoklatan, begitu juga sebaliknya, yang kerja di oil company pengen jadi PNS, yang PNS pengen kerja di oil company. Yang jelek pengen cakep, yang sudah cakep pengen lebih cakep lagi (nggak mungkin pengen jadi jelek kan? ;)) ).

Ah, kalau menuruti nafsu, dunia ini isinya cuma orang-orang yang hidup dalam tolok ukur kesempurnaan orang lain. Jadi, daripada kitanya yang capek  kenapa kita nggak mulai mensyukuri apapun yang sudah diberikan Allah sama kita ya? Karena hanya Dialah yang mengetahui pantas tidaknya kita memiliki apa yang juga dimiliki/tidak dimiliki oleh orang lain.
Only God knows..🙂

[devieriana]

Urip Iku Sawang Sinawang (II)

14 thoughts on “Urip Iku Sawang Sinawang (II)

  1. om saya umurnya sekitar 50-an. usahanya udh settled, pendidikannya S3, dan dosen pulak.. ternyata obsesi terpendam dia itu jadi anak band! hahaa.. jadi dia semangat banget kl nonton saya main haha..

  2. itulah hidup, dak bisa dilihat luarnya, tapi value nya…yang kadang bisa kebalik2…kita kagum sama orang, taunya orang kagum sama kita, atau kita kagum dengan diri sendiri, taunya ada yang lebih dari kita…itulah hidup yg begitu sudah teratur rapi….hehehe😀

  3. Tambahan dikit saya notabene bukan seorang muslim, tapi saya kagum dengan kalimat Al-Hamdulillah (????? ???) yang menurut wikipedia berarti “Pujian itu hanya untuk Allah”……yang wikipedia katakan…merupakan ungkapan atas rasa terima kasih seorang muslim atas karunia Allah….saya lebih setuju, ungakapan rasa terima kasih semua umat kepada sang khalik…… wis ah kabur…..heheheheh

  4. gak semua orang punya pendapat sama tentang satu hal mbak, ada yang ngotot banget nggak pengen kerja jadi pns, ada yang ngotot pengen wiraswasta ada yang ini itu … intinya menerima pendapat orang lain ya mbak😀
    dan only God knows jadi apa aku nanti, wishing for the best *crossing finger*

  5. selama masih menjadi manusia pasti ada ga puasnya…
    hanya saja yang namanya obsesi (walaupun ntar ga kesampaian) tetap perlu buat semangat hidup

  6. devieriana says:

    @Marcus : thanks a lot mas.. Itulah ya, saya juga masih suka kaya gitu, kurang bersyukur. Baru kalau sudah ada yang bilang bla..blaa..bla kaya begini baru ngeh ;))

  7. blogwalker says:

    itu baru yang punya keinginan jadi PNS mbak. ada juga yang udah jadi PNS di suatu kementerian, tapi kepengen jadi PNS di Setneg misalnya….
    salam kenal mbak, senang jalan-jalan di blognya mbak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s