Pamer di Sosial Media


sosial-media

Suatu siang, di sudut sebuah rumah makan cepat saji di daerah Pecenongan, saya melewatkan waktu makan siang dengan para sahabat saya. Seperti biasa, obrolan dengan topik random meluncur satu persatu dari mulut kami, kebanyakan sih memang ladies talk selain topik-topik lainnya yang ‘ghibahable’.

Sampai akhirnya salah satu dari kami membuka topik yang sedikit serius. Tentang pamer di sosial media, gara-gara ada salah satu teman mereka yang baru saja meng-instastory-kan bayar DP gedung buat resepsi, hahaha…

Seperti yang kita semua tahu, sosial media itu seperti sebuah show room yang sangat luas di mana kita bisa memamerkan tentang apapun. Mulai status, popularitas, prestasi, gaya hidup, hobi, kehidupan pernikahan/keluarga, bisnis yang sedang dijalankan, tempat hangout/liburan, dan lainnya, karena sosial media salah satunya memang dirancang secara sempurna untuk ‘memanipulasi’ keinginan kita untuk pamer/sharing/berbagi, keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain, termasuk sebagai media yang bisa digunakan untuk membenci sesuatu/orang lain secara bersama-sama.

Contoh kecil, ketika seseorang berkesempatan pergi ke suatu tempat, mengunggah foto tempat itu secara online adalah sebagai bukti otentik pengalaman luar biasa yang dunia harus tahu, karena kalau tidak diunggah, sama saja dengan hoax.

Mungkin saja bagi si pemilik akun, apa yang mereka unggah itu bukan bermaksud untuk pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan misalnya, tapi toh nyatanya tidak semua orang bisa menerima maksud dan tujuan pemilik akun, bukan? Apalagi kalau yang diunggah itu mengandung hal-hal yang sensitif bagi orang lain; dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap sesuatu pasti berbeda-beda, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana.

Contoh lagi, sebuah kencan pertama yang sempurna itu wajib diunggah di sosial media, apalagi kalau pasangan yang kita kencani itu wajahnya memang ‘social media uploadable’, layak dipamerkan di sosial media. Pokoknya unggah saja dulu, soal kualitas dan kepribadian dia bagaimana itu urusan nanti.

Okelah ya, tapi tanpa kita sadari ternyata tidak semua orang suka dengan unggahan kita. Misalnya saja orang-orang yang kebetulan belum memiliki pasangan, unggahan romantis yang muncul di newsfeeds mereka itu sama seperti sebuah ‘reminder‘ kalau mereka belum memiliki pasangan yang bisa dipamerkan ke sosial media, padahal semua orang sudah punya hubungan yang ‘sempurna’ dengan orang lain.

Jujur, dulu ketika saya belum hamil, saya paling sensitif kalau melihat ada teman yang sedang hamil. Kalau cuma hamil saja sih masih bisa saya terima, tapi kalau sudah mulai baca status keluhan selama kehamilan, yang mual, muntah, letih, lesu, dan segala hal yang menyangkut kehamilan, yang seolah-olah itu siksaan banget itu kok berasa lebay gimana ya. Yang namanya hamil pasti akan ada perubahan signifikan di kondisi badan, tapi ya wajar, karena ada janin yang sedang tumbuh berkembang dalam rahim kita. Silakan saja mengabarkan tentang status kehamilan, tapi (menurut saya) tidak perlu sampai ekstrem mengunggah status keluhan selama hamil tiap 5 menit sekali. Percayalah, saat-saat hamil itu justru saat yang paling precious bagi seorang perempuan, dan akan dirindukan ketika sudah lama tidak hamil, jadi ya sudah nikmati saja segala prosesnya, jangan terlalu banyak mengeluh. Bukan berarti jangan mengeluh, sewajarnya saja. Bawel banget ya saya? Hahaha… Tapi itu dulu, ketika saya masih suka sensi-sensian.

Ketika ahamdulillah akhirnya saya pun mendapat rezeki yang sama dari Allah berupa kehamilan yang sehat sampai dengan kelahiran, di situ saya banyak belajar arti menghargai perasaan orang lain. Sekalipun saya merasa amat sangat bahagia karena akhirnya hamil juga setelah menunggu selama lebih dari 5 tahun, tapi kebalikannya, saya justru lebih tertutup di sosial media. Jangankan menulis blog, up date status di gadget dan sosial media pun sengaja saya batasi. Kalau pun iya saya up date status, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehamilan saya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya, tanpa saya harus bereuphoria di sosial media, atau status di gadget saya, mengingat adik saya, beberapa kerabat, serta sahabat saya lainnya juga masih belum dikaruniai momongan hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pamer lainnya, misalkan baru beli rumah, mobil, bayar DP gedung untuk resepsi, dan lainnya. Ya, di era sosial media, semua sah-sah saja, karena saat ini nilai-nilai yang dianut mayoritas orang memang ketenaran atau pengakuan diri oleh lingkungan sosial. Tidak ada yang salah dengan ketenaran atau sharing tentang sebuah pencapaian saat itu, karena bagi sebagian orang itu bisa memberikan kepuasan psikologi.

“Tapi kan kesel ya, Kak. Kan mereka baru pacaran, masa sudah pamer beli rumah? Biasa aja kali…”

Setiap orang punya motivasi berbeda ketika mengunggah sesuatu ke sosial media mereka. Tinggal kita melihat hal itu dari sudut pandang yang mana. Siapa tahu memang mereka sudah ada rencana akan menikah dalam waktu dekat, jadi ketika ada rezeki lebih, mereka menabungnya dengan cara membeli rumah secara patungan, biar ketika mereka sudah menikah beneran sudah ada rumah yang bisa mereka tempati.

Sosial media memang milik kita, tapi kita jugalah yang harus bijak menggunakannya, karena bagaimana pun sosial media masih memiliki berbagai manfaat di banyak hal, misalnya commerce, pembelajaran, penyebaran informasi, komunikasi, dan pariwisata.

Intinya, jangan sampai tampilan sosial media terlalu mempengaruhi pikiran kita. Ada banyak orang yang foto-fotonya tidak terlalu di-likes oleh banyak orang, atau jumlah followers-nya tidak banyak, tapi justru mereka punya lebih banyak teman yang real di kehidupan nyata. Ada juga pasangan yang jarang mengunggah foto-foto romantis, atau postingan-postingan manis yang menunjukkan betapa besar cinta masing-masing kepada pasangannya, tetapi secara real mereka justru lebih bahagia dari pada yang kita lihat di newsfeeds.

Ada orang yang tidak memamerkan gadget baru dan barang mahal lainnya, tapi ternyata mereka sudah punya rumah sendiri, punya rekening bank yang gendut, dan punya lebih banyak prestasi dalam hidup dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus pamer tentang ‘ukuran’ kehidupan yang sempurna ala sosial media.

Inilah mengapa kita tidak harus percaya dengan semua yang kita lihat di sosial media. Kehidupan tiap orang tidak sesempurna yang berusaha mereka tampilkan secara online kok, karena penampilan bisa saja sangat menipu.

Just my two cents…

– devieriana –

 

picture source Pinterest

Advertisements
Status

3 thoughts on “Pamer di Sosial Media

  1. Mbak Dev, aku padamu lah pokoknya dengan tulisan ini. Sejak kawin dan pindah, aku jadi lebih menghargai yang namanya privacy. Padahal dulu agak obralan. Sekarang yg sewajarnya dan seperlunya saja berbagi cerita (menurutku) di dunia maya. Kalau melihat yg agak berlebihan berbaginya (dari sudut pandangku), sebisa mungkin ambil sisi positifnya jangan sampai aku juga seperti itu. Ada hal memang yang untuk dipamer, ada banyak hal yang cukup disimpan sendiri ceritanya.

    1. Oh lali arep nulis iki (tambahan ceritane haha). Aku sudah tutup FB dan IG setahun lebih. Lebih kepada alasan mendidik diri sendiri tentang masalah “berbagi”. Ngeri dengan kejahatan dunia digital yang semakin canggih karena apa yang kamu taruh di Internet, tidak akan terhapuskan.

  2. cK says:

    Di social media biasanya aku lebih ke pamer makanan ama tempat jalan-jalan sih (jarang selfie kecuali ada yang motoin). Itupun dishare dengan tambahan beberapa informasi biar gak pamer-pamer amat. :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s